إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah pada kesempatan yang mulia ini kita membuka hati dengan satu ayat pendek yang mungkin sudah sangat akrab di telinga kita, tetapi jarang kita renungkan maknanya sedalam-dalamnya.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. An-Naas: 3: "Sembahan manusia."
Ayat pendek ini adalah penutup dari sebuah surah yang biasa kita baca setiap hari, sering kali tanpa benar-benar berhenti pada maknanya. Kata "an-naas" — manusia — pada ayat ini tidak dibatasi dengan kata sifat apa pun. Bukan "sembahan orang beriman", bukan "sembahan umat Islam saja". Allah menyebut diri-Nya sebagai sembahan bagi seluruh manusia, siapa pun mereka, di mana pun mereka berdiri hari ini dalam perjalanan keyakinannya. Ini bukan ayat yang mengajarkan bahwa semua jalan sama benarnya di sisi Allah — kita akan segera bicara tentang batas yang tegas soal itu. Tetapi ayat ini mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar dan sering terlewat: sebelum kita bicara tentang perbedaan keyakinan, ada satu kenyataan yang kita bagi bersama dengan setiap manusia di bumi ini — kita semua hidup di bawah pemeliharaan Rabb yang sama, menghirup udara dari langit yang sama, dan kelak akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan terhadap sesama.
Jamaah yang dirahmati Allah, pekan-pekan belakangan ini, di antara obrolan warganet yang sampai kepada kita, muncul satu pertanyaan yang sederhana namun mengusik: apakah daftar agama yang diakui secara resmi di negeri ini sudah benar-benar mewakili seluruh keberagaman keyakinan yang hidup di tengah masyarakat kita. Pertanyaan semacam ini mudah dilewatkan sebagai obrolan ringan di linimasa, tetapi sesungguhnya ia menyentuh sesuatu yang serius: bagaimana sebuah bangsa yang begitu majemuk ini mengatur relasi antarwarganya yang berbeda keyakinan, dan bagaimana kita sebagai umat mayoritas menyikapi kenyataan bahwa di sekeliling kita — di kompleks perumahan, di tempat kerja, di pasar — selalu ada saudara sebangsa yang menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda dari kita.
Kabar yang sampai kepada kita pekan ini juga membawa kisah-kisah tentang orang yang memilih berpindah keyakinan, memeluk Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Kisah-kisah mualaf semacam ini selalu menarik perhatian, dibagikan dan ditonton banyak orang. Tetapi mari kita renungkan sejenak: di balik setiap kisah mualaf yang viral, ada satu manusia yang baru saja menempuh perjalanan batin yang panjang dan berat, sering kali dengan kehilangan — kehilangan hubungan dengan keluarga lama, kehilangan rasa aman dalam komunitas lama. Kewajiban kita bukan menjadikan kisah itu bahan pameran kemenangan atas keyakinan lain, apalagi bahan untuk merendahkan keyakinan yang mereka tinggalkan. Kewajiban kita adalah menyambut mereka sebagaimana Rasulullah ﷺ menyambut setiap orang yang datang kepada Islam dengan hati yang tulus: dengan pelukan, bukan dengan sorotan.
Pekan ini pula, ramai diperbincangkan pergantian kepemimpinan di salah satu organisasi massa Islam terbesar di negeri ini, dan di sela-selanya muncul pula obrolan warganet yang penasaran tentang bagaimana pandangan saudara-saudara kita dari organisasi Islam lain terhadap suatu isu. Sekilas ini tampak jauh dari tema toleransi lintas-agama yang biasa kita bicarakan. Tetapi jamaah sekalian, justru di sinilah salah satu pelajaran terbesar pekan ini tersembunyi: keberagaman yang paling dekat dengan kita bukan selalu keberagaman antaragama, melainkan keberagaman di dalam rumah kita sendiri — perbedaan organisasi, perbedaan penekanan mazhab, perbedaan cara pandang dalam satu akidah yang sama.
Dan pekan ini, gaung solidaritas untuk saudara-saudara kita di Palestina kembali menggema di ruang publik. Ikatan ukhuwah memang tidak mengenal batas negara — penderitaan saudara seiman di tempat yang jauh tetap terasa dekat di hati kita. Ini adalah kepedulian yang sah dan mulia, yang akan kita bawa dalam doa di penghujung khutbah ini.
Jamaah yang dimuliakan Allah, empat kabar yang berbeda ini — pertanyaan tentang keberagaman resmi, kisah-kisah mualaf, dinamika organisasi Islam, dan solidaritas lintas-negara — sesungguhnya menenun satu benang yang sama: pekan ini adalah pekan di mana pertanyaan tentang identitas, kebersamaan, dan cara kita berhubungan dengan yang berbeda hidup nyata di hati banyak orang, bahkan tanpa satu insiden dramatis yang memaksanya muncul. Dan di sinilah relevansi ayat pembuka kita tadi: kita semua — apa pun keyakinan kita, apa pun organisasi kita, apa pun kewarganegaraan kita — hidup di bawah satu Rabb yang sama, dan pertanyaannya bukan apakah kita akan bertemu dengan yang berbeda dari kita, karena pasti akan bertemu, melainkan bagaimana kita menyikapi pertemuan itu.
Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita bawa hati kita pada satu surah pendek lain yang sangat sering kita baca, tetapi jarang kita gali argumennya secara utuh.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Kaafiroon: 2: "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah."
Jamaah sekalian, ayat ini turun dalam konteks yang sangat spesifik: sekelompok pemuka Quraisy datang kepada Rasulullah ﷺ dengan sebuah tawaran kompromi — mereka akan menyembah Tuhan yang disembah Nabi ﷺ setahun, dan Nabi ﷺ menyembah tuhan-tuhan mereka setahun berikutnya, bergantian, supaya tidak ada yang merasa kalah. Tawaran itu, kalau kita pikirkan, sebenarnya tawaran "toleransi" dalam arti yang paling dangkal — mencampur ibadah supaya semua pihak merasa nyaman. Dan Allah menjawabnya dengan tegas lewat surah ini: tidak. Ketegasan ini penting kita pahami dengan benar, jamaah, karena ketegasan bukanlah lawan dari kelembutan. Sebuah keyakinan yang kabur tentang siapa yang ia sembah tidak punya apa pun yang stabil untuk ditawarkan kepada siapa pun, termasuk kepada dirinya sendiri. Kejernihan tentang Siapa yang kita sembah bukan penghalang bagi hubungan baik dengan sesama — justru itu adalah fondasi yang membuat hubungan itu jujur, bukan hubungan yang dibangun di atas kekaburan akidah yang pada akhirnya akan merugikan semua pihak.
Tetapi jamaah yang dirahmati Allah, surah yang sama yang menolak kompromi akidah itu, hanya beberapa ayat kemudian, justru menutup dengan salah satu pernyataan koeksistensi paling terkenal dalam Al-Qur'an.
قَالَ اللهُ تَعَالَى:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Kaafiroon: 6: "Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku."
Perhatikan susunan surah ini, jamaah sekalian: ia dibuka dengan penolakan tegas terhadap pencampuran akidah, dan ditutup dengan pengakuan yang lapang atas hak orang lain untuk memeluk keyakinannya sendiri. Tidak ada kontradiksi di sini — justru inilah keseimbangan yang ingin diajarkan Islam kepada kita. Ketegasan akidah dan kelapangan pergaulan bukan dua hal yang saling meniadakan; keduanya berjalan beriringan dalam satu surah yang sama. Rasulullah ﷺ menutup penolakan itu bukan dengan permusuhan, bukan dengan paksaan, melainkan dengan membiarkan pihak yang menolak dakwahnya pergi dengan damai, membawa keyakinannya sendiri.
Kita bisa melihat prinsip yang sama dipraktikkan Rasulullah ﷺ sepanjang hidupnya di Madinah. Ketika beliau ﷺ membangun kesepakatan hidup bersama antarpenduduk Madinah — Muslim dan bukan Muslim, dalam apa yang kemudian dikenal sebagai piagam kesepakatan bersama itu — beliau ﷺ tidak menuntut setiap penduduk untuk masuk Islam sebagai syarat hidup damai. Yang dituntut adalah kesediaan menjaga kesepakatan, membela kota bersama-sama, dan tidak saling menzalimi. Iman yang teguh, dalam praktik Nabi ﷺ, tidak pernah berarti menutup pintu kerja sama dengan yang berbeda keyakinan selama hak dan kewajiban bersama itu dijaga.
Jamaah yang dimuliakan Allah, kalau prinsip besar ini terasa terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari kita, mari kita turunkan ke ukuran yang paling kecil, yang bisa kita praktikkan besok pagi.
قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Riyad as-Salihin 682: "Iman itu memiliki enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman."
Perhatikan baik-baik susunan hadits ini, jamaah sekalian. Cabang iman yang paling tinggi adalah kalimat tauhid — pengakuan yang sama yang kita tegaskan lewat surah Al-Kaafiroon tadi. Tetapi cabang iman yang paling rendah — yang paling kecil, paling mudah, paling tidak butuh gelar keilmuan atau kedudukan sosial — adalah menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan yang dilalui orang banyak. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan "menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilalui orang Muslim". Jalan itu adalah jalan bersama, dilalui siapa saja: tetangga kita yang seiman, tetangga kita yang berbeda keyakinan, bahkan orang asing yang lewat tanpa kita kenal sama sekali. Iman yang paling rendah kadarnya ternyata justru yang paling universal jangkauannya. Betapa indahnya ajaran ini, jamaah — ia mengajarkan kita bahwa kebaikan kecil kepada siapa pun yang berbagi ruang hidup dengan kita bukan perkara remeh yang bisa kita anggap enteng, melainkan bagian sah dari keimanan kita sendiri.
Jamaah yang dirahmati Allah, ada satu hal lagi yang perlu kita tegaskan, supaya kelapangan yang kita bicarakan ini tidak disalahpahami sebagai kekaburan akidah. Dalam kitab akidah yang diajarkan turun-temurun di pesantren-pesantren kita, ada satu bait yang mengingatkan sesuatu yang penting.
وَصُحُفُ الْخَلِيلِ وَالْكَلِيمِ ۞ فِيهَا كَلَامُ الْحَكَمِ الْعَلِيمِ
وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُولُ ۞ فَحَقُّهُ التَّسْلِيمُ وَالْقَبُولُ
Sebagaimana disebutkan dalam 'Aqidat al-'Awam — بيت 26-30: "Dan suhuf (lembaran-lembaran wahyu) al-Khalil (Ibrahim) dan al-Kalim (Musa), di dalamnya kalam Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. Dan setiap apa yang dibawa oleh Rasul, maka haknya atas kita adalah penyerahan dan penerimaan."
Jamaah sekalian, perhatikan betapa dalamnya pelajaran dari dua bait ini. Akidah kita sendiri, sejak awal, sudah mewajibkan kita untuk mengimani lembaran-lembaran wahyu yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa 'alaihimas-salam — dua nama yang juga dihormati oleh saudara-saudara kita pemeluk agama lain. Ini bukan berarti kita menganggap semua jalan keyakinan hari ini setara dan sama-sama benar di sisi Allah — bait berikutnya justru menegaskan sebaliknya, bahwa hak mutlak ada pada apa yang dibawa oleh Rasul kita ﷺ, yang wajib kita terima dan kita ikuti secara penuh, karena risalah beliau ﷺ adalah penyempurna dan penutup dari seluruh risalah sebelumnya. Tetapi yang ingin kita garis bawahi pagi ini adalah: penghormatan kepada garis kenabian terdahulu itu sudah tertanam dalam struktur akidah kita sendiri, sebelum kita bicara toleransi ke pihak luar. Kita tidak perlu meminjam kerangka berpikir asing untuk bersikap hormat kepada sesama manusia — akidah kita sendiri sudah menyediakan fondasi itu, sejak dari dalam.
Dari sinilah, jamaah yang dimuliakan Allah, kita bisa memahami satu prinsip yang dikenal dalam kajian maqashid syariah sebagai hifz ad-din — menjaga ruang bagi setiap orang untuk meyakini dan menjalankan agamanya. Prinsip ini pertama-tama ditegakkan bukan oleh undang-undang negara, melainkan oleh akhlak kita sendiri sebagai individu: bagaimana kita menyapa tetangga yang berbeda keyakinan, bagaimana kita berbicara tentang keyakinan orang lain di depan anak-anak kita, bagaimana kita bersikap ketika mendengar kabar yang menyinggung kelompok tertentu. Menjaga ruang hidup beragama bagi semua orang, termasuk bagi diri kita sendiri untuk tidak dipaksa dalam beribadah, adalah bagian dari amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah, dari seluruh yang telah kita bahas, ada beberapa langkah nyata yang bisa kita bawa pulang pekan ini. Pertama, sapa dan bantu tetangga terdekat kita dalam urusan sehari-hari — mengangkat barang, menjaga keamanan lingkungan bersama, hadir ketika ada kesusahan — tanpa terlebih dahulu bertanya apa keyakinannya, karena cabang iman yang paling kecil sekalipun sudah cukup untuk menuntunnya. Kedua, jaga lisan dan jari-jari kita di media sosial; sebelum membagikan sesuatu yang menyinggung sebuah kelompok, tanyakan pada diri sendiri apakah kita sedang mengkritik sebuah tindakan yang nyata, atau sedang menggeneralisasi sekelompok manusia secara serampangan. Ketiga, kalau ada mualaf di