Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKonflik & GeopolitikKamis, 20 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Adil Dulu, Baru Bicara Damai"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan khatib membuka khutbah pekan ini dengan satu ayat yang berbicara sangat konkret tentang perselisihan di antara sesama:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

"Dan kalau ada dua golongan dari orang-orang beriman berperang, damaikanlah antara keduanya. Kalau salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Kalau golongan itu telah kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Hujuraat: 9)

Ayat ini tidak berbicara tentang skenario yang jauh dari kita. Ia berbicara tentang perselisihan di antara sesama orang beriman — sesuatu yang, disadari atau tidak, sedang kita saksikan dalam berbagai bentuk pekan ini. Al-Qur'an tidak mengajarkan kita untuk berpura-pura bahwa perselisihan semacam itu tidak akan pernah terjadi, dan tidak pula membiarkan kita membeku dalam kebingungan ketika ia terjadi. Al-Qur'an memberi kita tahapan yang jernih: damaikan lebih dulu; jika satu pihak melampaui batas, luruskan ia kembali kepada perintah Allah; dan begitu ia kembali, damaikan dengan adil. Yang dituntut ayat ini bukan kebencian, dan bukan pula sikap masa bodoh. Yang dituntut adalah keberanian bersikap adil, disusul kerendahan hati untuk berdamai begitu keadilan tercapai.

Pekan ini, dari berita yang sampai kepada kita, ketegangan di Selat Hormuz kembali menghangat. Peringatan-peringatan keras saling dilontarkan, pergerakan kapal-kapal perang di salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia itu kembali menyita perhatian, dan nama-nama otoritas tinggi yang biasa disebut ketika ketegangan Iran dan Amerika Serikat memuncak kembali muncul di layar kita. Ini bukan yang pertama kali. Selat sempit itu sudah berkali-kali menjadi barometer bagi dunia: setiap kali retorika di sana mengeras, kecemasan global ikut naik — mulai dari harga energi sampai kestabilan pasar keuangan yang jauh dari kawasan itu sendiri.

Pekan ini juga, kabar dari Gaza terus bergulir, kali ini dengan lapisan yang lebih rumit: sekutu-sekutu regional yang mulai bergeser sikap, dan nada dari Turki yang meninggi. Istilah yang berat — genosida — kembali diucapkan berulang kali di ruang publik kita, mencerminkan betapa dalam keprihatinan yang dirasakan banyak dari kita ketika membicarakan korban sipil yang jatuh dalam peperangan yang sudah berlangsung sekian lama.

Dan lebih dekat lagi, sebuah peringatan Hari Damai di Aceh sempat diwarnai kericuhan sebelum akhirnya prajurit TNI mengibarkan kembali Bendera Merah Putih di Masjid Raya Baiturrahman. Gambar pengibaran bendera itu menyebar luas, jauh melampaui skala kejadian aslinya — tanda bahwa hati banyak dari kita, secara naluriah, justru merapat pada gambar pemulihan dan persatuan, bukan pada perpecahan itu sendiri.

Tiga kabar ini berbeda skala, ma'asyiral muslimin. Satu tentang rivalitas dua kekuatan besar di kawasan yang jauh. Satu tentang perang terbuka yang telah berjalan bertahun-tahun. Satu lagi tentang gesekan domestik yang mereda dalam hitungan hari. Tapi ketiganya sesungguhnya menguji satu pertanyaan yang sama, yang justru dijawab tuntas oleh ayat yang baru saja kita baca: ketika ada perselisihan di antara sesama, ke mana hati kita condong — kepada eskalasi, ataukah kepada islah?

Ada dua godaan yang sama besarnya ketika berita-berita berat seperti ini datang bertubi-tubi. Godaan pertama adalah masa bodoh — menutup mata karena merasa persoalan itu terlalu jauh dan terlalu rumit untuk kita pikirkan. Godaan kedua, yang justru lebih halus dan lebih berbahaya, adalah larut dalam kemarahan yang tak terarah: ikut menyebarkan spekulasi yang belum tentu benar, ikut menggeneralisasi satu bangsa atau satu golongan sebagai musuh, bahkan — pada titik yang paling jauh — menuduh sesama Muslim yang berbeda sikap politik sebagai kafir atau pengkhianat. Kedua godaan ini, meski tampak berlawanan, sama-sama menjauhkan kita dari peran yang Allah minta dari orang-orang beriman: menjadi pihak yang mendamaikan, bukan pihak yang menonton dari kejauhan atau pihak yang justru menyalakan api baru.

Ayat Al-Hujuraat yang kita baca di awal khutbah ini sesungguhnya adalah jawaban Al-Qur'an atas kedua godaan itu sekaligus. Perhatikan susunannya: pertama, damaikanlah. Bukan "biarkan saja", bukan "itu bukan urusan kita". Kedua, kalau ada pihak yang nyata-nyata melampaui batas dan menzalimi pihak lain, luruskan — ada ruang untuk sikap tegas, karena diam di hadapan kezaliman bukan bagian dari akhlak mulia. Tapi ketiga, begitu pihak yang melampaui batas itu kembali kepada perintah Allah, ayat ini menutup dengan satu kata yang sangat berat: adil. Bukan balas dendam, bukan penghinaan berkepanjangan terhadap pihak yang tadi bersalah. Adil. Sebab, sebagaimana ditegaskan di penghujung ayat, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil — bukan orang-orang yang paling keras suaranya, bukan yang paling banyak follower-nya di media sosial.

Ayat berikutnya, yang satu surat dengan ayat pertama tadi, menjelaskan mengapa urutan itu bisa dijalankan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujuraat: 10)

Di sinilah letak keindahan susunan dua ayat ini, ma'asyiral muslimin. Ayat sebelumnya memberi kita prosedur — damaikan, luruskan, damaikan lagi dengan adil. Ayat ini memberi kita alasan mengapa prosedur itu bisa dijalankan tanpa berubah jadi kebencian: karena yang berselisih itu, pada akarnya, adalah saudara. Ukhuwah bukan sekadar slogan yang kita tempel di spanduk; ukhuwah adalah fondasi yang membuat kita sanggup bersikap tegas kepada pihak yang zalim tanpa jatuh membenci mereka sebagai manusia, dan sanggup berdamai tanpa kehilangan rasa keadilan. Tanpa ukhuwah, keadilan gampang berubah jadi dendam kesukuan. Tanpa keadilan, ukhuwah gampang berubah jadi basa-basi kosong yang membiarkan kezaliman terus berjalan.

Islam tidak membiarkan gagasan "damai" ini menjadi sekadar perasaan yang mengambang. Dalam khazanah fikih kita, ada satu bab yang secara khusus mengatur bagaimana perdamaian dijadikan akad yang sah dan mengikat, bukan sekadar niat baik yang mudah menguap:

فَصْلٌ فِي الصُّلْحِ، وَهُوَ لُغَةً قَطْعُ الْمُنَازَعَةِ، وَشَرْعًا عَقْدٌ يَحْصُلُ بِهِ قَطْعُهَا

"Fasal tentang Ash-Shulh (perdamaian): secara bahasa berarti memutus pertikaian, dan secara syariat adalah akad yang dengannya pertikaian itu diputus." (Fath al-Qarib — kitab tentang mu'amalah)

Perhatikan betapa seriusnya para ulama fikih kita memperlakukan perdamaian: ia diberi nama sendiri, syarat sendiri, dan kedudukan hukum sendiri — setara dengan akad jual-beli, setara dengan akad sewa-menyewa. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah menganggap "berdamai" sebagai sikap lemah atau kompromi yang memalukan. Berdamai adalah sebuah tindakan hukum yang terhormat, yang membutuhkan kesungguhan dan kejelasan syarat, sama seriusnya dengan tindakan hukum lain yang kita hormati dalam muamalah sehari-hari.

Sejarah Nabi ﷺ sendiri memberi kita contoh yang paling agung tentang prinsip ini. Ketika Nabi ﷺ dan lebih dari seribu empat ratus sahabat berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan umrah, mereka dihadang oleh kaum Quraisy di sebuah tempat bernama Hudaibiyah. Alih-alih memilih pertempuran, Nabi ﷺ memilih berunding, dan hasilnya adalah sebuah perjanjian damai yang, secara lahiriah, tampak sangat berat sebelah: kaum Muslimin harus menunda umrah tahun itu, dan bahkan gelar "Rasulullah" terpaksa dihapus dari teks perjanjian atas permintaan pihak Quraisy, digantikan hanya dengan "Muhammad bin Abdullah". Sebagian sahabat, termasuk Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, sempat merasa berat dan mempertanyakan mengapa kesepakatan yang tampak merugikan ini harus diterima, sampai-sampai ketika perjanjian selesai ditandatangani dan Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat mencukur rambut serta menyembelih hewan tanda ihram telah usai, tidak ada satu pun yang segera bangkit — begitu beratnya perasaan mereka menerima hasil perundingan itu. Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, istri beliau yang turut serta, menyarankan agar Nabi ﷺ keluar dan melakukannya sendiri tanpa berkata-kata lagi; begitu beliau mencukur rambutnya di hadapan mereka, barulah seluruh sahabat mengikuti, seakan beban keberatan itu runtuh oleh satu teladan diam. Sejarah kemudian membuktikan: dua tahun damai yang lahir dari perjanjian itu membuka jalan bagi dakwah untuk menyebar lebih luas daripada semua tahun peperangan sebelumnya, dan tak lama setelah itu, Makkah pun ditaklukkan tanpa pertumpahan darah. Al-Qur'an kelak menyebut perjanjian yang semula tampak merugikan itu sebagai kemenangan yang nyata. Inilah pelajaran yang tak lekang zaman: kesediaan menerima jalan damai yang tampak "kalah" di mata manusia, sering kali justru menjadi pintu kemenangan yang hakiki di sisi Allah, dan kesediaan menjadi teladan diam kadang lebih efektif daripada seribu argumen.

Bagaimana pelajaran ini turun ke keseharian kita, ma'asyiral muslimin? Salah satu peninggalan paling berharga dari para ulama kita adalah adab dalam berdiskusi dan berselisih pendapat. Dalam kitab adab bagi penuntut ilmu, disebutkan kebiasaan Imam Syafi'i rahimahullah yang layak kita renungkan:

أَنْ يَصُونَ مَجْلِسَهُ عَنِ اللَّغَطِ، فَإِنَّ الْغَلَطَ تَحْتَ اللَّغَطِ، وَعَنْ رَفْعِ الْأَصْوَاتِ وَاخْتِلَافِ جِهَاتِ الْبَحْثِ. قَالَ الرَّبِيعُ: كَانَ الشَّافِعِيُّ إِذَا نَاظَرَهُ إِنْسَانٌ فِي مَسْأَلَةٍ فَعَدَا إِلَى غَيْرِهَا يَقُولُ: نُفَرِّغُ مِنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ثُمَّ نَصِيرُ إِلَى مَا تُرِيدُ

"Hendaklah ia menjaga majelisnya dari keributan, karena kesalahan bersembunyi di balik keributan, dan dari meninggikan suara serta bercabangnya arah pembahasan. Ar-Rabi' berkata: Imam Syafi'i, apabila ada yang mendebatnya dalam satu masalah lalu melompat ke masalah lain, beliau berkata: 'Mari selesaikan masalah ini dulu, baru kita beralih ke apa yang engkau inginkan.'" (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)

Bayangkan, ma'asyiral muslimin, seandainya adab ini kita terapkan setiap kali membuka linimasa yang penuh perdebatan tentang Hormuz, tentang Gaza, tentang peristiwa apa pun yang memanaskan kepala. Berapa banyak keributan yang bisa kita hindari seandainya kita, seperti Imam Syafi'i, memilih menyelesaikan satu persoalan dengan tenang sebelum melompat ke persoalan berikutnya — dan memilih menahan suara alih-alih meninggikannya?

Anak-anak dan remaja kita hari ini tumbuh di tengah arus informasi yang jauh lebih deras daripada yang kita alami seusia mereka. Setiap video pendek tentang Hormuz atau Gaza yang lewat di layar mereka membentuk cara pandang mereka terhadap dunia, sering kali tanpa pendampingan orang dewasa yang menjelaskan konteksnya. Sebagai orang tua dan orang dewasa di sekitar mereka, tanggung jawab kita bukan melarang mereka mengetahui apa yang terjadi di dunia, melainkan mendampingi mereka menafsirkan apa yang mereka lihat — mengajarkan bahwa kepedulian yang benar berbentuk doa dan tindakan nyata, bukan sekadar ikut arus kemarahan yang paling ramai di linimasa.

Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri. Berapa banyak dari kita yang, pekan ini, ikut membagikan spekulasi tentang Hormuz tanpa tahu benar duduk perkaranya? Berapa banyak yang, atas nama solidaritas untuk Gaza, justru menumpahkan kebencian kepada satu bangsa atau satu agama secara keseluruhan — padahal yang kita benci semestinya adalah kezaliman yang dilakukan, bukan seluruh manusia yang kebetulan lahir di sana? Kepedulian yang tulus terhadap saudara yang tertindas tidak pernah membutuhkan kebencian buta sebagai bahan bakarnya. Ada sebuah riwayat yang Nabi ﷺ sampaikan tentang seorang nabi yang dilukai oleh kaumnya sendiri; alih-alih mendoakan keburukan, yang keluar dari lisannya adalah permohonan ampun bagi mereka:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

Sahih al-Bukhari 3477 — "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Itulah standar akhlak yang Nabi ﷺ ajarkan kepada kita: menahan diri dari kutukan bahkan kepada mereka yang secara langsung menyakiti diri sendiri — apalagi kepada bangsa atau golongan yang bahkan tidak kita kenal secara pribadi.

Dan peristiwa yang lebih dekat dengan kita — kericuhan sesaat di Aceh — semestinya menjadi cermin. Kalau kita belum sanggup merawat islah di antara sesama saudara sebangsa sendiri, bagaimana solidaritas kita untuk saudara yang jauh di Gaza tidak menjadi sekadar unggahan yang lewat begitu saja? Ukhuwah yang sejati selalu dimulai dari lingkaran yang paling dekat, sebelum ia layak diperluas ke lingkaran yang paling jauh. Peristiwa di Aceh, yang pekan ini disudahi bukan dengan kemarahan berkepanjangan tetapi dengan pengibaran kembali bendera Merah Putih di rumah Allah, adalah gambaran kecil tentang bagaimana seharusnya setiap perselisihan berakhir: kembali kepada ketenangan, kembali kepada simbol yang kita miliki bersama, kembali kepada persaudaraan.

Prinsip yang sama berlaku ketika kita bicara tentang ketegangan antarnegara seperti yang terjadi di Selat Hormuz. Sebagai rakyat biasa, kita tidak punya kendali atas keputusan para pemimpin dunia, dan bukan tugas kita berperan sebagai diplomat dadakan di kolom komentar. Yang menjadi tugas kita adalah menjaga agar hati kita sendiri tidak ikut terseret arus permusuhan yang dipertontonkan — tidak mengutuk satu bangsa secara keseluruhan, tidak berharap satu pihak hancur binasa hanya karena kita merasa mereka berada di "kubu seberang". Doa yang paling tepat untuk ketegangan semacam ini bukan doa kemenangan salah satu pihak atas pihak lain, melainkan doa keselamatan bagi rakyat sipil yang tidak berdaya menentukan kebijakan negaranya, dan doa agar para pemimpin dunia diberi hidayah memilih jalan damai sebelum jalan itu tertutup oleh gengsi masing-masing.

Bagi Indonesia hari ini, tahun 2026, dua tanggung jawab ini berjalan berdampingan dan tidak boleh dipertentangkan satu sama lain. Di panggung dunia, negeri ini punya sejarah panjang membela Palestina dan menyerukan keadilan bagi bangsa-bangsa yang tertindas. Tapi kredibilitas seruan itu, ma'asyiral muslimin, akan selalu diuji oleh bagaimana kita sendiri merawat perbedaan di rumah sendiri — antar-daerah, antar-golongan, antar-pendapat politik. Kita tidak bisa menuntut dunia berlaku adil dan berdamai, sementara kita sendiri gagal mempraktikkannya dalam skala yang jauh lebih kecil dan jauh lebih mudah kita kendalikan.

Maka izinkan khatib mengajak kita semua kepada beberapa langkah konkret pekan ini:

Pertama, jadikan doa untuk saudara yang tertindas — di Gaza, dan di mana pun kezaliman terjadi — sebagai agenda rutin, bukan sekadar status media sosial yang hangat sesaat lalu dilupakan. Sisihkan waktu khusus setelah shalat untuk mendoakan mereka dengan nama, dengan kesungguhan, sebagaimana Nabi ﷺ dahulu menyebut nama-nama sahabat yang tertindas dalam doa qunutnya.

Kedua, audit linimasa pribadi kita sendiri pekan ini. Sebelum membagikan ulang sebuah kabar tentang Hormuz atau Gaza, tanyakan: apakah ini sudah terverifikasi, ataukah sekadar spekulasi yang ikut memperkeruh suasana? Menahan jempol sesaat sebelum membagikan adalah bentuk kehati-hatian yang diajarkan agama kita. Ingat, kabar yang paling cepat viral belum tentu kabar yang paling benar, dan kecepatan kita membagikan bukan ukuran seberapa besar kepedulian kita.

Ketiga, praktikkan sulh dalam skala yang bisa kita kendalikan: perselisihan dengan tetangga, kesalahpahaman dalam keluarga, ketegangan di grup pengajian. Jangan biarkan perselisihan kecil berlarut-larut hanya karena gengsi, sementara kita sibuk berkomentar tentang perdamaian dunia.

Keempat, salurkan kepedulian untuk Gaza melalui bantuan yang konkret dan lembaga yang tepercaya, bukan hanya melalui komentar dan retweet. Pilih lembaga kemanusiaan yang jelas rekam jejaknya dan transparan penyalurannya, supaya bantuan yang kita titipkan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan. Kepedulian yang nyata selalu lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada kepedulian yang hanya berhenti di layar ponsel.

Kelima, jaga lisan dan tulisan kita dari generalisasi yang menyakiti — baik itu kepada bangsa lain, kepada golongan lain, maupun kepada sesama Muslim yang berbeda sikap politik. Ingat, yang kita lawan adalah kezaliman sebagai perbuatan, bukan manusia sebagai ciptaan Allah.

Keenam, tanamkan dalam hati bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Adil — bahwa tidak ada satu kezaliman pun di muka bumi ini yang luput dari catatan-Nya, meski penyelesaiannya membutuhkan waktu yang tidak selalu sesuai jadwal yang kita inginkan. Ketenangan ini bukan bentuk sikap masa bodoh, melainkan bentuk tawakal yang justru membuat kita sanggup bekerja dengan kepala dingin, bukan dengan amarah yang membakar diri sendiri.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan khatib menegaskan kembali inti khutbah pertama tadi dari sisi yang berbeda. Keadilan dan perdamaian bukan dua hal yang saling bertentangan; keduanya adalah dua tahap dari satu perjalanan yang sama. Tidak ada perdamaian yang bertahan lama jika ia dibangun di atas ketidakadilan yang dibiarkan; dan tidak ada keadilan yang bermakna jika ia tidak diarahkan menuju perdamaian.

Kita hidup di zaman ketika berita dari berbagai penjuru dunia sampai ke genggaman tangan kita dalam hitungan detik. Ini adalah nikmat sekaligus ujian. Nikmat, karena kita bisa mengetahui penderitaan saudara kita di belahan bumi mana pun dan segera mendoakan mereka. Ujian, karena kecepatan informasi itu sering kali tidak diimbangi dengan kedalaman verifikasi, sehingga kemarahan lebih cepat menyebar daripada kebenaran.

Marilah kita jadikan pekan ini titik balik: bukan berhenti peduli pada Gaza, pada Hormuz, atau pada saudara-saudara kita yang tertekan di mana pun — justru sebaliknya, memperdalam kepedulian itu dengan cara yang lebih matang. Kepedulian yang matang tidak butuh kebencian sebagai bahan bakarnya. Kepedulian yang matang berbicara dengan data yang benar, mendoakan dengan kesungguhan, dan bertindak dengan bantuan yang nyata.

Dan marilah kita jadikan peristiwa di Aceh sebagai pengingat bahwa persaudaraan yang paling dekat adalah persaudaraan yang paling dulu harus kita rawat. Bendera yang kembali berkibar di Masjid Raya Baiturrahman adalah gambar kecil tentang bagaimana setiap perselisihan, cepat atau lambat, harus kembali kepada ketenangan dan kebersamaan — bukan kepada dendam yang diwariskan turun-temurun.

Ma'asyiral muslimin, ada satu hal yang perlu kita luruskan bersama: peduli terhadap sesama Muslim yang tertindas bukanlah sikap yang sempit atau sektarian, selama ia tidak berubah menjadi kebencian yang membabi buta terhadap satu identitas tertentu. Al-Qur'an mengajarkan kita membela yang terzalimi tanpa memandang siapa dia, dan menegur yang menzalimi tanpa memandang siapa dia — itulah keadilan yang sesungguhnya, yang tidak pandang bulu bahkan kepada diri sendiri atau golongan sendiri sekalipun.

Dan marilah kita ingat bahwa buah dari sebuah islah tidak selalu datang secepat yang kita harapkan. Perjanjian Hudaibiyah yang kita bahas pada khutbah pertama tadi membutuhkan waktu untuk menampakkan hasilnya; dua tahun berlalu sebelum jalan dakwah benar-benar terbuka lebar bagi umat Islam. Kesabaran menanti buah dari sebuah perdamaian bukan tanda lemahnya iman, justru tanda kematangan pemahaman bahwa Allah memiliki waktu-Nya sendiri, yang tidak selalu sejalan dengan jadwal yang kita inginkan.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوصًا إِخْوَانَنَا فِي أَرْضِ فِلَسْطِينَ، اللَّهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْخَوْفَ، وَاحْقِنْ دِمَاءَ الْأَبْرِيَاءِ مِنْهُمْ، وَارْحَمْ ضَعْفَهُمْ، وَقَوِّ إِيمَانَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ الْبَيْنِ فِيمَا بَيْنَ أَبْنَائِهَا، وَاجْمَعْ قُلُوبَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْمَحَبَّةِ، وَجَنِّبْهُمُ الْفِتْنَةَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan