Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 13 Agustus 2026

Kultum — "Ketika yang Suci Jadi Tontonan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini ramai diperbincangkan sebuah tantangan hafalan Qur'an yang disandingkan dengan hadiah minuman keras. Ironi ini mengusik saya, dan barangkali juga mengusik hati kita semua malam ini.

Pernahkah kita bertanya, apa yang membuat sebuah aktivitas ibadah bisa tiba-tiba berubah menjadi hiburan semata? Mari kita renungkan sejenak. Wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi kita ﷺ bukan tentang hukuman, bukan tentang ancaman, melainkan tentang pena dan pengajaran.

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

"Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam." (QS. Al-Alaq: 4)

Allah memilih memperkenalkan diri-Nya kepada manusia pertama kali sebagai Dzat yang mengajar — Dzat yang memuliakan ilmu, memuliakan pena, memuliakan proses belajar itu sendiri. Bayangkan betapa mulianya kedudukan aktivitas menghafal dan membaca Al-Qur'an dalam pandangan Allah, sampai-sampai ia dijadikan pembuka dari seluruh risalah. Ayat ini semestinya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: kalau Allah saja memuliakan proses belajar sedemikian rupa, bagaimana bisa sebagian dari kita membiarkan hafalan Qur'an diseret menjadi bahan gimmick, disandingkan dengan hadiah yang justru Allah larang?

Coba kita bayangkan skenarionya. Sebuah tantangan menghafal surah pendek — semacam Surah Ad-Dhuha — dibuat viral, lalu hadiahnya justru sesuatu yang haram. Siapa pun yang merancangnya barangkali hanya berpikir tentang jumlah penonton, tentang seberapa banyak orang akan berhenti scroll karena kontrasnya yang aneh. Tapi coba pikirkan dari sisi lain: berapa banyak anak-anak dan remaja yang menyaksikan itu, lalu diam-diam menyimpan kesan bahwa hafalan Qur'an itu setara dengan permainan berhadiah — sesuatu yang nilainya diukur dari hadiahnya, bukan dari kedekatannya kepada Allah?

Saya sendiri jujur saja, kalau scroll media sosial malam-malam, kadang ikut berhenti sejenak melihat video semacam itu — bukan karena setuju, tapi karena kagetnya itu, lho. Kita ini kadang lucu juga ya, jamaah: hal yang membuat kita marah kalau direnungkan, tetap saja kita tonton sampai habis "biar tahu isinya apa". Nah, di titik itulah algoritma media sosial sebenarnya sedang mempelajari kita lebih cepat daripada kita mempelajari diri sendiri.

Pekan ini kita juga mendengar kabar-kabar lain seputar dunia pendidikan — tentang program sekolah bagi keluarga kurang mampu, tentang guru-guru yang menanti kepastian status, tentang mahasiswa baru yang memasuki masa orientasi kampus. Semua itu kabar tentang akses dan kesempatan. Tapi kabar tentang tantangan hafalan tadi mengajak kita bicara tentang sisi yang berbeda: bukan soal siapa yang punya kesempatan belajar, melainkan soal apa yang terjadi pada ilmu itu setelah kita mendapatkannya. Punya akses ke Al-Qur'an, hafal beberapa surah, tetapi memperlakukannya sebagai bahan konten — itu ibarat diberi harta yang sangat berharga, lalu dijadikan mainan anak-anak di jalanan.

Ada satu hadits yang dihimpun dalam kitab Nashaihul 'Ibad yang, menurut saya, persis menggambarkan apa yang sedang terjadi. Rasulullah ﷺ bersabda:

سِتَّةُ أَشْيَاءَ هُنَّ غَرِيبَةٌ فِي سِتَّةِ مَوَاضِعَ

"Enam hal yang asing di enam tempat" — di antaranya beliau ﷺ menyebut: Al-Qur'an asing di dalam dada orang yang fasik. (Nashaihul Ibad — باب السداسي (1/2))

Asing. Kata itu yang paling menusuk buat saya. Al-Qur'an bisa saja hafal di lisan, tersimpan rapi di dada, tetapi tetap terasa asing — karena hati yang menampungnya tidak sungguh-sungguh menghidupinya. Itulah yang terjadi ketika hafalan dijadikan gimmick untuk hadiah yang haram: Al-Qur'annya ada, hafalannya ada, tapi ruhnya sudah lama pergi. Ini bukan cuma soal satu tantangan viral saja — ini soal pola yang bisa berulang dalam bentuk lain, kapan saja kita membiarkan yang suci dipakai sebagai alat untuk tujuan yang tidak sepadan dengan kesuciannya.

Jamaah, saya ingin kita jujur pada diri sendiri malam ini. Bukan hanya pembuat tantangan viral itu yang perlu introspeksi. Kita — yang menonton, yang tertawa karena kontrasnya lucu, yang ikut membagikan tanpa berpikir dua kali — juga sedang diuji niatnya. Setiap kali kita membagikan sesuatu yang menyandingkan yang suci dengan yang tidak pantas, tanpa memberi catatan atau teguran, kita sebenarnya ikut melanggengkan pesan bahwa itu wajar-wajar saja. Padahal hati kita tahu, itu tidak wajar.

Pertanyaan yang lebih dalam yang perlu kita bawa pulang malam ini: apa yang sesungguhnya kita cari ketika kita menghafal, membaca, atau mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan agama? Apakah kita mencari kedekatan dengan Allah, atau diam-diam kita juga mencari pengakuan, tepuk tangan, atau sekadar konten yang menarik perhatian? Ini bukan pertanyaan yang hanya berlaku untuk pembuat konten di media sosial — ini pertanyaan yang berlaku untuk setiap dari kita yang belajar mengaji, yang menghafal surah, yang mengikuti kajian.

Maka izinkan saya mengajak kita semua kepada tiga hal kecil yang bisa langsung kita lakukan sepulang dari sini. Pertama, malam ini, periksa linimasa media sosial kita masing-masing — kalau ada konten yang menyandingkan simbol agama dengan sesuatu yang tidak pantas, jangan bagikan, dan kalau perlu, tinggalkan komentar yang mengingatkan dengan santun. Kedua, kalau kita punya anak atau adik yang sedang menghafal Qur'an, ajak bicara sederhana malam ini: ingatkan bahwa hafalan itu berharga bukan karena hadiah atau pujian, melainkan karena kedekatannya dengan Allah. Ketiga, luangkan waktu sebelum tidur malam ini untuk bertanya jujur pada diri sendiri: ilmu dan ibadah yang saya lakukan hari ini, saya lakukan untuk siapa?

Jamaah yang saya hormati, semoga Allah menjaga hati kita agar Al-Qur'an dan ilmu yang kita miliki tidak pernah menjadi asing di dada kita sendiri. Semoga kita termasuk orang-orang yang memuliakan ilmu sebagaimana Allah memuliakannya sejak wahyu pertama diturunkan.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا وَهَمِّنَا. اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ نِيَّاتِنَا فِيْ كُلِّ عِلْمٍ نَتَعَلَّمُهُ وَكُلِّ آيَةٍ نَحْفَظُهَا، وَاجْعَلْهُ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan