Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumEkonomi & BisnisKamis, 20 Agustus 2026

Kultum — "Mobil Mewah dan Teladan yang Hilang"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini ramai diperbincangkan soal kendaraan mewah yang mengantar sejumlah wakil rakyat ke acara kenegaraan, persis di saat rakyat diminta menahan diri dan berhemat. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini soal teladan — dan tentang mengapa nasihat yang benar bisa kehilangan kekuatannya kalau tidak dibarengi contoh.

Coba kita bertanya jujur pada diri sendiri: pernahkah kita lebih percaya pada nasihat orang yang hidupnya kita lihat sendiri sederhana, dibanding nasihat orang yang bicara hemat tapi hidupnya jauh dari kata itu? Allah Ta'ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

QS. Al-A'raf: 31 — dikutip dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim

"Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan."

Ayat ini pendek, tapi maknanya luas — bukan hanya soal makan-minum, para ulama menjelaskan bahwa larangan israf ini mencakup seluruh sisi kehidupan: cara berpakaian, cara membelanjakan harta, cara memamerkan apa yang kita miliki. Israf, berlebih-lebihan, adalah keluar dari sunnah — dari jalan tengah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Dan yang menarik, jamaah, larangan ini turun bukan untuk orang miskin — mustahil orang yang kesulitan makan disuruh "jangan berlebihan." Larangan ini turun untuk orang yang punya kelonggaran, karena di situlah israf biasa muncul.

Pekan ini, ketika kendaraan seharga miliaran rupiah difoto mengantar wakil rakyat ke forum yang membicarakan anggaran negara, banyak dari kita merasa ada sesuatu yang janggal — bukan semata soal harga mobilnya, tapi soal pesan yang terkirim ke rakyat yang sedang diminta berhemat, menahan diri dari BBM bersubsidi, bahkan disarankan menambah penghasilan dengan pekerjaan seperti mengupas bawang. Muncul sindiran di media sosial, kurang lebih begini: rakyat sudah sejahtera, minimal diwakili oleh anggota dewan yang sejahtera. Sindiran itu pahit, tapi ia lahir dari kelelahan yang jujur — kelelahan melihat jarak antara nasihat dan teladan.

Jamaah, mari kita jujur — ini bukan hanya soal pejabat. Berapa banyak dari kita yang juga pernah begini: menasihati anak untuk hemat jajan, sementara kita sendiri lupa mengecek pengeluaran bulanan kita sendiri. Menasihati adik untuk sabar menabung, sementara kita sendiri baru saja membeli sesuatu yang sebenarnya belum kita butuhkan. Israf tidak selalu berbentuk mobil miliaran; kadang ia berbentuk kebiasaan kecil yang kita maafkan untuk diri sendiri, tapi kita tuntut dari orang lain.

Ada satu peringatan Nabi ﷺ yang selalu saya ingat setiap kali membicarakan soal ini:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Bidayatul Hidayah — الرياء

"Tiga perkara yang membinasakan: sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang kagum pada dirinya sendiri."

Perhatikan yang pertama, jamaah — "syuhhun mutha'", kikir yang dituruti. Ini bukan sekadar pelit; ini keserakahan yang dibiarkan mengambil alih keputusan kita. Dan yang ketiga, kagum pada diri sendiri, adalah akar dari kebiasaan memamerkan apa yang kita punya — entah kendaraan, gaya hidup, atau pencapaian — tanpa sadar itu sedang menjauhkan kita dari kesederhanaan yang justru dicintai Allah. Tiga penyakit ini, jamaah, tidak memilih kelas sosial. Ia bisa hinggap di hati siapa saja yang mulai merasa "saya sudah pantas menikmati ini," sebelum bertanya apakah orang lain di sekitar kita masih kesulitan.

Yang saya rindukan dari pemimpin — baik pemimpin negara, pemimpin RT, maupun pemimpin keluarga — bukan pidato yang fasih tentang penghematan, tapi hidup yang menunjukkannya. Rasulullah ﷺ memimpin umat terbesar dalam sejarah, tapi rumah beliau sangat sederhana, kadang tidak ada api dinyalakan berhari-hari karena hanya ada kurma dan air. Bukan karena beliau tidak mampu — para sahabat yang kaya siap memberi apa saja untuk beliau — tapi karena beliau memilih menjadi teladan kesederhanaan sebelum menasihatkan kesederhanaan.

Maka pulang dari sini malam ini, mari kita bawa satu pertanyaan sederhana untuk diri sendiri: nasihat apa yang sering saya sampaikan ke orang lain, tapi belum sepenuhnya saya jalankan sendiri? Boleh jadi itu soal hemat belanja, soal jujur dalam berdagang, atau soal sabar menghadapi godaan gaya hidup. Malam ini, pilih satu, dan mulai perbaiki dari diri sendiri sebelum menasihati orang lain lagi soal itu. Itu lebih berat dari sekadar berbicara, tapi itulah yang membuat nasihat kita, sekecil apa pun jangkauannya, benar-benar didengar.

Semoga Allah menjaga kita dari sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman pada diri sendiri — dan menjadikan kita teladan kesederhanaan bagi orang-orang di sekitar kita, sekecil apa pun lingkup yang kita pimpin.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ الزَّاهِدِيْنَ، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الشُّحِّ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ، وَاجْعَلْ أَفْعَالَنَا سَابِقَةً لِأَقْوَالِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan