بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ramai sebuah komentar yang menyindir cara berpakaian saudara kita sendiri secara merendahkan, dan ramai pula sindiran kasar kepada seorang pejabat publik menjelang bulan kemerdekaan. Ada satu pesan yang ingin saya sampaikan malam ini — bukan tentang siapa yang benar dalam perdebatan itu, melainkan tentang bagaimana kita, sebagai pribadi yang mengaku beriman, sebaiknya bersikap di tengah kebiasaan menyindir yang makin akrab di layar kita masing-masing.
Coba kita tanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita membaca sebuah sindiran, lalu ikut tertawa, atau bahkan ikut membagikannya? Rasanya baru kemarin, atau bahkan hari ini juga. Ayat yang ingin saya bacakan malam ini pendek saja, tapi dalam maknanya:
وَمَا لَا تُبْصِرُونَ
"Dan dengan apa yang tidak kamu lihat." (QS. Al-Haaqqa: 39)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah mengetahui yang tampak dan yang tidak tampak. Sindiran yang kita ketik dengan santai, niat yang tersembunyi di baliknya, rasa puas yang muncul ketika unggahan kita disukai banyak orang — semua itu masuk dalam apa yang "tidak kita lihat" dari diri kita sendiri, tapi Allah melihatnya dengan sangat jelas. Kita mungkin bisa menyembunyikan niat dari sesama manusia, tapi tidak dari Yang Maha Melihat.
Pekan ini saya memperhatikan satu pola kecil yang menarik untuk direnungkan bersama. Ada video yang menyoroti sebuah program pemerintah kota yang dirasa tak kunjung membaik — itu kritik yang wajar dan sehat, sebab mengingatkan pemegang amanah agar bekerja lebih baik. Tapi ada juga komentar yang menyindir gaya berpakaian yang justru berusaha menjaga kesantunan, ditulis dengan nada meremehkan seolah kesalehan itu bahan tertawaan. Dua-duanya sama-sama disebut "kritik", tapi rasanya sangat berbeda: yang satu membangun, yang satu menjatuhkan. Bedanya bukan pada seberapa tajam kata-katanya, melainkan pada niat di baliknya — apakah ingin ada perbaikan, atau sekadar ingin ada yang direndahkan agar kita merasa lebih tinggi.
Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, ada satu nasihat yang sudah berumur ratusan tahun, tapi terasa seperti ditulis khusus untuk kita hari ini. Disebutkan sabda Nabi ﷺ:
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
"Para ulama itu adalah pewaris para nabi." Lalu ditambahkan perkataan sahabat Umar ibn Khattab radhiyallahu 'anhu:
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَتَعَلَّمُوا لَهُ السَّكِينَةَ وَالْوَقَارَ
"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah pula untuknya sikap tenang dan berwibawa." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)
Jamaah, perhatikan baik-baik pesan Umar ini: ilmu tidak berdiri sendiri. Ilmu harus dipelajari bersama sakinah — ketenangan — dan waqar — kewibawaan. Bukan ilmu yang disampaikan sambil berteriak, bukan pendapat yang dibela dengan emosi meledak-ledak di kolom komentar. Kalau ilmunya benar tapi caranya kasar, yang tersisa bukan kebenaran yang sampai ke hati orang, melainkan luka yang tertinggal di sana.
Saya sendiri kadang tertawa geli mengingat diri sendiri — dulu, kalau ada yang berbeda pendapat, butuh waktu berhari-hari untuk menyusun surat balasan yang panjang. Sekarang, cukup tiga detik melihat notifikasi, jari sudah refleks mengetik balasan pedas sebelum otak sempat berpikir dua kali. Kecepatan ini yang membuat sakinah jadi barang langka: dulu jeda waktu memaksa kita berpikir ulang, sekarang kecepatan justru memaksa kita bereaksi ulang. Para sahabat Nabi ﷺ dikenal justru sebaliknya — semakin berat sebuah perkara, semakin mereka menahan diri untuk tidak buru-buru berkomentar, apalagi menyebarkannya sebelum benar-benar jelas duduk perkaranya.
Sindiran yang ramai pekan ini, kalau kita jujur, sering lahir bukan dari niat memperbaiki, melainkan dari rasa senang melihat orang lain direndahkan sedikit lebih rendah dari kita. Ini yang berbahaya, sebab begitu kita terbiasa mencari kepuasan dari merendahkan, kita perlahan kehilangan sakinah yang justru menjadi tanda seseorang benar-benar berilmu. Semakin keras nada kita di ruang digital, semakin jauh pula kita dari wibawa yang diajarkan Umar tadi — sebab wibawa lahir dari ketenangan, bukan dari kekerasan lisan.
Apa yang bisa kita lakukan malam ini juga? Sederhana saja. Sebelum kita menekan tombol suka atau membagikan sebuah sindiran, tanyakan pada diri: apakah ini akan membuat seseorang menjadi lebih baik, atau hanya membuat kita merasa lebih superior sesaat? Kalau jawabannya yang kedua, lebih baik kita diam. Diam yang berpahala jauh lebih baik daripada komentar yang viral tapi menyakiti orang lain.
Ada satu latihan kecil yang bisa kita coba mulai malam ini, sepulang dari sini. Sebelum tidur, buka lagi unggahan atau komentar yang kita tulis sepanjang hari tadi. Baca ulang dengan posisi seolah-olah kita yang menerimanya, bukan yang menuliskannya. Kalau ada satu saja kalimat yang terasa akan menyakiti bila ditujukan pada diri sendiri, itu tandanya sakinah yang kita bicarakan tadi belum hadir saat menuliskannya. Latihan sederhana ini, kalau dijaga rutin, lambat laun akan mengubah kebiasaan tangan kita sebelum mengetik, bukan hanya menyesal setelah terlanjur mengirim.
Jamaah yang saya hormati, mari kita bawa pulang satu pesan malam ini: ilmu sejati datang berpasangan dengan sakinah, bukan dengan kegaduhan. Kalau pekan ini kita merasa ingin ikut riuh menyindir seseorang di linimasa, itulah saatnya berhenti sejenak, ambil nafas, dan ingat bahwa Allah melihat apa yang tidak dilihat siapa pun — termasuk niat kita yang sesungguhnya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang dikenal tenang tutur katanya, bukan yang dikenal ramai komentarnya.
Ya Allah, lembutkanlah lisan dan jari-jari kami saat berada di depan layar. Jauhkan kami dari sikap berlebihan dalam mencela, dan anugerahkan kepada kami sakinah dalam menyampaikan kebenaran.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، وَارْزُقْنَا السَّكِيْنَةَ وَالْوَقَارَ فِيْ أَقْوَالِنَا وَأَفْعَالِنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
