KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah pada kesempatan yang mulia ini kita membuka hati dengan satu ayat yang Allah turunkan dalam kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam, ketika beliau menafsirkan mimpi sang raja tentang tujuh tahun paceklik yang akan disusul satu tahun kelapangan.
ثُمَّ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌۭ فِيهِ يُغَاثُ ٱلنَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ
"Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur." (QS. Yusuf: 49)
Ayat ini berbicara tentang siklus yang Allah tetapkan bagi manusia: masa sulit yang pasti diikuti masa lapang, sebagaimana ayat ini menjadi penutup dari kisah tujuh tahun paceklik yang dialami negeri Mesir pada masa Nabi Yusuf 'alaihissalam. Janji ini bukan sekadar ramalan tentang cuaca dan musim — ia adalah pengingat bahwa kesulitan yang tampak tidak berkesudahan tetap berada dalam kendali dan rahmat Allah, dan pada saatnya Dia sendiri yang menurunkan kelapangan itu. Kelapangan sejati, sebagaimana digambarkan ayat ini, ditandai dengan kembalinya hujan yang cukup — sesuatu yang membuat manusia bisa kembali memeras hasil kebun mereka dengan tenang, setelah bertahun-tahun dibayangi ketidakpastian.
Ma'asyiral muslimin, pekan ini kabar yang sampai kepada kita justru mengingatkan pada separuh pertama siklus itu: musim kemarau yang memanjang di sejumlah wilayah, disertai kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan, serta krisis air bersih yang mulai dirasakan warga. Petani yang menggantungkan hidup pada musim tanam kini harus menghitung ulang, sementara udara yang mereka hirup pun ikut terbebani kabut. Ini bukan sekadar berita cuaca bagi kita yang duduk di masjid hari ini — ini adalah pengingat bahwa menjaga jiwa dan keberlangsungan hidup, sedang diuji nyata di ladang dan kebun saudara-saudara kita.
Pada saat yang hampir bersamaan, ramai diperbincangkan pekan ini sebuah pernyataan resmi tentang penghasilan dari pekerjaan mengupas bawang, yang disebut bisa mencapai angka yang terdengar besar per kilogramnya. Pernyataan ini mendapat pembelaan dari lembaga yang berwenang menanganinya. Namun bagi banyak dari kita yang mendengarnya, ada jarak yang terasa antara angka di atas kertas dengan kenyataan di lapangan: berapa jam yang dibutuhkan untuk benar-benar mengumpulkan satu kilogram itu, dan apakah angka besar yang disebutkan benar-benar mencerminkan upah yang layak untuk kerja yang sesungguhnya berat dan melelahkan.
Kabar lain yang juga sampai kepada kita adalah imbauan resmi agar kelompok masyarakat yang lebih berpunya tidak lagi mengambil jatah bahan bakar bersubsidi yang semestinya diperuntukkan bagi yang membutuhkan. Imbauan ini, sesungguhnya, adalah pengakuan jujur bahwa selama ini ada penyaluran yang tidak pada tempatnya. Pengakuan seperti ini patut kita apresiasi, sebab mengakui adanya ketimpangan adalah langkah pertama menuju perbaikan — namun pengakuan saja tidak cukup tanpa tindakan nyata yang mengikutinya.
Namun pekan ini juga menghadirkan kabar yang lebih menyayat: seorang petugas pompa bensin, yang sedang menjalankan tugasnya menegur soal keselamatan — puntung rokok yang dibuang sembarangan di area yang mudah tersulut api — dipukul oleh seorang oknum berseragam yang tidak terima ditegur. Petugas itu, siapa pun dia, sedang melakukan pekerjaannya. Ia sedang melayani. Dan pelayanannya itu dibalas dengan kekerasan, bukan penghormatan.
Ma'asyiral muslimin, empat kabar ini — kekeringan yang menekan petani, angka upah yang terdengar besar tapi terasa jauh dari keadilan, imbauan yang mengakui ketimpangan subsidi, dan kekerasan terhadap seorang petugas yang sedang bertugas — sesungguhnya bukan empat persoalan yang terpisah. Ia adalah satu persoalan yang sama, yang tampil dalam empat wajah berbeda: bagaimana kita, sebagai umat dan sebagai bangsa, memperlakukan kerja dan orang yang bekerja. Dan Islam, jauh sebelum istilah "perlindungan pekerja" atau "keadilan ekonomi" menjadi bahasa yang kita kenal hari ini, telah menetapkan prinsip yang jelas dan tegas tentang hal ini.
Simaklah sebuah hadits yang datang kepada kita melalui riwayat Imam al-Bukhari, yang dihimpun Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhus Shalihin. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda — dan ini adalah hadits qudsi, di mana Allah Ta'ala berfirman melalui lisan Nabi-Nya:
وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "قال الله تعالى: ثلاثة أنا خصمهم يوم القيامة: رجل أعطى بي ثم غدر، ورجل باع حرًا فأكل ثمنه، ورجل استأجر أجيرًا، فاستوفى منه، ولم يعطه أجره" (رواه البخاري)
"Ada tiga golongan yang Aku menjadi lawan mereka pada hari Kiamat: orang yang bersumpah dengan nama-Ku lalu ia melanggarnya; orang yang menjual manusia yang merdeka sebagai hamba lalu memakan hasilnya; dan orang yang memperkerjakan seorang pekerja, telah mengambil seluruh hasil kerjanya, lalu tidak membayarkan upahnya." (Riyad as-Salihin 1587 — dalam hadits qudsi ini Allah Ta'ala berfirman melalui lisan Rasul-Nya ﷺ)
Perhatikan, ma'asyiral muslimin, betapa beratnya kedudukan golongan ketiga ini di hadapan Allah. Dua golongan pertama — yang mengingkari sumpah atas nama Allah, dan yang memperjualbelikan manusia merdeka sebagai budak — adalah pelanggaran yang jelas keji dan kita semua sepakat mengutuknya. Namun Allah menempatkan golongan ketiga sejajar dengan keduanya: orang yang mempekerjakan seseorang, mengambil penuh hasil kerjanya, lalu tidak membayar upahnya. Ini bukan pelanggaran administratif. Ini bukan sekadar utang yang tertunda. Dalam hadits qudsi ini, Allah sendiri yang menjadi pihak yang berperkara melawan orang semacam itu pada hari Kiamat — bukan pengadilan dunia, bukan serikat pekerja, bukan lembaga bantuan hukum, melainkan Allah 'Azza wa Jalla sendiri.
Mengapa Allah begitu tegas dalam urusan upah? Karena keringat seorang pekerja adalah bagian dari harga dirinya. Ia telah menyerahkan waktu, tenaga, dan sebagian usianya untuk sebuah pekerjaan, dengan keyakinan bahwa ia akan menerima haknya. Ketika hak itu ditahan atau dikurangi, yang dirampas bukan hanya uang — yang dirampas adalah kepercayaan, adalah martabat, adalah waktu hidup yang tidak akan pernah kembali. Inilah yang menegaskan bahwa keadilan dalam Islam tidak mengenal kata "nanti" atau "tunggu dulu" ketika menyangkut hak orang lain — begitu pekerjaan selesai, upah itu telah menjadi hak yang harus segera ditunaikan, bukan ditunda dengan berbagai alasan.
Di sinilah kabar tentang upah mengupas bawang yang ramai pekan ini menemukan tempatnya untuk direnungkan bersama. Bukan pada angkanya semata, sebab angka bisa disusun sedemikian rupa untuk terdengar meyakinkan. Yang perlu kita tanyakan bersama adalah: apakah angka itu benar-benar mencerminkan penghargaan yang utuh atas kerja yang dilakukan? Ataukah ia sekadar cara untuk membuat kerja yang berat dan melelahkan tampak ringan dan menjanjikan di atas kertas, sementara kenyataan di lapangan jauh berbeda? Hadits yang baru kita baca mengajarkan kita untuk selalu bertanya dengan jujur: apakah upah ini sudah utuh sampai ke tangan yang berhak, dihitung dengan cara yang adil, bukan dengan cara yang membuat penerimanya tampak lebih beruntung dari kenyataannya?
Islam mengajarkan kepekaan terhadap kesulitan ekonomi rakyat bukan sebagai teori, melainkan lewat teladan langsung Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, pada suatu masa umat ditimpa kemarau panjang di zaman Rasulullah ﷺ. Ketika beliau sedang berkhutbah di atas mimbar pada hari Jumat — persis seperti kita duduk hari ini — tiba-tiba seorang Arab Badui berdiri di tengah jamaah dan berseru, "Wahai Rasulullah, harta kami binasa dan keluarga kami kelaparan." Bayangkan, ma'asyiral muslimin: seorang jamaah biasa, tanpa protokol, tanpa surat resmi, berani menyela khutbah karena beban hidupnya sudah tidak tertahankan. Rasulullah ﷺ tidak mengusirnya, tidak menganggapnya kurang ajar. Beliau mendengarkan keluhan itu dengan sungguh-sungguh, sebagaimana kita ketahui secara luas dari riwayat-riwayat yang menyertai peristiwa ini, hingga akhirnya beliau memohonkan hujan kepada Allah bagi umatnya.
