Jamaah yang saya hormati, pekan ini banyak dari kita mendengar kabar yang sama: soal judi online yang makin dekat ke kehidupan sehari-hari, bahkan sampai menyusup lewat akun pribadi orang yang sama sekali tidak bersalah. Ada satu hal kecil yang ingin saya bagikan malam ini.
Coba jujur pada diri sendiri sejenak: ketika mendengar ada tetangga, teman, atau bahkan saudara sendiri yang ketahuan terjerat judi online, apa reaksi pertama yang muncul di kepala kita? Kasihan? Atau diam-diam kita mulai membicarakannya ke orang lain — "eh tau nggak, si fulan ternyata..."? Saya ingin mengajak kita jujur soal ini, karena Al-Qur'an sudah menyinggung tabiat ini jauh sebelum ada media sosial.
هَمَّازٍۢ مَّشَّآءٍۭ بِنَمِيمٍۢ
Allah berfirman dalam Surah Al-Qalam ayat 11: "Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah." Ayat ini menggambarkan watak buruk seseorang yang gemar mencela dan menyebarkan omongan dari satu tempat ke tempat lain. Jujur saja, jamaah, tabiat ini paling mudah muncul justru ketika kita mendengar kabar buruk tentang orang lain — termasuk kabar tentang orang yang terjerat judi online atau utang yang mencekik. Rasanya lidah ini gatal ingin membagikannya, seolah aib orang lain adalah hiburan gratis.
Kita perlu jujur bahwa menyebarkan kabar tentang siapa yang terjerat judi online — dengan nada mencela, dengan bumbu tambahan, dengan candaan yang menusuk — sebenarnya adalah bentuk namimah yang disebut ayat tadi. Bedanya, dulu namimah menyebar dari mulut ke mulut di satu majelis. Sekarang, ia menyebar lewat satu status, satu cerita, satu pesan yang diteruskan ke grup keluarga, dan jangkauannya jauh lebih luas dan lebih sulit ditarik kembali. Yang menyedihkan, orang yang sedang terjerat judi online atau pinjaman online biasanya sudah cukup menderita dengan bebannya sendiri — malu, tertekan utang, merasa bersalah. Ketika lingkungannya menambah beban itu dengan gosip, kita bukan membantunya keluar, kita justru mendorongnya makin dalam. Untuk apa berubah kalau toh sudah telanjur dicap buruk oleh semua orang?
Pekan ini kita mendengar dua kabar yang saling melengkapi soal betapa dekatnya masalah ini dengan keseharian kita. Pertama, sebuah konten yang secara terang-terangan memakai kata "darurat" untuk menggambarkan kondisi judi online hari ini, ditonton ratusan ribu orang — tanda bahwa kegelisahan ini sudah jadi kesadaran bersama. Kedua, dan ini yang lebih mengganggu buat saya: ada kabar tentang seseorang yang akun percakapan pribadinya, tanpa sepengetahuannya sama sekali, tiba-tiba mengirim banyak tautan judi online ke nomor-nomor yang bahkan tidak ia kenal. Pemilik akun itu korban di sini, bukan pelaku. Bayangkan kalau kabar ini kita dengar tanpa konteks lengkap, lalu kita buru-buru menyimpulkan yang bukan-bukan — inilah bahaya nyata dari lidah yang terlalu cepat menyimpulkan sebelum tahu duduk perkaranya.
Lalu apa gantinya? Al-Qur'an memberi jawaban di ayat lain yang searah:
وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ
Allah berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 7: "Dan enggan menolong dengan barang berguna." Al-ma'un artinya barang atau bantuan kecil yang berguna sehari-hari — hal sepele yang harusnya mudah kita berikan pada yang membutuhkan. Ayat ini menegur orang yang pelit untuk hal-hal kecil semacam itu. Mendengarkan tanpa menghakimi, mendampingi tanpa menyebarkan, adalah bentuk "al-ma'un" zaman sekarang — bantuan kecil yang tidak butuh keahlian khusus atau uang besar, cukup kesediaan hati untuk tidak enggan.
Dua ayat ini sebenarnya bicara tentang dua sisi mata uang yang sama: bahaya lidah yang gemar menyebar keburukan orang lain, dan bahaya hati yang enggan menolong sesamanya. Keduanya membuat kita lupa bahwa iman diukur dari cara kita memperlakukan sesama yang sedang lemah, bukan dari seberapa keras kita mengomentari kesalahannya. Rasa penasaran kita tentang siapa yang terjerat judi online sebenarnya lebih baik dialihkan jadi doa diam-diam untuknya, atau kalau memungkinkan, jadi keberanian menyapa baik-baik — bukan jadi bahan obrolan di grup keluarga.
Ada satu hal lagi yang perlu kita sadari bersama: orang yang sedang berjuang keluar dari jerat judi online atau pinjaman online biasanya sangat peka membaca reaksi lingkungannya. Begitu ia merasa lingkungan sudah menutup pintu untuknya — lewat tatapan sinis, lewat bisik-bisik yang terhenti begitu ia lewat, lewat candaan yang menyindir — besar kemungkinan ia berhenti mencoba berubah, karena merasa toh sudah telanjur dicap begitu. Sebaliknya, satu wajah yang tetap ramah, satu sapaan yang tetap hangat, bisa menjadi alasan ia bertahan sehari lagi untuk tidak kembali ke kebiasaan lama.
Malam ini, sebelum tidur, mari kita coba tiga hal kecil. Pertama, kalau ada nama yang belakangan sering muncul dalam obrolan negatif di grup kita soal judi online atau utangnya, hentikan obrolan itu dengan halus, atau alihkan jadi ajakan mendoakannya. Kedua, kalau kita punya kontak seseorang yang kita curigai sedang berjuang sendirian, kirim satu pesan sederhana malam ini — tidak perlu menyinggung masalahnya langsung, cukup tanya kabar dengan tulus. Ketiga, periksa linimasa kita sendiri: adakah candaan yang pernah kita bagikan yang justru menormalkan judi online? Kalau ada, hapus, dan gantikan dengan sesuatu yang lebih bermanfaat.
Jamaah yang saya hormati, berhenti dari judi online itu bukan kekalahan — justru itu satu-satunya kemenangan yang sesungguhnya, karena permainan itu memang dirancang supaya pemain hampir selalu kalah pada akhirnya. Menahan lidah kita dari menyebarkan aib orang yang sedang berjuang keluar dari jerat itu, sekecil apa pun perannya, adalah bentuk pertolongan yang nilainya tidak kalah besar di sisi Allah. Mari kita jadi lingkungan yang membuat orang berani berhenti, bukan lingkungan yang membuat orang malu untuk kembali. Lingkungan yang seperti itu tidak terbentuk sendiri — ia dibangun satu sikap kecil pada satu waktu, dimulai dari kita yang duduk di ruangan ini malam ini.