Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumAcara Kalender IslamAhad, 16 Agustus 2026

Kultum — "Sembilan Hari untuk Satu Akhlak"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ نَبِيَّهُ رَحْمَةً، وَجَعَلَ فِيْ سِيْرَتِهِ نُوْرًا لِلسَّالِكِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati. Sembilan hari lagi, Selasa 25 Agustus, kita sampai pada 12 Rabi'ul Awwal 1448 H. Malam ini saya tidak ingin membahas bagaimana tanggal itu ditandai di kampung masing-masing. Saya ingin membahas satu hal yang lebih dekat: apa yang berubah pada diri kita setelah tanggal itu lewat.

Ada satu pertanyaan yang jujur dan agak menohok. Kalau seseorang yang tidak mengenal kita mengikuti keseharian kita selama seminggu penuh — bukan mendengar ucapan kita, hanya melihat perbuatan kita — apakah dia bisa menebak siapa yang kita jadikan teladan? Pertanyaan ini menohok karena kita semua tahu jawabannya berbeda-beda antara hari Jumat dan hari Selasa, antara di masjid dan di rumah, antara ketika ada yang melihat dan ketika sendirian.

Mari kita mulai dari satu ayat pendek.

لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةًۭ وَأَصِيلًا

QS. Al-Fath: 9 — "supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang."

Perhatikan susunan ayat ini, jamaah. Iman disebut lebih dulu, lalu menguatkan dan memuliakan, lalu ditutup dengan sesuatu yang sangat konkret: bertasbih pagi dan petang. Ayat ini tidak berhenti pada sikap batin. Ia langsung menyebutkan jadwal. Seolah Allah mengajarkan kepada kita bahwa penghormatan yang tidak punya jadwal akan menguap, dan penghormatan yang punya jadwal akan tumbuh. Ini pelajaran pertama malam ini: cinta itu dilatih, bukan sekadar dirasakan.

Kita semua pernah merasakan getaran ketika mendengar shalawat dilantunkan bersama-sama. Rasa itu nyata dan berharga; jangan diremehkan. Tetapi rasa punya sifat yang perlu kita sadari — ia datang cepat dan pergi cepat. Yang bertahan lama bukan rasa, melainkan kebiasaan yang lahir dari rasa itu. Seorang ayah yang tersentuh mendengar kisah kelembutan Nabi ﷺ, lalu malam itu juga memutuskan tidak lagi membentak anaknya ketika lelah — itulah rasa yang berhasil dipindahkan menjadi kebiasaan. Kalau tidak dipindahkan, dua hari kemudian yang tersisa hanya kenangan tentang suasana yang indah.

Karena itu saya mengusulkan satu hal yang sederhana untuk sembilan hari ke depan. Pilih satu akhlak Rasulullah ﷺ — cukup satu — dan latih sampai 25 Agustus. Bukan sepuluh, bukan lima. Satu. Misalnya: tidak memotong pembicaraan orang sampai selesai. Atau: menepati setiap janji kecil kepada anak, termasuk janji yang diucapkan sambil lalu. Atau: menahan diri untuk tidak meneruskan kabar yang belum jelas ke grup warga. Sembilan hari cukup untuk membuat satu perilaku terasa lebih ringan dikerjakan.

Kenapa harus satu? Karena kita sering gagal justru karena terlalu bersemangat. Kita ingin berubah total dalam semalam, lalu berhenti total dalam sepekan. Para ulama mengajarkan bahwa amal yang sedikit tetapi terus-menerus lebih membekas daripada amal besar yang putus di tengah jalan. Dan kalau kita perhatikan, memang begitulah cara akhlak terbentuk: satu perilaku diulang sampai ia tidak lagi terasa sebagai usaha.

Sekarang izinkan saya membawa satu riwayat yang saya suka. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang melayani beliau sejak masih anak-anak, bercerita dalam Sahih Muslim 2309e: Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutus Anas untuk suatu keperluan. Anas kecil sempat berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pergi," padahal dalam hatinya ia tetap akan berangkat karena itu perintah Nabiyullah ﷺ.

Ada yang menarik dari riwayat ini, jamaah. Yang direkam bukan kemarahan seorang pemimpin besar terhadap anak kecil yang menggerutu. Yang direkam justru kalimat pembukanya: beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya. Anas menyebut kesimpulan itu setelah bertahun-tahun tinggal serumah — bukan setelah menghadiri satu majelis. Dan rumah yang beliau pimpin ternyata bukan rumah yang sunyi dari gesekan; di rumah itu seorang anak masih merasa cukup aman untuk bergumam "aku tidak mau". Rumah yang dibimbing akhlak kenabian bukan rumah tanpa masalah, melainkan rumah tempat masalah tidak berubah menjadi luka.

Coba kita bandingkan dengan rumah kita masing-masing. Siapa di sini yang anaknya pernah berhenti bercerita karena setiap cerita berakhir dengan ceramah panjang? Siapa yang pasangannya berhenti menyampaikan keluhan karena tahu jawabannya akan selalu "kamu sih"? Kalau saluran itu tertutup, yang hilang bukan sekadar kenyamanan. Yang hilang adalah kesempatan kita memperbaiki diri, karena satu-satunya orang yang berani menegur kita sudah memilih diam.

Ini yang membuat saya berpikir bahwa akhlak sebenarnya soal keamanan. Orang berakhlak baik adalah orang yang membuat orang lain aman berada di dekatnya — aman untuk salah, aman untuk bertanya, aman untuk jujur. Dan orang yang paling bisa menilai apakah kita sudah begitu bukan jamaah masjid, melainkan orang yang tidak punya kuasa apa pun atas kita: anak kecil, pekerja harian, penjaga warung, adik kelas, staf paling baru di kantor.

Maka malam ini, sebelum kita pulang, mari kita ambil tiga langkah yang bisa dikerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, tentukan satu akhlak yang akan dilatih sampai 25 Agustus, lalu tulis di kertas kecil dan tempel di tempat yang pasti terlihat setiap pagi. Kedua, minta maaf kepada satu orang di rumah atas satu hal yang spesifik — bukan minta maaf umum, tetapi menyebutkan perbuatannya. Ketiga, tetapkan jadwal dzikir pagi dan petang mulai besok, sekalipun hanya lima menit, sebagai pengikat agar latihan sembilan hari ini punya sandaran kepada Allah, bukan hanya kepada tekad kita sendiri.

Jamaah yang saya hormati, kita tidak sedang mengejar kesempurnaan. Kita sedang memindahkan cinta dari dada ke tangan dan lisan. Kalau sembilan hari ini berhasil menggeser satu kebiasaan saja, maka peringatan kelahiran beliau benar-benar menjadi hari lahir bagi sesuatu yang baru dalam diri kita — dan itulah bentuk syukur yang paling pantas kita persembahkan kepada Allah atas nikmat diutusnya seorang rasul.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ حُبَّنَا لِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتِّبَاعًا لِسُنَّتِهِ وَاقْتِدَاءً بِأَخْلَاقِهِ، اَللّٰهُمَّ حَسِّنْ أَخْلَاقَنَا كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقَنَا، وَارْزُقْنَا الرِّفْقَ فِيْ بُيُوْتِنَا وَاللِّيْنَ فِيْ كَلَامِنَا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا آمِنَةً لِأَهْلِهَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan