Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPatologi Sosial DigitalKamis, 13 Agustus 2026

Kultum — "Ketika Ponsel Menawarkan Jalan Pintas"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الرِّبَا وَالْمَيْسِرَ رَحْمَةً بِعِبَادِهِ، وَأَحَلَّ الْبَيْعَ وَبَارَكَ فِي الْكَسْبِ الطَّيِّبِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ حَذَّرَنَا مِنْ كُلِّ جَالِبٍ لِلْهَلَاكِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kabar tentang jerat pinjaman online, paylater, dan judi digital yang menyasar rumah tangga kita kembali ramai terdengar. Malam ini, izinkan saya mengajak kita merenungkan satu ayat pendek yang saya kira sangat relevan dengan apa yang sedang kita hadapi bersama.

Coba kita jujur sebentar — siapa di sini yang pernah melihat iklan atau story yang bilang "modal kecil, cuan besar, dijamin menang"? Rasanya selalu ada saja yang muncul di beranda kita, entah dari akun tak dikenal atau bahkan dari teman sendiri yang sedang tergiur ikut menyebarkannya.

قُتِلَ ٱلْخَرَّٰصُونَ

"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." (QS. Adh-Dhaariyat: 10)

Kata al-kharrasun dalam ayat ini menunjuk pada orang yang suka menduga-duga dan membuat klaim tanpa dasar — dan kalau kita renungkan, itu persis potret industri judi online dan investasi bodong yang menjanjikan kepastian dari sesuatu yang sebetulnya cuma untung-untungan. Setiap testimoni "saya menang jutaan dalam semalam" yang berseliweran di linimasa kita adalah bentuk dusta terselubung, sebab yang tidak pernah ditampilkan adalah ratusan orang lain yang kalah dan memilih diam karena malu. Ironisnya, semakin sering kita melihat klaim semacam ini berseliweran, semakin ia terasa wajar dan biasa — padahal seringnya sebuah klaim muncul di linimasa kita sama sekali tidak berbanding lurus dengan benar tidaknya klaim itu.

Dusta semacam ini bekerja bukan karena benar-benar masuk akal, tapi karena kita ingin percaya. Saat dompet menipis dan kebutuhan mendesak, tawaran yang kelihatannya instan jadi terasa masuk akal padahal sebenarnya tidak. Dari situlah pola yang kita dengar pekan ini bermula: paylater yang tampak ringan berubah jadi cicilan menumpuk, gesek tunai menutup satu lubang dengan membuka lubang baru yang lebih dalam, lalu judi online datang menjanjikan "sekali menang, semua lunas" — padahal yang terjadi biasanya sebaliknya. Pada saat yang sama, kabar tentang pengungkapan jaringan narkoba juga terus berulang, seolah menegaskan bahwa jalan-jalan pintas menuju rasa lega itu selalu berakhir di tempat yang sama: kehancuran yang tertunda.

Yang bikin pola ini makin susah diputus adalah rasa malu. Orang yang mulai terjerat paylater atau kalah berkali-kali di judi online sering memilih diam, menutup-nutupi dari pasangan atau orang tua, karena takut dihakimi. Padahal semakin lama didiamkan, semakin dalam pula jeratnya, dan semakin sedikit pilihan yang tersisa untuk keluar dengan cara yang baik-baik. Kita, sebagai jamaah dan sebagai tetangga, punya peran penting di sini: menciptakan suasana yang membuat orang berani jujur lebih awal, bukan suasana yang membuat mereka makin bersembunyi. Kalau ada saudara kita yang berani mengaku sedang terjerat, itu bukan aib yang pantas dijauhi — itu justru langkah paling berat sekaligus paling berani yang bisa ia ambil.

Ada satu munajat indah dalam kitab Nashaihul Ibad yang, saya kira, menggambarkan persis pergulatan batin banyak orang yang terjerat hal-hal semacam ini:

إِلَهِي طُوْلُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِيْنُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي، فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيْثِيْنَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ

"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh pada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku dalam kemaksiatan. Maka tolonglah aku, wahai penolong bagi yang meminta pertolongan, karena jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau." (Nashaihul Ibad)

Perhatikan bagaimana munajat ini menyebut "qarin su'" — teman yang buruk — sebagai salah satu yang ikut menjerumuskan. Di zaman kita, teman yang buruk itu tidak selalu berwujud orang; ia bisa berupa algoritma yang terus menyodorkan tautan judi setelah kita sekali saja penasaran mengekliknya, atau grup pesan yang menormalkan obrolan tentang menang-kalah taruhan seolah itu hal biasa. Yang menarik, munajat ini tidak berhenti di keluhan — ia berakhir dengan permohonan tolong. Itulah yang semestinya kita lakukan begitu menyadari sedang dikelilingi godaan semacam ini: bukan menyerah dalam rasa bersalah, tapi segera memohon pertolongan Allah sambil menjauh dari sumber godaannya.

Kalau teman yang buruk bisa berwujud algoritma atau grup pesan yang menormalkan judi, maka jamaah yang saya hormati, teman yang baik pun bisa kita bangun dengan cara yang sama sederhananya — grup keluarga yang saling mengingatkan waktu sholat, teman kerja yang saling menjaga dari pinjaman berbunga, komunitas pengajian yang membuat kita malu sendiri kalau sampai ketahuan ikut bermain judi online. Membangun lingkungan yang baik bukan pekerjaan sekali jadi, tapi kalau dirawat sedikit demi sedikit, ia akan jadi benteng yang jauh lebih efektif dibanding sekadar niat baik yang berdiri sendirian tanpa dukungan siapa pun di sekitarnya.

Jamaah yang berbahagia, malam ini, sebelum kita pulang, coba lakukan tiga hal kecil. Pertama, buka kembali ponsel masing-masing dan periksa jujur-jujur, adakah aplikasi pinjaman atau judi yang selama ini tersimpan diam-diam. Kedua, kalau ada tautan mencurigakan yang masuk pekan ini, jangan diteruskan — cukup hapus, atau tegur pengirimnya dengan baik. Ketiga, kalau ada di antara kita yang sedang bergumul dengan utang atau kecanduan semacam ini, jangan dipendam sendirian; datangi orang yang bisa dipercaya, sebab munajat tadi mengajarkan bahwa memohon pertolongan bukan aib, melainkan awal dari jalan pulang.

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari dusta yang manis di lidah tapi pahit di akhirnya, dan menuntun kita pada rezeki yang barangkali datang lebih lambat, tapi jauh lebih tenang untuk dijalani.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَذِبِ وَالدَّجَلِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الرِّبَا وَالْمَيْسِرِ وَكُلِّ كَسْبٍ خَبِيْثٍ، اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حَلَالًا طَيِّبًا وَاجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِعِيْنَ بِمَا قَسَمْتَ لَنَا، اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى طَاعَتِكَ وَاصْرِفْهَا عَنْ مَعْصِيَتِكَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan