Peristiwa. Pertengahan Agustus ini bumi di timur Indonesia berguncang. Gempa berkekuatan M7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, disertai peringatan tsunami, dan ribuan warga mengungsi meninggalkan rumah mereka. Pekan yang sama juga diwarnai gempa susulan di sejumlah daerah, banjir, kekeringan panjang, serta kebakaran hutan dan lahan. Kabar-kabar itu datang beruntun, saling menyusul di layar yang sama, sampai sebagian orang berhenti membaca karena terlalu berat, dan sebagian lain justru sibuk mencari-cari sebab.
Di titik itulah biasanya muncul dua reaksi yang sama-sama tergesa. Yang pertama menjadikan musibah sebagai bahan tebak-tebakan tentang dosa siapa yang sedang dibalas. Yang kedua menjadikannya bahan ramalan tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Ayat pilihan pekan ini menutup kedua pintu itu dan membuka pintu ketiga.
Ayat.
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
Tafsir. Ath-Thabari membuka penjelasannya dengan menempatkan ayat ini sebagai pemberitahuan Allah kepada para pengikut Rasul-Nya ﷺ: bahwa Dia akan menguji dan mencoba mereka dengan perkara-perkara berat, sehingga tampak siapa yang benar-benar mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Ia mengingatkan bahwa Allah pernah menguji mereka dengan pemindahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke Ka'bah, dan bahwa Dia telah menguji orang-orang pilihan-Nya sebelum mereka. Kata walanabluwannakum, jelasnya, bermakna walanakhtabirannakum — sungguh Kami akan menguji kalian; dan makna ibtila' adalah ikhtibar, pengujian (Tafsir al-Tabari on 2:155).
Masih menurut Ath-Thabari, "sedikit ketakutan" berarti rasa takut dari musuh, dan "kelaparan" berarti musim paceklik: tahun kering yang mendatangkan kelaparan dan kesempitan, sehingga berbagai keperluan menjadi sulit dan harta pun berkurang; lalu peperangan yang mengurangi jumlah, kematian anak-anak, dan kegersangan yang membuat buah-buahan menyusut. Ia juga menjawab pertanyaan kebahasaan yang sering muncul: mengapa Allah berfirman "dengan sesuatu" dalam bentuk tunggal, bukan "dengan berbagai hal"? Sebab huruf min sudah menunjukkan bahwa setiap jenis ujian itu mengandung "sesuatu" — sedikit dari ketakutan, sedikit dari kelaparan, sedikit dari kekurangan harta — sehingga cukup disebut sekali di awal.
Yang paling menenangkan justru datang dari riwayat Ibnu 'Abbas yang dibawakan Ath-Thabari: Allah mengabarkan kepada orang-orang beriman bahwa dunia adalah negeri ujian, bahwa Dia menguji mereka di dalamnya, lalu memerintahkan mereka bersabar dan memberi kabar gembira dengan firman-Nya "dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar"; kemudian Dia mengabarkan bahwa Dia memperlakukan para nabi dan orang-orang pilihan-Nya dengan cara yang sama, agar hati orang-orang beriman menjadi tenang. Ath-Thabari menutup bagian ini dengan menerangkan bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk mengkhususkan kabar gembira itu bagi orang-orang yang sabar atas ujian, yang menahan diri dari melanggar larangan-Nya, yang tetap menunaikan kewajiban di tengah ujian, dan yang mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ketika musibah menimpa.
Ibn Katsir berjalan di jalur yang sama. Ia menyebut bahwa Allah memberitahukan Dia menguji hamba-hamba-Nya: kadang dengan nikmat, kadang dengan ketakutan dan kelaparan. Frasa "dengan sedikit ketakutan dan kelaparan" ia maknai sebagai sedikit dari masing-masing. "Kekurangan harta" berarti sebagian harta binasa; "jiwa" berarti kehilangan sahabat, kerabat, dan orang-orang tercinta karena kematian; "buah-buahan" berarti kebun dan ladang tidak menghasilkan sebagaimana biasanya atau sebagaimana yang diharapkan (Tafsir Ibn Kathir on 2:155).
Lalu Ibn Katsir menjelaskan siapa yang dipuji Allah sebagai orang sabar: mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Menurutnya, mereka menghibur diri dengan kalimat itu karena tahu bahwa mereka milik Allah, bahwa Dia berbuat apa yang Dia kehendaki atas hamba-hamba-Nya, dan bahwa tidak ada satu pun amal — sekalipun seberat zarrah — yang hilang di sisi Allah pada hari kiamat. Atas mereka, kata Ibn Katsir, tercurah pujian dan rahmat dari Tuhan mereka; Sa'id bin Jubair menambahkan makna "keselamatan dari azab", dan 'Umar bin al-Khaththab mengomentari betapa baiknya dua perkara itu dan betapa tingginya tambahan yang menyertainya.
Ibn Katsir juga membawakan riwayat Ummu Salamah. Suaminya, Abu Salamah, pulang dari majelis Rasulullah ﷺ dengan gembira karena mendengar sabda beliau: tidak seorang muslim pun ditimpa musibah lalu ia mengucapkan istirja' dan berdoa, "Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantikanlah untukku yang lebih baik darinya," melainkan Allah melakukannya untuknya. Ummu Salamah menghafal kalimat itu. Ketika Abu Salamah wafat, ia mengucapkannya sambil membatin, "Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?" Sesudah masa 'iddahnya selesai, Rasulullah ﷺ meminangnya, dan di kemudian hari ia berkata bahwa Allah menggantinya dengan yang lebih baik.
