Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatLingkungan & BencanaKamis, 20 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Bumi Berguncang, Amanah Tetap Terjaga"

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الْأَرْضَ فِرَاشًا يَسْتَقِرُّ عَلَيْهَا الْعِبَادُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى قَضَائِهِ وَقَدَرِهِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan saya membuka khutbah pekan ini dengan satu ayat yang barangkali terasa sangat dekat dengan apa yang kita saksikan bersama pekan ini.

وَحُمِلَتِ ٱلْأَرْضُ وَٱلْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ

QS. Al-Haaqqa: 14 — "Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur."

Ma'asyiral muslimin, pekan ini kita semua, di mana pun berada, sempat menahan napas ketika kabar itu datang: bumi di Flores dan Nusa Tenggara Timur berguncang hebat, berkekuatan M7,7. Dari berita yang sampai kepada kita, sebagian warga sempat merekam momen menegangkan saat air laut tiba-tiba surut jauh dari biasanya — sebuah tanda alam yang oleh lembaga cuaca segera direspons dengan imbauan waspada potensi tsunami. Jamaah yang hadir hari ini mungkin ada yang punya sanak saudara di sana, atau sekadar mengikuti kabarnya lewat layar telepon genggam masing-masing; tetapi siapa pun kita, guncangan itu terasa sampai ke dada. Ada yang langsung mengangkat telepon menghubungi kerabat di kampung halaman, ada yang hanya bisa menunggu kabar dengan cemas karena sinyal telepon di lokasi terputus, dan ada pula yang untuk pertama kalinya benar-benar merasakan betapa jauhnya jarak antara rasa aman dan rasa waswas hanya dalam hitungan menit.

Hari-hari berikutnya, kabar yang sampai kepada kita berganti wajah: dari kepanikan menjadi kabar tentang kondisi wilayah yang terdampak, rumah-rumah yang retak, warga yang mengungsi, dan uluran tangan yang mulai bergerak dari berbagai penjuru negeri. Ini bukan pertama kalinya bumi Nusantara berguncang, dan rasanya juga bukan yang terakhir — kita hidup di atas lempeng-lempeng yang terus bergesekan, di negeri yang oleh para ulama sering disebut sebagai anugerah sekaligus ujian: subur tanahnya, tetapi juga rawan bencananya.

Yang perlu kita luruskan sejak awal, jamaah yang dimuliakan Allah: guncangan yang menimpa saudara-saudara kita di Flores dan Nusa Tenggara Timur bukanlah vonis bahwa mereka lebih berdosa dari kita yang duduk aman di masjid ini pekan ini. Islam mengajarkan kita untuk tidak gegabah menuduh musibah sebagai hukuman personal atas suatu kaum. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk melihat musibah sebagai ujian dan penggugur dosa bagi yang bersabar, bukan sebagai stempel kesalahan yang bisa kita tempelkan pada korban dari kejauhan. Sikap yang benar bukan menghakimi dari layar telepon, melainkan mendoakan, membantu, dan mengambil pelajaran untuk diri kita sendiri. Inilah adab seorang mukmin di hadapan musibah orang lain — bukan menuduh dari jarak aman, melainkan merangkul dari posisi yang kita mampu, sekalipun hanya lewat doa yang dipanjatkan diam-diam. Semakin cepat kita meluruskan cara pandang ini di awal, semakin bersih pula respons kita sepanjang pekan-pekan ke depan, saat berita duka masih akan terus mengalir dari lokasi bencana.

Di waktu yang hampir bersamaan, dari penjuru lain negeri kita mendengar kabar yang berbeda wajah tetapi berakar sama: musim kemarau yang sedang berjalan membawa titik-titik kebakaran hutan dan lahan, serta laporan kekeringan yang mulai dirasakan sejumlah daerah. Kabar ini mungkin tidak seheboh gempa, tidak memenuhi layar dengan video yang menggetarkan, tetapi dampaknya sama nyatanya: sumur yang mengering, udara yang menyesakkan karena kabut asap, dan panen yang terancam.

Karhutla bukan sekadar berita musiman yang kita baca lalu lupakan. Setiap tahun, pola yang sama berulang: lahan dibuka dengan cara dibakar karena dianggap paling murah dan cepat, tanpa memikirkan asap yang akan dihirup anak-anak sekolah, ibu hamil, dan lansia di sekitarnya. Ini persoalan yang sebenarnya bisa dicegah, bukan bencana alam murni seperti gempa. Kalau gempa adalah ujian yang datang dari luar kendali manusia, karhutla adalah ujian yang datang dari pilihan manusia sendiri — dan di sinilah letak perbedaan penting yang perlu kita pahami bersama.

Ma'asyiral muslimin, dua kabar ini — gempa yang datang tiba-tiba dan kemarau yang datang perlahan — sebenarnya sedang berbicara tentang satu hal yang sama kepada kita: bumi ini bukan milik kita. Ia adalah amanah. Kita dititipkan untuk tinggal di atasnya sementara waktu, memanfaatkannya, menjaganya, dan kelak mempertanggungjawabkannya. Ketika ia berguncang, ketika ia mengering, ketika ia membakar dirinya sendiri karena ulah tangan manusia, itu adalah pengingat bahwa amanah ini sedang kita jalani dengan cara yang belum sepenuhnya benar.

Sejarah mencatat, negeri ini sudah berkali-kali diguncang dan bangkit kembali — dan setiap kali, pola yang sama terulang: duka yang dalam di awal, diikuti kerja keras memulihkan diri, lalu perlahan kembali ke rutinitas sampai gempa berikutnya datang dan kita seolah terkejut lagi seperti pertama kali. Ma'asyiral muslimin, mungkin sudah saatnya kita mengubah pola ini — bukan dengan hidup dalam ketakutan permanen, melainkan dengan menjadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari keimanan sehari-hari, sama seperti kita menjaga wudu sebelum shalat. Ingatan kolektif kita tentang bencana cenderung pendek — begitu linimasa berganti topik, kewaspadaan pun ikut memudar. Padahal, justru di titik itulah iman diuji: apakah kesiapsiagaan dan kepedulian kita tergantung pada seberapa viral sebuah kabar, atau tumbuh dari kesadaran yang lebih dalam bahwa kita hidup di negeri yang memang rawan, dan itu bagian dari takdir yang harus disikapi dengan persiapan, bukan penyangkalan.

Pengingat semacam ini sebenarnya sudah lama Allah sampaikan dalam Al-Qur'an, jauh sebelum media sosial mempercepat penyebarannya kepada kita hari ini. Ayat yang saya bacakan tadi berbicara tentang guncangan yang jauh lebih besar dari yang menimpa Flores pekan ini — guncangan pada Hari Kiamat, ketika bumi dan gunung diangkat lalu dibenturkan sekali bentur hingga hancur. Ayat ini bukan untuk menakut-nakuti kita tentang gempa yang sudah terjadi, melainkan mengarahkan pandangan kita jauh ke depan: kalau guncangan sebesar M7,7 saja membuat kita gentar, bagaimana dengan guncangan yang jauh lebih dahsyat yang pasti akan datang, yang tidak bisa kita respons dengan bantuan logistik atau posko pengungsian?

Ayat lain yang berbicara dengan nada serupa, ma'asyiral muslimin, adalah firman Allah dalam Surat Al-Fajr.

كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلْأَرْضُ دَكًّۭا دَكًّۭا

QS. Al-Fajr: 21 — "Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut."

Kalau ayat sebelumnya berbicara tentang satu benturan yang menghabisi segalanya sekali untuk selamanya, ayat ini berbicara tentang guncangan yang berturut-turut, dakkan dakka — hancur, lalu hancur lagi, sampai tidak ada satu pun yang tersisa untuk dibanggakan. Bayangkan, jamaah, segala yang kita banggakan hari ini — rumah yang kita cicil bertahun-tahun, jabatan yang kita kejar dengan susah payah, jumlah pengikut di media sosial yang kita rawat setiap hari — semuanya berdiri di atas bumi yang oleh ayat ini digambarkan akan diguncang berturut-turut sampai rata. Gempa M7,7 di Flores pekan ini, sekeras apa pun ia terasa bagi yang mengalaminya, hanyalah percikan kecil dari guncangan yang digambarkan ayat ini. Ia bukan hukuman untuk NTT; ia adalah pengingat untuk kita semua, di mana pun kita duduk hari ini, bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman dari kefanaan kecuali amal yang sudah kita kirim lebih dulu ke akhirat.

Ma'asyiral muslimin, ketika bumi mengingatkan kita lewat guncangan, ia juga mengingatkan kita lewat cara yang lebih pelan: kekeringan. Ada sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang selalu relevan setiap kali musim kemarau datang. Diceritakan, seorang badui pernah datang menemui Rasulullah ﷺ pada hari Jumat, persis seperti hari ini, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, hewan ternak telah binasa, anak-anak kelaparan, dan manusia pun binasa." Beliau ﷺ tidak menyuruhnya menunggu kebijakan atau menunggu orang lain bergerak lebih dulu. Beliau langsung mengangkat kedua tangannya, berdoa memohon hujan, dan seluruh jamaah yang hadir ikut mengangkat tangan bersama beliau. Anas bin Malik menceritakan, mereka belum sempat keluar dari masjid, hujan sudah turun — bahkan terus turun hingga Jumat berikutnya.

Sahih al-Bukhari 1029

Kisah ini bukan sekadar cerita ajaib tentang doa yang langsung dikabulkan. Ia mengajarkan sebuah pola respons: ketika bumi mengering, ketika sumber daya menipis, umat tidak menunggu dengan pasrah dan tidak pula panik tanpa arah — mereka berkumpul, mengangkat tangan bersama, dan bertindak dari posisi masing-masing. Karhutla dan kekeringan yang kita dengar kabarnya pekan ini, di berbagai penjuru negeri, memanggil pola yang sama: doa yang sungguh-sungguh, dibarengi ikhtiar yang nyata — bukan sekadar mengeluh di linimasa lalu berharap ada yang menyelesaikan. Perhatikan juga betapa cepatnya respons dalam kisah tadi — badui itu tidak menunggu rapat panjang atau proposal formal, dan Rasulullah ﷺ pun tidak menunda-nunda dengan alasan belum ada anggaran atau belum ada instruksi dari atas. Begitu kebutuhan disampaikan, doa langsung dipanjatkan bersama. Kesederhanaan respons semacam ini yang kadang hilang dari kita hari ini, ketika birokrasi dan rasa segan justru sering menjadi alasan untuk menunda pertolongan yang sebenarnya bisa segera diberikan.

Di sinilah kita perlu jujur menengok ke dalam, bukan hanya menengok ke NTT atau ke titik-titik karhutla di berita. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an.

ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

QS. Ash-Shu'araa: 152 — "...yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan."

Ayat ini turun dalam konteks kaum yang menolak seruan kebaikan, tetapi prinsipnya berlaku lintas zaman: ada dua pilihan bagi setiap orang yang hidup di atas bumi ini — menjadi mushlih, yang memperbaiki, atau menjadi mufsid, yang merusak dan tidak pernah memperbaiki. Sampah yang menumpuk di sungai dan pesisir, lahan yang dibakar demi keuntungan sesaat, kebiasaan boros air justru di tengah musim kemarau — semua itu adalah bentuk ifsad, kerusakan di muka bumi, yang pelakunya bukan orang jauh di sana, melainkan sering kali kita sendiri, dalam skala yang lebih kecil: kantong plastik yang kita buang sembarangan, air yang kita biarkan mengalir sia-sia saat wudu, kertas dan listrik yang kita pakai tanpa perhitungan.

Maka amanah menjaga bumi ini, jamaah yang dimuliakan Allah, bukan proyek orang lain. Ia amanah khilafah yang Allah titipkan kepada setiap kita sejak Adam 'alaihissalam diturunkan ke bumi — Allah jadikan kita khalifah, pengelola, bukan pemilik mutlak yang bebas merusak sesuka hati. Status sebagai khalifah ini melekat pada setiap manusia tanpa kecuali, bukan hanya pada pejabat lingkungan hidup atau aktivis yang vokal di media sosial — setiap kita yang bernapas di bumi ini sedang menjalankan jabatan itu, disadari atau tidak — dan kelak akan ditanya bagaimana jabatan itu kita jalankan, persis seperti amanah-amanah lain yang kita pikul selama hidup di dunia.

Lalu bagaimana bentuk konkret dari menjaga amanah ini? Rasulullah ﷺ memberi kita petunjuk lewat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Nashaihul Ibad — باب السباعي (1/2) — "Tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya."

Rasulullah ﷺ bersabda, di antara tujuh golongan itu adalah: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga menitikkan air mata karena takut kepada-Nya, lelaki yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, dan orang yang bersedekah secara diam-diam hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya. Perhatikan, jamaah: dua dari golongan yang disebut di sini — pemimpin yang adil dan orang yang bersedekah secara tersembunyi — persis menjawab apa yang paling dibutuhkan pekan ini. NTT membutuhkan pemimpin dan pengelola bantuan yang adil, yang menyalurkan tepat sasaran tanpa pilih kasih. Dan kita, yang duduk jauh dari lokasi bencana, punya kesempatan menjadi golongan kedua: menyumbang tanpa perlu difoto, membantu tanpa perlu disebut namanya di linimasa.

Tetapi jangan salah paham, jamaah — hadits ini tidak hanya berbicara tentang pemimpin dan penyumbang. Golongan lain yang disebutkan Rasulullah ﷺ adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah, dan lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga menitikkan air mata karena takut kepada-Nya. Ini golongan yang jarang terlihat kameranya, tidak muncul di berita, tidak dipuji siapa pun — tetapi justru merekalah yang menjaga fondasi batin masyarakat tetap kokoh di tengah guncangan. Pemuda-pemuda yang pekan ini turun langsung membantu evakuasi, mengangkut logistik, atau sekadar menemani anak-anak pengungsi bermain sejenak melupakan ketakutan mereka — itu juga bagian dari tujuh golongan ini, sekalipun tidak ada yang menyorotnya. Begitu pula orang-orang yang malam ini akan bangun di sepertiga malam terakhir, berdoa untuk saudara-saudaranya yang tertimpa musibah, tanpa ada yang tahu selain Allah. Kita tidak pernah tahu siapa di antara jamaah yang hadir Jumat ini termasuk golongan yang dinaungi itu — dan justru karena tidak tahu itulah, setiap dari kita punya kesempatan yang sama untuk berusaha menjadi salah satunya.

Ada satu hal lagi yang layak kita renungkan dari dua ayat pembuka tadi, ma'asyiral muslimin. Keduanya berbicara tentang bumi dan gunung — dua hal yang dalam bahasa manusia sehari-hari selalu jadi simbol kekokohan. Kita bilang "setegar gunung", "sekokoh bumi berpijak". Tetapi Al-Qur'an justru memilih dua simbol kekokohan ini untuk menunjukkan betapa rapuhnya segala sesuatu selain Allah. Kalau gunung dan bumi saja bisa dibenturkan hingga hancur, apalagi harta yang kita kumpulkan, jabatan yang kita genggam, atau reputasi yang kita jaga mati-matian di media sosial. Gempa pekan ini, di luar duka yang nyata bagi yang mengalaminya, juga berfungsi sebagai cermin bagi kita yang menontonnya dari jauh: seberapa banyak dari hidup kita ini sebenarnya kita bangun di atas fondasi yang sama rapuhnya? Media sosial kita, gaya hidup yang kita pamerkan, bahkan kesalehan yang kita tunjukkan di depan orang lain — semua itu bisa runtuh secepat rumah-rumah di Flores yang retak dalam hitungan detik. Pertanyaannya bukan apakah keruntuhan itu akan datang, karena pasti akan datang dalam bentuk apa pun kepada setiap kita, melainkan apakah kita sudah menyiapkan sesuatu yang tidak ikut runtuh bersamanya — yaitu amal yang sudah kita kirim lebih dulu, jauh sebelum guncangan itu tiba.

Menjaga amanah bumi ini, sebagaimana menjaga amanah membantu korban bencana, bukan tugas yang bisa kita serahkan sepenuhnya kepada pemerintah, lembaga kemanusiaan, atau tetangga sebelah. Para ulama menyebutnya fardhu kifayah — kewajiban bersama yang gugur dari pundak seseorang hanya jika sudah cukup orang lain yang menanganinya. Kalau di lingkungan kita belum ada yang bergerak mengumpulkan bantuan, belum ada yang mengingatkan tetangga soal bahaya membakar sampah di musim kering, maka kewajiban itu belum gugur — ia masih menunggu salah satu dari kita untuk memulainya.

Kita hidup di tahun 2026, ma'asyiral muslimin, ketika kabar bencana sampai kepada kita dalam hitungan menit, bukan hari. Ini punya dua wajah. Di satu sisi, kecepatan ini memungkinkan bantuan bergerak lebih cepat, donasi terkumpul lebih cepat, dan kabar keselamatan sanak saudara tersampaikan lebih cepat. Tetapi di sisi lain, kecepatan yang sama juga memungkinkan informasi yang belum jelas kebenarannya ikut tersebar secepat itu, menambah kepanikan warga yang sudah cukup berat bebannya. Bijak dalam menerima dan membagikan kabar bencana adalah bagian dari amanah yang sama — jangan sampai niat baik ingin membantu justru menambah kekacauan karena informasi yang belum terverifikasi. Media sosial, dalam hal ini, ibarat pisau bermata dua yang sepenuhnya bergantung pada siapa yang memegangnya — dan kita, jamaah yang hadir di sini, adalah salah satu pemegang pisau itu setiap kali membuka aplikasi di ponsel masing-masing.

Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, izinkan saya menyatukan benang dari khutbah pekan ini. Bumi yang berguncang di Flores, bumi yang mengering di berbagai penjuru negeri karena kemarau, dan bumi yang tercemar sampah yang kita hasilkan sendiri — ketiganya berbicara tentang satu amanah yang sama: bumi ini titipan, bukan warisan yang bebas kita habiskan. Menjaga amanah ini punya dua sisi yang harus berjalan berbarengan: sisi tanggap darurat, yaitu bergerak cepat membantu saudara yang tertimpa musibah tanpa menghakimi mereka; dan sisi jangka panjang, yaitu memperbaiki cara kita sendiri memperlakukan bumi ini sehari-hari, supaya kerusakan yang kita perparah hari ini tidak menjadi beban yang lebih berat untuk anak cucu kita esok.

Sebelum saya tutup khutbah pertama ini, izinkan saya mengajak kita semua pada beberapa langkah nyata pekan ini. Pertama, sisihkan sebagian rezeki untuk bantuan korban gempa Flores dan NTT lewat lembaga penyalur yang jelas dan terpercaya — jangan tunda hanya karena menunggu jumlah yang besar, karena yang kecil dan segera lebih baik daripada yang besar tetapi tertunda. Kedua, sertakan doa untuk korban gempa dan pengungsi dalam setiap shalat lima waktu kita pekan ini, terutama di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir — doa yang tulus tidak kalah berharga dari bantuan materi, dan keduanya semestinya berjalan beriringan. Ketiga, mulai audit kecil-kecilan terhadap kebiasaan kita sendiri terhadap air dan sampah di rumah masing-masing — matikan keran yang menetes, kurangi plastik sekali pakai, jangan bakar sampah di pekarangan saat udara sedang kering seperti ini, karena satu percikan kecil bisa menjadi kebakaran lahan yang sulit dikendalikan di musim seperti sekarang. Keempat, jika ada tetangga atau kerabat yang berasal dari wilayah terdampak, hubungi mereka, tanyakan kabar keluarganya — perhatian personal semacam ini sering lebih berarti daripada donasi yang dikirim tanpa sapaan, karena yang mereka butuhkan bukan hanya materi, tetapi juga kehadiran. Kelima, saring setiap kabar bencana sebelum membagikannya ke grup keluarga atau komunitas — pastikan sumbernya jelas, supaya kita tidak menjadi bagian dari penyebar kabar yang menambah kepanikan warga yang sudah cukup berat bebannya. Keenam, jadikan pekan ini titik mula untuk terlibat dalam kerja-kerja menjaga lingkungan di lingkungan terdekat kita, sekecil apa pun peran yang bisa kita ambil — sebab amanah besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten, bukan dari gagasan besar yang tidak pernah dijalankan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan saya menegaskan kembali inti dari khutbah pertama tadi. Guncangan yang menimpa Flores pekan ini bukan untuk kita jadikan bahan menghakimi siapa yang lebih berdosa. Ia untuk kita jadikan cermin: kalau kita yang duduk aman hari ini dipanggil pulang esok pagi, dalam kondisi seperti apa amal kita akan ditimbang? Sudahkah zakat kita tunaikan, sudahkah amanah yang kita pegang kita jaga, sudahkah hubungan yang retak kita perbaiki?

