Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الرِّزْقَ حَلَالًا لِعِبَادِهِ وَحَذَّرَهُمْ مِنَ الْإِسْرَافِ وَالطُّغْيَانِ فِي الْمَالِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْأَمِينُ فِي مُعَامَلَتِهِ وَتِجَارَتِهِ قَبْلَ بِعْثَتِهِ وَبَعْدَهَا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَخَاصَّةً فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِأَمْوَالِنَا وَأَرْزَاقِنَا، فَإِنَّ التَّقْوَى فِي الْمُعَامَلَةِ هِيَ مِيزَانُ الْإِيمَانِ الْحَقِيقِيِّ.
يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًۭا لُّبَدًا
QS. Al-Balad: 6
"Dia berkata: 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.'"
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, ayat pendek ini menggambarkan satu watak manusia yang tidak lekang oleh zaman: kebanggaan atas harta yang dibelanjakan, seolah banyaknya pengeluaran adalah bukti kehebatan diri. Surah Al-Balad, tempat ayat ini berada, berbicara tentang manusia yang diciptakan dalam kesusahan dan perjuangan (kabad) — lalu menyindir mereka yang justru menghabiskan waktu membangga-banggakan harta, padahal jalan yang sebenarnya mulia adalah menempuh 'aqabah: membebaskan yang terbelenggu, memberi makan di hari kelaparan. Pekan ini, ketika kita membaca berita ekonomi yang silih berganti, ayat ini terasa sangat dekat dengan keseharian kita.
Dari berita pekan ini kita mengetahui, ramai diperbincangkan publik sebuah pernyataan pejabat yang membela ucapan bahwa masyarakat bisa menambah penghasilan dengan cara mengupas bawang, dengan hitungan upah Rp 700 ribu per kilogram. Di atas kertas, angka itu mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ada peluang kerja yang bisa diambil. Tapi yang sampai ke telinga rakyat kebanyakan justru terasa berbeda: seolah beratnya hidup bisa diselesaikan dengan kerja tangan yang melelahkan dan hasil yang pas-pasan, tanpa menyentuh akar masalah harga pangan yang terus naik. Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, kita perlu berhenti sejenak di sini — bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi untuk bertanya: sudahkah kita, sebagai umat, cukup peka mendengar keluhan orang-orang yang sedang berjuang mencukupi dapur mereka?
Kabar lain yang sampai kepada kita pekan ini adalah tentang Sensus Ekonomi 2026 dan klasifikasi desil yang menjadi bahan bantuan sosial dan subsidi. Ada yang mengeluh, orang tuanya bergaji sekitar Rp 11 juta sebulan tapi digolongkan ke desil tertinggi, seolah dianggap mampu, padahal tanggungan keluarganya banyak dan biaya hidup kian mencekik. Ada pula imbauan agar kelompok desil sembilan dan sepuluh tidak lagi membeli BBM bersubsidi. Kita paham, negara perlu alat ukur untuk membagi bantuan secara adil. Tapi ketika alat ukur itu terasa jauh dari kenyataan yang dihidupi warga, yang terguncang bukan hanya soal subsidi — yang terguncang adalah kepercayaan bahwa negara benar-benar memahami beban yang mereka pikul.
Ramai pula diperbincangkan pekan ini, momen pidato kenegaraan menjelang penyampaian RAPBN 2027 — sebuah forum yang semestinya menjadi ruang menyampaikan arah keuangan negara untuk kesejahteraan bersama. Namun yang justru menyita perhatian publik adalah kendaraan mewah bernilai miliaran rupiah yang mengantar sejumlah wakil rakyat ke acara itu. Muncul sindiran getir di tengah masyarakat — bahwa rakyat sudah sejahtera, minimal diwakili oleh anggota dewan yang hidup sejahtera. Jamaah yang berbahagia, sindiran semacam ini bukan sekadar lelucon; ia adalah cermin kelelahan batin rakyat yang diminta berhemat, sementara yang meminta belum tentu menunjukkan hidup hemat itu sendiri.
Kabar yang sampai kepada kita pekan ini juga membawa cerita tentang emas yang diselundupkan dan bahan bakar yang ditimbun — upaya mengambil keuntungan dari harga yang tinggi sambil menghindari kewajiban dan aturan yang seharusnya menyertainya. Bersanding dengan itu, ada pula kabar bahwa ekspor kopi Indonesia tembus puluhan triliun rupiah, tapi hampir seluruhnya masih dikirim dalam bentuk biji mentah — nilai tambah dari pengolahannya justru dinikmati oleh negara lain. Kekayaan alam negeri ini besar, jamaah, tapi pertanyaan yang harus kita renungkan bersama adalah: untuk siapa sebenarnya kekayaan itu bekerja?
Pekan ini juga ramai dibicarakan kabar akuisisi sebuah perusahaan tambang batu bara nasional oleh seorang pengusaha dalam negeri — meski hingga hari ini status kabar tersebut masih sebatas perbincangan pasar yang belum sepenuhnya terkonfirmasi. Kita tidak perlu terburu-buru menyimpulkan atau menuduh niat siapa pun dalam transaksi bisnis yang sah; yang lebih penting bagi kita adalah pola besarnya — kekayaan sumber daya alam negeri ini terus berpindah dan terkonsentrasi, sementara sebagian besar rakyat masih berdebat soal harga bawang dan upah harian. Di sela-sela itu, muncul pula obrolan santai bahwa harga satu keping mata uang kripto tertentu telah melampaui kekayaan kebanyakan orang biasa — sebuah pengingat betapa jauhnya jarak antara ekonomi spekulatif yang bergerak di layar telepon genggam, dengan ekonomi riil yang dihidupi oleh pedagang kecil, buruh harian, dan kepala keluarga yang bekerja keras setiap pagi.
Jamaah Jumat rahimakumullah, semua kabar ini — kupas bawang, desil, kendaraan mewah, emas selundupan, kopi mentah, tambang yang berpindah tangan, kripto yang melambung — sesungguhnya bukan cerita yang terpisah-pisah. Semuanya menenun satu benang yang sama: pertanyaan tentang bagaimana harta diperoleh, siapa yang menentukan nilainya, dan kepada siapa harta itu pada akhirnya bertanggung jawab. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci kekayaan atau menganggap kemiskinan sebagai kemuliaan itu sendiri. Yang diajarkan Islam adalah bagaimana harta — sedikit atau banyak — diperoleh dengan cara yang halal, dikelola dengan amanah, dan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah. Maka pada khutbah kali ini, izinkan saya mengajak kita semua merenungkan tiga hal: bagaimana Islam memandang harta yang halal, bagaimana Islam mencela sikap yang menunggu kekayaan tanpa ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan bagaimana Islam mengajarkan kehati-hatian bahkan pada hal yang tampak remeh sekalipun.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita mulai dari pertanyaan paling mendasar: apa itu harta yang halal, dan mengapa batasan halal-haram ini begitu penting sehingga Allah menjaganya lewat lisan Rasul-Nya sendiri?
حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارِ بْنِ عُثْمَانَ، - وَاللَّفْظُ لأَبِي غَسَّانَ وَابْنِ الْمُثَنَّى - قَالاَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ، عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ
Sahih Muslim 2865a (hadits qudsi)
"Dari 'Iyadh bin Himar al-Mujasyi'i, bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu hari bersabda dalam khutbahnya: 'Ketahuilah, sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan kepada kalian apa yang kalian tidak tahu dari apa yang Dia ajarkan kepadaku hari ini: setiap harta yang Aku berikan kepada hamba adalah halal. Sungguh Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya hunafa' (cenderung kepada tauhid), kemudian setan-setan datang kepada mereka, memalingkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan.'"
Jamaah yang dirahmati Allah, perhatikan betapa dalamnya hadits qudsi ini — Rasulullah ﷺ meriwayatkan langsung firman Allah bahwa setiap rezeki yang diberikan kepada hamba pada asalnya adalah halal, dan manusia diciptakan condong kepada kebenaran. Yang merusak keadaan itu adalah bisikan setan, yang bekerja dengan dua cara: kadang membisikkan bahwa yang haram itu boleh, dan kadang — ini yang lebih halus — membisikkan bahwa yang halal itu terlalu sulit dicapai sehingga jalan pintas yang haram menjadi tampak masuk akal. Ketika kita mendengar kabar penyelundupan emas, penimbunan BBM, atau godaan investasi yang menjanjikan untung instan tanpa kerja nyata, di situlah bisikan kedua ini bekerja: meyakinkan kita bahwa jalan halal terlalu lambat, dan jalan pintas adalah satu-satunya pilihan realistis.
Tafsir ulama atas hadits ini menegaskan bahwa fitrah manusia sebenarnya lurus dan condong pada apa yang baik dan halal. Karena itu, ketika kita melihat orang yang menempuh jalan curang dalam mencari rezeki — entah itu penyelundupan, penimbunan yang merugikan orang banyak, atau permainan angka yang menjebak — kita sedang menyaksikan fitrah yang telah dipalingkan, bukan watak asli manusia. Ini penting kita pahami, jamaah, karena ia mengajarkan kita untuk tidak mudah putus asa terhadap sesama Muslim yang tergelincir dalam urusan harta. Tugas dakwah bukan menghakimi mereka sebagai orang jahat secara alami, melainkan mengingatkan bahwa mereka sedang dipalingkan dari fitrah yang sesungguhnya condong pada kebaikan.
Dalam konteks pekan ini, hadits ini juga berbicara kepada kita yang mendengar kabar tentang kekayaan sumber daya alam negeri ini — emas, kopi, batu bara — yang nilainya besar tapi manfaatnya kerap tidak dirasakan merata oleh rakyat yang tinggal di atas tanah yang menyimpannya. Allah menciptakan kekayaan itu sebagai rezeki yang halal dan berkah bagi umat manusia. Ketika sebagian nilai itu justru diselundupkan, ditimbun, atau nilai tambahnya lari ke negeri lain, kita sedang menyaksikan jarak antara rezeki yang Allah maksudkan untuk mengalir luas, dengan cara pengelolaan manusia yang mempersempitnya menjadi milik segelintir pihak saja.
Ma'asyiral muslimin, mari kita renungkan pula bagaimana Nabi Muhammad ﷺ sendiri menjalani kehidupan sebagai pedagang jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Sejarah mencatat, beliau dipercaya membawa barang dagangan Khadijah radhiyallahu 'anha ke Syam, dan pulang dengan keuntungan yang melimpah karena kejujurannya dalam menimbang, menyampaikan kondisi barang apa adanya, dan tidak pernah mengurangi hak pembeli maupun penjual. Gelar "Al-Amin" — yang terpercaya — bukan gelar yang diberikan karena beliau tidak pernah berdagang, tetapi justru karena beliau berdagang dengan kejujuran yang luar biasa di tengah kebiasaan pasar Arab jahiliyah yang penuh kecurangan timbangan. Di sinilah letak keindahan ajaran Islam tentang ekonomi, jamaah: Islam tidak pernah menyuruh kita menjauhi dunia usaha. Islam menyuruh kita memasukinya dengan kejujuran yang membuat kita dipercaya.
Namun ada satu godaan lain yang justru berlawanan dengan kecurangan aktif, tapi sama berbahayanya: sikap menunggu rezeki datang tanpa ikhtiar yang sungguh-sungguh, dengan dalih bertawakal kepada Allah. Mari kita simak sebuah nasihat lama yang masih relevan hingga hari ini.
يريد مالا فترك الحراثة والتجارة والكسب ويتعطل، وقال: إن الله كريم رحيم وله خزائن السموات والأرض وهو قادر على أن يطلعني على كنز من كنوز أستغني به عن الكسب، فقد فعل ذلك لبعض عباده
Bidayatul Hidayah — القول في معاصى القلب / الحسد
"Bayangkanlah seseorang yang menginginkan harta, lalu ia meninggalkan bercocok tanam, berdagang, dan segala bentuk usaha, kemudian duduk berpangku tangan. Ia berkata: 'Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, milik-Nya seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Dia Maha Kuasa untuk memperlihatkan kepadaku salah satu dari simpanan-Nya, sehingga aku tidak perlu bersusah payah bekerja — bukankah Dia telah melakukan itu untuk sebagian hamba-Nya?'"
Jamaah yang dimuliakan Allah, Imam Al-Ghazali rahimahullah menuliskan perumpamaan ini untuk menunjukkan betapa janggalnya sikap seperti itu — dan orang-orang yang mendengarnya pun akan menganggapnya keliru, meski secara teori tidak ada yang salah dengan kemurahan dan kekuasaan Allah yang ia sebutkan. Yang salah adalah menjadikan kemungkinan langka itu sebagai alasan meninggalkan usaha yang nyata. Perumpamaan ini terasa sangat dekat dengan pekan ini, ketika kita mendengar obrolan santai tentang kekayaan instan dari dunia kripto, gurauan tentang siapa yang "kaya mendadak," atau angan-angan menjadi jutawan dalam semalam. Islam tidak melarang kita berharap kelapangan rezeki dari Allah — itu bagian dari husnuzhan kepada-Nya. Yang diperingatkan adalah menjadikan harapan itu sebagai pengganti ikhtiar, bukan pelengkapnya.
Bila kita jujur merenungkan, banyak dari kita — dalam kadar yang berbeda-beda — pernah tergoda oleh versi modern dari sikap ini: menaruh uang di skema investasi yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal dalam waktu singkat, ikut arisan yang polanya lebih mirip judi berkedok tolong-menolong, atau berharap satu keputusan spekulatif bisa menyelesaikan seluruh masalah ekonomi keluarga sekaligus. Godaan ini bukan hanya milik orang yang berkecukupan; ia justru sering menyasar mereka yang sedang berjuang keras memenuhi kebutuhan, karena harapan akan jalan pintas terasa paling menggoda justru ketika beban hidup terasa paling berat. Karena itu, dakwah kita hari ini bukan untuk menghakimi siapa pun yang pernah tergoda, melainkan untuk saling mengingatkan dengan lembut: rezeki yang berkah datang dari usaha yang halal dan nyata, sekecil apa pun usaha itu, bukan dari fantasi kekayaan yang datang tiba-tiba.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ada satu lagi pelajaran yang perlu kita renungkan bersama, yaitu tentang kehati-hatian atau wara' dalam urusan harta — bahkan pada hal yang tampak sangat remeh.
ويقتدي بمن سلف من العلماء الصالحين في التورع عن كثير مما كانوا يفتون بجوازه، وأحق من اقتدى به في ذلك سيدنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - حيث لم يأكل التمرة التي وجدها في الطريق خشية أن تكون من الصدقة مع بُعد كونها منها
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim
"Meneladani ulama saleh terdahulu dalam menjaga diri dari banyak hal yang mereka fatwakan boleh. Yang paling layak diikuti dalam hal ini adalah junjungan kita Rasulullah ﷺ — ketika beliau tidak memakan kurma yang beliau dapati di jalan karena khawatir itu termasuk sedekah, meski sangat kecil kemungkinan itu sedekah."
Bayangkan, jamaah — sebutir kurma yang jatuh di jalan, yang secara hukum sangat mungkin halal untuk dimakan siapa saja yang menemukannya. Tapi Rasulullah ﷺ memilih tidak memakannya, semata karena ada kemungkinan kecil itu adalah sedekah yang bukan haknya. Ini bukan sikap berlebihan atau was-was yang menyusahkan; ini adalah standar kehati-hatian tertinggi dari seorang yang sangat menjaga kebersihan hartanya. Bandingkan dengan keadaan kita hari ini, ketika urusan yang jauh lebih besar dari sebutir kurma — anggaran negara, dana bantuan sosial, hasil tambang, pajak yang dipungut dari rakyat — justru kadang diperlakukan dengan kehati-hatian yang jauh lebih rendah. Wara' Rasulullah ﷺ pada sebutir kurma seharusnya membuat kita malu jika kita sendiri lalai menjaga amanah yang jauh lebih besar nilainya.
Wara' semacam ini juga relevan bagi kita yang bukan pejabat atau pengusaha besar. Setiap dari kita mungkin memegang amanah kecil — uang kas RT, dana arisan, hasil penjualan barang titipan tetangga, gaji karyawan yang kita pekerjakan. Standar kehati-hatian yang sama harus kita terapkan: bukan hanya menghindari yang jelas haram, tapi juga berhati-hati pada wilayah abu-abu yang mungkin bukan hak kita sepenuhnya. Inilah makna sesungguhnya dari menjaga harta secara Islami — bukan sekadar menghindari dosa besar, tetapi membangun kepekaan hati terhadap hal-hal kecil yang bisa jadi mengandung hak orang lain.
Jamaah Jumat yang berbahagia, dari tiga pelajaran ini — harta yang halal adalah fitrah yang bisa dipalingkan setan, sikap menunggu rezeki tanpa ikhtiar adalah kekeliruan yang harus diluruskan, dan kehati-hatian pada hal kecil adalah standar tertinggi keimanan — kita bisa menarik implikasi praktis untuk kehidupan kita di Indonesia hari ini. Mari kita tutup bagian ini dengan beberapa langkah nyata yang bisa kita bawa pulang pekan ini.
Pertama, bagi kita yang berdagang atau berwirausaha, periksa kembali cara kita menetapkan harga dan menimbang barang — pastikan tidak ada yang dirugikan, sekecil apa pun nilainya. Kedua, bagi kita yang tergoda tawaran investasi dengan janji keuntungan tidak wajar, jadikan hadits tentang harta halal dan perumpamaan Imam Al-Ghazali tadi sebagai pengingat: keuntungan yang tidak masuk akal biasanya menyembunyikan kerugian yang juga tidak masuk akal. Ketiga, bagi kita yang memegang amanah kecil di lingkungan — kas masjid, kas RT, dana pengajian — terapkan wara' Rasulullah ﷺ pada sebutir kurma itu: catat dengan rapi, laporkan dengan jujur, dan jangan mencampur yang menjadi hak bersama dengan kebutuhan pribadi. Keempat, mari kita membiasakan diri berbicara tentang kesulitan ekonomi tetangga dan saudara kita dengan bahasa yang penuh hormat, bukan bahasa yang meremehkan perjuangan mereka — karena kita tidak pernah tahu benar seberapa berat beban yang mereka pikul. Kelima, bagi yang memiliki kelebihan rezeki, ingatlah bahwa zakat dan sedekah bukan beban, melainkan jalan agar harta yang mengalir kepada kita juga mengalir kepada orang lain, sebagaimana Allah kehendaki sejak awal harta itu diciptakan sebagai rezeki yang halal dan luas. Keenam, jadikan pekan ini momentum introspeksi keluarga: duduk bersama, bicarakan keuangan rumah tangga dengan jujur, dan pastikan setiap rupiah yang masuk dan keluar bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, di khutbah kedua ini izinkan saya menegaskan kembali beberapa sisi dari apa yang telah kita renungkan bersama. Pertama, ingatlah bahwa Allah menciptakan rezeki kita pada asalnya halal dan luas — kesempitan yang kita rasakan hari ini bukan karena Allah pelit, melainkan karena rantai pengelolaan yang melibatkan tangan manusia sering kali menyimpang dari amanah yang dititipkan. Ketika kita mendengar kabar tentang emas yang diselundupkan atau nilai kopi yang lari ke negeri lain, ingatlah bahwa itu bukan takdir yang tidak bisa diubah — itu adalah hasil pilihan manusia, dan pilihan bisa diperbaiki.
Kedua, mari kita jaga hati kita dari dua sikap ekstrem yang sama berbahayanya: sikap serakah yang menghalalkan segala cara demi mengejar untung, dan sikap pasrah keliru yang menunggu keajaiban tanpa mau berikhtiar sungguh-sungguh. Islam mengajarkan jalan tengah yang mulia — bekerja dengan sungguh-sungguh, menempuh cara yang halal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang lapang.
Ketiga, bagi kita yang mendengar keluhan tentang klasifikasi kemiskinan, kendaraan mewah pejabat, atau kabar bisnis besar yang berpindah tangan — jadikan itu bahan muhasabah, bukan bahan permusuhan. Kita berdoa agar para pemimpin diberi hati yang lembut kepada rakyatnya, dan kita juga memperbaiki diri kita sendiri sebagai pemimpin, sekecil apa pun ruang lingkup kepemimpinan yang kita pegang — sebagai kepala keluarga, pengurus RT, atau pengelola usaha kecil.
Keempat, jangan lupa bahwa amanah harta akan ditanyakan kelak — dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Maka jadikan setiap keputusan ekonomi kita, sekecil apa pun, sebagai bagian dari ibadah yang kita persembahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Marilah kita tutup pertemuan Jumat ini dengan doa, memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat bagi kita semua.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدٰى.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْحِصَارَ وَالْخَوْفَ، وَأَبْدِلْهُمْ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَلْهِمْهُمُ الْعَدْلَ فِيْ تَدْبِيْرِ أَرْزَاقِ رَعِيَّتِهِمْ، وَاجْعَلْهُمْ قُدْوَةً فِي الزُّهْدِ وَالْبَسَاطَةِ قَبْلَ أَنْ يَأْمُرُوا النَّاسَ بِذٰلِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا، وَجَنِّبْنَا الرِّبَا وَالْغِشَّ وَالِاحْتِكَارَ وَكُلَّ كَسْبٍ خَبِيْثٍ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ لَا مِنَ الْمُتَكَبِّرِيْنَ بِأَمْوَالِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَنْ يَشُقُّ عَلَيْهِمُ الْعَيْشُ مِنْ إِخْوَانِنَا، وَالْبُرَحَاءَ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ، وَيَسِّرْ لَهُمْ أَبْوَابَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ، وَأَلْهِمْنَا أَنْ نَكُوْنَ سَبَبًا فِيْ تَفْرِيْجِ كُرْبَتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَحُبِّ الْمَالِ الْمُفْرِطِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
