Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKesehatan & KehidupanKamis, 20 Agustus 2026

Kultum — "Nikmat Makan yang Sering Kita Abaikan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini banyak dari kita mendengar kabar tentang anak-anak yang jatuh sakit setelah menyantap makanan yang semestinya menyehatkan mereka. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini.

Coba kita bertanya pada diri sendiri malam ini: sudahkah kita benar-benar bersyukur atas nikmat sehat, atau kita baru menyadarinya ketika nikmat itu justru diambil dari orang lain di sekitar kita? Allah Ta'ala menggambarkan salah satu kenikmatan yang menanti golongan beriman dengan firman-Nya:

وَمَآءٍۢ مَّسْكُوبٍۢ

"Dan air yang tercurah." (QS. Al-Waaqia: 31)

Ayat ini bagian dari gambaran Al-Qur'an tentang kenikmatan yang menanti golongan yang beriman — air yang mengalir tanpa henti, tidak perlu diperjuangkan, tidak perlu dikhawatirkan kualitasnya. Bandingkan itu dengan kenyataan pekan ini: sebagian anak justru jatuh sakit karena makanan dan minuman yang semestinya menyehatkan mereka. Ayat ini mengingatkan kita bahwa nikmat pangan yang bersih dan aman bukan hal receh — ia gambaran kecil dari kenikmatan yang Allah janjikan, dan karena itu pula ia harus benar-benar kita jaga selagi di dunia.

Jamaah yang saya hormati, kita hidup di zaman ketika makanan begitu mudah didapat — tinggal pesan lewat aplikasi, tinggal antre di kantin sekolah, tinggal menerima jatah dari program pemerintah. Kemudahan ini nikmat yang luar biasa besar, tetapi kemudahan itu jugalah yang kadang membuat kita lupa bertanya: apakah yang mudah ini juga aman?

Pekan ini kita mendengar kabar yang cukup mengganggu hati. Program pemberian makan bergizi gratis untuk anak-anak sekolah — sebuah ikhtiar yang sangat baik, yang semestinya kita dukung penuh — justru diwarnai kabar tentang sejumlah kasus keracunan yang menimpa anak-anak penerima manfaatnya. Bayangkan, jamaah, seorang anak berangkat ke sekolah dengan harapan mendapat makan siang yang menyehatkan, tetapi pulang dengan tubuh yang justru sakit. Ini bukan hal kecil bagi kita yang menyimak.

Yang menarik dari kabar pekan ini, warga tidak lantas menyalahkan gagasan programnya. Yang dipersoalkan adalah rantai pelaksanaannya — dapur yang menyiapkan, pengawasan mutunya, dan siapa yang bertanggung jawab ketika ada yang keliru. Ini cerminan dari sebuah prinsip yang sangat Islami: niat baik saja tidak cukup, ia harus dikawal kesungguhan menjaga prosesnya sampai selesai.

Ada pula kabar lain pekan ini tentang musim kemarau yang mulai terasa di berbagai daerah — kekeringan, kabut asap, sampah yang menumpuk. Semuanya, kalau kita renungkan, berbicara tentang hal yang sama: bagaimana kita memperlakukan nikmat yang Allah titipkan, apakah kita menjaganya atau justru membiarkannya rusak karena kelalaian kita sendiri.

Allah Ta'ala berfirman pula dalam Al-Qur'an:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

"Dan makanlah, minumlah, dan janganlah kalian berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31, dikutip dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)

Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa Allah mengumpulkan seluruh ilmu menjaga kesehatan tubuh dalam satu ayat pendek ini. Perhatikan, jamaah — ayat ini tidak hanya bicara soal jumlah makanan, tetapi juga soal kehati-hatian dalam mengonsumsi apa pun yang masuk ke tubuh kita. Berlebihan bukan hanya makan terlalu banyak, tetapi juga lalai memastikan apa yang kita makan itu benar-benar baik dan aman.

Ayat dan kabar pekan ini sesungguhnya mengajarkan hal yang sama: menjaga tubuh — milik kita sendiri maupun milik anak-anak yang dititipkan kepada kita — adalah amanah yang tidak boleh kita anggap remeh. Kita sering berpikir amanah hanya berkaitan dengan uang atau jabatan. Padahal, memastikan makanan yang kita sajikan aman, memastikan lingkungan tempat anak-anak kita tumbuh bersih, itu juga amanah — bahkan amanah yang sangat mendasar, karena menyangkut keselamatan jiwa.

Jamaah, mari kita jujur: berapa banyak dari kita yang benar-benar memperhatikan kebersihan dapur di rumah, kualitas jajanan anak di sekolah, atau kondisi lingkungan sekitar rumah kita? Seringkali kita baru peduli ketika sudah ada yang jatuh sakit. Padahal agama kita mengajarkan untuk mencegah sebelum terjadi, bukan menyesal sesudahnya.

Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan sebelum kita tutup. Menjaga amanah kecil ini sebenarnya lebih mudah daripada yang kita kira — tidak perlu jabatan besar, tidak perlu anggaran besar. Cukup dimulai dari kesediaan untuk peduli pada hal-hal yang selama ini kita anggap urusan orang lain: kebersihan dapur, kualitas air, kondisi lingkungan sekitar rumah. Kalau setiap keluarga mau mengambil bagian sekecil ini, perubahan besar akan terasa tanpa perlu menunggu kebijakan besar dari atas.

Maka malam ini, izinkan saya mengajak kita semua melakukan tiga hal kecil sepulang dari sini. Pertama, esok pagi, periksa dan bersihkan kembali tempat penyimpanan makanan di rumah kita. Kedua, tanyakan kepada anak kita apa yang mereka makan di sekolah hari ini — bukan untuk mencurigai, tetapi untuk peduli. Ketiga, kalau kita punya kelapangan, sisihkan sedikit rezeki untuk membantu tetangga yang kesulitan air bersih akibat kemarau pekan ini.

Jamaah yang saya hormati, nikmat sehat, nikmat makan yang aman, nikmat lingkungan yang bersih — semuanya adalah bayangan kecil dari kenikmatan yang Allah janjikan bagi hamba-Nya yang bersyukur. Jangan biarkan kita baru menghargainya setelah ia hilang. Menjaga nikmat yang masih di tangan kita adalah cara kita bersyukur yang paling nyata.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، وَاجْعَلْهُ عَوْنًا لَنَا عَلٰى طَاعَتِكَ لَا سَبَبًا لِمَعْصِيَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ يَشْكُرُوْنَ نِعْمَتَكَ وَيَحْفَظُوْنَ أَمَانَتَكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan