بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً وَأَمَرَ بِالْإِصْلَاحِ بَيْنَهُمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الدَّاعِيْ إِلَى الرَّحْمَةِ وَالسَّلَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini linimasa kita dipenuhi kabar yang bikin dada sesak — dari Selat Hormuz yang kembali tegang, dari Gaza yang perangnya belum juga usai, sampai kabar dari Aceh yang sempat ricuh sebelum akhirnya tenang kembali. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, tentang ke mana semestinya marah kita ini disalurkan.
Siapa di sini yang pekan ini pernah merasa geram membaca berita, lalu tanpa sadar ikut membalas komentar dengan kata-kata yang lebih keras dari yang seharusnya? Saya juga pernah. Mari kita dengar bagaimana Rasulullah ﷺ menempatkan kemarahannya sendiri, ketika beliau punya alasan paling sah di dunia untuk marah dan mengutuk.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
"Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (Sahih al-Bukhari 3477)
Riwayat ini menggambarkan seorang nabi yang dilukai oleh kaumnya sendiri. Sambil mengusap darah dari wajahnya, yang keluar dari lisannya bukan kutukan atas mereka, melainkan permohonan ampun — sebab ia menilai mereka bertindak dalam kebodohan, bukan dengan pengetahuan.
Coba renungkan jarak antara doa itu dengan kebiasaan kita hari ini. Kita belum tentu jadi korban langsung dari apa pun yang terjadi di Hormuz atau di Gaza — kita hanya penonton yang membaca dari layar ponsel. Tapi betapa mudahnya kita melontarkan kata-kata yang jauh lebih keras daripada doa Nabi ﷺ yang justru disakiti secara fisik. Ada yang salah dengan urutan prioritas kita: kita lebih cepat marah untuk sesuatu yang kita tonton, daripada berbelas kasih untuk sesuatu yang seharusnya kita bantu.
Ini bukan berarti kita harus diam saja melihat kezaliman. Al-Qur'an sendiri mengajarkan kita untuk bersikap tegas ketika ada pihak yang melampaui batas — "damaikanlah, dan jika ada yang berbuat aniaya, luruskan ia kembali kepada perintah Allah, lalu damaikanlah dengan adil" (QS. Al-Hujuraat: 9). Jadi bukan soal boleh atau tidak boleh peduli. Soalnya adalah: ke mana energi kepedulian itu kita salurkan? Disalurkan jadi doa yang tulus dan bantuan yang konkret, atau disalurkan jadi caci-maki yang hanya melegakan jari kita sendiri sesaat, tapi tidak menolong siapa pun yang sedang menderita?
Saya perhatikan, pekan-pekan seperti ini — ketika berita berat datang bertubi-tubi dari luar negeri — juga jadi pekan yang rawan bagi hubungan kita di rumah sendiri. Bapak yang seharian menyerap berita perang jadi gampang tersulut emosi ke istri dan anak. Grup WhatsApp keluarga yang biasanya isinya foto cucu, tiba-tiba berubah jadi ajang debat geopolitik yang berujung baper. Kita marah untuk sesuatu yang jaraknya ribuan kilometer, lalu melampiaskannya ke orang yang duduk paling dekat dengan kita.
Padahal, jamaah, kabar dari Aceh pekan ini justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Sempat ada kericuhan di sebuah peringatan Hari Damai, tapi yang akhirnya terjadi bukan dendam berkepanjangan — melainkan prajurit TNI yang mengibarkan kembali Bendera Merah Putih di Masjid Raya Baiturrahman, dan suasana kembali tenang. Itulah yang semestinya jadi kebiasaan kita: setelah panas, kembali ke sejuk. Setelah gesekan, kembali ke rukun. Bukan menyimpan bara dalam waktu lama.
Maka pulang dari sini malam ini, ada dua hal kecil yang bisa kita coba dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, setiap kali membaca berita yang memancing amarah, tahan dulu jempol sebelum berkomentar atau membagikan — tanyakan pada diri sendiri, "apakah ini akan membantu, atau hanya melampiaskan?" Kedua, ganti energi amarah itu dengan doa yang konkret: sebut nama saudara yang tertindas dalam sujud kita malam ini, bukan sekadar dalam status media sosial.
Marah kita boleh besar terhadap kezaliman. Tapi jangan sampai kemarahan itu salah alamat — tersalur ke orang-orang terdekat yang tidak bersalah, sementara yang benar-benar butuh doa dan bantuan kita malah terlewat begitu saja.
Demikian yang bisa saya sampaikan malam ini. Semoga Allah lembutkan hati kita, luruskan arah marah kita, dan kuatkan doa kita untuk saudara-saudara yang membutuhkan.
اَللّٰهُمَّ الْطُفْ بِقُلُوبِنَا، وَاجْعَلْ غَضَبَنَا فِي مَحَلِّهِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُصْلِحُ وَلَا يُفْسِدُ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
