Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPemerintahan & KebijakanKamis, 13 Agustus 2026

Kultum — "Racun Sunyi Bernama Cinta Dunia"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita banyak mendengar kabar tentang program-program besar yang niatnya baik tapi pelaksanaannya dipertanyakan — mulai dari program gizi anak sekolah sampai kasus-kasus dugaan korupsi yang sedang diusut penegak hukum. Ada satu pertanyaan yang ingin saya ajak kita renungkan bersama malam ini, pertanyaan yang jarang kita tanyakan dengan jujur: kenapa amanah yang di awal niatnya mulia, pada akhirnya bisa berujung disalahgunakan?

Kita sering menjawab pertanyaan itu dengan jawaban di permukaan — sistem yang lemah, pengawasan yang kurang, orangnya yang memang jahat sejak awal. Semua jawaban itu ada benarnya, dan semuanya penting untuk terus diperbaiki. Tapi kalau kita jujur, jawaban-jawaban itu selalu menunjuk ke luar diri kita — ke sistem, ke orang lain, ke keadaan. Jarang sekali kita berhenti sejenak dan bertanya ke dalam: apa yang membuat hati manusia, siapa pun dia, bisa bergeser dari niat baik menjadi penyalahgunaan pelan-pelan? Malam ini saya ingin mengajak kita menyelam ke satu akar itu, yang oleh seorang ahli ibadah, sebagaimana dikutip dalam kitab Nashaihul Ibad, diungkapkan dalam sebuah munajat yang jujur kepada Allah.

إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي، فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ.

"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang selalu mendorong pada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku menuju maksiat. Maka tolonglah aku, wahai penolong orang-orang yang meminta pertolongan, karena jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau." (Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3))

Jamaah, coba perhatikan urutan yang disebutkan dalam munajat ini. Bukan dimulai dari "aku orang jahat sejak lahir". Dimulai dari sesuatu yang jauh lebih halus: thulul amal — angan-angan yang panjang, merasa umur masih lama, kesempatan masih banyak, jadi menunda-nunda kejujuran hari ini karena berpikir "nanti juga bisa diperbaiki". Dari situ berkembang jadi hubbud dunya — cinta dunia, yang bukan berarti mencintai rezeki atau kekayaan itu sendiri, tetapi menjadikannya ukuran satu-satunya dari keberhasilan hidup. Ketika dua hal ini bersarang di hati siapa pun — pejabat, pengusaha, pengurus program, atau kita sendiri di rumah — barulah pintu-pintu berikutnya terbuka: kelalaian dibiarkan karena "toh belum tentu ketahuan", standar diturunkan karena "yang penting untung tercapai".

Ini bukan cerita tentang orang lain di berita, jamaah. Ini cerita tentang mekanisme yang sama yang bisa bekerja di hati siapa saja yang diberi kepercayaan — sekecil apa pun. Allah mengingatkan kita tentang wujud paling nyata dari cinta dunia yang dibiarkan tumbuh ini dalam surah Al-Mutaffifin.

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ وَيْلٌۭ لِّلْمُطَفِّفِينَ

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang." (QS. Al-Mutaffifin: 1)

Yang dicela di ayat ini bukan orang yang miskin dan lemah, melainkan orang yang punya kuasa menentukan takaran — dan memilih menguranginya untuk orang lain sambil minta penuh untuk dirinya. Persis seperti munajat tadi: dimulai dari cinta dunia yang diam-diam, berujung pada standar ganda yang merugikan orang yang tidak berdaya membela haknya sendiri. Anak-anak yang menunggu jatah gizi mereka, warga yang menunggu layanan yang seharusnya mereka terima penuh — mereka semua berada di posisi yang sama seperti pembeli di pasar Madinah dahulu: berharap ditakar dengan adil, tanpa daya memeriksa sendiri apakah haknya dikurangi atau tidak.

Yang menarik, jamaah, cinta dunia ini jarang datang dengan wajah yang menyeramkan. Ia datang dengan wajah yang sangat masuk akal: "sedikit saja, tidak akan terasa", "toh semua orang juga begitu", "nanti kalau sudah mapan, baru saya perbaiki caranya". Semakin sering alasan-alasan ini kita dengar dari diri sendiri, semakin licin jalan menuju penyalahgunaan amanah yang lebih besar. Itulah sebabnya para ulama mengajarkan kita untuk waspada bukan pada dosa besar yang jelas-jelas menyeramkan, melainkan pada dosa kecil yang terasa ringan dan terus diulang — karena dari situlah hati mulai mati rasa terhadap amanah yang ia pegang.

Maka izinkan saya bertanya kepada diri saya sendiri, dan kepada kita semua malam ini: amanah kecil apa yang sedang kita pegang sekarang, yang mungkin diam-diam sedang kita kurangi takarannya karena merasa "tidak akan ketahuan"? Bisa jadi itu waktu kerja yang kita curi, bisa jadi itu kejujuran laporan keuangan lingkungan yang kita tunda, bisa jadi hanya soal janji kecil ke anak yang terus kita ingkari. Racun cinta dunia tidak selalu datang dalam bentuk uang yang besar — ia sering datang dalam bentuk yang sangat sunyi, sangat kecil, sampai kita lupa bahwa itu juga amanah yang akan ditanya kelak.

Malam ini, sebelum kita pulang, mari bawa dua hal sederhana. Pertama, periksa satu amanah kecil yang sedang kita pegang saat ini juga, dan pastikan tidak ada yang kita "kurangi takarannya" demi kenyamanan sendiri. Kedua, jadikan munajat tadi sebagai doa pribadi sebelum tidur malam ini — mintalah kepada Allah agar dijauhkan dari cinta dunia yang mengalahkan amanah, karena hati yang paling mudah berbalik adalah hati kita sendiri, bukan hati orang lain yang kita bicarakan di berita. Jangan tunggu sampai amanah yang kita pegang membesar dulu baru kita mulai serius menjaganya — kebiasaan menjaga amanah kecil hari ini adalah latihan untuk amanah yang lebih besar yang mungkin akan Allah titipkan kepada kita esok hari.

Semoga Allah menjaga hati kita, menjauhkan kita dari cinta dunia yang membinasakan, dan menguatkan kita untuk menunaikan setiap amanah — sekecil apa pun — dengan jujur.

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

"Ya Allah, Yang membolak-balikkan hati, balikkanlah hati kami kepada ketaatan-Mu." (Sahih Muslim 2655)

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan