Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatAcara Kalender IslamAhad, 16 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Cinta yang Sampai ke Akhlak"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Mari kita buka khutbah hari ini dengan satu ayat yang menggambarkan siapa sebenarnya Nabi yang kita cintai, dan apa yang beliau kerjakan untuk manusia.

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَىٰهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَٱلْأَغْلَٰلَ

Itulah QS. Al-A'raaf: 157. Terjemahannya: orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka; beliau menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Lalu ayat itu menutup dengan menyebut mereka yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya — merekalah orang-orang yang beruntung.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Empat hari lagi, tepatnya Selasa 25 Agustus, kita sampai pada 12 Rabi'ul Awwal 1448 H. Di banyak lingkungan, tanggal itu sudah terasa sejak pekan-pekan sebelumnya: jadwal majelis disusun, spanduk dipasang, anak-anak dilatih melantunkan shalawat, dan grup warga ramai oleh ajakan hadir. Di lingkungan lain, tanggal itu berjalan tenang tanpa acara khusus, dan kesibukannya sama seperti hari-hari biasa. Khutbah ini tidak sedang membicarakan bentuknya. Khutbah ini membicarakan apa yang berada di bawah semua bentuk itu — sesuatu yang kita semua sepakati dan sama-sama akan ditanya tentangnya: sejauh mana cinta kita kepada Rasulullah ﷺ sudah sampai ke akhlak kita.

Pertanyaan itu perlu diajukan karena cinta adalah kata yang mudah diucapkan dan sulit dibuktikan. Kita bisa menangis mendengar qasidah tentang beliau, lalu pulang dan berbicara dengan istri dengan nada yang keras. Kita bisa membagikan konten sirah setiap hari, lalu menawar upah tukang di rumah sampai jauh di bawah kepantasan. Kita bisa hafal urutan nasab beliau sampai ke Hasyim, tetapi tidak hafal nama tetangga tiga rumah ke kanan yang tinggal sendirian. Tidak ada seorang pun di antara kita yang berniat begitu. Yang terjadi biasanya lebih sederhana: kita membiarkan cinta berhenti di dada, dan tidak pernah menugaskannya turun ke tangan dan lisan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Perhatikan bagaimana ayat tadi memperkenalkan Nabi ﷺ. Allah tidak memperkenalkan beliau lewat kemegahan, tetapi lewat pekerjaan: menyuruh yang ma'ruf, melarang yang mungkar, menghalalkan yang baik, mengharamkan yang buruk, dan membuang beban serta belenggu dari pundak manusia. Kata "beban" dan "belenggu" di ayat ini bukan kiasan yang jauh dari hidup kita. Beban adalah segala yang membuat manusia berjalan membungkuk: utang yang mencekik, aturan buatan yang memberatkan orang kecil, kebiasaan sosial yang memaksa keluarga berhutang demi gengsi acara. Belenggu adalah segala yang membuat manusia tidak bisa bergerak: dendam yang dipelihara bertahun-tahun, kebiasaan buruk yang sudah jadi identitas, rasa takut kepada omongan orang yang lebih besar daripada rasa takut kepada Allah.

Kalau begitu, mengikuti beliau berarti mengambil pekerjaan yang sama di ukuran kita masing-masing. Seorang suami yang meringankan beban istrinya sedang meneladani beliau. Seorang majikan yang mempercepat pembayaran upah pekerjanya sedang meneladani beliau. Seorang guru yang tidak mempermalukan murid yang lambat sedang meneladani beliau. Seorang pengurus yang menyederhanakan urusan warga, bukan memperpanjangnya, sedang meneladani beliau. Inilah ittiba' yang paling dekat dengan kita, dan inilah yang paling sering terlewat ketika kita membicarakan kecintaan kepada Nabi ﷺ hanya dalam bahasa perasaan.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Ada satu ukuran yang Allah berikan untuk menilai apakah pengikut seorang nabi benar-benar terbentuk oleh nabinya. Ukuran itu bukan jumlah, bukan kemeriahan, melainkan wajah dan perilaku. Simaklah firman Allah berikut.

مُّحَمَّدٌۭ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًۭا سُجَّدًۭا يَبْتَغُونَ فَضْلًۭا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًۭا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ

QS. Al-Fath: 29 — Muhammad itu utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya; tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.

Ayat ini menyebut dua sisi yang harus berdiri bersama, dan umat mudah pincang di salah satunya. Sebagian mengambil sisi keras dan menjadikannya seluruh kepribadian, sehingga kerasnya dipakai bukan untuk membela agama melainkan untuk menghantam saudara sendiri di ruang publik. Sebagian lain mengambil sisi lembut dan mencairkannya sampai tidak ada lagi yang dijaga. Padahal ayat ini menempatkan kelembutan justru di dalam barisan — ruḥamā'u baynahum, berkasih sayang sesama mereka — dan ketegasan dihadapkan pada kekufuran, bukan pada sesama Muslim yang berbeda cara.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Coba kita jujur mengukur diri dengan ayat ini pekan ini. Di grup warga, ketika ada perbedaan tentang cara menandai satu momen keagamaan, ke mana ketegasan kita tertuju? Kepada perbaikan diri, atau kepada saudara yang jadwal ibadahnya tidak sama dengan kita? Ayat ini seperti cermin di lorong masuk masjid: sebelum melangkah lebih jauh membicarakan orang lain, wajah kita dulu yang diperlihatkan. Dan tanda yang disebut Allah adalah bekas sujud — artinya yang membentuk wajah seorang Muslim adalah frekuensi berhadapan dengan Allah, bukan frekuensi berhadapan dengan lawan bicara.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Kalau kita ingin tahu bagaimana wujud akhlak itu pada diri Rasulullah ﷺ, para sahabat sudah meringkasnya dalam kalimat yang sangat pendek. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan beliau sejak kecil, berkata dalam riwayat berikut.

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا

Dalam Sahih Muslim 2310b, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling baik akhlaknya. Kalimat itu hanya beberapa kata, tetapi siapa yang mengucapkannya membuat bobotnya berbeda. Kesaksian ini tidak datang dari tamu yang menginap semalam, tidak datang dari orang yang hanya melihat beliau di mimbar. Ia datang dari seorang anak yang tinggal serumah, yang melihat beliau lapar dan lelah, yang melihat beliau ketika tidak ada siapa-siapa yang perlu dikesankan.

Di sinilah letak ujian kita. Akhlak yang dinilai bukan akhlak di panggung, melainkan akhlak yang disaksikan oleh orang-orang yang tidak punya kuasa apa pun atas kita: anak kecil di rumah, pembantu, pekerja harian, penjaga warung, adik kelas, staf paling junior di kantor. Mereka tidak bisa membalas kalau kita kasar, dan tidak bisa menuntut kalau kita ingkar janji. Justru karena itu, cara kita memperlakukan mereka adalah laporan paling jujur tentang sejauh mana Nabi ﷺ sudah membentuk kita.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Kita tidak sedang berbicara tentang standar yang mustahil. Anas bercerita bahwa suatu hari beliau ﷺ mengutusnya untuk suatu keperluan, dan Anas — waktu itu masih anak-anak — sempat berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pergi," padahal dalam hatinya ia tetap akan pergi karena itu perintah Nabiyullah ﷺ. Perhatikan bahwa yang direkam dalam riwayat itu bukan kemarahan seorang pemimpin, melainkan sebuah rumah tangga yang di dalamnya seorang anak merasa cukup aman untuk menggerutu. Rumah yang dibimbing akhlak kenabian bukanlah rumah tanpa gesekan; ia rumah tempat gesekan tidak berubah menjadi luka.

Bandingkan dengan pola yang mudah kita jumpai hari ini: anak yang berhenti bercerita kepada orang tuanya karena setiap cerita berakhir dengan ceramah; pekerja yang berhenti melapor karena setiap laporan berakhir dengan bentakan; jamaah muda yang berhenti bertanya di majelis karena pertanyaannya pernah ditertawakan. Ketika saluran itu tertutup, yang hilang bukan hanya kenyamanan, melainkan kesempatan memperbaiki. Rasulullah ﷺ menjaga saluran itu tetap terbuka, dan itulah salah satu bentuk paling nyata dari "membuang beban dan belenggu" yang disebut dalam ayat pembuka tadi.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Ada satu hadits yang menempatkan posisi beliau bagi umatnya dengan cara yang menenangkan. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat berikut.

إِذَا أَرَادَ اللهُ تَعَالٰى رَحْمَةَ أُمَّةٍ، قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَهَا، فَجَعَلَهُ لَهَا فَرَطًا وَسَلَفًا بَيْنَ يَدَيْهَا

Riyad as-Salihin 439 — diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: apabila Allah menghendaki rahmat bagi suatu kaum, Dia mewafatkan nabi mereka lebih dahulu dan menjadikannya pendahulu serta pemberi kabar gembira bagi mereka di akhirat.

Renungkan kata "pendahulu" itu, jamaah. Beliau berangkat lebih dulu, dan kita diminta menyusul di jalan yang sama. Umat ini tidak ditinggal dalam kegelapan: ada Al-Qur'an yang terjaga, ada sunnah yang tercatat, ada ulama yang menyambungkan sanad ilmu dari generasi ke generasi sampai ke pesantren dan majelis di kampung kita. Maka kerinduan kepada beliau tidak pernah menjadi kerinduan yang sia-sia; ia kerinduan yang punya peta jalan. Orang yang benar-benar rindu akan bertanya, "Apa yang beliau kerjakan dalam situasi seperti yang saya hadapi sekarang?" — lalu mengerjakannya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Karena kita sedang berada di hari-hari menjelang peringatan kelahiran beliau, ada satu hal yang perlu dijaga bersama, dan ini penting untuk keselamatan aqidah kita. Kecintaan kepada Nabi ﷺ tidak boleh berubah menjadi pengagungan yang melampaui kedudukan beliau. Setiap hari kita bersaksi bahwa beliau adalah 'abduhu wa rasuluh — hamba Allah dan utusan-Nya. Dua kata itu berurutan, dan urutannya disengaja: kehambaan disebut lebih dulu. Beliau adalah manusia mulia yang tidak memiliki kuasa memberi manfaat dan menolak mudarat kecuali dengan izin Allah; permohonan, tawakal, dan harapan hanya ditujukan kepada Allah semata. Menjaga garis ini bukan mengurangi cinta — justru inilah cinta yang beliau ajarkan sendiri kepada umatnya, sebab yang paling beliau khawatirkan atas umat ini adalah rusaknya tauhid.

Dan sumber pengetahuan kita tentang beliau juga terjaga. Allah berfirman dalam QS. An-Najm: 2:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

"Kawanmu — yaitu Muhammad — tidak sesat dan tidak pula keliru." Ayat ini menutup pintu keraguan pada apa yang beliau sampaikan: yang beliau bawa bukan pendapat pribadi yang bisa meleset, melainkan wahyu yang dijaga. Di zaman ketika kebenaran sering diukur dari seberapa banyak orang membagikannya, umat ini punya rujukan yang tidak bergerak mengikuti selera. Tugas kita adalah kembali ke rujukan itu dengan bimbingan ulama, bukan menyusun agama dari potongan-potongan yang lewat di layar.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Para ulama kita mengumpulkan kekayaan sifat beliau dalam kitab-kitab khusus, dan salah satu bab yang paling menarik adalah bab tentang nama-nama beliau.

Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 51- باب ما جاء في اسماء رسول الله صلى الله عليه وسلم «1»

Dalam bab itu disebutkan sabda beliau berikut.

إِنَّ لِيْ أَسْمَاءً، أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا الْمَاحِيْ

"Sesungguhnya aku memiliki beberapa nama: aku Muhammad, aku Ahmad, dan aku al-Mahi." Para ulama mencatat sebuah kaidah ringkas dari bab ini: banyaknya nama menunjukkan kemuliaan pemiliknya. Setiap nama menyimpan satu sisi dari tugas dan kepribadian beliau, dan seorang Muslim yang mengenal nama-nama itu akan lebih mudah mengenali sisi mana dari beliau yang paling ia butuhkan dalam hidupnya.

Namun justru di sinilah kita perlu paling berhati-hati, jamaah. Semakin dalam kekaguman, semakin besar godaan untuk melewati batas. Karena itu para ulama kita menyusun juga pelajaran dasar yang dihafal anak-anak di surau: bahwa beliau punya ayah bernama 'Abdullah, punya ibu bernama Aminah, punya ibu susuan bernama Halimah as-Sa'diyyah, lahir di Mekah, dan wafat di Madinah. Data-data itu bukan sekadar hafalan untuk lomba. Data itu menjaga kita: beliau manusia pilihan Allah, bukan makhluk yang boleh ditempatkan di posisi Tuhan.

Thalathat al-Usul — ثلاثة الأصول / بسم الله الرحمن الرحيم

لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ

Kitab dasar tauhid itu mengingatkan makna kalimat yang setiap hari kita ucapkan — tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan.

Maka cinta yang benar itu punya dua sisi yang berjalan bersama: hati yang penuh penghormatan kepada beliau, dan ibadah yang murni hanya kepada Allah. Kalau salah satu dilepas, keduanya rusak. Melepas penghormatan melahirkan sikap kering yang menganggap sunnah sebagai urusan sepele. Melepas kemurnian ibadah menyentuh pokok yang paling dijaga dalam agama ini, yaitu tauhid. Umat ini dijaga selama dua sisi itu dipegang bersama-sama, dan itulah yang diajarkan beliau sendiri sepanjang hidupnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Pertanyaan berikutnya yang wajar muncul: bagaimana kita bisa yakin bahwa yang kita teladani hari ini benar-benar berasal dari beliau, sementara jarak kita dengan beliau lebih dari empat belas abad? Jawabannya adalah nikmat besar yang sering kita lupakan. Allah menjaga Al-Qur'an, dan umat ini dijaga dengan lahirnya generasi-generasi yang mencurahkan hidup untuk memeriksa setiap riwayat: siapa yang menyampaikan, dari siapa ia mendengar, apakah hafalannya kuat, apakah masa hidupnya memungkinkan pertemuan. Kesungguhan seperti itu tidak ada bandingannya dalam sejarah manusia.

Warisan itu sampai ke kita lewat jalur yang masih hidup sampai hari ini — lewat pesantren, lewat majelis taklim di kampung, lewat guru-guru yang sanad ilmunya bersambung. Karena itu, ketika kita ingin mengenal beliau lebih dalam, jalannya bukan mengumpulkan potongan-potongan yang lewat di layar, melainkan duduk di majelis ilmu dan bertanya kepada yang berilmu. Satu jam duduk mendengarkan penjelasan yang benar lebih berharga daripada berjam-jam menelan kutipan yang tidak jelas asalnya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Ada satu bahaya lain yang perlu kita waspadai bersama, yaitu menjadikan kecintaan ini sebagai urusan musiman. Setiap tahun kita mengalami pola yang sama: semangat naik menjelang tanggalnya, memuncak pada hari-H, lalu turun dan hilang dalam hitungan pekan. Kalau pola itu terus berulang, yang terbentuk bukan akhlak, melainkan kebiasaan bersemangat sebentar. Padahal yang dicari Allah dari kita adalah amal yang berkelanjutan, sekecil apa pun bentuknya.

Karena itu, sebaiknya kita perlakukan hari-hari ke depan sebagai awal, bukan sebagai puncak. Setelah Selasa 25 Agustus masih ada Ayyamul Bidh pada 26, 27, dan 28 Agustus, dan sesudahnya masih ada ratusan hari biasa dalam setahun. Di hari-hari biasa itulah kualitas kecintaan kita sesungguhnya diuji — ketika tidak ada spanduk, tidak ada undangan, tidak ada orang yang menonton, dan yang tersisa hanya kita, keluarga kita, dan Allah yang melihat.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Maka mari kita turunkan khutbah ini menjadi langkah yang bisa kita mulai hari ini, sebelum Selasa nanti tiba.

Pertama, pilih satu sifat akhlak beliau untuk dilatih pada hari-hari ke depan, dan cukup satu. Misalnya menahan suara ketika marah, atau menepati janji kecil kepada anak. Satu sifat yang dilatih sampai terlihat jauh lebih berharga daripada sepuluh sifat yang hanya dikagumi.

Kedua, perbaiki satu hubungan yang sedang renggang di lingkungan terdekat. Cukup datangi rumahnya, bawa sesuatu yang sederhana, dan tanyakan kabarnya tanpa membahas perselisihan yang lalu. Kasih sayang di dalam barisan yang disebut ayat tadi dibangun dari kunjungan-kunjungan kecil seperti ini, bukan dari pernyataan sikap yang panjang.

Ketiga, buka kembali saluran komunikasi yang tertutup di rumah. Dengarkan satu cerita anak atau istri sampai selesai tanpa memotong dan tanpa langsung menasihati. Ini latihan yang jauh lebih berat daripada kelihatannya, dan buahnya terasa dalam hitungan hari.

Keempat, kenali beliau dengan data yang benar. Sisihkan sepuluh menit setiap malam untuk membaca sirah bersama keluarga: nasab beliau, ibu susuannya, kota kelahiran dan kota wafatnya, bagaimana beliau berdagang, bagaimana beliau memperlakukan pelayan dan anak kecil. Cinta yang berdasar pengetahuan lebih tahan lama daripada cinta yang berdasar suasana.

Kelima, kunci satu amalan harian yang tidak putus setelah tanggal peringatan lewat — shalawat dalam jumlah tetap setiap hari, atau dzikir pagi dan petang. Amalan kecil yang terjaga lebih dicintai daripada amalan besar yang hanya muncul sekali setahun.

Keenam, bagi yang memegang amanah di lingkungan — pengurus, ketua kelompok, atasan di tempat kerja — periksa satu aturan atau kebiasaan yang memberatkan orang di bawah kita, lalu ringankan pekan ini juga. Inilah bentuk paling langsung dari meneladani Nabi yang tugasnya membuang beban dan belenggu dari pundak manusia.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Peringatan akan berlalu, spanduk akan diturunkan, dan feed akan berganti topik dalam beberapa hari. Yang tersisa dan dicatat adalah perubahan kecil yang kita jaga: nada suara yang lebih rendah di rumah, janji yang ditepati, tetangga yang tidak lagi merasa sendirian, pekerja yang menerima haknya tepat waktu. Semoga Allah menjadikan kecintaan kita kepada Nabi-Nya sebagai cinta yang sampai ke akhlak, dan mengumpulkan kita bersama beliau di hari ketika tidak ada yang bermanfaat kecuali hati yang selamat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ، وَجَعَلَ فِيْ خُلُقِهِ أُسْوَةً حَسَنَةً لِمَنْ رَجَا اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah. Ada satu hal yang perlu kita sadari tentang cinta: ia tidak pernah netral. Cinta selalu mengubah orang menjadi mirip dengan yang dicintainya. Anak kecil menirukan cara ayahnya berjalan, murid menirukan cara gurunya berbicara, pengagum menirukan gaya orang yang dikaguminya tanpa disuruh. Karena itu, kalau kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sudah bertahun-tahun kita nyatakan tetapi belum mengubah cara kita memperlakukan orang, yang perlu diperiksa bukan besarnya cinta itu, melainkan ke mana ia kita arahkan. Cinta yang diarahkan pada suasana akan berhenti bersama suasananya. Cinta yang diarahkan pada teladan akan bertahan sampai ke kebiasaan.

Yang kedua, mari kita ingat bahwa akhlak beliau tidak diriwayatkan oleh orang asing. Ia diriwayatkan oleh yang paling dekat: istri, pelayan, tetangga, anak-anak kecil di sekitar rumah beliau. Kesaksian mereka bertahan berabad-abad karena ia dikumpulkan dari kehidupan sehari-hari, bukan dari acara. Kalau kita berharap nama kita disebut baik oleh keluarga dan tetangga setelah kita tiada, maka pekerjaan itu dimulai hari ini juga, di ruang-ruang yang tidak ada penontonnya.

Yang ketiga, jangan kita biarkan perbedaan cara menandai satu momen memutus tali di antara kita. Umat ini pernah berdiri di hari yang sama, di tempat yang sama, dengan lafaz yang berbeda-beda, dan tidak ada yang saling mengingkari. Perbedaan yang dirawat dengan adab tidak melemahkan barisan; yang melemahkan barisan adalah lisan yang tidak dijaga dan prasangka yang dipelihara. Untuk urusan hukum, setiap keluarga sudah punya ulama tempat bertanya. Untuk urusan akhlak antar tetangga, tidak ada seorang pun yang boleh menunggu fatwa.

Yang keempat, hari-hari ke depan sebaiknya kita perlakukan sebagai latihan, bukan perayaan. Latihan berarti ada yang diulang setiap hari, ada yang diukur, dan ada yang dilanjutkan setelah tanggalnya lewat. Setelah 25 Agustus masih ada Ayyamul Bidh pada 26, 27, dan 28 Agustus, dan sesudah itu ada hari-hari biasa yang jumlahnya jauh lebih banyak. Justru di hari-hari biasa itulah kualitas kecintaan kita diuji.

Marilah kita tutup dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلٰى حُبِّكَ، وَاجْعَلْ حُبَّنَا لَهُ اتِّبَاعًا لِسُنَّتِهِ، وَاقْتِدَاءً بِأَخْلَاقِهِ، لَا دَعْوٰى بِاللِّسَانِ وَحْدَهُ.

اَللّٰهُمَّ حَسِّنْ أَخْلَاقَنَا كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقَنَا، وَارْزُقْنَا الرِّفْقَ فِيْ بُيُوْتِنَا، وَاللِّيْنَ فِيْ كَلَامِنَا، وَالْأَمَانَةَ فِيْ أَعْمَالِنَا، وَالْإِنْصَافَ مَعَ مَنْ لَا حَوْلَ لَهُ وَلَا قُوَّةَ عِنْدَنَا.

اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوْبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ وَمِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ، وَارْزُقْهُمْ صُحْبَةً صَالِحَةً، وَاصْرِفْ عَنْهُمْ كُلَّ مَا يُفْسِدُ دِيْنَهُمْ وَعُقُوْلَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ وِلَايَتَهُمْ أَمَانَةً مُؤَدَّاةً، وَبَارِكْ لِبِلَادِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا فِي الْأَمْنِ وَالرِّزْقِ وَالصِّحَّةِ، وَاحْفَظْهَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لِمَنْ سَبَقَنَا مِنْ إِخْوَانِنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، وَاجْمَعْنَا بِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ دَارِ كَرَامَتِكَ، وَاسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ شَرْبَةً لَا نَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan