بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini linimasa kita ramai oleh kabar tentang iman yang berpindah arah — ada yang baru menemukannya, ada yang disebut kehilangannya. Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan satu pertanyaan sederhana: apa sebenarnya yang membuat sebuah iman itu bertahan?
Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa ada orang yang keyakinannya bisa goyah hanya karena satu video pendek atau satu perdebatan di kolom komentar, sementara ada orang lain yang tetap tenang dan kokoh walau diterpa ribuan informasi yang saling bertentangan setiap hari? Saya kira jawabannya bukan soal siapa yang lebih kuat mentalnya, melainkan soal apa yang menjadi akar dari keyakinan itu sendiri.
Dalam kitab 'Aqidat al-'Awam, sebuah nazham ringkas yang sejak lama diajarkan kepada orang-orang yang baru belajar pokok-pokok akidah, ada bait yang berbunyi:
وَكُـلُّ مـا أتى بِـهِ الـرسـولُ فـحـقُّـه الـتـسـلـيـمُ والـقَـبـولُ
("'Aqidat al-'Awam — بيت 26-30")
"Dan setiap apa yang dibawa oleh Rasul, maka haknya atas kita adalah penyerahan dan penerimaan." Bait ini sederhana, hampir seperti pantun anak-anak yang dihafalkan di surau. Tapi coba kita renungkan: kitab ini sengaja disusun sederhana dan mudah dihafal, karena penyusunnya paham betul bahwa iman yang kokoh tidak dibangun dari kalimat yang rumit, melainkan dari pemahaman dasar yang benar-benar dimiliki seseorang, bukan sekadar dihafal atau diikuti tanpa tahu alasannya.
Di sinilah, saya kira, letak persoalan yang sedang kita saksikan ramai pekan ini. Ada yang keislamannya diramaikan bagai perayaan sesaat, lalu setelah sorotan itu meredup, tidak ada lagi yang mendampinginya belajar dasar-dasar sederhana ini — akhirnya ia berdiri sendirian dengan iman yang belum sempat berakar. Ada pula yang sejak kecil mengaku Muslim, ikut orang tua, ikut lingkungan, tapi tidak pernah benar-benar bertanya dan dijawab kenapa ia meyakini apa yang ia yakini — sampai suatu hari datang pertanyaan yang lebih tajam dari yang biasa ia dengar, dan ia tidak punya jawaban karena memang belum pernah mencarinya. Kedua orang ini, meski dari arah yang berbeda, sama-sama kekurangan hal yang sama: akar.
Iman yang berakar itu seperti pohon yang sudah lama tumbuh — daunnya boleh rontok saat kemarau panjang, rantingnya boleh patah diterpa angin kencang, tapi akarnya tetap menahan pohon itu tegak berdiri. Iman yang hanya ikut-ikutan itu seperti tanaman yang ditancapkan di atas tanah tanpa akar — kelihatan hijau dan segar untuk sementara, disorot bagus di foto, tapi begitu diterpa angin pertama yang cukup kencang, ia rebah begitu saja.
Ada satu munajat yang saya suka, tertulis dalam kitab Nashaihul Ibad, ucapan seorang ahli ibadah yang berkata dalam doanya:
إِلَهِي طُوْلُ الْأَمَلِ غَرَّنِيْ، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِيْ، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِيْ
("Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3)")
"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku." Yang menarik dari munajat ini bukan isinya semata, tapi keberaniannya. Orang yang mengucapkan doa ini bukan sedang menuding orang lain sebagai yang lemah imannya — ia sedang jujur kepada Allah tentang dirinya sendiri. Ia sadar bahwa angan-angan dunia, kecintaan yang berlebihan pada kesenangan sesaat, dan bisikan yang menyesatkan bisa mengenai siapa saja, termasuk seorang ahli ibadah sekalipun. Kejujuran semacam inilah yang sering hilang dari cara kita menyikapi kabar viral pekan ini — kita begitu cepat menuding kelemahan pada orang lain, tapi jarang sekali menundukkan kepala dan mengucapkan munajat yang sama untuk diri kita sendiri.
Maka, jamaah yang dirahmati Allah, izinkan saya mengajak kita semua melakukan tiga hal sederhana begitu pulang dari sini. Pertama, malam ini juga, coba tanyakan pada diri sendiri satu pertanyaan dasar tentang akidah kita — misalnya, kenapa kita yakin Al-Qur'an ini benar-benar firman Allah — dan lihat apakah kita punya jawaban sendiri atau hanya menjawab karena "sudah dari dulu begitu." Kedua, jika kita punya anak atau adik yang masih kecil, luangkan lima menit pekan ini untuk mengobrol santai tentang rukun iman, bukan dengan nada menggurui, tapi dengan nada mengajak berpikir bersama. Ketiga, lain kali kita melihat kabar viral tentang iman seseorang, sebelum jari kita bergerak untuk berkomentar, ucapkan dulu munajat kecil untuk diri sendiri — memohon keteguhan, bukan mencari bahan penghakiman untuk orang lain.
Iman yang kita rawat pelan-pelan dengan pemahaman, insyaAllah, akan jauh lebih tahan dibanding iman yang hanya kita pamerkan sesaat lalu kita tinggalkan sendirian.
Ya Allah, kokohkanlah akar iman kami dan keluarga kami, jangan biarkan kami menjadi tanaman tanpa akar yang mudah rebah oleh angin pertama yang datang.
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، وَارْزُقْنَا فَهْمًا صَحِيْحًا عَنْ عَقِيْدَتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَخْشَاكَ بِالْغَيْبِ وَيُنِيْبُ إِلَيْكَ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَنْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْحَقِّ حِجَابٌ مِنَ الْجَهْلِ أَوِ الْغَفْلَةِ، وَاهْدِهِ إِلٰى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
