Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKesehatan & KehidupanKamis, 20 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Ketika Amanah Ada di Piring Anak"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، الَّذِي خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَرَزَقَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ رِزْقًا كَرِيمًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ الزَّادِ لِمَنْ أَرَادَ النَّجَاةَ يَوْمَ الْمَعَادِ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah. Di awal khutbah ini, marilah kita menyimak firman Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

"Dan makanlah, minumlah, dan janganlah kalian berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31, dikutip dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)

Ayat yang singkat ini, hadirin sekalian, memuat prinsip yang oleh sebagian ulama disebut mengandung inti seluruh ilmu menjaga tubuh: bahwa apa yang masuk ke dalam diri kita — makanan, minuman, segala yang kita konsumsi setiap hari — bukan perkara sepele yang boleh diserahkan begitu saja tanpa kehati-hatian. Ia adalah bagian dari amanah yang Allah titipkan kepada kita atas tubuh ini.

Jamaah Jumat yang berbahagia, pekan ini kabar yang sampai kepada kita banyak berbicara tentang pangan dan gizi. Program pemberian makan bergizi gratis untuk anak-anak sekolah — sebuah niat yang baik, sebuah ikhtiar negara untuk memastikan generasi muda kita tumbuh sehat — pekan ini justru banyak diperbincangkan dari dua sisi yang terasa berat bagi kita semua: di satu sisi ada pembicaraan tentang bagaimana anggaran program ini dikelola, dan di sisi lain ada kabar yang menyayat hati tentang sejumlah kasus keracunan yang menimpa anak-anak penerima manfaat program ini di sekolah mereka.

Kita perlu berhenti sejenak di sini, ma'asyiral muslimin. Tidak ada di antara kita yang keberatan dengan niat memberi makan bergizi kepada anak-anak. Itu niat yang mulia, sejalan dengan tuntunan agama kita untuk menjaga jiwa dan tubuh generasi penerus. Yang menjadi keprihatinan bersama adalah ketika niat baik itu tidak dikawal oleh pelaksanaan yang bisa dipercaya penuh — ketika dapur yang menyiapkan makanan, proses pengawasan mutunya, dan rantai distribusinya belum sepenuhnya menjamin bahwa apa yang sampai ke piring seorang anak benar-benar aman untuknya.

Dari kabar yang sama pula kita mendengar desakan dari warga agar pertanggungjawaban tidak berhenti pada pergantian orang semata, tetapi menyentuh akar prosesnya — pengawasan dapur penyedia, standar kebersihan, dan mekanisme kontrol mutu sebelum makanan itu disalurkan. Ini, hadirin sekalian, adalah tuntutan yang sejalan dengan ajaran agama kita: bahwa amanah yang dipegang oleh sebuah lembaga tidak boleh dilepaskan tanggung jawabnya hanya kepada satu-dua orang, melainkan kepada seluruh sistem yang menopangnya.

Pekan ini pula kita mendengar kabar tentang musim kemarau yang mulai menekan sejumlah wilayah negeri kita — kekeringan yang meluas, titik-titik kebakaran hutan dan lahan yang kembali muncul seperti pola tahun-tahun sebelumnya, serta persoalan sampah dan pencemaran lingkungan yang terus menumpuk di berbagai tempat. Semua ini, ma'asyiral muslimin, adalah wajah lain dari amanah yang sama: amanah menjaga bumi yang kita pijak, sebagaimana amanah menjaga tubuh yang kita miliki.

Namun di tengah kabar-kabar yang berat itu, ada pula secercah kabar yang menghangatkan hati kita. Pekan ini kita mendengar tentang sebuah pesantren berbasis ekologi yang pendirinya menerima penghargaan atas kerja panjangnya merawat lingkungan sekitar. Ini mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap bumi bukanlah gagasan baru yang perlu kita pinjam dari luar — ia sudah lama tumbuh di tengah-tengah komunitas kita sendiri, di pesantren-pesantren yang menjadikan penghijauan dan pelestarian sebagai bagian dari ibadah keseharian.

Di ruang publik pekan ini, kita juga mendengar sorotan tentang gaya hidup sebagian pejabat yang tampak berjarak dari kesederhanaan, tepat ketika pembahasan anggaran negara untuk tahun mendatang sedang berlangsung. Keluhan ini, bila kita renungkan, sesungguhnya bermuara pada akar yang sama dengan keresahan tentang anggaran gizi anak: pertanyaan tentang amanah — siapa yang menjaga harta bersama, dan untuk siapa harta itu sesungguhnya dikelola.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, dari rangkaian kabar pekan ini — pangan, lingkungan, dan anggaran bersama — ada satu benang yang bisa kita tarik bersama untuk direnungkan lebih dalam pada bagian berikutnya dari khutbah ini: bahwa Islam mengajarkan kita untuk memandang setiap titipan, sekecil apa pun bentuknya, sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita perdalam benang amanah ini dengan dalil kedua. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim disebutkan bagaimana seharusnya seorang muslim bergaul dengan sesamanya:

معاملة الناس بمكارم الأخلاق من طلاقة الوجه، وإفشاء السلام وإطعام الطعام، وكظم الغيظ، وكف الأذى عن الناس، واحتماله منهم والإيثار، وترك الاستئثار، والإنصاف، وترك الاستنصاف، وشكر التفضل، وإيجاد الراحة، والسعي في قضاء الحاجات، وبذل الجاه في الشفاعات، والتلطف بالفقراء، والتحبب إلى الجيران

"Bergaul dengan manusia melalui akhlak yang mulia: wajah yang berseri, menyebarkan salam, memberi makan, menahan amarah, menahan diri dari menyakiti orang lain, sabar menanggung gangguan dari mereka, mendahulukan orang lain daripada diri sendiri, meninggalkan sikap mementingkan diri, berlaku adil, bersyukur atas kebaikan orang lain, mengusahakan kenyamanan bagi sesama, bersungguh-sungguh menunaikan kebutuhan orang lain, menggunakan kedudukan untuk membantu, bersikap lembut kepada orang-orang miskin, dan menjalin kasih sayang dengan tetangga." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)

Perhatikan, hadirin sekalian, satu frasa yang disebutkan di tengah rangkaian akhlak mulia ini: "menahan diri dari menyakiti orang lain". Ulama-ulama kita menegaskan sebuah kaidah besar dari prinsip ini — bahwa tidak boleh ada bahaya yang ditimbulkan, dan tidak boleh pula bahaya itu dibalas dengan bahaya yang lain. Kaidah ini bukan hanya berlaku antar-pribadi, ma'asyiral muslimin, tetapi juga berlaku bagi setiap lembaga, setiap dapur, setiap tangan yang menyalurkan sesuatu kepada orang banyak — termasuk tangan yang menyalurkan makanan kepada anak-anak sekolah kita. Ketika sebuah proses penyaluran gagal menjaga keamanan apa yang disalurkannya, sesungguhnya telah terjadi pelanggaran terhadap prinsip yang sama: menimbulkan bahaya kepada pihak yang seharusnya paling dilindungi, yaitu anak-anak yang belum mampu menjaga dirinya sendiri.

Kita mengenal dari sirah Nabi ﷺ, betapa besar perhatian beliau kepada anak-anak dan kaum yang lemah. Beliau menegur siapa saja yang lalai terhadap hak anak yatim, dan beliau menempatkan urusan menjaga yang lemah sebagai bagian inti dari kepemimpinan seorang muslim. Semangat inilah yang semestinya menjiwai setiap kebijakan yang menyentuh anak-anak kita hari ini — bukan sekadar niat administratif untuk mencapai target program, melainkan tanggung jawab yang dijalani dengan kesungguhan seorang yang mengerti bahwa ia sedang menjaga titipan yang paling rentan.

Ma'asyiral muslimin, di Indonesia hari ini kita memiliki banyak lembaga yang menjalankan program-program besar untuk kesejahteraan rakyat, termasuk program gizi untuk anak-anak sekolah. Islam tidak mengajarkan kita untuk mencurigai setiap niat baik, tetapi Islam mengajarkan kita untuk selalu menuntut agar niat baik itu dikawal oleh sistem yang bertanggung jawab — pengawasan yang berlapis, transparansi anggaran, dan mekanisme yang memastikan setiap rupiah dan setiap piring makanan benar-benar sampai dalam keadaan aman kepada yang berhak menerimanya. Inilah wujud nyata dari menahan diri dari menimbulkan bahaya kepada sesama, diterapkan dalam skala kelembagaan.

Dalam sejarah peradaban Islam, ma'asyiral muslimin, kita mengenal sebuah lembaga yang disebut hisbah — institusi yang tugas utamanya mengawasi pasar, memastikan takaran yang adil, dan memeriksa kualitas barang yang dijual kepada masyarakat, termasuk bahan pangan. Petugas yang disebut muhtasib berkeliling pasar, memeriksa apakah penjual mencampur yang baik dengan yang buruk, dan menindak siapa pun yang mengabaikan keamanan konsumen. Ini menunjukkan kepada kita bahwa pengawasan pangan bukanlah konsep modern yang baru kita kenal hari ini — ia sudah menjadi bagian dari peradaban Islam sejak berabad-abad lampau, karena umat ini memahami bahwa menjaga apa yang dikonsumsi masyarakat adalah tanggung jawab kolektif, bukan semata urusan pribadi antara penjual dan pembeli.

Kita di Indonesia hari ini sesungguhnya sedang diuji untuk menghidupkan kembali semangat hisbah itu — bukan dalam bentuk kelembagaan yang persis sama, tetapi dalam semangatnya: bahwa setiap dari kita, sesuai kapasitas masing-masing, memiliki peran menjaga keamanan apa yang beredar di tengah masyarakat. Bagi yang bekerja di lembaga pemerintah, itu berarti pengawasan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar administratif. Bagi kita sebagai warga biasa, itu berarti keberanian untuk bertanya dan melapor ketika ada yang tidak beres, tanpa harus menunggu instruksi dari atas terlebih dahulu.

Selanjutnya, ma'asyiral muslimin, mari kita renungkan pula bagaimana Allah Ta'ala mengajak kita memperhatikan makanan yang kita konsumsi. Dalam Surah 'Abasa, Allah berfirman:

وَعِنَبًۭا وَقَضْبًۭا

"Dan anggur dan sayur-sayuran." (QS. Abasa: 28)

Ayat ini adalah bagian dari rangkaian ayat yang lebih panjang, di mana Allah mengajak manusia menengok makanannya sendiri — dari mana ia tumbuh, bagaimana ia disiapkan, dan siapa yang berhak bersyukur atasnya. Perhatian Al-Qur'an terhadap detail sekecil ini — sebutir anggur, seikat sayur — mengajarkan bahwa Islam tidak pernah menganggap remeh urusan pangan. Pangan yang baik, yang thayyib, adalah nikmat yang harus disyukuri sekaligus dijaga kualitasnya. Ketika kita mendengar kabar tentang kasus keracunan yang menimpa anak-anak penerima manfaat program gizi pekan ini, sesungguhnya kita sedang menyaksikan pengingkaran terhadap semangat ayat ini — bahwa makanan yang sampai ke tangan manusia harus benar-benar aman, bukan sekadar memenuhi target distribusi semata.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di tengah semua kabar pekan ini — pangan, lingkungan, anggaran — ada baiknya kita juga menengok ke dalam diri kita sendiri. Sebagian ahli ibadah terdahulu pernah bermunajat kepada Allah dengan kalimat yang direkam dalam kitab Nashaihul Ibad:

إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي. فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ

"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, dan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, serta teman yang buruk telah membantuku menuju maksiat. Maka tolonglah aku, wahai penolong bagi orang-orang yang meminta pertolongan — sebab jika Engkau tidak merahmatiku, siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau?" (Nashaihul Ibad — Bab al-Khumasi)

Munajat ini, hadirin sekalian, berbicara tentang sesuatu yang sangat manusiawi: bahwa panjangnya angan-angan dan cinta dunia bisa membuat siapa pun — termasuk kita yang duduk di lembaga, yang memegang amanah pengelolaan, yang bertanggung jawab atas dapur atau anggaran — lalai dari kesungguhan menjaga amanah kecil di hadapan kita. Bukan karena niat jahat, tetapi karena longgarnya perhatian, karena angan-angan yang membuat kita berpikir "nanti saja diperbaiki", "ini bukan tanggung jawab saya sepenuhnya". Munajat ini mengajarkan kita untuk rendah hati mengakui kelemahan ini di hadapan Allah, sembari terus memohon pertolongan-Nya agar kita mampu menjaga apa yang dititipkan kepada kita dengan sungguh-sungguh.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jika kita menimbang ketiga dalil ini bersama-sama — perintah untuk tidak berlebihan dalam makan-minum, akhlak menahan diri dari menyakiti sesama, dan pengakuan jujur atas kelalaian manusiawi kita — kita akan sampai pada satu kesimpulan yang sama: menjaga amanah bukan perkara sekali jadi, melainkan kesungguhan yang harus dirawat setiap hari, di setiap dapur, di setiap meja anggaran, di setiap jengkal tanah yang kita pijak.

Dari renungan ini, izinkanlah saya menutup bagian pertama khutbah ini dengan beberapa langkah nyata yang bisa kita bawa pulang pekan ini. Pertama, bagi kita yang bekerja di lembaga atau terlibat dalam pengelolaan program untuk masyarakat, perkuatlah pengawasan mutu di titik yang paling rawan — dapur, gudang, jalur distribusi — sebelum kita sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Kedua, bagi kita yang menjadi orang tua, jangan segan bertanya kepada sekolah tentang sumber dan kualitas makanan yang diterima anak-anak kita; bertanya bukan tanda tidak percaya, melainkan wujud tanggung jawab. Ketiga, mari kita mulai dari rumah masing-masing: biasakan tidak berlebihan dalam makan dan minum, sebagai pengamalan nyata dari ayat yang kita baca di awal khutbah ini. Keempat, bagi yang memiliki kelapangan rezeki, sisihkan sedikit untuk membantu tetangga yang terdampak kekeringan atau kesulitan air bersih pekan ini. Kelima, bagi pengurus masjid dan komunitas, mulailah langkah kecil menjaga lingkungan sekitar tempat ibadah kita — kebersihan, penghijauan — mencontoh semangat pesantren ekologi yang kita dengar kabarnya pekan ini. Keenam, dan tidak kalah penting, perbanyaklah doa untuk perbaikan pengelolaan amanah publik di negeri kita, karena doa adalah senjata orang beriman yang tidak pernah kita kesampingkan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, pada khutbah kedua ini, izinkan saya menegaskan kembali satu hal: amanah menjaga tubuh dan menjaga apa yang kita — dan anak-anak kita — konsumsi, bukanlah urusan yang bisa kita serahkan sepenuhnya kepada pihak lain lalu kita lupakan begitu saja. Setiap kali kita menyuapi anak, setiap kali sekolah membagikan makanan, setiap kali negara menjalankan program gizi untuk rakyatnya, di sanalah amanah itu berpindah tangan, dan di sanalah pula pertanggungjawaban itu harus terus dijaga sampai ke ujung rantainya.

Kita juga perlu menegaskan bahwa menuntut sistem yang bertanggung jawab bukanlah sikap yang berlebihan atau tidak sabar. Justru itulah wujud iman yang hidup — iman yang tidak membiarkan kelalaian kecil dibiarkan tumbuh menjadi kebiasaan. Tanggung jawab itu pun berjenjang sesuai kemampuan dan kewenangan masing-masing: ada yang memegang wewenang untuk membenahi, ada yang mampu menyuarakan, dan ada yang setidaknya menjaga hatinya agar tidak ikut membenarkan pembiaran.

Demikian pula dengan amanah menjaga bumi. Musim kemarau yang kita rasakan pekan ini bukan sekadar fenomena alam yang berlalu begitu saja — ia adalah pengingat bahwa bumi ini terbatas, sumber dayanya bisa habis, dan kita sebagai khalifah di atasnya dituntut untuk merawat, bukan menghabiskan tanpa perhitungan.

Dan yang terakhir, mari kita jujur pada diri sendiri: sebagian besar kelalaian yang kita saksikan di sekitar kita — baik dalam pengelolaan pangan, lingkungan, maupun anggaran bersama — berakar dari kelemahan manusiawi yang sama: angan-angan panjang, cinta dunia yang berlebihan, dan lupa bahwa segala sesuatu akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Semoga kita termasuk hamba yang segera kembali dan memperbaiki diri, bukan yang menunda-nunda hingga amanah itu terlanjur rusak di tangan kita.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa bersama-sama:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْنَا عَلٰى مَنْ بَغٰى عَلَيْنَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللَّهُمَّ فُكَّ أَسْرَهُمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ وَجَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَآوِ يَتَامَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ اشْفِ أَطْفَالَنَا الْمَرْضَى شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا، وَاحْفَظْ أَبْدَانَهُمْ وَعُقُوْلَهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ، وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ رَفْعَةً فِيْ دَرَجَاتِهِمْ وَتَكْفِيْرًا لِذُنُوْبِهِمْ، وَعَجِّلْ لَهُمُ الْعَافِيَةَ وَالشِّفَاءَ التَّامَّ، وَأَلْهِمْ أَهْلِيْهِمْ صَبْرًا جَمِيْلًا وَيَقِيْنًا بِحُسْنِ تَدْبِيْرِكَ.

اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ، وَأَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَاصْرِفْ عَنَّا الْجَفَافَ وَالْحَرَائِقَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ عَنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً وَبِلَادِنَا هَذِهِ خَاصَّةً.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِرَعِيَّتِهِمْ لَا نِقْمَةً عَلَيْهِمْ، وَأَعِنْهُمْ عَلٰى حِفْظِ أَمَانَاتِ الْأُمَّةِ فِيْ أَقْوَاتِهَا وَأَمْوَالِهَا وَمَرَافِقِهَا، وَاجْعَلْ كُلَّ مَنْ وَلِيَ أَمْرًا مِنْ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ نَاصِحًا أَمِيْنًا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَوْلَادَنَا جَمِيْعًا فِيْ حِفْظِكَ وَرِعَايَتِكَ، وَاجْعَلْهُمْ نَشْأً صَالِحًا يَحْفَظُوْنَ أَمَانَتَكَ فِيْ أَنْفُسِهِمْ وَفِيْمَا اسْتُرْعُوْا عَلَيْهِ، وَاغْفِرْ لَنَا تَقْصِيْرَنَا فِيْ حِفْظِ أَمَانَاتِكَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مُعَلِّمِيْنَا وَمَنْ عَلَّمَنَا حَرْفًا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ ذُرِّيَّتَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَإِمَامًا لِلْمُتَّقِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan