بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita mendengar kabar dari berbagai daerah tentang sumur yang mulai dangkal dan lahan yang mengering karena kemarau panjang — sementara di Flores dan Nusa Tenggara Timur, saudara kita justru baru saja diguncang gempa besar. Dua kabar yang berbeda wajah ini punya satu pesan yang sama untuk kita malam ini: syukur — syukur yang bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan tercermin dari cara kita memperlakukan nikmat yang masih ada di tangan.
Siapa di sini yang pekan ini pernah mengeluh air PDAM mati, atau kesal karena harus antre di sumur tetangga? Coba tanyakan pada diri sendiri: seberapa sering kita benar-benar bersyukur ketika keran di rumah menyala normal setiap hari? Allah mengingatkan kita tentang betapa rentannya sumber air ini dalam sebuah ayat di Surat Al-Kahfi.
أَوْ يُصْبِحَ مَآؤُهَا غَوْرًۭا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبًۭا
QS. Al-Kahf: 41 — "Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi."
Ayat ini awalnya berbicara tentang kebun mewah seorang lelaki kaya yang begitu bangga dengan hartanya, sampai lupa bahwa segalanya bisa lenyap dalam sekejap — termasuk air yang selama ini ia anggap pasti selalu ada. Musim kemarau yang sedang kita alami sekarang adalah pengingat kecil dari ayat ini: air yang selama ini kita anggap otomatis mengalir dari keran, sebenarnya titipan yang bisa Allah tarik kapan saja.
Coba kita hitung, jamaah: berapa kali dalam sepekan terakhir kita membiarkan air mengalir sia-sia saat gosok gigi, saat wudu, atau saat mencuci piring? Bukan karena kita jahat, tetapi karena kita jarang membayangkan bahwa air itu bisa habis. Padahal di beberapa daerah pekan ini, tetangga-tetangga kita sudah harus berjalan lebih jauh hanya untuk mendapatkan air bersih. Bahkan di masjid ini pun, coba perhatikan keran wudu yang sering menyala lebih lama dari yang dibutuhkan, atau lampu yang menyala di ruangan kosong. Kita sering lebih peka soal hemat air di rumah sendiri daripada di ruang publik yang kita anggap bukan tanggung jawab siapa-siapa.
Di saat yang sama, kabar dari Flores dan NTT mengingatkan kita dengan cara yang berbeda: bahwa bumi ini, dalam sekejap, bisa berguncang dan mengambil rumah, harta, bahkan nyawa. Air yang surut dan tanah yang berguncang sebenarnya sedang bicara hal yang sama — segala yang kita anggap pasti ada, sebenarnya titipan yang sewaktu-waktu bisa Allah ambil kembali. Ada satu hal lagi yang perlu kita ingat: musibah yang menimpa Flores dan NTT bukan karena mereka lebih durhaka daripada kita. Jangan pernah kita berpikir seperti itu. Justru sebaliknya — kita yang masih diberi kesempatan hidup tenang pekan ini harus bertanya, sudahkah kita pantas atas ketenangan yang kita nikmati, atau kita hanya sedang diberi waktu tambahan untuk memperbaiki diri?
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak berlebihan, sekalipun dalam hal yang tampak berlimpah seperti air wudu di tepi sungai. Ada nasihat ulama yang mengutip firman Allah, "Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan" (QS. Al-A'raf: 31) — sebuah prinsip yang berlaku juga untuk air yang kita pakai setiap hari. Israf, berlebih-lebihan, bukan hanya soal makanan; ia berlaku untuk setiap nikmat yang kita anggap remeh karena terasa berlimpah, termasuk air yang mengalir bebas di keran rumah kita.
Bayangkan kalau setiap jamaah masjid ini membawa kesadaran yang sama ke rumah masing-masing: mematikan satu keran yang selama ini dibiarkan menetes, menampung air bekas wudu untuk menyiram tanaman, mengingatkan anak-anak agar tidak main air berlebihan saat mandi. Kalikan itu dengan jumlah jamaah yang hadir malam ini saja, lalu kalikan lagi dengan seluruh masjid di kota kita — perubahan kecil yang konsisten selalu lebih berdampak daripada gerakan besar yang hanya ramai sesaat lalu dilupakan.
Jamaah, syukur yang sesungguhnya bukan hanya diucapkan lewat lisan, melainkan dijaga lewat kebiasaan. Kalau kita benar-benar bersyukur atas air yang mengalir di rumah kita, buktinya adalah kita tidak menyia-nyiakannya. Kalau kita benar-benar bersyukur atas tanah yang masih stabil di bawah kaki kita, buktinya adalah kita tidak merusaknya dengan sampah dan pembakaran liar.
Malam ini, sebelum pulang, saya mengajak kita semua melakukan dua hal kecil. Pertama, periksa satu keran atau saluran air di rumah yang mungkin selama ini bocor atau menetes tanpa kita sadari, lalu perbaiki secepatnya. Kedua, sisihkan sedikit rezeki malam ini untuk saudara kita di Flores dan NTT yang kehilangan tempat tinggal — anggap itu sebagai bentuk syukur kita atas rumah yang masih berdiri kokoh di atas kepala kita.
Jamaah yang saya hormati, izinkan saya menutup dengan satu kesimpulan: bumi yang berguncang dan air yang surut bukan untuk membuat kita takut berlebihan, melainkan untuk membuat kita sadar bahwa segala kenyamanan yang kita nikmati hari ini adalah titipan, bukan hak yang otomatis kita miliki selamanya. Semakin kita sadar itu, semakin kita akan menjaga dan mensyukurinya dengan cara yang lebih nyata. Kesadaran ini juga yang membuat kita lebih tenang menghadapi kabar bencana — bukan karena kita kebal rasa sedih, melainkan karena kita sudah terbiasa melihat setiap kenikmatan sebagai titipan yang harus dijaga dan disyukuri, bukan hak yang datang begitu saja.
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُنْكُوْبِيْنَ بِالزِّلْزَالِ وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
