بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ، وَجَعَلَ الْعَدْلَ أَسَاسَ كُلِّ حُكْمٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, kabar tentang sidang-sidang besar dan penyelundupan yang terbongkar silih berganti muncul di layar kita. Ada satu pesan kecil yang ingin saya bagikan malam ini — bukan tentang mereka yang sedang diadili di sana, tapi tentang timbangan yang jarang kita periksa: timbangan kita sendiri.
Pernahkah kita bertanya, kenapa rasanya begitu mudah melihat ketidakadilan pada orang lain, tapi begitu sulit melihatnya pada diri sendiri? Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat An-Najm ayat 22:
تِلْكَ إِذًۭا قِسْمَةٌۭ ضِيزَىٰٓ
"Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil." (QS. An-Najm: 22)
Ayat ini turun dalam konteks orang-orang musyrik Mekah yang membagi kedudukan antara Allah dan berhala-berhala mereka secara timpang — bagian yang mulia mereka berikan untuk sesembahan mereka, sisanya untuk Allah. Tapi kata "pembagian yang tidak adil" ini punya gema yang jauh lebih luas, jamaah. Setiap kali kita membagi sesuatu — waktu, perhatian, kesempatan, bahkan penilaian kita terhadap orang lain — dengan timbangan yang berat sebelah, kita sedang mengulang pola "qismatun dhiza" ini dalam skala kita sendiri.
Coba kita jujur sejenak. Ketika mendengar kabar pekan ini — soal proses hukum yang berbelit di lingkup penegak hukum sendiri, soal sidang dakwaan yang menyentuh pengelolaan kuota haji, soal emas yang diselundupkan dan bahan bakar bersubsidi yang ditimbun diam-diam dalam tangki tersembunyi — hati kita sering cepat menghakimi pihak yang jauh, tapi lupa memeriksa hal serupa yang mungkin kita lakukan sendiri dalam skala kecil. Menimbang belanjaan pelanggan agak dikurangi karena "cuma sedikit". Melebihkan laporan pengeluaran karena "toh tidak ada yang tahu". Menahan informasi dari rekan kerja karena menguntungkan diri sendiri. Pola besar dan pola kecil ini sesungguhnya satu akar yang sama.
Ada satu kisah yang selalu saya ingat setiap kali topik ini muncul. Suatu hari sepulang dari Perang Hunain, seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang membagikan ghanimah, dan di kain Bilal ada perak yang hendak dibagikan. Sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma dalam Sahih Muslim 1063a, orang itu berkata kepada Nabi, "Wahai Muhammad, berlakulah adil." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Celaka engkau! Siapa yang akan adil jika aku tidak adil?"
Perhatikan, jamaah — orang itu berani menegur Nabi sendiri, dan Rasulullah tidak marah, tidak membalas dengan kekuasaan. Beliau justru menjawab dengan pertanyaan yang menusuk: kalau bukan pemimpin yang paling dipercaya sekalipun yang menjaga keadilan, siapa lagi teladannya? Pertanyaan itu, jamaah, sesungguhnya juga untuk kita masing-masing malam ini. Bukan "siapa yang akan adil kalau bukan pejabat itu", tapi "siapa yang akan adil di rumah saya, kalau bukan saya sendiri?"
Kita mudah geram membaca berita tentang kecurangan besar, tapi geram itu hanya berguna kalau ia berbalik menjadi cermin. Malam ini, sebelum tidur, coba periksa tiga hal saja: apakah ada hak orang lain yang masih kita tahan? Apakah ada laporan atau ucapan kita pekan ini yang sedikit "digenapkan" demi kepentingan sendiri? Apakah ada seseorang yang kita nilai secara tidak adil karena kesan sepintas, bukan karena bukti?
Ada satu hal menarik dari ayat An-Najm tadi, jamaah. Kata "qismah" yang dipakai bukan sekadar "pembagian" biasa — ia punya nuansa pembagian yang seharusnya disepakati bersama, tapi malah diputar sepihak oleh yang kebetulan memegang kendali membaginya. Persis seperti itu pola yang kita dengar kabarnya pekan ini: kuota yang seharusnya dibagi berdasarkan giliran dan kebutuhan, bahan bakar yang seharusnya sampai merata ke masyarakat, malah dibelokkan oleh sebagian yang memegang kendali pembagian itu. Kita yang tidak punya kendali besar sering merasa tidak berdaya melihat pola seperti ini. Tapi justru di situlah letak ujian kita, jamaah — bukan mengendalikan kebijakan besar yang jauh dari jangkauan kita, melainkan menjaga agar di lingkup kendali kita sendiri, "qismah" itu tetap lurus, tidak diam-diam kita putar untuk kepentingan sendiri.
Jamaah yang dirahmati Allah, mari kita tutup malam ini dengan tekad sederhana: keadilan yang kita minta dari pejabat, dari hakim, dari sistem, harus lebih dulu kita tegakkan dari diri kita sendiri. Itulah makna sejati dari "siapa yang akan adil jika aku tidak adil" — pertanyaan yang harus terus kita gemakan untuk diri sendiri, bukan hanya untuk orang lain. Kalau setiap dari kita berhasil menjaga satu "qismah" kecil yang ada dalam kendali kita, bayangkan berapa banyak kezaliman yang tidak akan pernah sempat tumbuh besar.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِيْ أَنْفُسِهِمْ قَبْلَ أَنْ يُطَالِبُوا الْعَدْلَ مِنْ غَيْرِهِمْ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الظُّلْمِ وَالْغِشِّ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