Teladan ini mengajarkan sesuatu yang sangat relevan bagi kita hari ini: pemimpin yang baik — entah ia pemimpin negara, pemimpin lembaga, atau pemimpin rumah tangga — adalah pemimpin yang bersedia mendengar keluhan rakyat kecil tanpa merasa direndahkan olehnya. Imbauan agar kelompok mampu tidak lagi menikmati subsidi yang bukan haknya, yang kita dengar pekan ini, adalah langkah yang searah dengan semangat ini — sebuah pengakuan bahwa penyaluran yang tidak tepat sasaran memang harus dikoreksi. Tetapi pengakuan itu baru bermakna penuh jika diikuti dengan mekanisme yang benar-benar memastikan bahwa yang berhak, benar-benar menerima; bukan sekadar imbauan moral yang bertumpu pada kesadaran sukarela semata.
Dan bagaimana dengan petugas pompa bensin yang dipukul karena menegur soal puntung rokok pekan ini? Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, seorang sahabat bernama Hisyam bin Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu pernah melintas di negeri Syam dan mendapati sekelompok orang dijemur di bawah terik matahari, dengan minyak dituangkan ke kepala mereka sebagai siksaan karena menunggak pajak tanah. Melihat itu, ia berkata, "Ketahuilah, sungguh aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sungguh Allah akan mengazab orang-orang yang menyiksa manusia di dunia." Petugas SPBU yang dipukul pekan ini sedang melakukan tugasnya — menjaga keselamatan bersama. Ia bukan musuh. Ia adalah pelayan publik yang menjalankan amanahnya. Kekerasan terhadapnya, betapa pun kecil pemicunya di mata yang melakukan, sejalan dengan bentuk "menyiksa manusia" yang diperingatkan keras dalam hadits ini — dan siapa pun yang melakukannya, seragam apa pun yang ia kenakan, tetap tunduk pada peringatan yang sama.
Kembali kepada kekeringan yang menekan petani kita pekan ini, ada satu hadits yang mengajarkan cara memandang persoalan ini secara lebih dalam. Rasulullah ﷺ bersabda:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لاَ تُمْطَرُوا وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا …
"Tahun paceklik (sanah) bukanlah dengan tidak diturunkan hujan, melainkan paceklik adalah ketika kalian diberi hujan dan terus diberi hujan, namun bumi tidak menumbuhkan apa pun." (Sahih Muslim 2904)
Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa paceklik sejati bukan semata soal berapa banyak air yang turun dari langit, melainkan soal apakah hujan itu membuahkan hasil yang bisa dinikmati. Ini adalah pelajaran yang dalam: kelimpahan yang tidak menumbuhkan kebaikan bagi yang membutuhkannya, pada hakikatnya adalah kekeringan yang tersembunyi. Kita bisa menariknya lebih jauh: hasil bumi yang melimpah, namun nilai tambahnya dinikmati pihak lain di luar negeri sementara petani penghasilnya tetap dalam kesulitan, adalah bentuk lain dari paceklik ini — paceklik barakah, bukan paceklik hujan. Karhutla dan kekeringan yang kita hadapi pekan ini adalah ujian nyata dari langit; namun ada juga "kekeringan" yang kita ciptakan sendiri, ketika hasil kerja keras rakyat tidak kembali secara adil kepada mereka.
Maka, ma'asyiral muslimin, apa yang bisa kita lakukan di hadapan dua kesulitan ini — upah yang belum adil dan kekeringan yang menekan? Allah Ta'ala memberi kita jawaban yang sederhana namun mendalam dalam surah Al-Balad:
أَوْ مِسْكِينًۭا ذَا مَتْرَبَةٍۢ
"atau kepada orang miskin yang sangat fakir." (QS. Al-Balad: 16)
Ayat ini adalah bagian dari penggambaran Allah tentang "jalan yang mendaki lagi sukar" yang harus ditempuh oleh orang yang ingin benar-benar beriman: memerdekakan budak, atau memberi makan pada hari kelaparan kepada anak yatim yang memiliki hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir, yang bahkan debu kemiskinan menempel di tubuhnya. Allah tidak menempatkan jalan pendakian iman pada ritual semata, tetapi pada kepedulian nyata terhadap yang paling lemah. Petani yang gagal panen karena kekeringan, buruh yang belum menerima upah penuh, petugas yang dipukul saat bertugas — mereka semua adalah wajah dari "orang miskin yang sangat fakir" yang disebutkan ayat ini, dalam pengertian yang luas: fakir dari penghormatan, fakir dari kepastian, fakir dari rasa aman.
Bagi kita yang hidup di Indonesia hari ini, pelajaran dari ayat dan hadits-hadits ini sangatlah konkret. Setiap dari kita, dalam skala apa pun, pasti pernah menjadi pihak yang mempekerjakan orang lain — entah asisten rumah tangga, tukang, buruh harian, atau sekadar ojek daring yang kita panggil. Setiap dari kita juga pasti berinteraksi dengan petugas pelayanan publik — petugas SPBU, kasir, satpam, office boy. Islam tidak meminta kita menunggu kebijakan negara berubah sempurna sebelum kita mulai berbuat adil. Islam meminta kita mulai dari transaksi kita sendiri, dari perlakuan kita sendiri, hari ini.
Ma'asyiral muslimin, apa yang kita bicarakan sepanjang khutbah ini sesungguhnya menyentuh dua sumbu besar yang menjadi tujuan syariat: menjaga harta, dan menjaga jiwa. Menjaga harta bukan hanya soal melindungi kekayaan dari pencurian, tetapi juga memastikan harta itu mengalir secara adil lewat upah yang utuh dan hasil bumi yang terdistribusi dengan benar. Menjaga jiwa bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga soal martabat: petani yang gagal panen, buruh yang belum menerima haknya, petugas yang dipukul saat bertugas, semuanya adalah persoalan jiwa yang terluka, bukan sekadar angka ekonomi yang lewat di layar telepon kita. Menjaga kedua hal ini adalah kewajiban bersama atas umat — kewajiban yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak, kalau kita biarkan terbengkalai begitu saja karena menganggap itu bukan urusan kita.
Sebelum kita beralih kepada langkah-langkah praktis, izinkan saya menambahkan satu catatan singkat. Pekan ini juga bergulir kabar tentang rekrutmen guru berstatus PPPK untuk sekolah rakyat dan sekolah garuda. Guru adalah salah satu bentuk pekerja yang paling menentukan masa depan sebuah bangsa, namun sering menjadi yang paling belakangan diperhatikan kepastian penghidupannya. Prinsip yang sama yang kita bahas tentang upah buruh dan petani berlaku pula bagi mereka: penghidupan yang layak bagi guru bukan kemewahan yang bisa ditunda, melainkan investasi jangka panjang bagi generasi yang mereka didik hari ini dan kelak menggantikan kita semua.
Kelapangan sejati, ma'asyiral muslimin, bukanlah semata soal hujan yang turun atau angka pendapatan yang terdengar besar di berita. Kelapangan sejati adalah ketika hasil kerja keras rakyat — petani yang menggarap tanah, buruh yang mencurahkan tenaga, petugas yang menjalankan tugas, guru yang mendidik generasi — benar-benar sampai secara utuh dan terhormat kepada mereka yang berhak. Inilah amanah yang Allah titipkan kepada kita sebagai khalifah di muka bumi: bukan hanya menjaga tanah agar tetap subur, tetapi juga menjaga agar hasil dari tanah itu mengalir secara adil kepada tangan-tangan yang menumbuhkannya.
Sebelum kita menutup khutbah pertama ini, izinkan saya mengajak kita semua pada beberapa langkah konkret yang bisa kita mulai pekan ini juga.
Pertama, bagi kita yang mempekerjakan orang lain — asisten rumah tangga, tukang, buruh harian, kurir, atau siapa pun — pastikan upah dibayarkan tepat waktu dan sesuai kesepakatan di awal. Jangan menunda tanpa alasan yang benar-benar mendesak, dan jangan mengurangi upah yang telah disepakati hanya karena kita merasa berkuasa atas keputusan itu.
Kedua, saat berhadapan dengan petugas pelayanan publik — petugas SPBU, kasir, satpam, petugas kebersihan — tahan amarah kita sekalipun kita merasa benar dalam sebuah perselisihan kecil. Sampaikan keberatan dengan cara yang baik, sebab mereka sedang menjalankan tugas yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Ketiga, sisihkan sebagian rezeki lapang yang kita miliki pekan ini untuk tetangga atau kerabat yang sedang terhimpit tekanan ekonomi, terutama dengan harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik.
Keempat, bagi yang memiliki kelebihan, dukunglah upaya penggalangan bantuan air bersih atau pencegahan kebakaran lahan di wilayah yang terdampak kekeringan dan karhutla, sekecil apa pun kontribusi itu.
Kelima, berhati-hatilah ketika kita ikut menyebarkan atau mengomentari kabar tentang upah dan penghasilan rakyat kecil di media sosial. Pastikan kita tidak ikut meremehkan beratnya kerja mereka hanya demi sebuah angka yang terdengar menarik.
Keenam, jangan lupa mendoakan petani, buruh, dan seluruh pekerja yang sedang berjuang pekan ini dalam sujud terakhir shalat kita — doa adalah bentuk kepedulian yang tidak pernah kehabisan ruang, betapa pun terbatas kemampuan kita membantu secara materi.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita renungkan sekali lagi apa yang telah kita bahas di khutbah pertama tadi: keadilan dalam Islam bukan konsep yang megah dan jauh, ia hadir dalam hal-hal yang tampak kecil — dalam angka di slip gaji, dalam ketepatan waktu pembayaran, dalam nada suara kita saat berbicara dengan petugas yang sedang bertugas. Betapa banyak dari kita yang fasih membicarakan keadilan dalam skala negara, namun lupa memeriksa apakah kita sendiri telah adil kepada orang yang bekerja untuk kita hari ini.
Renungkanlah pula bahwa kekeringan yang kita saksikan pekan ini — baik kekeringan hujan di ladang, maupun kekeringan keadilan dalam hasil kerja — sama-sama mengajarkan kita satu hal: nikmat Allah tidak pernah berhenti mengalir dari langit, yang sering terhenti justru keadilan kita dalam menyalurkannya di antara sesama manusia. Hujan yang Allah turunkan tidak pernah pilih kasih pada satu petak sawah dan mengabaikan petak yang lain; yang membuat hasilnya timpang adalah tangan-tangan manusia yang mengelolanya sesudahnya.
Jangan biarkan hati kita mengeras terhadap penderitaan yang tidak kita alami sendiri. Petani yang gagal panen, buruh yang belum menerima haknya secara penuh, petugas yang dipukul saat menjalankan tugas — mereka bukan sekadar berita yang lewat begitu saja di layar telepon kita. Mereka adalah saudara kita, yang menanti keadilan itu hadir bukan hanya dari kebijakan di atas sana, tapi dari perilaku kita sendiri di rumah, di kantor, dan di setiap transaksi kecil yang kita lakukan.
Semoga Allah menjadikan kita golongan yang menunaikan amanah, bukan golongan yang dilawan oleh Allah sendiri pada hari Kiamat sebagaimana disebutkan dalam hadits yang telah kita renungkan. Semoga Allah menurunkan hujan yang penuh barakah bagi ladang-ladang yang mengering, dan menumbuhkan keadilan yang penuh barakah bagi upah-upah yang masih tertahan.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْحِصَارَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ أَمْرِهِمْ فَرَجًا وَمَخْرَجًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَلْهِمْهُمُ الْعَدْلَ فِيْ تَوْزِيْعِ أَرْزَاقِ عِبَادِكَ وَحِمَايَةِ حُقُوْقِ الضُّعَفَاءِ مِنْهُمْ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ، وَأَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي الثِّمَارِ وَالزُّرُوعِ، وَارْفَعْ عَنَّا الْجَدْبَ وَالْقَحْطَ وَدُخَانَ الْحَرَائِقِ، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً رَخَاءً.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ كُلَّ مَنِ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا أَنْ يُوفِيَهُ أَجْرَهُ كَامِلًا غَيْرَ مَنْقُوصٍ، وَاحْفَظْ عَلَى الْعُمَّالِ وَالْفَلَّاحِيْنَ وَالصَّيَّادِيْنَ حُقُوْقَهُمْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْ سَعْيِهِمْ وَعَرَقِهِمْ. اللَّهُمَّ ارْحَمْ مَنْ ظُلِمَ مِنْ عِبَادِكَ وَهُوَ يُؤَدِّي وَاجِبَهُ وَخِدْمَتَهُ، وَاجْعَلْ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَعَافِ مَنِ ابْتُلِيَ بِأَذًى وَهُوَ يَقُوْمُ بِحَقِّ عَمَلِهِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُعَلِّمِيْنَ وَالْمُعَلِّمَاتِ، وَوَفِّقْهُمْ لِتَرْبِيَةِ الْأَجْيَالِ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ رِزْقِكَ سَعَةً وَاسْتِقْرَارًا. اللَّهُمَّ احْفَظْ كُلَّ مَنْ يَخْدُمُ النَّاسَ فِيْ عَمَلِهِ، وَلَيِّنْ قُلُوْبَنَا تُجَاهَهُمْ، وَجَنِّبْنَا الْغَضَبَ وَالْفَظَاظَةَ فِيْ مُعَامَلَتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مُعَلِّمِيْنَا وَمَنْ عَلَّمَنَا حَرْفًا، رَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