lingkungan kita, sambut mereka dengan hangat dan jangan pernah mempertanyakan masa lalu keyakinannya di depan umum — biarkan itu menjadi ruang pribadi antara dirinya dan Allah. Keempat, rawat dahulu ukhuwah sesama umat: jaga adab ketika berbeda pendapat soal organisasi atau kecenderungan mazhab di grup keluarga maupun grup RT, karena rumah yang retak di dalam akan sulit membangun jembatan ke luar. Kelima, salurkan kepedulian kita untuk saudara-saudara di Palestina lewat cara yang konkret dan tepat sasaran — sedekah, doa, atau menyalurkan bantuan lewat lembaga yang terpercaya — bukan sekadar unggahan emosional yang justru menggeneralisasi satu bangsa atau satu kelompok masyarakat secara keseluruhan. Keenam, ajarkan anak-anak kita di rumah kalimat sederhana dari surah Al-Kaafiroon tadi — "untukmu agamamu, untukku agamaku" — sebagai fondasi awal mereka memahami bahwa keberagaman adalah kenyataan yang mereka akan hidup bersamanya sepanjang usia, dan Islam sudah mengajarkan cara menyikapinya sejak lebih dari empat belas abad yang lalu.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita jadikan pekan ini sebagai pekan untuk memperkuat dua hal sekaligus: keteguhan akidah yang tidak goyah oleh tawaran kompromi apa pun, dan kelapangan muamalah yang membuat kita menjadi rahmat bagi siapa pun yang berbagi ruang hidup dengan kita — tetangga, rekan kerja, sesama saudara seiman yang berbeda organisasi, bahkan saudara-saudara kita yang jauh di Palestina. Keduanya bukan pilihan yang harus kita ambil salah satu; keduanya adalah satu paket keimanan yang utuh, sebagaimana diajarkan dalam surah pendek yang kita baca hampir setiap hari.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah, izinkan saya menegaskan kembali inti pesan khutbah pertama ini dari sisi yang berbeda. Ketika kita berpegang teguh pada kalimat "laa a'budu maa ta'buduun" di dalam hati kita, kita sesungguhnya sedang membebaskan diri dari kegelisahan yang sering menghantui sebagian dari kita: rasa cemas yang berlebihan setiap kali bertemu dengan yang berbeda keyakinan, seolah keteguhan iman kita akan runtuh hanya karena bertegur sapa, bekerja sama, atau membantu tetangga yang berbeda agama. Iman yang benar-benar kokoh justru tidak gentar oleh perjumpaan dengan yang berbeda — ia tenang, karena ia sudah selesai dengan pertanyaan "siapa yang aku sembah".
Sebaliknya, ketika kita berpegang pada kalimat "lakum diinukum wa liya diin", kita sesungguhnya sedang mempraktikkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar toleransi pasif — kita sedang mempraktikkan penghormatan aktif kepada pilihan orang lain, tanpa harus menyetujuinya, dan tanpa harus memaksakannya berubah agar sesuai dengan keyakinan kita. Inilah kelapangan yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yang beliau ﷺ tunjukkan bukan hanya lewat ayat yang beliau ﷺ sampaikan, tetapi lewat cara beliau ﷺ membangun kehidupan bersama di Madinah, menjaga hak tetangga yang berbeda keyakinan, dan menegur keras sahabat yang pernah bersikap kasar kepada seseorang yang bukan Muslim tanpa alasan yang benar.
Jamaah sekalian, mari kita jadikan sikap ini sebagai bagian dari identitas kita sebagai Muslim Indonesia — bangsa yang sejak awal dibangun di atas kesadaran akan keberagaman yang luar biasa luasnya. Kita tidak perlu memilih antara menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga yang ramah kepada sesama; keduanya, sekali lagi, adalah satu paket yang sama, yang justru saling menguatkan.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah agar Dia meneguhkan hati kita di atas akidah yang lurus, dan melapangkan dada kita dalam bermuamalah dengan sesama.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرْحَمُ أَهْلَ الْأَرْضِ فَيَرْحَمَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحْسِنُ إِلَى جِيْرَانِهِ وَيَكُفُّ الْأَذَى عَنْ طَرِيْقِ النَّاسِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى دِيْنِكَ الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى مَنْ ظَلَمَنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ، وَارْزُقْهُمُ الْفَرَجَ الْعَاجِلَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِمَنْ يَقُوْدُوْنَ لَا نِقْمَةً عَلَيْهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَأَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
