Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَرَفَعَ أَهْلَ الْعِلْمِ دَرَجَاتٍ، وَجَعَلَ طَلَبَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ وَمُعَلِّمًا لِلْأُمَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yang telah mengumpulkan kita di rumah-Nya yang suci, dalam keadaan sehat, dalam keadaan iman. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita buka khutbah pekan ini dengan dua ayat pertama yang turun kepada manusia paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ, di Gua Hira:
عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-Alaq: 5)
Ayat ini adalah kelanjutan dari firman Allah sebelumnya:
ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ
"Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam." (QS. Al-Alaq: 4)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, perhatikanlah — bukan ayat tentang perang, bukan ayat tentang harta, bukan pula ayat tentang kekuasaan, yang pertama kali Allah turunkan kepada manusia. Yang pertama kali Allah pilih untuk disampaikan kepada umat ini adalah tentang ilmu: tentang pena, tentang mengajar, tentang seorang manusia yang tadinya tidak tahu, lalu diajari sehingga menjadi tahu. Islam, sejak detik pertama kelahirannya, adalah agama yang meletakkan ilmu di jantung risalahnya. Bukan kebetulan bila peradaban yang dibangun di atas dua ayat ini kelak melahirkan perpustakaan-perpustakaan besar, bait al-hikmah, dan generasi ulama yang menerangi dunia selama berabad-abad.
Pekan ini, kita mendengar kabar yang, kalau direnungkan dalam-dalam, sebenarnya sedang menagih kembali janji dari dua ayat pembuka tadi. Ada kabar tentang program sekolah yang menyasar anak-anak dari keluarga yang kurang mampu — sebuah ikhtiar agar pintu ilmu tidak hanya terbuka bagi mereka yang berkecukupan, agar anak-anak dari keluarga yang selama ini merasa pendidikan bermutu adalah barang mewah, kini punya kesempatan yang sama dengan anak-anak lainnya untuk duduk di bangku belajar yang layak.
Ada pula kabar tentang para guru yang telah bertahun-tahun mengabdi tanpa status kepegawaian yang pasti, kini tengah menanti proses pengangkatan yang lebih layak. Ma'asyiral muslimin, coba kita bayangkan — berapa banyak dari mereka yang setiap pagi berangkat mengajar dengan honor yang jauh dari cukup, menempuh jarak yang tidak dekat, tetapi tetap berdiri di depan kelas dengan senyum yang sama seperti guru-guru yang telah mapan status kepegawaiannya? Penantian mereka bukan sekadar urusan administrasi negara; ia adalah penantian akan pengakuan bahwa mengajar itu pekerjaan yang mulia, yang layak mendapatkan penghidupan yang layak pula.
Ada kabar tentang gelombang mahasiswa baru yang baru saja memasuki masa orientasi kampus mereka, membawa harapan-harapan tentang beasiswa dan masa depan yang lebih baik. Sebagian dari mereka datang dari kota-kota kecil, meninggalkan orang tua untuk pertama kalinya, membawa cita-cita keluarga yang dititipkan di pundak mereka yang masih muda. Semua kabar ini, pada akarnya, berbicara tentang satu hal yang sama: siapa yang berhak menerima ilmu, dan siapa yang berhak menyampaikannya.
Namun pekan ini juga membawa kabar yang mengusik ketenangan kita. Sampai kepada kita kabar tentang ratusan senjata yang ditemukan terkait dengan lingkungan sebuah sekolah di kawasan Jakarta Selatan — sebuah kabar yang membuat banyak orang tua bertanya-tanya, benarkah ruang belajar anak-anak kita masih seaman yang kita bayangkan? Sebuah sekolah, dalam pandangan syariat, semestinya adalah ruang yang paling tenteram untuk menuntut ilmu, bukan ruang yang meninggalkan kecemasan di hati orang tua setiap pagi.
Dan pekan ini pula, ramai diperbincangkan sebuah "tantangan" di ruang digital yang menyandingkan hafalan ayat suci dengan hadiah yang justru dilarang oleh agama — minuman keras. Sebuah ironi yang menyayat: aktivitas menghafal Al-Qur'an, yang semestinya mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya, justru dijadikan bahan konten, disandingkan dengan sesuatu yang jelas-jelas Allah haramkan. Ma'asyiral muslimin, kabar seperti ini bukan sekadar hiburan yang lewat di linimasa — ia adalah cermin tentang bagaimana sebagian dari kita, tanpa sadar, mulai memperlakukan yang suci sebagai bahan hiburan semata.
Tiga kabar ini — tentang akses, tentang keamanan, dan tentang kesucian niat — sesungguhnya adalah tiga wajah dari satu ujian yang sama: ujian tentang bagaimana kita, sebagai umat yang mengaku mencintai ilmu, benar-benar memuliakannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada khutbah ini, izinkanlah khatib mengajak kita semua merenungkan ilmu bukan sekadar sebagai bekal duniawi, melainkan sebagai amanah yang bertingkat tiga: amanah untuk membuka akses seluas-luasnya, amanah untuk menjaga ruang belajar tetap aman, dan amanah untuk menjaga niat tetap lurus di setiap keadaan — termasuk di layar telepon genggam kita.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita mulai dari amanah yang pertama: amanah akses. Betapa besar kedudukan ilmu dalam pandangan Islam, sampai-sampai Rasulullah ﷺ menjanjikan sesuatu yang luar biasa bagi siapa saja yang menempuhnya. Dari sahabat Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا صَنَعَ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ
"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang yang berilmu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan yang ada di bumi, hingga ikan-ikan yang ada di dalam air.'" (Riyad as-Salihin 1388)
Ma'asyiral muslimin, bayangkan besarnya janji ini. Malaikat membentangkan sayap untuk seorang penuntut ilmu — bukan untuk pejabat, bukan untuk orang kaya, bukan untuk yang bergelar tinggi, melainkan untuk siapa saja yang menempuh jalan mencari ilmu, apa pun latar belakangnya. Hadits ini tidak menyebut syarat status sosial, tidak menyebut syarat kekayaan, tidak menyebut syarat keturunan. Siapa pun yang berjalan di jalan ilmu, dijanjikan kemudahan jalan menuju surga. Kalau demikian besarnya penghargaan Allah kepada penuntut ilmu, maka setiap ikhtiar untuk membuka akses ilmu bagi mereka yang selama ini terhalang — entah karena kemiskinan, entah karena keterbatasan pengakuan atas profesi mengajar mereka — sesungguhnya adalah ikhtiar yang sejalan dengan ruh hadits ini. Program yang menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu, upaya memberi kepastian status bagi guru-guru yang telah lama mengabdi, serta beasiswa yang membuka pintu bagi anak-anak yang cerdas namun tidak berkecukupan — semua itu, dalam kacamata hadits ini, bukan sekadar program administratif pemerintah, melainkan bagian dari usaha menegakkan hak setiap manusia untuk menempuh jalan menuju surga lewat ilmu.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, para sahabat Nabi ﷺ memahami betul nilai hadits ini, sampai-sampai sebagian dari mereka rela menempuh perjalanan yang sangat jauh hanya untuk mendengar satu hadits dari mulut seorang sahabat yang lain. Diriwayatkan bahwa sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma pernah menempuh perjalanan sebulan penuh dari Madinah semata-mata untuk mendengar langsung satu hadits tentang qishash dari sahabat Abdullah bin Unais radhiyallahu 'anhu, yang saat itu tinggal jauh di negeri Syam. Bayangkan, ma'asyiral muslimin — satu hadits saja, ditempuh dengan perjalanan sebulan, tanpa kendaraan cepat seperti hari ini. Kalau sahabat Jabir rela menanggung kesulitan sedemikian rupa demi satu hadits, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap mahasiswa yang hari ini menempuh perjalanan jauh dari kampung halaman demi kuliah, atau terhadap anak-anak Sekolah Rakyat yang setiap hari menempuh jarak yang tidak dekat demi bisa duduk di bangku belajar? Perjalanan mereka, kalau diniatkan dengan lurus, adalah perjalanan yang sama mulianya dengan perjalanan sahabat Jabir mencari satu hadits di negeri yang jauh.
Sejarah peradaban Islam pun mencatat bagaimana para khalifah dan orang-orang berharta di masa lalu mewakafkan sebagian hartanya untuk mendirikan madrasah-madrasah yang membebaskan biaya bagi penuntut ilmu, bahkan menyediakan tempat tinggal dan uang saku bagi mereka yang datang dari jauh. Wakaf pendidikan semacam ini adalah cikal bakal dari semangat yang sama dengan beasiswa dan program pendidikan gratis yang kita saksikan hari ini — bedanya hanya pada bentuk kelembagaannya, bukan pada ruh yang menggerakkannya.
Dan perlu kita ingat, ma'asyiral muslimin, bahwa memuliakan ilmu bukan hanya soal memuliakan yang belajar, tetapi juga memuliakan yang mengajar. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim dijelaskan bahwa seorang pengajar semestinya berniat, dalam mengajar dan mendidik murid-muridnya, semata mengharap wajah Allah Ta'ala — menyebarkan ilmu, menghidupkan syariat, dan menjaga agar kebenaran tetap tampak di tengah umat. Niat inilah yang semestinya kita hormati ketika kita mendengar kabar tentang guru-guru honorer yang menanti pengakuan negara. Mereka boleh jadi belum mendapatkan status kepegawaian yang layak, tetapi di hadapan Allah, amal mengajar mereka sudah dicatat sejak hari pertama mereka berdiri di depan kelas dengan niat yang lurus. Tugas kita sebagai jamaah adalah turut mendoakan kelancaran proses tersebut, dan tidak memandang profesi mengajar sebagai pekerjaan kelas dua.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, akses ilmu yang adil ini bukan konsep baru dalam Islam. Sejak dahulu, para ulama sengaja menyusun kitab-kitab ringkas agar ilmu agama bisa dijangkau oleh orang awam, bukan hanya oleh kalangan terpelajar. Salah satu contohnya adalah nazham 'Aqidat al-'Awam yang disusun oleh Sayyid Ahmad al-Marzuqi rahimahullah. Di penutup karyanya, beliau menuliskan:
وَهٰـذِهِ عَـقِـيـدَةٌ مُخْتَصَرَةْ ۞ وَلِـلْعَـوَامِ سَهْلَةٌ مُيَسَّرَةْ
"Dan ini adalah aqidah yang ringkas, dan bagi orang awam mudah lagi disederhanakan." ('Aqidat al-'Awam — bait 51-55)
Ma'asyiral muslimin, perhatikan kata "لِلْعَوَامِ" — untuk orang awam. Sayyid Ahmad al-Marzuqi tidak menulis kitab aqidah yang rumit hanya untuk kalangan santri senior atau ulama besar; beliau sengaja menyederhanakannya agar bisa dihafal anak-anak, dipahami pedagang di pasar, dipahami petani di sawah. Inilah teladan yang semestinya menjadi ruh dari setiap ikhtiar pendidikan hari ini: ilmu agama, dan ilmu pada umumnya, harus terus diupayakan agar mudah dijangkau — bukan dijaga eksklusif hanya untuk kalangan tertentu. Ketika kita mendengar tentang program sekolah bagi keluarga kurang mampu, tentang beasiswa, tentang PPPK bagi guru-guru honorer, semestinya kita melihatnya sebagai kelanjutan dari semangat yang sama: ilmu yang dimudahkan aksesnya, sama seperti Sayyid Ahmad al-Marzuqi memudahkan aqidah bagi orang awam berabad-abad silam. Tradisi pesantren dan madrasah di negeri kita sendiri mewarisi semangat yang sama — mengajarkan kitab-kitab klasik kepada santri dari berbagai latar belakang ekonomi, tanpa membedakan anak pejabat dari anak petani, sepanjang mereka datang dengan niat menuntut ilmu.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sekarang mari kita berpindah kepada amanah yang kedua: amanah menjaga ruang belajar tetap aman. Islam sangat memperhatikan keselamatan jiwa, bahkan dalam hal-hal yang tampak kecil sekalipun. Diriwayatkan dari sahabat Jabir radhiyallahu 'anhu:
مَرَّ رَجُلٌ فِي الْمَسْجِدِ بِسِهَامٍ
"Seorang lelaki lewat di masjid membawa anak-anak panah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Peganglah ujung-ujung mata panahnya." (Sahih Muslim 2614a)