Amanah menolong sesama, terutama yang tertimpa musibah, bukan amanah yang bisa ditunda sampai kita merasa "sudah siap" atau "sudah cukup kaya". Sedekah yang paling dicintai Allah, sebagaimana kita pelajari tadi, adalah yang diberikan diam-diam, tanpa perlu disebut, tanpa perlu dipuji. Pekan ini adalah kesempatan nyata untuk mempraktikkannya — bukan nanti, bukan menunggu ada yang mengajak, tetapi mulai dari rumah masing-masing.

Begitu pula amanah menjaga bumi. Ia bukan proyek besar yang menunggu anggaran negara atau kebijakan dari jauh. Ia dimulai dari keran yang kita tutup rapat, sampah yang kita pilah sebelum dibuang, dan pohon yang kita rawat di pekarangan sendiri. Kalau setiap rumah tangga Muslim mengambil bagian sekecil ini, dampaknya akan terasa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Bayangkan kalau satu juta rumah tangga Muslim di Indonesia melakukan hal sekecil ini secara konsisten — dampaknya akan jauh lebih besar daripada satu kebijakan besar yang hanya di atas kertas.

Jangan menunggu orang lain bergerak lebih dulu, jamaah yang dimuliakan Allah. Fardhu kifayah yang saya sebutkan tadi berarti tanggung jawab ini ada di pundak kita semua sampai benar-benar cukup orang yang menanganinya — dan kita belum tahu apakah pekan ini sudah cukup atau belum. Jadi, anggaplah belum cukup, dan bergeraklah dari posisi masing-masing.

Izinkan saya menutup dengan satu titik terakhir. Di antara korban gempa pekan ini, pasti ada anak-anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya dalam sekejap. Rasulullah ﷺ dikenal sangat lembut kepada anak-anak yatim, bahkan menjanjikan kedekatan surga bagi siapa yang mengasuh mereka dengan baik. Kalau kita tidak bisa hadir langsung di Flores, setidaknya doa dan perhatian kita hari ini bisa sampai kepada mereka — dan siapa tahu, di antara jamaah yang hadir hari ini ada yang Allah mudahkan jalan untuk benar-benar mengasuh atau menyantuni salah satu dari mereka di kemudian hari.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُنْكُوْبِيْنَ بِالزِّلْزَالِ فِيْ فْلُوْرِيْسَ وَنُوْسَا تِنْجَارَا الشَّرْقِيَّةِ، اغْفِرْ لِمَوْتَاهُمْ وَارْحَمْهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ وَمَرْضَاهُمْ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَحُسْنَ الْعِوَضِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْأَيْتَامَ الَّذِيْنَ فَقَدُوْا آبَاءَهُمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ فِيْ هٰذِهِ الْمُصِيْبَةِ، وَكُنْ لَهُمْ وَلِيًّا وَحَافِظًا وَرَازِقًا، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا.

اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا سُقْيَا رَحْمَةٍ لَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ وَلَا غَرَقٍ، وَأَطْفِئْ بِرَحْمَتِكَ كُلَّ حَرِيْقٍ فِيْ غَابَاتِنَا وَأَرَاضِيْنَا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَوَفِّقْهُمْ لِرِعَايَةِ شُؤُوْنِ الْمَنْكُوْبِيْنَ وَحِفْظِ الْبِيْئَةِ وَالْبِلَادِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْمَعُ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُ أَحْسَنَهُ، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا فِيْ إِصْلَاحِ الْأَرْضِ لَا فِيْ إِفْسَادِهَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ لَا مِنَ الْجَازِعِيْنَ وَلَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan