Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Tafsir 2Tafsir Pekan IniAhad, 16 Agustus 2026

Tafsir 2 — "Persatuan Itu Rahmat, Perpecahan Itu Azab"

Peristiwa. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung pekan ini: upacara, pengukuhan Paskibraka, dan perayaan di banyak daerah. Pada saat yang sama, linimasa diwarnai saling ejek antarkelompok dan tuduhan bernada rasial.

Jarak antara lapangan upacara dan kolom komentar itulah yang membuat ayat pilihan pekan ini terasa dekat. Sebab ayat ini bukan sekadar seruan agar rukun; ia perintah mengingat — bahwa persatuan yang kita anggap biasa hari ini pernah menjadi barang yang mustahil.

Ayat.

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءًۭ فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًۭا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍۢ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran: 103)

Tafsir. Ath-Thabari menerangkan bahwa "berpeganglah kepada tali Allah semuanya" berarti berpegang pada sebab-sebab yang menyampaikan kepada Allah, yakni berpegang teguh pada agama Allah yang Dia perintahkan dan perjanjian yang Dia amanatkan dalam Kitab-Nya — berupa kerukunan, berhimpun di atas kalimat kebenaran, dan berserah pada perintah Allah. "Al-habl", jelasnya, adalah sebab yang dengannya seseorang sampai kepada tujuannya; karena itu jaminan keamanan pun disebut "tali", sebab ia menghilangkan rasa takut (Tafsir al-Tabari on 3:103).

Ath-Thabari lalu menghimpun ungkapan para ahli takwil tentang apa yang dimaksud "tali Allah". Ibnu Mas'ud menyebutnya al-jama'ah; Qatadah menyebutnya Al-Qur'an, dan dalam riwayat lain perjanjian serta perintah Allah; as-Suddi menyebut Kitab Allah dan adh-Dhahhak menyebut Al-Qur'an; Mujahid dan 'Atha' menyebut perjanjian Allah; Abul-'Aliyah menyebut keikhlasan kepada Allah semata; Ibnu Zaid menyebut Islam. Dalam riwayat lain Ibnu Mas'ud menegaskan: berpeganglah pada tali Allah, karena tali Allah adalah Kitab Allah.

Tentang "dan janganlah kamu bercerai berai", Ath-Thabari memaknainya sebagai larangan berpecah dari agama Allah dan perjanjian-Nya — dari kerukunan dan berhimpun di atas ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya ﷺ. Qatadah menambahkan: Allah membenci perpecahan bagi kalian, memperingatkan dan melarangnya; sebaliknya Dia ridha bagi kalian mendengar, taat, rukun, dan berjamaah — maka ridhailah untuk diri kalian apa yang Allah ridhai untuk kalian. Abul-'Aliyah meringkasnya menjadi satu kalimat: jangan saling bermusuhan di atas keikhlasan kepada Allah, dan jadilah bersaudara di atasnya. Ibnu Mas'ud dalam khutbahnya berkata bahwa apa yang kita benci dalam jamaah dan ketaatan masih lebih baik daripada apa yang kita sukai dalam perpecahan.

Ibn Katsir menafsirkan "tali Allah" sebagai perjanjian Allah, sebagaimana ayat lain berbicara tentang tali dari Allah dan tali dari manusia dalam pengertian perjanjian dan perdamaian. Adapun "janganlah kamu bercerai berai" adalah perintah berpegang pada jamaah kaum mukmin sekaligus larangan berpecah. Ia membawakan riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Allah meridhai tiga perkara bagi kita — menyembah-Nya tanpa menyekutukan-Nya, berpegang pada tali Allah semuanya dan tidak bercerai-berai, serta menasihati siapa yang Allah jadikan pemimpin urusan kita — dan membenci tiga perkara: "katanya-katanya", banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta (Tafsir Ibn Kathir on 3:103).

Pada bagian "ingatlah nikmat Allah", Ibn Katsir menerangkan bahwa ayat ini berkenaan dengan suku Aus dan Khazraj. Pada masa Jahiliah keduanya berperang dengan kebencian dan permusuhan besar, sehingga pertempuran berlangsung berkepanjangan. Ketika Allah mendatangkan Islam, mereka yang memeluknya menjadi bersaudara, saling mencintai karena karunia Allah, dan saling menolong dalam kebaikan serta ketakwaan. Ibn Katsir menautkannya dengan firman Allah dalam ayat lain: sekiranya engkau membelanjakan semua yang ada di bumi, engkau tidak akan sanggup menyatukan hati mereka, tetapi Allah yang menyatukan mereka. Ia juga mengingatkan pidato Rasulullah ﷺ kepada kaum Ansar saat pembagian rampasan Hunain: bukankah dahulu kalian tersesat lalu Allah menunjuki kalian, berpecah lalu Allah mempersatukan kalian, dan miskin lalu Allah mencukupkan kalian? Setiap kali beliau bertanya, mereka menjawab bahwa Allah dan Rasul-Nyalah yang berkarunia.

Ath-Thabari melengkapi gambar itu dengan keterangan Qatadah: dahulu kalian saling menyembelih, yang kuat memakan yang lemah, hingga Allah mendatangkan Islam, lalu dengannya Dia mempersaudarakan kalian — lalu Qatadah bersumpah, sesungguhnya kerukunan itu rahmat dan perpecahan itu azab. Menurut riwayat Ibnu Ishaq yang ia bawakan, perang antara Aus dan Khazraj pada masa Jahiliah berlangsung seratus dua puluh tahun, padahal mereka bersaudara dari ayah dan ibu yang sama, sampai Allah memadamkannya dengan Islam.

Adapun "kamu telah berada di tepi jurang neraka", Ath-Thabari menegaskan itu adalah perumpamaan bagi kekufuran yang dahulu mereka pegang sebelum Allah menunjuki mereka kepada Islam: tidak ada jarak antara mereka dan jatuh ke dalamnya kecuali kematian di atas kekufuran itu. Ar-Rabi' memaknainya sebagai kekufuran kepada Allah yang darinya mereka diselamatkan. Dan al-Hasan bin Hayy menafsirkan lubang itu dengan satu kata yang menusuk: 'ashabiyyah, fanatisme golongan. Qatadah menutup rangkaian ini dengan mengingatkan betapa hina keadaan bangsa itu sebelum Islam — paling lapar perutnya, terhimpit di antara dua kekuatan besar zaman itu — hingga Allah mendatangkan Islam; maka, katanya, syukurilah nikmat-nikmat-Nya, karena Tuhan kita mencintai orang-orang yang bersyukur.

Tadabbur & Ibrah. Satu ibrah yang layak dibawa pulang dari pekan peringatan kemerdekaan ini: kerukunan bukan prestasi yang kita raih, melainkan nikmat yang diperintahkan untuk diingat — dan yang mengancamnya bernama fanatisme golongan. Ayat ini tidak berhenti pada perintah "jangan bercerai berai"; ia melanjutkan dengan perintah mengingat keadaan sebelum bersatu — permusuhan panjang antara dua kelompok yang, menurut riwayat yang dibawakan Ath-Thabari, sesungguhnya bersaudara dari ayah dan ibu yang sama.

Di situlah ayat ini bertemu dengan linimasa pekan ini. Ejekan antarkelompok dan tuduhan bernada rasial terasa ringan ketika diketik, padahal ia bahan bakar dari hal yang persis disebut al-Hasan bin Hayy sebagai isi lubang itu. Ibn Katsir pun mengingatkan satu perkara yang Allah benci menurut riwayat Muslim: "katanya-katanya" — budaya meneruskan ucapan orang tentang orang lain, mesin utama pertengkaran daring.

Maka bentuk syukur yang paling masuk akal pekan ini bukanlah menambah satu unggahan patriotik, melainkan mengurangi satu balasan yang menghina. Kalimat Qatadah pantas ditempel di dinding hati: kerukunan itu rahmat, perpecahan itu azab.

Tanya-Jawab

T: Kalau saya membaca "tali Allah", sebenarnya apa yang harus saya pegang — Al-Qur'an, jamaah, atau perjanjian dengan Allah?

J: Ath-Thabari menghimpun beberapa ungkapan ulama salaf — di antaranya al-jama'ah (Ibnu Mas'ud), Al-Qur'an serta perjanjian dan perintah Allah (Qatadah), keikhlasan kepada Allah semata (Abul-'Aliyah), dan Islam (Ibnu Zaid) (Tafsir al-Tabari on 3:103). Ath-Thabari sendiri merangkumnya sebagai berpegang pada agama Allah dan perjanjian-Nya, yakni kerukunan dan berhimpun di atas kalimat kebenaran. Ungkapan-ungkapan itu tidak saling menyingkirkan; semuanya menunjuk satu tali yang sama.

T: Bagaimana memahami perintah "ingatlah nikmat Allah" pada momen peringatan kemerdekaan seperti pekan ini?

J: Ibn Katsir menjelaskan bahwa nikmat yang diperintahkan untuk diingat adalah dipersatukannya hati yang dahulu bermusuhan, dan penyatuan itu bukan hasil pembelanjaan harta melainkan karunia Allah (Tafsir Ibn Kathir on 3:103). Ath-Thabari menambahkan bahwa mereka diingatkan pada keadaan sebelum dan sesudah, agar mengenali letak-letak nikmat Allah. Membaca hari peringatan sebagai latihan mengingat — bukan sekadar merayakan — sejalan dengan cara kedua mufassir membaca ayat ini.

T: Di linimasa saya sering ikut membalas ejekan kelompok lain, dan rasanya itu membela kebenaran. Bagaimana ayat ini membacanya?

J: Ibn Katsir membawakan riwayat Muslim yang menyebut "katanya-katanya" sebagai perkara yang Allah benci, berdampingan dengan perintah berpegang pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Ath-Thabari mengutip Abul-'Aliyah: jangan saling bermusuhan di atas keikhlasan kepada Allah, dan jadilah bersaudara di atasnya. Untuk kasus konkret, kembalikan kepada ahli tafsir atau ustadz yang kita percaya.

T: Mengapa ayat tentang persatuan tiba-tiba menyebut "tepi jurang neraka"?

J: Ath-Thabari menjelaskan bahwa itu perumpamaan bagi kekufuran yang dahulu mereka pegang sebelum Islam: tidak ada jarak antara mereka dan jatuh ke dalamnya selain kematian di atas keadaan itu. Al-Hasan bin Hayy menafsirkan lubang itu dengan kata "'ashabiyyah". Jadi penyebutan jurang di ayat persatuan bukan selingan, melainkan gambaran tentang apa yang menanti di ujung perpecahan.

Peringatan kemerdekaan akan berulang setiap tahun; yang tidak otomatis berulang adalah kesediaan mengingat bahwa hati yang bersatu adalah pemberian, bukan bawaan.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan