بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati begitu banyak kabar tentang rumah tangga yang retak dan anak-anak yang terluka, ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini — bukan untuk menambah berat hati kita, melainkan untuk mengingatkan bahwa rumah masih bisa menjadi tempat yang aman, kalau kita mau menjaganya bersama-sama.
Coba kita bertanya jujur pada diri sendiri malam ini: kalau anak kita, keponakan kita, atau tetangga kita sedang disakiti diam-diam, apakah kita akan tahu? Atau selama ini kita terlalu sibuk berasumsi bahwa "pasti ada yang mengurus", "pasti orang tuanya tahu", "bukan urusan kita"?
Allah berfirman dalam Al-Qur'an,
يَتِيمًۭا ذَا مَقْرَبَةٍ
"(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat," (QS. Al-Balad: 15).
Ayat ini bagian dari gambaran Allah tentang jalan mendaki — 'aqabah — yang harus ditempuh untuk menjadi hamba yang benar-benar bertakwa, salah satunya adalah memberi makan pada hari kelaparan kepada anak yatim yang punya hubungan kerabat dengan kita. Kata "dzā maqrabah" ini disengaja: Allah tidak sekadar meminta kita bersedekah pada orang asing di jalan, tetapi mengingatkan bahwa yang paling sering terlewat justru saudara, keponakan, atau tetangga dekat kita sendiri — sebab kita keburu berasumsi ada orang lain dalam keluarga besar yang sudah menanganinya.
Pekan ini kita dengar kabar yang membuat dada sesak: rumah tangga yang berakhir di meja gugatan cerai, anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual, dan perundungan yang menyasar anak-remaja kita baik di sekolah maupun di linimasa media sosial mereka. Yang menyatukan semua kabar ini satu hal: nyaris selalu terjadi di ruang yang kita kira sudah aman, dan nyaris selalu ada tetangga atau kerabat yang sebenarnya "merasa ada yang aneh" jauh sebelum kabar itu pecah — tetapi memilih diam karena tidak enak hati.
Saya pribadi sering mendapati hal ini di lingkungan sendiri — ada tetangga yang mendengar suara pertengkaran keras dari rumah sebelah hampir tiap pekan, tetapi memilih menutup jendela lebih rapat daripada mengetuk pintu untuk sekadar bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?" Kita mungkin berpikir itu bukan urusan kita, padahal Islam menempatkan hak tetangga setara dengan hak kerabat dalam banyak hal yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Rasa segan yang berlebihan, kalau dibiarkan terus-menerus, bisa berubah menjadi pembiaran yang ikut menanggung akibatnya.
Dalam kitab adab, ada nasihat yang indah tentang bagaimana seharusnya kelembutan itu dijalankan dalam relasi keluarga. Disebutkan bahwa sikap yang baik ditunjukkan dengan "merendahkan sayap ketundukan" kepada mereka yang berhak kita hormati, tidak memandang sinis, dan tidak mengerutkan wajah di hadapan mereka (Bidayatul Hidayah). Nasihat ini awalnya berbicara tentang adab kepada orang tua, tetapi prinsipnya berlaku dua arah dalam sebuah keluarga: kelembutan yang sama yang kita tunjukkan kepada orang tua, semestinya juga mengalir kepada pasangan dan anak-anak kita. Rumah tangga yang sehat bukan yang tidak pernah punya masalah, melainkan yang setiap anggotanya terbiasa merendahkan ego demi menjaga perasaan yang lain. Bukan berarti selalu mengalah tanpa batas — ada beda antara merendahkan ego dalam cara bicara dan membiarkan diri terus-menerus disakiti; yang pertama itu akhlak, yang kedua itu kezaliman yang harus dihentikan.
Coba bayangkan sebuah rumah tangga di mana suami terbiasa merendahkan nada bicaranya kepada istri seperti ia merendahkan nada bicaranya kepada orang tuanya sendiri; di mana orang tua terbiasa mendengarkan alasan anak lebih dulu sebelum menjatuhkan hukuman, sebagaimana mereka ingin didengar oleh atasan mereka sendiri di tempat kerja. Kelembutan bukan tanda kelemahan — justru dibutuhkan kekuatan besar untuk tetap lembut ketika lelah, ketika kecewa, ketika merasa tidak dihargai. Rasulullah ﷺ, pemimpin umat yang paling berwibawa, justru dikenal sebagai pribadi yang paling lembut di dalam rumahnya sendiri, kepada istri-istrinya dan kepada anak-cucunya.
Jamaah yang saya hormati, kalau direnungkan lebih dalam, pola-pola yang kita dengar pekan ini punya akar yang sama: kesunyian. Korban yang sunyi karena takut, pelaku yang sunyi karena tidak pernah ditegur sejak kesalahan pertamanya masih kecil, dan lingkungan yang sunyi karena memilih tidak ikut campur. Islam mengajarkan kita untuk memecah kesunyian yang salah ini — bukan dengan menghakimi, tetapi dengan hadir. Hadir di sini bukan berarti mencampuri urusan rumah tangga orang lain secara berlebihan, melainkan menjadi orang yang cukup dekat sehingga kalau suatu hari dibutuhkan, kita sudah ada di sana — bukan orang asing yang baru dihubungi setelah keadaan sudah terlalu jauh memburuk.
Maka pekan ini, mari kita lakukan tiga hal sederhana. Pertama, hubungi satu kerabat atau tetangga yang sudah lama tidak kita tanyakan kabarnya, terutama yang kita tahu sedang berat urusan rumah tangganya — cukup pesan singkat yang tulus, tanpa perlu terdengar seperti sedang menginterogasi. Kedua, perhatikan lebih dekat anak-anak di sekitar kita, entah anak sendiri, keponakan, atau anak tetangga — bukan untuk mencurigai siapa pun, melainkan supaya kehadiran kita terasa, sehingga kalau suatu hari mereka butuh bercerita, kita sudah menjadi orang dewasa yang mereka percaya lebih dulu. Ketiga, kalau ada yang mempercayakan ceritanya kepada kita, dengarkan dulu sampai selesai sebelum menasihati — banyak orang hanya butuh didengar, bukan digurui, dan penghakiman yang terburu-buru sering membuat mereka menutup diri lebih lama lagi.
Semoga Allah menjadikan rumah kita, dan rumah setiap saudara kita, sebagai tempat yang menenangkan, bukan tempat yang menyimpan luka dalam diam.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ بُيُوْتِنَا، وَارْزُقْنَا الرِّفْقَ فِيْمَا بَيْنَنَا، وَاجْعَلْ أَهْلَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَلَيِّنْ قُلُوْبَ الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ لِيَكُوْنُوْا رُحَمَاءَ عَلٰى مَنْ يَعُوْلُوْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا لِطُمَأْنِيْنَةِ مَنْ حَوْلَنَا، لَا سَبَبًا لِكَآبَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بَيْتَنَا وَبَيْتَ كُلِّ مُسْلِمٍ مَكَانًا يُرْجٰى فِيْهِ الرَّحْمَةُ لَا يُخْشٰى فِيْهِ الْأَذٰى.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