Ma'asyiral muslimin, perhatikanlah betapa detailnya perhatian Rasulullah ﷺ terhadap keselamatan orang-orang di sekitarnya. Beliau tidak melarang orang itu membawa senjata — sebab senjata itu barangkali memang miliknya yang sah, mungkin untuk keperluan yang dibenarkan. Yang beliau tegur adalah cara membawanya, karena mata panah yang terbuka bisa melukai orang lain yang berjalan di dekatnya, bahkan di dalam masjid yang mulia sekalipun. Kalau di tempat paling suci saja Rasulullah ﷺ menuntut kehati-hatian sedemikian rupa terhadap benda berbahaya, bagaimana pula seharusnya kewaspadaan kita terhadap benda-benda berbahaya di lingkungan sekolah — tempat anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktu mereka?
Kabar tentang ratusan senjata yang ditemukan terkait dengan lingkungan sebuah sekolah pekan ini semestinya tidak kita lewatkan begitu saja sebagai berita yang lewat di linimasa. Ia adalah pengingat bahwa keamanan ruang belajar bukan tanggung jawab sekolah semata, melainkan tanggung jawab bersama — orang tua, tetangga, pengurus RT, dan seluruh warga di sekitar lingkungan sekolah. Hadits Jabir tadi mengajarkan kita satu prinsip sederhana namun mendalam: jangan biarkan sesuatu yang berbahaya berada dalam posisi yang bisa melukai orang lain, di ruang mana pun, termasuk ruang yang kita anggap paling aman.
Ma'asyiral muslimin, dalam kaidah maqashid syariah, menjaga jiwa (hifz an-nafs) adalah salah satu dari tujuan-tujuan pokok yang wajib dijaga bersama-sama dengan menjaga agama, akal, keturunan, dan harta. Keamanan ruang belajar bukan perkara sepele yang bisa ditunda pembahasannya — ia menyentuh langsung salah satu maqashid yang paling mendasar itu. Kalau kita membiarkan ruang belajar anak-anak kita rawan dari benda-benda berbahaya tanpa ada yang peduli memeriksa dan mengawasi, sesungguhnya kita sedang lalai dari kewajiban kolektif yang disebut fardhu kifayah — kewajiban yang gugur dari perorangan hanya kalau sudah ada cukup banyak orang yang menanganinya, dan menjadi dosa bersama kalau dibiarkan terbengkalai oleh seluruh warga.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sekarang izinkan khatib mengajak kita kepada amanah yang ketiga, yang barangkali paling halus namun paling menentukan: amanah menjaga niat, terutama di ruang digital yang setiap hari kita akses. Dalam kitab Nashaihul 'Ibad, dihimpun sebuah hadits di mana Rasulullah ﷺ bersabda:
سِتَّةُ أَشْيَاءَ هُنَّ غَرِيبَةٌ فِي سِتَّةِ مَوَاضِعَ
"Enam hal yang asing di enam tempat." Di antaranya: masjid asing di tengah kaum yang tidak shalat di dalamnya, mushaf asing di rumah kaum yang tidak membacanya, dan Al-Qur'an asing di dalam dada orang yang fasik. (Nashaihul Ibad — باب السداسي (1/2))
Ma'asyiral muslimin, kata "غَرِيبَةٌ" — asing, terasing — adalah kata yang sangat tajam. Sesuatu yang mulia, ketika ditempatkan di tengah orang-orang yang tidak menghargainya, akan terasa asing, seperti benda yang tidak pada tempatnya. Renungkanlah: sebuah "tantangan" yang menyandingkan hafalan Al-Qur'an dengan hadiah minuman keras adalah gambaran yang persis dari hadits ini — Al-Qur'an dibaca, dihafal, dilombakan, tetapi diperlakukan asing dari maknanya yang sesungguhnya, karena disandingkan dengan sesuatu yang justru Allah larang. Ini bukan semata kesalahan pembuat kontennya. Ini juga pertanyaan untuk kita semua: berapa banyak dari kita yang ikut menonton, ikut tertawa, ikut membagikan konten semacam ini tanpa berpikir dua kali tentang pesan yang sesungguhnya sedang kita normalisasi?
