Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPatologi Sosial DigitalKamis, 20 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Rahmat di Tengah Jerat Judi dan Pinjaman Online"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَحَلَّ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا وَالْمَيْسِرَ رَحْمَةً بِعِبَادِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah pada Jumat yang mulia ini kita membuka hati dengan satu ayat yang berbicara tentang bagaimana seseorang bisa terseret ke dalam kebinasaan, bukan karena berdiri sendiri, tetapi karena ikut arus bersama orang-orang yang sudah lebih dulu terseret.

وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلْخَآئِضِينَ

Allah berfirman dalam surah Al-Muddaththir ayat 45: "Dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya."

Ayat ini, hadirin, adalah jawaban dari penghuni neraka ketika ditanya apa yang membawa mereka ke sana. Salah satu jawaban mereka bukan "kami sengaja mencari keburukan," melainkan "kami dulu ikut arus bersama mereka yang sudah lebih dulu larut di dalamnya." Ini bukan alasan yang meringankan — justru sebaliknya, ini adalah peringatan bahwa terseret arus orang banyak sama sekali bukan pembelaan di hadapan Allah.

Perlu segera saya luruskan, ma'asyiral muslimin, agar tidak ada yang salah paham: ayat ini menegur alasan "ikut-ikutan" sebagai pembelaan, bukan memvonis status keimanan siapa pun yang hari ini masih berjuang di dalam jerat judi online. Ayat ini bukan sedang menghakimi saudara kita yang hari ini sedang terjerat — selama nyawa masih dikandung badan, pintu tobat Allah tetap terbuka lebar baginya. Yang sedang kita bahas di sini adalah bahaya arusnya, bukan vonis atas orang yang sedang berjuang melawannya.

Dan pekan-pekan belakangan ini, kita menyaksikan sendiri betapa nyatanya arus itu bekerja di kehidupan digital kita.

Kita mendengar kabar bahwa sebuah konten yang secara terang-terangan menamai kondisi darurat perjudian daring beredar luas dan ditonton oleh ratusan ribu pasang mata. Pembuat konten itu sendiri merasa perlu memakai kata "darurat" — sebuah kata yang biasanya kita dengar untuk bencana alam atau wabah, bukan untuk hiburan. Ketika sebuah kata seserius itu dipakai untuk menggambarkan judi online, itu tanda bahwa kegelisahan ini sudah menembus kesadaran banyak orang, jauh melampaui lingkaran kecil yang biasa kita kira sebagai "korban judi."

Kabar lain yang sampai kepada kita pekan ini lebih mengganggu lagi: sebuah akun percakapan pribadi milik seseorang, tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan pemiliknya, tiba-tiba mengirimkan banyak sekali tautan judi online ke nomor-nomor yang bahkan tidak tersimpan sebagai kontak. Bayangkan, hadirin: bukan pemilik akun itu yang menyebarkan, tetapi akunnya sendiri yang dijadikan alat penyebaran tanpa izin. Ini menunjukkan kepada kita bahwa jalur masuk judi online hari ini bukan lagi sekadar iklan yang bisa kita curigai dari jauh, tetapi sudah menyusup lewat jalur kepercayaan yang paling personal — telepon genggam kita sendiri, kontak kita sendiri.

Pertanyaannya, ma'asyiral muslimin, adalah: apa yang membuat arus sekuat ini bisa menyeret begitu banyak orang? Jawabannya sudah lama dijelaskan oleh ulama kita jauh sebelum ada internet, jauh sebelum ada aplikasi. Salah satu penjelasan yang paling tajam datang dari Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Bidayatul Hidayah, ketika beliau menggambarkan watak orang yang ingin kaya tanpa kerja:

يريد مالا فترك الحراثة والتجارة والكسب ويتعطل، وقال: إن الله كريم رحيم وله خزائن السموات والأرض وهو قادر على أن يطلعني على كنز من كنوز أستغني به عن الكسب، فقد فعل ذلك لبعض عباده، فأنت إذا سمعت كلام هذين الرجلين استحمقتهما وسخرت منهما، وإن كان ما وصفاه من كرم الله تعالى وقدرته صدقا وحقا، فكذلك يضحك…

Beliau menulis, seseorang yang menginginkan harta lalu meninggalkan bercocok tanam, berdagang, dan segala bentuk usaha, kemudian duduk berpangku tangan sambil berkata, "Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, milik-Nya seluruh perbendaharaan langit dan bumi, Dia Maha Kuasa memperlihatkan kepadaku salah satu simpanan-Nya sehingga aku tidak perlu bekerja lagi." Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang semacam ini akan ditertawakan akal sehat, bukan karena ucapannya tentang kemurahan Allah itu salah — kemurahan Allah memang benar dan luas — tetapi karena ia memakai kebenaran itu sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar yang justru diperintahkan Allah.

Hadirin yang dimuliakan Allah, bukankah ini persis gambaran mentalitas judi online hari ini? Iklan-iklan yang berseliweran menjanjikan "sekali klik, langsung cuan," "modal receh, untung milyaran" — semuanya adalah versi digital dari orang yang duduk berpangku tangan menunggu simpanan langit turun begitu saja. Bedanya, hari ini bukan hanya duduk menunggu; orang bahkan rela membayar untuk ikut menunggu, dan sebagian besar dari mereka pulang dengan tangan lebih kosong daripada sebelumnya.

Dan ketika tangan yang kosong itu terjadi, ma'asyiral muslimin, jarang orang berhenti sampai di situ. Kekalahan yang menyakitkan justru sering mendorong seseorang mencari pinjaman cepat untuk menutup kerugiannya, berharap satu putaran lagi bisa mengembalikan semuanya. Pinjaman itu, ketika datang dalam bentuk limit paylater atau kartu kredit yang tidak bisa langsung dicairkan sebagai uang tunai, mendorong orang mencari jasa yang disebut gestun — pencairan tunai dengan potongan yang tidak kecil. Maka lengkaplah sudah lingkaran itu: kalah judi, mencari pinjaman, mencairkan pinjaman dengan potongan tambahan, lalu kembali kalah lagi karena berharap modal baru bisa membalikkan keadaan. Tiga nama berbeda — judi online, pinjaman online, dan gestun — tetapi sesungguhnya satu jalan yang sama, dan setiap putarannya membuat jalan keluar semakin sempit, bukan semakin lapang. Inilah yang membuat larangan riba dan larangan maysir dalam syariat kita berdiri berdampingan, bukan sebagai kebetulan — keduanya sama-sama menutup jalan yang menjanjikan pertambahan harta tanpa kerja dan tanpa risiko yang wajar, dan keduanya sama-sama berujung pada kehancuran yang serupa bagi yang terjebak di dalamnya.

Islam tidak pernah melarang seseorang berharap pada kemurahan Allah. Justru sebaliknya, berharap kepada Allah adalah inti dari tawakal. Yang dilarang adalah menjadikan harapan itu sebagai pengganti ikhtiar, bukan sebagai penyerta ikhtiar. Rezeki yang halal datang lewat pintu usaha yang Allah bukakan, bukan lewat pintu untung-untungan yang justru Allah tutup rapat-rapat karena bahayanya bagi individu dan masyarakat.

Karena itulah, ma'asyiral muslimin, Rasulullah ﷺ tidak membiarkan ruang abu-abu sedikit pun soal ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang permainan untung-untungan yang di masa itu dikenal dengan nama nardasyir — sejenis permainan dadu:

مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

"Barangsiapa bermain nardasyir (sejenis dadu), seakan-akan ia mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi." (Sahih Muslim 2260)

Perumpamaan ini keras, hadirin, dan memang sengaja dibuat keras. Rasulullah ﷺ tidak sedang membicarakan dosa yang samar-samar; beliau memilih gambaran yang menjijikkan dan tegas supaya umatnya tidak menganggap remeh permainan untung-untungan, sekecil apa pun bentuknya. Dan perlu kita renungkan bersama: kalau bermain dadu saja — permainan yang hanya melibatkan dua kubus kecil dan tangan yang melemparkannya — sudah diperumpamakan seberat itu, bagaimana dengan mesin digital yang dirancang khusus, dengan algoritma yang dipelajari bertahun-tahun oleh tim ahli, untuk membuat penggunanya terus kembali bermain siang dan malam? Nardasyir zaman Nabi ﷺ hanya bisa dimainkan ketika dua orang duduk berhadapan; judi online hari ini bisa dimainkan sendirian, di kamar tidur, jam tiga pagi, tanpa seorang pun tahu.

Yang menjadikan judi online lebih berbahaya dari nardasyir zaman dahulu bukan hanya soal keharamannya — keduanya sama-sama haram — melainkan soal aksesnya. Dulu, seseorang harus mencari kawan bermain dan tempat bermain, dan proses mencari itu sendiri memberi banyak kesempatan untuk berpikir ulang. Hari ini, jarak antara niat dan tindakan hanya selebar layar telepon genggam. Itulah kenapa pekan ini kita mendengar begitu banyak kegelisahan soal judi online — bukan karena umat manusia tiba-tiba menjadi lebih jahat dari generasi sebelumnya, tetapi karena akses menuju keburukan itu sendiri yang berubah drastis.

Ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia pun, tanpa perlu kita rujuk detail teorinya di sini, telah lama mengenali bahwa jarak dan kesulitan akses adalah salah satu pertahanan alami yang membantu manusia menahan diri dari perbuatan yang merugikan dirinya sendiri. Ketika jarak itu dihapus — ketika godaan tinggal sejauh satu sentuhan jari, tersedia dua puluh empat jam, tanpa perlu keluar rumah dan tanpa perlu ditemani siapa pun — pertahanan alami itu ikut runtuh. Ini bukan tanda iman yang berkurang dibanding generasi sebelumnya, melainkan tanda bahwa rintangan yang dulu membantu kita menahan diri sudah tidak ada lagi di tempatnya. Karena itu, ma'asyiral muslimin, kita sebagai umat tidak bisa lagi bersandar pada rintangan alami itu untuk melindungi diri; kita harus secara sadar memasang rintangan baru — rintangan iman, rintangan kesadaran, rintangan yang kita bangun sendiri karena dunia tidak lagi membangunkannya untuk kita.

Perlu juga kita renungkan bersama mengapa persoalan ini terasa begitu dekat dengan keseharian di negeri kita. Bertahun-tahun terakhir, kita menyaksikan lompatan besar dalam kemudahan akses keuangan digital — kirim uang yang dulu harus ke bank kini selesai dalam hitungan detik lewat telepon genggam, dan pinjaman yang dulu perlu proses berhari-hari kini bisa cair dalam hitungan menit. Kemudahan ini sesungguhnya nikmat yang besar: ia membuka jalan rezeki halal bagi pedagang kecil dan pekerja lepas yang dulu sulit menjangkau layanan keuangan formal. Namun kemudahan yang sama, tanpa penjagaan yang setara, membuka pintu yang sama lebarnya bagi jalan yang haram. Pisau yang sama bisa memotong roti untuk keluarga atau melukai tangan yang memegangnya — bedanya ada pada siapa yang mengarahkan mata pisaunya. Teknologi finansial hari ini adalah pisau semacam itu: sama tajamnya untuk kebaikan dan keburukan, dan kitalah, ma'asyiral muslimin, yang menentukan ke arah mana ia diarahkan dalam rumah tangga dan kehidupan kita masing-masing.

Ada satu lapis lagi dari masalah ini yang jarang kita bicarakan di mimbar, hadirin, yaitu bagaimana judi online modern membungkus dirinya dengan bahasa yang terdengar ilmiah dan meyakinkan: "prediksi," "bocoran pola," "jam gacor," "rumus menang." Bahasa-bahasa ini memberi kesan bahwa kemenangan bisa dihitung, diprediksi, direncanakan — seolah ada ilmu tersembunyi di baliknya. Padahal, ma'asyiral muslimin, ini bukan hal baru. Ini wajah lama yang memakai baju baru. Rasulullah ﷺ, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad hasan dan dicatat dalam Riyad as-Salihin, telah memperingatkan tentang jenis klaim seperti ini.

العِيافة، والطِّيَرة، والطرق، من الجبت

Dari Qabishah bin Al-Mukhariq radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Al-'Iyafah (meramal nasib lewat terbangnya burung), ath-Thiyarah (menganggap sial karena suatu pertanda), dan ath-Tharq (meramal dengan menggores garis di tanah) termasuk bagian dari al-Jibt." (Riyad as-Salihin 1670)

Tiga istilah dalam hadits ini — meramal lewat terbangnya burung, menganggap sial karena pertanda, dan meramal dengan goresan di tanah — adalah praktik ramalan yang lazim di zaman jahiliyah. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai bagian dari al-jibt, istilah yang mencakup segala klaim mengetahui yang gaib di luar jalan yang Allah tetapkan. Yang perlu kita renungkan, hadirin, esensi dari tiga praktik itu sama persis dengan yang dijual aplikasi judi online hari ini: klaim bahwa ada pola tersembunyi yang bisa dibaca, ada waktu tertentu yang lebih "beruntung," ada rumus yang bisa memprediksi hasil acak. Kalau meramal lewat terbangnya burung sudah disebut Rasulullah ﷺ sebagai bagian dari al-jibt empat belas abad lalu, klaim "prediksi pola slot" hari ini berdiri di atas fondasi yang sama persis — hanya kemasannya yang berganti, dari burung dan goresan tanah menjadi grafik dan angka berkedip di layar.

Yang membuat klaim semacam ini lebih berbahaya lagi, ma'asyiral muslimin, adalah bahwa ia paling laris justru kepada orang yang sedang paling putus asa. Orang yang sudah kalah berkali-kali, yang sudah kehabisan modal, paling mudah percaya pada janji "kali ini pasti polanya beda" — bukan karena ia bodoh, tetapi karena keputusasaan membuat akal sehat kalah oleh harapan yang menyala-nyala. Inilah kekejaman yang tersembunyi di balik kata "prediksi": ia menjual harapan palsu justru kepada orang yang paling membutuhkan harapan sejati, lalu mengambil sisa-sisa hartanya sebagai bayarannya. Semakin dalam seseorang terjerat, semakin kuat pula ia dibuat percaya bahwa jalan keluarnya ada di putaran berikutnya — padahal jalan keluar yang sesungguhnya justru ada di arah yang berlawanan sama sekali: berhenti, bukan melanjutkan. Ini sebabnya nasihat yang paling sering kita dengar — "berhentilah sebelum makin dalam" — sering kali datang terlambat bagi yang sudah terlanjur percaya pada janji prediksi itu; karena itu, tugas kita bukan hanya menasihati yang sudah terjerat, tetapi lebih dahulu memutus akses pada janji palsu itu sebelum sempat dipercaya.

Sampai di sini, ma'asyiral muslimin, mungkin ada di antara kita yang mendengar semua ini dengan hati yang berat — karena tahu, atau merasa, bahwa dirinya sendiri, atau seseorang yang dicintainya, sedang berada di dalam jerat ini. Izinkan saya menutup bagian utama khutbah ini bukan dengan kecaman, melainkan dengan sesuatu yang lebih penting: pintu rahmat yang tidak pernah tertutup.

Dalam kitab Nashaihul Ibad, dikisahkan munajat seorang hamba yang saleh, yang dengan jujur mengakui kelemahan dirinya sendiri di hadapan Allah:

إِلَهِي طُولُ الْأَمَلِ غَرَّنِي، وَحُبُّ الدُّنْيَا أَهْلَكَنِي، وَالشَّيْطَانُ أَضَلَّنِي، وَالنَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ عَنِ الْحَقِّ مَنَعَتْنِي، وَقَرِينُ السُّوءِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ أَعَانَنِي. فَأَغِثْنِي يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ، فَإِنْ لَمْ تَرْحَمْنِي فَمَنْ ذَا الَّذِي يَرْحَمُنِي غَيْرُكَ

"Ya Tuhanku, panjangnya angan-angan telah memperdayaku, cinta dunia telah membinasakanku, setan telah menyesatkanku, nafsu yang menyuruh kepada keburukan telah menghalangiku dari kebenaran, dan teman yang buruk telah membantuku dalam kemaksiatan. Maka tolonglah aku, wahai penolong bagi orang-orang yang meminta pertolongan — jika Engkau tidak merahmatiku, maka siapa lagi yang akan merahmatiku selain Engkau." (Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3))

Perhatikan, hadirin, munajat ini bukan diucapkan oleh orang yang belum pernah berbuat dosa. Munajat ini justru diucapkan oleh seorang hamba yang saleh, yang jujur mengakui bahwa dirinya bisa terpedaya, bisa disesatkan, bisa dibantu oleh teman yang buruk untuk bermaksiat. Kejujuran semacam inilah yang kita butuhkan hari ini — bukan menghakimi mereka yang terjerat judi online atau pinjaman online seolah mereka spesies yang berbeda dari kita, melainkan mengakui bahwa siapa pun dari kita bisa terpedaya oleh angan-angan panjang, oleh cinta dunia, oleh teman atau lingkungan yang salah arah.

Sikap pemaaf dan penyabar semacam ini bukan sekadar anjuran moral biasa, hadirin, melainkan teladan yang paling nyata dari akhlak Rasulullah ﷺ sendiri. Beliau dikenal luas sepanjang sirahnya sebagai pribadi yang paling lembut kepada mereka yang tersandung dosa dan salah langkah, dan justru paling tegas hanya kepada perbuatan dosa itu sendiri — bukan kepada pelakunya. Inilah keseimbangan yang sering hilang dari cara kita bereaksi hari ini: kita begitu mudah keras kepada orangnya, tetapi longgar kepada perbuatannya; padahal semestinya terbalik — keras kepada perbuatan yang merusak, lembut kepada orang yang sedang berjuang keluar darinya.

Karena itulah, ma'asyiral muslimin, jika ada di antara jamaah, atau tetangga, atau saudara kita, yang hari ini sedang terjerat dalam lingkaran judi online dan utang yang mencekik, tugas kita bukan menjauhinya, bukan mempergunjingkannya, apalagi mempermalukannya di depan umum. Islam mengajarkan adab yang jauh lebih lembut dalam menyikapi saudara yang sedang jatuh.

…لغيرك والصلاح لنفسك. ولكن إن كان مقصودك من قولك: أصلحه الله - الدعاء؛ فادع له في السر. وإن اغتممت بسببه، فعلامة أنك لا تريد فضيحته واظهار عيبه، وفي إظهارك الغم بعيبه إظهار تعييبه. ويكفيك زاجرا عن الغيبة قوله تعالى: (وَلا يَغتَب بَعضُكُم بَعضا، أَيُحِبُ أَحَدُكُم أَن يَأكلَ لَحمَ أخيهِ مَيتا فَكَرِ…

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali rahimahullah mengingatkan bahwa ketika hati kita sedih melihat saudara terjatuh dalam suatu keburukan, tanda bahwa kita benar-benar tidak menghendaki tersingkapnya aib dan kekurangannya adalah kita tidak menampakkan kesedihan itu kepada orang lain — dan jika kita hendak mendoakan perbaikan baginya, doa itu cukup dipanjatkan di dalam kesunyian, bukan diumumkan sebagai bahan omongan. Menjaga aib saudara yang jatuh, sambil tetap berdoa dan berusaha membantunya keluar, adalah jalan tengah yang diajarkan agama kita — bukan membiarkan, dan bukan pula mempermalukan.

Ma'asyiral muslimin, apa yang kita bicarakan hari ini sesungguhnya menyentuh dua amanah besar yang dititipkan syariat kepada kita: hifz al-mal, menjaga harta, dan hifz al-'aql, menjaga akal. Judi online merampas keduanya sekaligus — merampas harta lewat permainan yang dirancang untuk selalu menguntungkan bandar, dan merampas akal lewat kecanduan yang melumpuhkan kemampuan berpikir jernih tentang untung-rugi yang sesungguhnya. Menjaga kedua amanah ini bukan urusan pribadi semata; ia adalah fardh kifayah atas umat — kewajiban kolektif yang gugur dari kita masing-masing hanya jika sudah cukup banyak orang menanganinya dengan sungguh-sungguh, dan menjadi kelalaian yang ditanggung bersama bila dibiarkan terbengkalai. Setiap kali kita memilih diam melihat kemungkaran ini menyebar, setiap kali kita memilih tidak peduli karena merasa "bukan urusan saya," kita ikut menanggung bagian dari kelalaian kolektif itu di hadapan Allah kelak.

Sebelum kita menutup bagian utama khutbah ini, penting untuk menegaskan bahwa semua yang kita bahas hari ini tidak boleh berhenti sebagai wacana di atas mimbar. Iman yang benar selalu berbuah pada tindakan nyata, sekecil apa pun tindakan itu tampak. Berikut beberapa langkah yang bisa kita bawa pulang dari masjid ini hari ini — bukan sebagai beban baru yang menambah rasa bersalah, melainkan sebagai bentuk kasih sayang kepada diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita.

Pertama, bagi yang merasa mulai tergoda atau sudah terlibat, hapus aplikasi judi online dari telepon genggam malam ini juga — bukan besok, bukan setelah "sekali lagi coba peruntungan." Setiap hari yang ditunda adalah hari tambahan bagi aplikasi itu untuk menahan kita lebih dalam.

Kedua, bagi yang sedang terjerat, beranikan diri bicara kepada satu orang yang bisa dipercaya — bisa keluarga, bisa pengurus masjid, bisa sahabat yang tidak akan menghakimi. Menanggung beban ini sendirian, dalam diam, justru sering menjadi alasan seseorang mencari jalan pintas yang lebih berbahaya lagi untuk menutup utangnya.

Ketiga, hentikan kebiasaan menyambung utang dengan utang baru — mencairkan limit paylater lewat gestun untuk membayar cicilan pinjaman lain hanya menunda kehancuran, bukan menyelesaikannya. Duduklah, tuliskan semua utang yang ada di satu kertas, urutkan dari yang bunganya paling mencekik, dan cari pendampingan dari orang yang memahami cara menegosiasikan utang secara sehat — melihat angka yang tertulis jelas di atas kertas sering kali lebih menenangkan daripada angka yang hanya berputar-putar cemas di kepala.

Keempat, bagi kita semua tanpa kecuali, jaga lisan dan jempol kita dari ikut menyebarkan atau menertawakan konten yang menormalkan judi online, sekecil apa pun bentuknya — sebuah candaan ringan soal "cuan slot" yang kita bagikan bisa menjadi pintu masuk bagi orang lain yang belum pernah terpikir untuk mencoba.

Kelima, periksa keamanan akun media sosial dan pesan pribadi kita — aktifkan verifikasi dua langkah, dan jika mendapati akun kita mengirim pesan yang tidak pernah kita tulis, segera amankan dan beri tahu kontak-kontak kita agar tidak ikut menjadi korban.

Keenam, jadikan pekan ini momen untuk mendekati, bukan menjauhi, satu orang di sekitar kita yang selama ini kita curigai sedang berjuang sendirian menghadapi jerat ini — cukup dengan hadir, mendengarkan, dan mendoakan, tanpa menghakimi. Tidak perlu kata-kata yang rumit; kadang cukup satu kalimat sederhana seperti "kalau ada yang mau diceritakan, saya siap dengar kapan saja" untuk membuka pintu yang selama ini tertutup rapat oleh rasa malu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita renungkan sekali lagi bahwa arus yang menyeret seseorang ke dalam judi online bukanlah arus yang datang dari luar semata. Arus itu juga tumbuh dari dalam diri kita sendiri — dari rasa penasaran yang kita biarkan, dari sekali klik yang kita anggap "coba-coba saja," dari diamnya kita ketika melihat orang lain menormalkannya. Menjaga diri dari arus ini bukan hanya soal menjauhi aplikasi, tetapi juga soal menjaga hati agar tidak ikut mengamini ketika sesuatu yang jelas dilarang mulai dianggap wajar oleh banyak orang di sekitar kita.

Renungkan pula, hadirin, bahwa yang paling berbahaya dari jerat ini bukan hanya kerugian hartanya, melainkan keputusasaan yang mengikutinya. Ketika seseorang merasa dosanya sudah terlalu besar, utangnya sudah terlalu menumpuk, dan rasa malunya sudah terlalu dalam, ia bisa sampai pada kesimpulan keliru bahwa pintu tobat sudah tertutup baginya. Padahal semakin besar rasa putus asa seseorang, semakin besar pula keperluannya untuk mendengar bahwa Allah Maha Penerima tobat. Tugas kita sebagai jamaah adalah menjadi pengingat itu, bukan menjadi penegas dari rasa putus asanya.

Masjid kita, ma'asyiral muslimin, semestinya menjadi salah satu ruang paling aman bagi siapa pun yang ingin keluar dari jerat semacam ini untuk mengaku dan meminta bantuan, tanpa takut dihakimi begitu pintu masjid tertutup di belakangnya. Kalau masjid kita belum terasa seaman itu, mari jadikan pekan ini titik awal untuk membangunnya — cukup dimulai dari satu dua pengurus yang dikenal jamaah bisa dipercaya menjaga rahasia, yang siap didatangi tanpa prosedur berbelit dan tanpa pertanyaan yang menghakimi di awal pertemuan.

Renungkan juga bahwa menjaga saudara kita dari jerat ini bukan tugas ustadz atau pengurus masjid semata. Setiap kita yang memiliki grup percakapan keluarga, grup arisan, grup alumni, memiliki ruang kecil yang bisa kita jaga dari normalisasinya. Satu teguran lembut ketika ada yang berkelakar soal "modal recehan," satu ajakan diam-diam untuk bicara empat mata ketika kita mencurigai ada yang berubah perilakunya, adalah amal kecil yang bisa menyelamatkan seseorang sebelum keadaannya semakin dalam.

Renungkan pula bahwa rumah tangga kita masing-masing adalah benteng pertama sebelum benteng masjid dan benteng masyarakat. Anak-anak yang tumbuh melihat orang tuanya tenang mengelola keuangan, jujur soal kesulitan, dan tidak tergoda jalan pintas, akan membawa kebiasaan itu ke masa dewasanya nanti. Sebaliknya, rumah yang menutupi masalah keuangan dengan gengsi, yang menganggap membicarakan uang secara terbuka adalah tabu, justru menyuburkan bibit yang sama yang bisa tumbuh menjadi jerat di kemudian hari. Menjaga rumah tangga dari jerat ini dimulai dari keterbukaan yang sehat antara suami istri, bukan dari kesempurnaan yang dipaksakan di depan orang lain.

Akhirnya, ma'asyiral muslimin, mari kita bawa pulang satu kesadaran sederhana dari khutbah pekan ini: pintu rahmat Allah jauh lebih lebar daripada jerat apa pun yang bisa dibuat manusia atau setan. Sebesar apa pun kesalahan yang sudah terjadi, sebanyak apa pun putaran yang sudah dilalui, jalan kembali itu selalu ada selama nyawa masih di kandung badan. Tugas kita bukan menutup jalan itu dengan penghakiman, melainkan menjaga jalan itu tetap terang bagi siapa saja yang ingin pulang.

Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, dan lingkungan kita dari jerat judi online, pinjaman yang mencekik, dan segala bentuk jalan pintas yang menjauhkan kita dari rezeki yang halal dan berkah. Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ كُرْبَتَهُمْ وَاشْفِ صُدُوْرَهُمْ وَارْبِطْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا فِيْ حِمَايَةِ النَّاسِ مِنَ الرِّبَا وَالْمَيْسِرِ وَكُلِّ مَا يُهْلِكُ أَمْوَالَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

اَللّٰهُمَّ مَنْ وَقَعَ مِنَّا فِيْ شِرَاكِ الْمَيْسِرِ وَالدُّيُوْنِ الْمُهْلِكَةِ فَخَلِّصْهُ يَا رَبَّنَا، وَافْتَحْ لَهُ بَابَ التَّوْبَةِ، وَارْزُقْهُ الْقَنَاعَةَ وَحُسْنَ الْخَلَاصِ، وَاكْفِهِ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتَنَا مِنْ كُلِّ مَا يُفْسِدُ عُقُوْلَهُمْ وَقُلُوْبَهُمْ مِنْ وَسَائِلِ الْفَسَادِ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا بِطَاعَتِكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan