Sembilan hari menjelang 12 Rabi'ul Awwal, orang-orang sibuk membicarakan kebesaran seorang nabi. Kisah berikut justru merekam beliau di tempat yang paling kecil ukurannya: sebuah rumah di Madinah, seorang bocah yang baru disapih, dan seekor burung. Riwayatnya tercatat dalam Sahih al-Bukhari 6203, dituturkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Madinah siang itu panas. Debu halus menempel di ambang pintu. Di dalam rumah, tikar sudah digelar dekat dinding yang teduh.
Anas masih remaja. Ia yang biasa melayani tamu di rumah itu. Dan tamu yang paling sering datang adalah Rasulullah ﷺ.
Anas punya seorang adik kecil. Namanya dipanggil Abu 'Umair. Anak itu baru saja disapih. Umurnya masih di bawah pinggang orang dewasa. Belum bisa bicara panjang, belum mengerti apa-apa tentang kedudukan.
Abu 'Umair punya satu harta: seekor burung kecil. Orang-orang menyebutnya an-Nughair. Burung itu teman mainnya sehari-hari. Ia menggenggamnya, mengajaknya bicara, membawanya ke mana-mana.
Rasulullah ﷺ datang. Rumah kecil itu seketika terasa penuh. Ada yang menyiapkan tempat duduk, ada yang menyiapkan air.
Lalu anak kecil itu dibawa masuk. Kaki mungilnya menyentuh tikar. Semua mata sedang tertuju kepada tamu agung itu.
Dan beliau berbicara lebih dulu — bukan kepada orang dewasa di ruangan itu, melainkan kepada anak yang baru disapih.
يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ
"Wahai Abu 'Umair, apa yang dilakukan an-Nughair?"
Wajah anak itu berubah. Ia dipanggil dengan kunyah, panggilan kehormatan orang dewasa. Dan yang ditanyakan bukan hal besar. Yang ditanyakan burungnya.
Bukan sekali. Anas mencatat bahwa setiap kali anak itu dibawa kepada beliau, kalimat itu terulang. Pertanyaan yang sama. Nada yang sama. Perhatian yang sama.
Ada yang perlu dibayangkan dari pengulangan itu. Beliau adalah orang yang paling banyak urusannya di kota itu. Ada wahyu yang turun, ada perang yang harus disiapkan, ada perselisihan yang harus diputus, ada rombongan dari luar kota yang menunggu. Namun setiap kali seorang bocah masuk ruangan, ada satu ruang kecil di kepala beliau yang menyimpan nama burung milik bocah itu.
Anas kemudian meringkas seluruh pengalamannya tinggal berdekatan dengan beliau dalam satu kalimat pendek.
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
"Nabi ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya."
Kalimat itu bukan pujian dari kejauhan. Anas melihat beliau dalam keadaan lapar dan lelah. Ia melihat beliau ketika tidak ada rombongan yang perlu dikesankan. Dan dari semua yang ia lihat, akhlak beliaulah yang paling menonjol.
Siang berlanjut. Waktu shalat masuk sementara beliau masih berada di rumah itu.
Beliau tidak meminta ruangan khusus. Beliau tidak meminta karpet baru. Beliau meminta tikar yang sedang beliau duduki disapu, lalu diperciki air.
Anas dan yang lain bergegas. Sapu digerakkan. Air ditaburkan tipis-tipis, cukup untuk mengikat debu. Bau tanah basah naik pelan dari lantai.
Lalu beliau berdiri. Orang-orang rumah itu berbaris di belakang beliau. Anas berdiri di antara mereka. Dan beliau mengimami mereka di ruangan yang sama, di tikar yang sama, beberapa saat setelah menanyakan kabar seekor burung.
Tidak ada jarak antara dua adegan itu. Tidak ada pergantian wajah dari "orang yang bercanda dengan anak kecil" menjadi "pemimpin shalat". Keduanya keluar dari satu orang yang sama, dalam satu ruangan yang sama, dalam hitungan menit.
Itulah yang paling diingat Anas. Bukan kemegahan. Bukan kalimat-kalimat besar. Sebuah pertanyaan tentang burung, sebuah tikar yang disapu, dan sebuah shalat berjamaah di rumah orang biasa.
Pelajaran
Yang paling mudah terlewat dari kisah ini adalah biayanya: hampir nol. Menanyakan burung milik seorang bocah tidak memerlukan anggaran, tidak memerlukan panggung, tidak memerlukan waktu lebih dari beberapa detik. Namun justru detik-detik itulah yang membuat seorang anak merasa dianggap ada, dan yang membuat seorang remaja seperti Anas menyimpulkan bahwa beliau adalah manusia terbaik akhlaknya. Kita sering mengukur cinta kepada Nabi ﷺ dengan hal-hal yang besar dan terlihat, lalu melewatkan hal yang justru beliau kerjakan berulang-ulang: menyapa yang paling kecil, menyebut namanya dengan hormat, dan menanyakan hal yang penting bagi orang itu meski tidak penting bagi kita. Sembilan hari menjelang peringatan kelahiran beliau, tiruan yang paling dekat dari kisah ini sederhana — tanyakan kepada seorang anak tentang hal yang dia sayangi, lalu dengarkan jawabannya sampai selesai.
Sumber Asli
Sahih al-Bukhari 6203
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ ـ قَالَ أَحْسِبُهُ فَطِيمٌ ـ وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ " يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ " …
