Di zaman ketika seseorang harus mengumpulkan pengikut dulu baru dianggap layak didengar, dan orang penting biasanya punya penyaring yang menentukan siapa boleh mendekat, ada satu potongan riwayat dari Madinah yang membalik logika itu sepenuhnya. Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam kitab Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ — menghimpun sebuah kejadian singkat yang mudah terlewat pembaca, tapi menyimpan sesuatu yang dalam.
Rasulullah ﷺ adalah orang paling sibuk di Madinah. Beliau kepala negara sekaligus rasul, tempat orang mengadukan perkara besar dan perkara kecil sekaligus. Tapi orang-orang yang mengenalnya dekat tahu satu hal: beliau tidak pernah terlalu sibuk untuk siapa pun. Beliau menjenguk orang sakit, siapa pun orangnya. Beliau datang ke pemakaman warga biasa. Beliau menaiki keledai — tunggangan yang jauh dari gengsi seorang pemimpin — dan beliau memenuhi undangan makan dari seorang budak sekalipun, bukan hanya dari orang-orang terpandang.
Hari itu, seperti hari-hari biasa, jalanan Madinah ramai dan berdebu. Seorang perempuan dari kalangan Anshar berjalan mendekat, tangannya menggandeng anaknya yang masih kecil. Wajahnya menunjukkan ia sudah lama menyimpan sesuatu, tapi ragu memulainya di tengah orang banyak yang mengelilingi beliau.
"Sesungguhnya aku punya satu keperluan kepadamu," katanya, akhirnya, kepada Rasulullah ﷺ.
Tidak ada jeda. Tidak ada penyaring yang bertanya lebih dulu perihal apa keperluannya, atau menyuruhnya menunggu giliran esok hari. Rasulullah ﷺ langsung menjawab:
اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ
"Duduklah di jalan Madinah mana saja yang engkau kehendaki, aku akan duduk bersamamu."
Perempuan itu mungkin tidak menyangka jawabannya semudah itu. Bukan "nanti kujadwalkan", bukan "sampaikan dulu ke orang yang mengurus pertemuanku". Orang paling penting di kota itu justru menyerahkan pilihan tempat kepadanya — perempuan biasa yang bahkan namanya nyaris tidak tercatat rapi dalam sejarah.
