اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَحَاطَ عِلْمُهُ بِمَا نَرَى وَمَا لَا نَرَى، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي بُعِثَ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu — yang tampak di mata kita maupun yang tersembunyi dari pandangan kita. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
وَمَا لَا تُبْصِرُونَ
"Dan dengan apa yang tidak kamu lihat." (QS. Al-Haaqqa: 39)
Ayat pendek ini hadir dalam rangkaian sumpah Allah tentang kebenaran wahyu-Nya — bahwa Al-Qur'an bukan buatan manusia, sebab ilmu Allah meliputi baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat oleh mata manusia. Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini menjadi pintu masuk yang tepat untuk kita renungkan bersama pekan ini, sebab kita hidup di zaman ketika sebagian besar hidup kita justru berlangsung di ruang yang tidak terlihat: data yang terkumpul tanpa kita sadari, algoritma yang bekerja di balik layar menentukan apa yang kita baca, dan jejak digital yang tertinggal jauh setelah kita menutup aplikasi. Allah melihat semua itu, sementara kita sendiri sering lupa bahwa kita sedang diawasi oleh Yang Maha Melihat, bukan hanya oleh sesama manusia.
Kita hidup di pekan yang, kalau kita amati dari berita yang sampai kepada kita, sebetulnya sepi dari satu isu teknologi besar yang mengguncang. Tidak ada satu skandal kecerdasan buatan yang meledak, tidak ada satu kebijakan digital yang menjadi sorotan nasional. Tetapi justru dari sepinya isu besar itu, kita bisa melihat sesuatu yang lebih halus: betapa teknologi sudah menyusup ke hampir setiap sudut kehidupan kita tanpa kita sadari sebagai "teknologi" lagi.
Dari kabar yang sampai kepada kita pekan ini, ada sebuah program pemerintah kota yang disorot warganya sendiri lewat video karena dirasa tak kunjung membaik meski sudah lama berjalan — sebuah kritik yang hanya mungkin tersampaikan seluas itu karena ada platform digital yang membawanya dari satu ponsel ke ponsel yang lain, menembus batas yang dulu hanya bisa ditembus oleh media besar. Ini satu wajah dari amanah teknologi: ia bisa menjadi alat kontrol sosial yang sehat, mengingatkan pemegang amanah bahwa rakyatnya sedang memperhatikan.
Namun pekan ini kita juga mendengar wajah lain dari alat yang sama. Ramai diperbincangkan sebuah komentar yang menyindir gaya berbusana saudara kita yang berusaha menjaga kesantunan berpakaian dengan nada merendahkan, seolah kesalehan itu sesuatu yang pantas ditertawakan. Ramai pula sebuah sindiran kepada seorang pejabat publik menjelang bulan kemerdekaan, disampaikan dengan kata-kata kasar yang jauh dari adab menyampaikan kritik. Alat yang sama yang bisa membawa kritik yang sehat, ternyata bisa juga membawa cemoohan yang tidak membangun apa pun selain kepuasan sesaat bagi yang menulisnya.
Kabar yang sampai kepada kita pekan ini juga menyebut sebuah ulasan tentang manfaat satelit buatan asing bagi negeri kita — sebuah benda yang melayang jauh di atas kepala kita, bekerja siang dan malam memantau cuaca dan membantu komunikasi, namun nyaris tidak pernah kita pikirkan keberadaannya kecuali ketika seseorang membuat video khusus untuk menjelaskannya. Persis seperti ayat yang kita baca tadi: ada yang terlihat, ada yang tidak terlihat, dan keduanya sama-sama nyata serta sama-sama berpengaruh pada hidup kita.
Coba kita renungkan sejenak: berapa banyak dari kita yang benar-benar memahami bagaimana sebuah aplikasi di ponsel kita bekerja, data apa saja yang ia kumpulkan, dan ke mana data itu mengalir? Sebagian besar dari kita menggunakannya setiap hari tanpa pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di baliknya — persis seperti satelit yang melayang di langit, bekerja tanpa pernah kita lihat wujudnya. Ini bukan berarti kita harus curiga pada setiap alat yang kita pakai, sebab curiga berlebihan pun bukan akhlak yang diajarkan agama kita. Yang diminta dari kita hanyalah kesadaran: bahwa di balik kemudahan yang tampak sederhana, ada proses yang tidak kita lihat, dan karenanya ada tanggung jawab yang tidak boleh kita abaikan hanya karena tidak terlihat.
Ada pula kabar tentang anak-anak muda yang rela mengeluarkan uang lebih dari kemampuannya demi mengikuti sebuah tren gaya hidup berlari yang sedang viral di media sosial — bukan karena kebutuhan olahraga yang sesungguhnya, melainkan karena ingin tampil sesuai standar yang ditetapkan oleh linimasa. Di sinilah kita melihat bagaimana teknologi, lewat algoritma yang tidak kita lihat cara kerjanya, diam-diam membentuk selera, membentuk rasa cukup dan rasa kurang, bahkan membentuk ke mana uang kita mengalir.
Kalau kita tarik mundur dan pandang seluruh pola ini sebagai satu kesatuan, tampak bahwa yang sedang diuji pekan ini bukan sekadar selera hiburan kita, melainkan akal kita sendiri — kemampuan kita membedakan mana kritik yang membangun dan mana cemoohan yang merusak, mana kebutuhan yang nyata dan mana keinginan yang ditanamkan oleh linimasa, mana informasi yang berdasar dan mana yang hanya berbekal judul yang meyakinkan. Menjaga akal dari kerusakan semacam ini termasuk salah satu maksud besar disyariatkannya agama ini, sebagaimana kita diperintahkan menjaga diri dari segala yang memabukkan pikiran dan menyesatkan pandangan. Bedanya, dahulu ancaman itu berbentuk minuman keras dan judi; hari ini, salah satu bentuknya adalah banjir informasi yang tidak pernah berhenti mengalir ke kantong celana kita.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dari semua kabar ini — yang tampak sepi dari isu besar namun sebenarnya padat dengan pola-pola kecil — kita diajak merenungkan satu hal: bahwa teknologi hari ini bukan lagi sekadar alat yang kita pegang dan kita letakkan sesuka hati. Ia sudah menjadi ruang tempat kita menghabiskan sebagian besar waktu terjaga kita, ruang tempat lisan kita berbicara, ruang tempat mata kita memandang, dan ruang tempat hati kita condong. Dan sebagaimana setiap ruang yang kita masuki di dunia nyata memiliki adabnya sendiri, ruang digital pun demikian — hanya saja adab itu sering kita lupakan karena merasa tidak ada yang melihat.
Jamaah Jumat yang berbahagia, izinkan khatib mengajak kita masuk lebih dalam pada tiga pelajaran yang bisa kita petik dari kondisi ini, agar amanah teknologi yang ada di genggaman kita masing-masing benar-benar menjadi jalan kebaikan, bukan jalan kelalaian.
Pelajaran pertama adalah tentang adab mendengar sebelum berbicara, sebuah adab yang justru diajarkan panjang lebar oleh para ulama kita jauh sebelum media sosial ada. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, disebutkan sebuah prinsip yang sangat relevan dengan cara kita berinteraksi di ruang digital hari ini:
أَنْ يُلَازِمَ الْإِنْصَافَ فِي بَحْثِهِ وَخِطَابِهِ وَيَسْمَعَ السُّؤَالَ مِنْ مَوْرِدِهِ عَلَى وَجْهِهِ وَإِنْ كَانَ صَغِيرًا وَلَا يَتَرَفَّعُ عَلَى سَمَاعِهِ فَيَحْرِمُ الْفَائِدَةَ
"Hendaknya seseorang senantiasa berpegang pada sikap inshaf — adil dan berimbang — dalam pembahasan dan ucapannya, serta mendengarkan pertanyaan dari penanya sebagaimana adanya, walaupun ia terlihat kecil atau sepele, dan tidak menyombongkan diri dalam mendengarkannya sehingga menghalangi dirinya dari faedah."
Prinsip inshaf ini aslinya ditujukan bagi seorang alim yang menghadapi pertanyaan dari muridnya, agar tidak merasa direndahkan oleh pertanyaan yang tampak sederhana. Tetapi coba kita bawa prinsip ini ke ruang komentar media sosial kita masing-masing. Berapa banyak dari kita yang, ketika membaca komentar berbeda pendapat di kolom komentar, langsung menyusun bantahan sebelum selesai membacanya? Berapa banyak dari kita yang merasa sebuah pertanyaan atau kritik terlalu "receh" untuk didengarkan, padahal di dalamnya mungkin ada kebenaran yang perlu kita akui? Inshaf mengajarkan kita bahwa kebesaran hati untuk mendengar — bahkan dari suara yang kita anggap kecil — adalah pintu menuju faedah, sementara keangkuhan dalam mendengar hanya akan mengunci diri kita dari kebenaran yang mungkin datang dari arah yang tidak kita duga.
Para sahabat radhiyallahu 'anhum dikenal luas justru karena kerendahan hati mereka dalam menerima ilmu, bahkan dari orang yang usianya lebih muda atau kedudukannya lebih rendah dalam pandangan masyarakat. Tradisi keilmuan Islam mengajarkan bahwa kebenaran tidak mengenal status pembawanya — sebuah pesan singkat dari seorang yang tidak dikenal bisa jadi lebih benar dari pidato panjang seorang yang bergelar. Inilah yang perlu kita hidupkan kembali di ruang digital kita: bukan menilai komentar dari siapa yang menulisnya, melainkan dari kebenaran isinya.
Kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana prinsip ini sering dilanggar justru di ruang-ruang yang mengaku sedang membela agama. Sebuah pertanyaan jujur dari seseorang yang baru belajar shalat, atau sebuah keraguan yang disampaikan dengan sopan oleh seorang mualaf, kerap disambut bukan dengan penjelasan yang menenangkan, melainkan dengan nada merendahkan seolah bertanya adalah aib. Padahal, jamaah yang dimuliakan Allah, dakwah yang sehat justru tumbuh dari kesediaan mendengarkan pertanyaan sekecil apa pun dengan penuh hormat, sebagaimana Nabi kita ﷺ dikenal luas tidak pernah mempermalukan seorang pun yang datang bertanya kepada beliau, sekalipun pertanyaan itu terdengar sederhana atau bahkan janggal bagi sebagian sahabat yang hadir. Jika keteladanan itu bisa kita bawa ke kolom komentar kita masing-masing, ruang digital umat ini akan terasa jauh lebih ramah bagi siapa pun yang sedang mencari jalan pulang kepada Allah.
Pelajaran kedua, dan ini yang paling mendesak di zaman gambar dan video bisa direkayasa sedemikian rupa hingga sulit dibedakan dari yang asli, adalah pentingnya tabayyun — memeriksa dan memastikan kebenaran sebelum mempercayai, apalagi sebelum menyebarkan. Dalam kitab Fath al-Qarib, disebutkan sebuah kaidah hukum yang aslinya berbicara tentang cara hakim memutuskan perkara, namun prinsip di baliknya berlaku luas bagi siapa pun yang hendak mempercayai sebuah klaim:
فَصْلٌ فِي الْحُكْمِ بِالْبَيِّنَةِ. وَإِذَا كَانَ مَعَ الْمُدَّعِي بَيِّنَةٌ سَمِعَهَا الْحَاكِمُ، وَحَكَمَ لَهُ بِهَا إِنْ عُرِفَ عَدَالَتُهَا، وَإِلَّا طَلَبَ مِنْهَا التَّزْكِيَةَ
"Fasal tentang memutuskan perkara dengan bayyinah (bukti). Apabila pihak penggugat memiliki bukti, hakim akan mendengarkannya, dan memutuskan perkara dengannya jika kredibilitas bukti itu sudah diketahui baik; jika belum, hakim akan meminta tazkiyah — semacam rekomendasi atau penguatan kredibilitas — atas bukti tersebut terlebih dahulu."
Bayangkan, jamaah yang dimuliakan Allah, betapa hati-hatinya syariat kita dalam urusan memutuskan sebuah perkara. Sekadar ada "bukti" saja belum cukup — harus dipastikan dulu kredibilitasnya, dan bila belum jelas, dicari penguatnya lebih dulu sebelum keputusan diambil. Sementara di linimasa kita hari ini, sebuah tangkapan layar tanpa sumber jelas, sebuah video yang dipotong sepotong, atau sebuah narasi yang hanya didukung oleh judul yang mengejutkan, sudah cukup untuk kita percaya bulat-bulat dan kita teruskan ke grup keluarga dalam hitungan detik. Kita mempraktikkan standar kehati-hatian yang jauh lebih rendah untuk urusan yang bisa mencemarkan nama baik orang lain, dibanding standar yang diajarkan syariat untuk urusan hukum sekalipun.
Semangat tazkiyah dalam fikih ini pernah dihidupkan secara nyata oleh Umar ibn Khattab radhiyallahu 'anhu ketika beliau menjadi khalifah. Sebelum menerima kesaksian seseorang, beliau akan memastikan lebih dulu bahwa orang itu dikenal jujur dan dapat dipercaya oleh lingkungannya — bukan sekadar percaya karena orang itu berbicara dengan yakin atau bersuara paling lantang. Prinsip yang sama semestinya kita hidupkan setiap kali kita hendak mempercayai sebuah kabar yang bersliweran di linimasa: siapa sumbernya, apa buktinya, dan apakah sudah ada yang menguatkan kebenarannya — sebelum jempol kita bergerak menekan tombol bagikan.
Di zaman ketika suara seseorang bisa ditiru sedemikian mirip oleh perangkat lunak, ketika wajah seseorang bisa ditempelkan ke video yang tidak pernah benar-benar ia lakukan, kebutuhan akan tabayyun bukan lagi sekadar anjuran kehati-hatian, melainkan syarat mendasar untuk selamat dari fitnah yang meluas. Rasulullah ﷺ dikenal luas mengajarkan umatnya untuk senantiasa berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah besar yang menguji keimanan, dan salah satu ciri fitnah yang paling berbahaya adalah yang membuat kebenaran dan kebatilan tampak serupa di mata orang yang tidak waspada. Maka bagi kita hari ini, tabayyun bukan lagi keahlian khusus para ulama hadits yang meneliti sanad dan perawi — ia sudah menjadi kebutuhan harian setiap muslim yang memegang ponsel, sebab satu kali salah percaya dan salah menyebarkan bisa mencemarkan nama baik orang yang tidak bersalah, atau menyesatkan ratusan orang yang mempercayai kita.
Pelajaran ketiga adalah tentang menjaga kesederhanaan hati di tengah teknologi yang menawarkan segala kemudahan dan segala godaan untuk memiliki lebih. Dalam kitab Nashaihul Ibad, disebutkan sebuah riwayat dari sahabat Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:
حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَخْتَارَ سَبْعًا عَلَى سَبْعٍ: الْفَقْرَ عَلَى الْغِنَى، وَالذُّلَّ عَلَى الْعِزِّ، وَالتَّوَاضُعَ عَلَى الْكِبْرِ، وَالْجُوعَ عَلَى الشِّبَعِ، وَالْغَمَّ عَلَى السُّرُورِ، وَالدُّونَ عَلَى الْمُرْتَفِعِ، وَالْمَوْتَ عَلَى الْحَيَاةِ
"Adalah hak atas orang yang berakal untuk memilih tujuh perkara atas tujuh perkara lainnya: memilih kefakiran daripada kekayaan, memilih kehinaan (di mata dunia) daripada kemuliaan (dalam pandangan manusia), memilih rendah hati daripada kesombongan, memilih lapar daripada kenyang, memilih kesedihan daripada kegembiraan (bila itu menjaga hatinya), memilih kedudukan rendah daripada kedudukan tinggi, dan memilih (siap menghadapi) kematian daripada (lalai karena panjang angan-angan dalam) kehidupan."
Hadirin yang dimuliakan Allah, riwayat ini bukan mengajak kita membenci kekayaan atau kesenangan dunia, sebab Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Ia mengajarkan sesuatu yang lebih halus: kesediaan untuk tidak selalu memilih yang terlihat lebih menguntungkan di mata dunia, ketika pilihan itu justru menjauhkan kita dari kesehatan hati. Kita bisa membacanya kembali dalam konteks pekan ini: seorang anak muda yang menghabiskan uang demi tampil sesuai standar gaya hidup yang didiktekan tren digital, sesungguhnya sedang memilih "kemuliaan di mata linimasa" di atas kecukupan dan ketenangan hatinya sendiri. Ia memilih delapan yang salah dari tujuh pilihan yang diajarkan riwayat ini.
Zuhud yang diajarkan riwayat ini, jika kita terjemahkan ke bahasa hari ini, adalah keberanian untuk berkata "cukup" di hadapan algoritma yang dirancang justru agar kita tidak pernah merasa cukup — algoritma yang menampilkan orang lain tampak lebih bahagia, lebih kaya, lebih menarik, agar kita terus menggulirkan layar, terus membandingkan, dan pada akhirnya terus mengeluarkan uang serta waktu untuk mengejar bayangan yang terus bergerak menjauh. Kesederhanaan bukan kelemahan di zaman ini; kesederhanaan adalah bentuk perlawanan yang sehat terhadap sistem yang dirancang untuk membuat kita selalu merasa kurang.
Zuhud semacam ini paling mudah kita tanamkan mulai dari rumah kita sendiri. Anak-anak kita hari ini tumbuh di tengah linimasa yang setiap hari memamerkan mainan baru, gawai baru, dan liburan baru milik anak-anak lain. Jika kita sebagai orang tua tidak sengaja menanamkan rasa cukup sejak dini, mereka akan tumbuh dengan standar kebahagiaan yang ditentukan oleh algoritma, bukan oleh iman. Mengajak anak bersyukur atas apa yang sudah dimiliki, sesederhana menyebutkannya satu per satu sebelum tidur, adalah bentuk konkret mewariskan zuhud yang diajarkan riwayat Ibnu 'Abbas tadi kepada generasi yang akan hidup jauh lebih lekat dengan layar dibanding generasi kita.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jika kita satukan ketiga pelajaran ini — inshaf dalam mendengar, tabayyun sebelum mempercayai, dan zuhud dalam menakar kebutuhan — kita akan sampai pada satu kesimpulan yang sama: kemampuan menggunakan teknologi, sekecil apa pun bentuknya, adalah amanah yang akan ditanya penggunaannya di hadapan Allah kelak. Sebagaimana ayat pembuka khutbah ini mengingatkan, Allah melihat yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Setiap ketikan yang kita kira hanya dilihat layar, setiap unggahan yang kita kira hanya soal ekspresi diri, setiap detik yang kita habiskan menggulirkan layar tanpa tujuan — semuanya tercatat, semuanya termasuk dalam apa yang "tidak kita lihat" namun Allah lihat dengan sempurna.
Ini sejalan dengan kedudukan kita sebagai khalifah fil ardh — bukan pemilik mutlak atas kemampuan yang kita punya, melainkan pemegang amanah yang dititipi akal, lisan, dan kini juga alat-alat baru yang dulu tidak dibayangkan oleh generasi sebelum kita. Menjaga akal dari informasi yang menyesatkan, menjaga lisan dari sindiran yang menyakiti, dan menjaga hati dari kesombongan karena merasa paling tahu — ketiganya adalah bagian dari fardhu kifayah yang harus ditegakkan bersama-sama oleh umat ini, sebab bila dibiarkan, kerusakannya akan menjadi tanggung jawab kolektif yang kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atasnya di yaumil hisab.
Ada satu penghiburan yang perlu kita pegang di tengah semua kewaspadaan ini: Allah tidak membebani kita untuk menjadi ahli teknologi atau ahli hukum digital lebih dulu sebelum bisa selamat dari fitnahnya. Yang Dia minta jauh lebih sederhana — hati yang jujur, telinga yang mau mendengar sebelum menghakimi, dan kesediaan untuk berkata "saya belum tahu, biar saya periksa dulu" ketika belum yakin akan sebuah kabar. Tiga sikap ini bisa dimiliki siapa saja, dari kakek yang baru belajar menggunakan telepon pintar hingga remaja yang sudah fasih dengan segala aplikasi terbaru. Amanah teknologi, pada akhirnya, bukan soal seberapa canggih alat yang kita pegang, melainkan seberapa jujur hati yang menggerakkannya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, sebelum kita menutup khutbah pertama ini, izinkan khatib mengajak kita pada beberapa langkah konkret yang bisa kita mulai sejak pekan ini juga. Pertama, biasakan jeda sebelum membagikan: setiap kali menerima kabar atau klaim yang mengejutkan, tahan dulu satu-dua menit untuk memeriksa sumbernya sebelum menekan tombol bagikan. Kedua, latih diri untuk mendengar dengan adil: ketika membaca komentar yang berbeda pendapat, selesaikan dulu membacanya dengan pikiran terbuka sebelum menyusun bantahan, sebagaimana diajarkan prinsip inshaf tadi. Ketiga, kurangi nada menyindir dalam unggahan kita sendiri: sebelum menekan kirim, tanyakan pada diri apakah kalimat itu akan membuat kita malu bila dibacakan di hadapan Allah kelak. Keempat, tetapkan satu waktu setiap hari untuk benar-benar lepas dari layar — sekadar sepuluh atau lima belas menit — sebagai latihan bahwa kitalah yang mengendalikan alat, bukan sebaliknya. Kelima, ajari anak atau adik di rumah satu kebiasaan kecil yang sederhana: bertanya "dari mana kabar ini?" sebelum mempercayai apa pun yang muncul di layar mereka.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan setiap kemampuan yang kita miliki — termasuk kemampuan menggenggam teknologi di tangan kita — sebagai jalan kebaikan yang memberatkan timbangan amal kita, bukan jalan kelalaian yang justru memberatkan hisab kita kelak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita pertegas kembali apa yang telah kita renungkan bersama pada khutbah pertama tadi. Ayat yang kita baca di awal mengajarkan bahwa Allah mengetahui yang terlihat dan yang tidak terlihat. Ini bukan sekadar ilmu teologi yang berhenti di kepala, melainkan pengingat yang seharusnya mengubah cara kita menggenggam ponsel, cara kita menulis komentar, dan cara kita menghabiskan waktu senggang kita.
Kita telah belajar bahwa inshaf — kesediaan mendengar dengan adil, bahkan dari suara yang kita anggap kecil — adalah pintu menuju faedah yang tidak akan pernah terbuka bagi hati yang sombong. Kita juga telah belajar bahwa tabayyun bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan mendesak di zaman ketika gambar dan suara bisa direkayasa sedemikian meyakinkan. Dan kita telah belajar bahwa kesederhanaan hati — kesediaan berkata cukup — adalah bekal yang akan menjaga kita dari kelelahan mengejar standar yang terus bergerak yang didiktekan oleh algoritma.
Ketiga pelajaran ini sesungguhnya adalah satu pelajaran yang sama, dilihat dari tiga sisi: bahwa kemampuan besar yang ada di genggaman kita hari ini menuntut kerendahan hati yang setara besarnya. Semakin besar jangkauan suara kita di ruang digital, semakin besar pula amanah yang menyertainya. Semoga Allah memampukan kita menjadi pengguna teknologi yang menjaga amanah itu, bukan yang tenggelam di dalamnya.
Ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri malam ini, atau nanti sepulang dari masjid: aplikasi apa yang paling sering kita buka tanpa benar-benar tahu mengapa kita membukanya? Akun apa yang paling sering membuat hati gelisah atau iri setelah melihatnya? Kabar apa yang terakhir kali kita sebarkan tanpa sempat kita periksa dulu kebenarannya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini, jika kita jawab dengan jujur, akan menunjukkan kepada kita di mana sebenarnya letak amanah yang selama ini kita abaikan.
Semoga pekan ini menjadi pekan ketika kita mulai membiasakan tiga kebiasaan kecil yang telah kita bahas: mendengar dengan adil, memeriksa sebelum mempercayai, dan menakar dengan cukup. Ketiganya tampak sederhana, namun jika dijaga konsisten akan menjadi benteng yang kokoh bagi akal dan hati kita di tengah derasnya arus informasi yang tidak akan pernah surut.
Kepada para orang tua secara khusus, khutbah ini mengajak kita menjadi teladan lebih dulu sebelum menjadi pengawas. Anak-anak lebih banyak belajar dari kebiasaan kita memegang ponsel di meja makan dibanding dari nasihat panjang yang sesekali kita sampaikan. Jika kita ingin mereka tumbuh dengan kebiasaan digital yang sehat, mulailah dari diri kita sendiri terlebih dahulu. Rumah yang tenang dari kebisingan notifikasi akan melahirkan hati yang lebih mudah diajak mendengar nasihat, jauh lebih efektif daripada seribu larangan yang diucapkan sambil kita sendiri sibuk menatap layar.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan majelis Jumat ini sebagai pengingat yang membekas, bukan sekadar rutinitas pekanan yang kita dengar lalu kita lupakan begitu melangkah keluar dari masjid. Sebagaimana kita menjaga wudhu agar shalat kita sah, semestinya kita juga menjaga niat setiap kali membuka layar, agar waktu yang Allah titipkan kepada kita tidak habis untuk sesuatu yang tidak akan pernah ditanyakan kebaikannya di hari perhitungan.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, memohon agar Dia membimbing hati dan akal kita dalam menghadapi zaman yang terus berubah ini.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالظُّلْمَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ.
اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَاجْعَلْ مَا آتَيْتَنَا مِنَ الْوَسَائِلِ وَالْأَدَوَاتِ سَبَبًا لِقُرْبِنَا إِلَيْكَ لَا سَبَبًا لِبُعْدِنَا عَنْكَ. اَللّٰهُمَّ بَصِّرْنَا بِمَا لَا نُبْصِرُ مِنْ مَكَايِدِ الشَّيْطَانِ وَخَفَايَا الْفِتَنِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاحْفَظْ ذُرِّيَّاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَنْتَشِرُ عَبْرَ الشَّاشَاتِ وَالْأَجْهِزَةِ، وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَخْدِمُوْنَ نِعَمَكَ فِيْ طَاعَتِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
