بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ، وَيَسْمَعُ دُعَاءَ مَنْ نَادَاهُ وَلَوْ فِيْ خَلْوَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita banyak sekali melihat hal-hal yang tampil sempurna di permukaan — perayaan yang meriah, rumah tangga yang terlihat harmonis, gaya hidup yang terlihat mudah. Malam ini saya ingin mengajak kita bicara tentang sesuatu yang sebaliknya: tentang amal dan doa yang tidak pernah tampil di permukaan, tapi justru itulah yang paling didengar Allah.
Ada satu hadits yang selalu membuat saya merinding setiap kali membacanya ulang. Dalam Sahih Muslim 2675a, Rasulullah ﷺ bersabda — dalam hadits qudsi, Allah 'azza wa jalla berfirman:
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَع…
"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersama…" — Rasulullah ﷺ melanjutkan bahwa jika seorang hamba mengingat Allah dalam dirinya sendiri, Allah pun mengingatnya dalam diri-Nya. (Sahih Muslim 2675a, hadits qudsi)
Coba kita renungkan sejenak: "mengingat-Ku dalam dirinya sendiri" — bukan dzikir yang diucapkan di depan orang banyak, bukan doa yang direkam untuk dibagikan, melainkan dzikir yang paling sunyi, yang bahkan tidak terdengar oleh telinga siapa pun selain diri kita dan Allah. Justru dzikir yang paling sunyi itulah yang dijawab Allah dengan mengingat kita "dalam diri-Nya" — sebuah kedekatan yang tidak butuh saksi sama sekali.
Jamaah sekalian, siapa di antara kita pekan ini yang pernah merasa lelah berdoa karena merasa tidak ada yang tahu perjuangan kita? Merasa usaha kita tidak dihargai karena tidak ada yang melihatnya? Hadits ini menjawab kegelisahan itu dengan tegas: Allah tidak pernah butuh menunggu orang lain tahu perjuangan kita untuk Dia menghargainya. Justru sebaliknya — semakin sunyi ketaatan kita dari sorotan manusia, semakin murni pula nilainya di sisi-Nya.
Coba kita pikirkan juga, jamaah, bagaimana kita bekerja pekan ini. Delapan puluh satu tahun kita merdeka, tapi kita masih sering bertanya-tanya apakah bangsa ini benar-benar kerja keras atau justru gampang menyerah. Padahal, jamaah, kerja keras yang sesungguhnya bukan yang paling ramai dibicarakan, melainkan yang dilakukan konsisten walau atasan sedang tidak mengawasi, walau tidak ada satu pun yang menilai. Rasa syukur atas kemerdekaan yang paling nyata bukan sekadar ikut upacara sekali setahun, melainkan kerja jujur setiap hari yang tidak pernah kita banggakan ke siapa pun.
Pekan ini kita mendengar kabar tentang rumah tangga yang selama ini terlihat begitu harmonis di depan kamera, ternyata retak di baliknya. Kita juga mendengar kabar pernikahan yang batal mendadak, padahal segala persiapannya sudah terlihat begitu matang. Ini bukan untuk kita jadikan bahan bicara, jamaah — justru sebaliknya, ini pengingat bahwa yang terlihat sempurna di luar belum tentu benar-benar kokoh di dalam. Maka jangan sampai kita, dalam ibadah dan dalam rumah tangga kita sendiri, hanya sibuk merapikan apa yang terlihat, sementara yang tidak terlihat kita biarkan keropos.
Ada satu munajat yang indah dalam Nashaihul Ibad, yang selalu saya bawa pulang setiap kali membacanya:
إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي، فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ
"Ya Tuhanku, panjangnya angan-anganku telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, dan nafsu yang menyuruh kepada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran. Maka tolonglah aku, wahai penolong orang-orang yang meminta pertolongan — jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau." (Nashaihul Ibad)
Munajat ini bukan doa yang gagah, jamaah. Ini doa seorang hamba yang mengakui dirinya lemah, tertipu angan-angan, kadang kalah oleh nafsu sendiri. Dan justru doa yang jujur mengakui kelemahan semacam inilah yang paling didengar Allah — bukan doa yang dipoles supaya terdengar hebat di depan orang lain. Bandingkan dengan kebiasaan kita hari ini, yang kadang justru sebaliknya: kita ingin doa dan perjuangan kita terdengar kuat di mata orang lain, padahal di hadapan Allah, pengakuan atas kelemahan diri jauh lebih dicintai daripada kepura-puraan tegar yang kita pertontonkan.
Maka malam ini, jamaah yang saya hormati, mari kita bawa pulang satu hal saja: berhenti mengukur ketulusan kita dari apakah ada yang melihat. Perbaiki satu dzikir yang selama ini hanya kita ucapkan untuk formalitas, jadikan ia benar-benar hidup malam ini juga. Periksa satu sudut rumah tangga atau hubungan kita yang selama ini kita jaga citranya di depan orang, tapi kita abaikan kejujurannya di dalam. Allah tidak butuh penonton untuk mengetahui usaha kita — Dia sudah bersama kita sejak dzikir pertama kita ucapkan dalam hati.
Ya Allah, jadikan kami hamba yang tulus dalam kesunyian, bukan hanya rapi di hadapan orang lain.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ سَرَائِرَنَا خَيْرًا مِنْ عَلَانِيَتِنَا، وَاجْعَلْ عَلَانِيَتَنَا صَالِحَةً، اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