Tadabbur & Ibrah. Satu ibrah yang ingin ditinggalkan ayat ini pekan ini: musibah yang telah dikabarkan lebih dahulu bukanlah vonis atas orang yang tertimpa, melainkan pintu kabar gembira bagi yang sabar. Perhatikan susunan ayatnya. Allah tidak menutup daftar kehilangan itu dengan ancaman, melainkan dengan perintah kepada Nabi-Nya untuk menyampaikan berita gembira. Daftar yang menakutkan ditutup oleh kalimat yang menenangkan.
Karena ujian itu diberitakan lebih dahulu, ia kehilangan sifatnya sebagai kejutan yang menghakimi. Dan karena Ibnu 'Abbas menegaskan bahwa perlakuan yang sama pernah menimpa para nabi dan orang-orang pilihan, maka daerah yang terguncang bukanlah daerah yang tervonis. Menjadikan gempa, banjir, atau kebakaran sebagai bukti dosa suatu tempat adalah kesimpulan yang tidak diambil oleh kedua mufassir yang kita rujuk — dan bagi warga yang sedang kehilangan rumah, kesimpulan semacam itu menambah luka di atas luka.
Yang tersisa untuk kita adalah pekerjaan yang lebih sunyi: mengganti pertanyaan "mengapa" dengan kalimat pengakuan, lalu menggerakkan tangan. Kalimat pertama seorang mukmin di depan kabar buruk bukanlah tafsir atas sebab, melainkan pengakuan bahwa ia milik Allah dan kepada-Nya ia kembali. Sesudah itu barulah datang doa Ummu Salamah — memohon pahala atas musibah dan ganti yang lebih baik. Pekan ini, "ganti yang lebih baik" itu sebagiannya berjalan lewat tangan kita sendiri: bantuan yang dikirim, tenda yang didirikan, dan lisan yang menahan diri dari menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan perdebatan.
Tanya-Jawab
T: Kalau saya membaca ayat ini sesudah menonton berita gempa, apakah artinya musibah itu hukuman bagi warga yang tertimpa?
J: Ath-Thabari membawakan riwayat Ibnu 'Abbas bahwa dunia adalah negeri ujian dan Allah menguji orang-orang beriman di dalamnya, lalu menegaskan bahwa Dia memperlakukan para nabi dan orang-orang pilihan-Nya dengan cara yang sama agar hati mereka tenang (Tafsir al-Tabari on 2:155). Jadi yang dibicarakan ayat ini adalah ujian, bukan vonis atas orang yang tertimpa. Menetapkan sebab di balik satu musibah tertentu berada di luar jangkauan penjelasan yang kita rujuk; pertanyaan semacam itu sebaiknya dibawa kepada ahli tafsir.
T: Kehilangan saya bukan gempa — usaha yang bangkrut dan kebun yang gagal panen. Apakah itu juga terhitung dalam ayat ini?
J: Ibn Katsir merinci "kekurangan harta" sebagai sebagian harta yang binasa, dan "buah-buahan" sebagai kebun serta ladang yang tidak menghasilkan sebagaimana biasanya atau sebagaimana diharapkan (Tafsir Ibn Kathir on 2:155). Ath-Thabari menyebut pula tahun kering yang membuat berbagai keperluan menjadi sulit sehingga harta berkurang. Kehilangan yang sunyi dan tidak masuk berita tetap termasuk dalam daftar yang disebut ayat.
T: Apa gunanya mengucapkan "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" kalau yang hilang tetap tidak kembali?
J: Menurut Ibn Katsir, kalimat itu adalah cara orang yang tertimpa menghibur dirinya dengan pengakuan bahwa ia milik Allah, bahwa Allah berbuat apa yang Dia kehendaki, dan bahwa tidak ada amal seberat zarrah pun yang hilang di sisi-Nya. Dalam riwayat Ummu Salamah yang beliau bawakan, kalimat itu disertai doa memohon pahala atas musibah dan ganti yang lebih baik. Jadi fungsinya bukan mengembalikan yang hilang, melainkan menata hati dan menautkan kehilangan pada perhitungan yang tidak pernah keliru.
T: Mengapa ayat ini menyebut "sedikit", padahal yang hilang terasa sangat besar?
J: Ibn Katsir memaknai frasa itu sebagai sedikit dari masing-masing jenis ujian. Ath-Thabari menerangkan bahwa kata "sesuatu" cukup disebut sekali di awal karena huruf min sudah menunjukkan setiap jenis ujian mengandung "sesuatu". Keduanya tidak sedang mengecilkan rasa sakit, melainkan menegaskan bahwa ujian datang dengan takaran yang ditentukan, bukan tumpah tanpa batas.
Ayat ini tidak menjawab semua pertanyaan yang muncul di pekan yang berguncang, tetapi ia memindahkan kita dari kursi hakim ke kursi hamba — dan dari situ, bantuan lebih mudah berangkat.