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, para ulama juga menyebut ini sebagai bagian dari hifz al-'aql — menjaga akal dan cara pandang umat dari kerusakan, termasuk kerusakan yang datang lewat konten yang tampak sepele namun pelan-pelan menggeser cara kita memandang yang suci. Rusaknya akal tidak selalu datang lewat sesuatu yang jelas-jelas jahat; kadang ia datang lewat sesuatu yang dikemas lucu, dikemas menghibur, sehingga kita tidak sadar sedang digiring untuk menganggap wajar apa yang seharusnya kita jaga kehormatannya. Anak-anak dan remaja kita, yang setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar, adalah pihak yang paling rentan terkena pergeseran cara pandang semacam ini — dan merekalah yang paling membutuhkan teladan dari orang dewasa di sekitarnya tentang bagaimana bersikap terhadap konten semacam itu.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, tiga amanah ini — akses, keamanan, dan niat — sesungguhnya saling menopang satu sama lain. Percuma kita membuka akses ilmu seluas-luasnya kalau ruang belajarnya tidak aman. Percuma ruang belajarnya aman kalau niat orang-orang di dalamnya sudah bergeser dari mencari ridha Allah menjadi sekadar mencari sensasi dan tayangan. Ilmu yang sejati, sebagaimana diajarkan sejak ayat pertama turun kepada Nabi kita ﷺ, adalah ilmu yang membawa manusia mendekat kepada Allah — bukan ilmu yang dijadikan panggung, bukan ilmu yang dipertaruhkan demi jangkauan digital semata.
Ma'asyiral muslimin, kalau kita renungkan lebih jauh, menjaga ketiga amanah ini sesungguhnya adalah bentuk paling nyata dari kesyukuran kita atas nikmat akal dan nikmat wahyu yang Allah berikan. Bukankah kita berbeda dari makhluk lain justru karena kemampuan belajar dan mengajarkan ilmu? Kalau nikmat sebesar ini kita sia-siakan — dengan membiarkan sebagian saudara kita terhalang mengaksesnya, dengan membiarkan ruang belajarnya rawan bahaya, atau dengan membiarkan niat kita sendiri bergeser dari mencari ridha Allah — maka kita sedang mengingkari nikmat yang paling mendasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sebelum kita masuk ke langkah-langkah praktis, ada satu hal yang perlu kita luruskan bersama: menjaga tiga amanah ini bukan tugas ustadz, bukan tugas pemerintah semata, dan bukan pula tugas sekolah sendirian. Ia adalah fardhu kifayah yang dipikul bersama oleh seluruh anggota masyarakat — kalau cukup banyak dari kita yang peduli dan bertindak, kewajiban itu gugur dari yang lain; tetapi kalau kita semua diam menunggu orang lain bergerak lebih dulu, dosanya kita tanggung bersama-sama pula.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sebagai penutup dari khutbah pertama ini, izinkan khatib mengajak kita semua kepada beberapa langkah nyata yang bisa kita ambil pekan ini.
Pertama, mari kita doakan secara sungguh-sungguh kelancaran proses pengangkatan status bagi guru-guru honorer di sekitar kita, dan jika mampu, sampaikan langsung ucapan terima kasih dan penghormatan kepada guru-guru yang telah mendidik anak-anak kita — sebuah kunjungan singkat atau pesan yang tulus akan berarti jauh lebih besar daripada yang kita kira.
Kedua, mari kita perhatikan lingkungan sekitar rumah masing-masing — adakah anak-anak usia sekolah yang berisiko putus sekolah karena keterbatasan biaya? Jika ada, bantu carikan informasi program bantuan atau beasiswa yang tersedia, atau galang bantuan kecil dari tetangga terdekat. Kadang yang dibutuhkan bukan uang dalam jumlah besar, melainkan sekadar informasi yang tepat sampai ke keluarga yang tepat pada waktu yang tepat.
Ketiga, bagi yang memiliki anak, adik, atau keponakan yang baru memasuki masa orientasi kampus, luangkan waktu untuk berbincang tentang bagaimana memilih lingkungan pergaulan dan komunitas kajian yang akan menjaga mereka, bukan menjauhkan mereka dari adab.
Keempat, mari kita tingkatkan kepedulian bersama terhadap keamanan lingkungan sekolah — sederhana saja, seperti saling menyapa dan mengenal wajah-wajah yang keluar-masuk area sekolah setiap hari, serta melaporkan kepada pihak yang berwenang bila ada kejanggalan yang kita lihat. Keamanan yang paling kuat bukan yang dibangun dari pagar tinggi atau kamera canggih semata, melainkan dari warga yang saling kenal dan saling peduli satu sama lain.
Kelima, sebelum membagikan konten apa pun yang menyangkut simbol-simbol agama — hafalan Qur'an, ayat, dzikir — di media sosial kita, luangkan waktu sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: apakah ini akan memuliakan yang suci, atau justru merendahkannya demi sebuah tren?
Keenam, mari kita jadikan rumah kita masing-masing sebagai madrasah pertama — sisihkan waktu, walau hanya sepuluh menit sehari, untuk mengajarkan sesuatu yang bermanfaat kepada anak-anak kita, sebagai wujud nyata bahwa ilmu adalah amanah yang kita jaga dari rumah. Sesederhana menjelaskan satu hadits pendek sebelum tidur, atau membetulkan bacaan Al-Qur'an anak dengan sabar, sudah cukup untuk menanamkan bahwa rumah adalah tempat pertama ilmu itu dihidupi, bukan hanya tempat singgah antara sekolah dan layar telepon genggam.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di penghujung khutbah ini, mari kita pertegas kembali apa yang telah kita renungkan bersama, sebab pesan yang baik akan lebih mudah membekas kalau diulang dengan cara yang berbeda, bukan sekadar dibacakan sekali lalu berlalu begitu saja.
Ilmu bukan sekadar informasi yang mengisi kepala, dan bukan pula sekadar bekal mencari pekerjaan. Ilmu adalah amanah yang Allah titipkan sejak wahyu pertama turun — amanah yang harus dijaga aksesnya agar terbuka bagi siapa saja, dijaga ruangnya agar tetap aman bagi siapa saja, dan dijaga niatnya agar tetap lurus mengarah kepada ridha Allah, bukan kepada tepuk tangan dunia maya. Tiga amanah ini tidak berdiri sendiri-sendiri; ketiganya adalah satu paket yang harus kita rawat bersama, karena hilangnya satu amanah akan menggerogoti dua amanah yang lain.
Kepada guru-guru yang masih menanti pengakuan, ketahuilah bahwa pengakuan yang paling utama sudah lebih dulu dicatat oleh Allah, sejak huruf pertama yang kalian ajarkan dengan tulus. Kepada orang tua yang mengkhawatirkan keamanan sekolah anak-anaknya, ingatlah bahwa menjaga adalah ibadah, dan kewaspadaan yang wajar bukanlah tanda kurang tawakal, melainkan bagian dari ikhtiar yang diperintahkan. Kepada kita semua yang setiap hari menggenggam telepon dan menonton apa saja yang lewat di layar, ingatlah bahwa setiap kali kita hendak membagikan sesuatu yang menyandingkan yang suci dengan yang tidak pantas, di sanalah ujian niat kita yang sesungguhnya sedang berlangsung.
Kepada mahasiswa yang baru memasuki dunia kampus, ingatlah bahwa gelar dan ijazah hanyalah bukti administratif; nilai sesungguhnya dari ilmu yang dituntut ditentukan oleh sejauh mana ia mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat bagi sesama. Empat tahun ke depan akan terasa panjang sekaligus singkat — panjang kalau dijalani tanpa arah, singkat kalau disesali baru di penghujungnya. Pilihlah pergaulan dan majelis ilmu yang menjaga langkah, bukan yang menjauhkan dari adab yang telah ditanamkan sejak di rumah, dan jangan biarkan kesibukan kuliah menjauhkan dari shalat berjamaah dan tadarus yang sudah menjadi kebiasaan baik selama ini.
Dan kepada siapa pun di antara kita yang gemar membuat dan membagikan konten di media sosial, jadikanlah jari yang mengetik dan jempol yang menekan tombol bagikan sebagai bagian dari pena yang disebut dalam ayat pertama tadi — pena yang semestinya mengajarkan kebaikan, bukan pena yang menjadikan yang suci sebagai bahan tertawaan. Setiap unggahan yang kita buat atau kita teruskan akan dipertanggungjawabkan kelak, sebagaimana setiap ilmu yang kita ajarkan atau kita sembunyikan.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memudahkan setiap dari kita untuk menjadi bagian dari solusi — entah sebagai orang tua yang menjaga anaknya, guru yang mendidik dengan ikhlas, mahasiswa yang menuntut ilmu dengan lurus, atau warga biasa yang peduli terhadap lingkungan sekolah di sekitarnya. Tidak ada peran yang terlalu kecil dalam menjaga tiga amanah ini; sebuah salam hangat kepada guru ngaji, sebuah teguran lembut kepada anak yang keliru menonton sesuatu, atau sekadar kepedulian menyapa penjaga sekolah, semuanya tercatat sebagai bagian dari ikhtiar menjaga amanah ilmu. Marilah kita tutup dengan doa, memohon kepada Allah agar seluruh ikhtiar kita dalam dunia pendidikan dicatat sebagai amal yang membawa keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِلضُّعَفَاءِ مِنْ عِبَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيْ عِلْمِ الْمُعَلِّمِيْنَ وَالْمُعَلِّمَاتِ، وَاجْعَلْ سَعْيَهُمْ مَشْكُوْرًا، وَيَسِّرْ أُمُوْرَهُمْ، وَارْزُقْهُمُ الْإِنْصَافَ وَالتَّكْرِيْمَ الَّذِيْ يَسْتَحِقُّوْنَهُ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتَنَا فِيْ مَدَارِسِهِمْ وَجَامِعَاتِهِمْ، وَاحْرُسْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَخَطَرٍ، وَاجْعَلْ مَدَارِسَهُمْ أَمَاكِنَ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً.
اَللّٰهُمَّ يَسِّرْ لِطَلَبَةِ الْعِلْمِ وَالْجَامِعَاتِ سُبُلَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ، وَاجْعَلْ عِلْمَهُمْ نَافِعًا لَهُمْ وَلِأُمَّتِهِمْ، وَثَبِّتْهُمْ عَلَى الطَّاعَةِ فِيْ بِيْئَةٍ جَدِيْدَةٍ يَخْتَبِرُوْنَهَا.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ، وَاجْعَلْ حِفْظَنَا لِكِتَابِكَ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، لَا لِلتَّبَاهِيْ وَلَا لِلْمُبَاهَاةِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
