بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini ramai kabar tentang seorang petugas pompa bensin yang dipukul hanya karena menegur soal puntung rokok yang dibuang sembarangan. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang melayani kita sehari-hari.
Pekan ini, ada satu kabar yang membuat saya berhenti sejenak sambil scroll: seorang petugas SPBU dipukul oleh orang yang tidak terima ditegur. Petugas itu sedang menjalankan tugasnya, menjaga keselamatan bersama di area yang mudah tersulut api — dan justru itu yang dibalas dengan kekerasan. Siapa di sini yang pernah merasa direndahkan saat sedang bekerja melayani orang lain? Rasanya menyakitkan, bukan? Ternyata Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan kita soal ini sejak lama, bahkan dengan bahasa yang sangat keras. Beliau bersabda — dalam sebuah hadits qudsi, di mana Allah Ta'ala sendiri yang berfirman melalui lisan beliau — tentang bagaimana Allah menempatkan diri-Nya sebagai pembela orang yang diperlakukan tidak adil dalam pekerjaannya.
وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "قال الله تعالى: ثلاثة أنا خصمهم يوم القيامة: رجل أعطى بي ثم غدر، ورجل باع حرًا فأكل ثمنه، ورجل استأجر أجيرًا، فاستوفى منه، ولم يعطه أجره" (رواه البخاري)
"Ada tiga golongan yang Aku menjadi lawan mereka pada hari Kiamat: orang yang bersumpah dengan nama-Ku lalu ia melanggarnya; orang yang menjual manusia yang merdeka sebagai hamba lalu memakan hasilnya; dan orang yang memperkerjakan seorang pekerja, telah mengambil seluruh hasil kerjanya, lalu tidak membayarkan upahnya." (Riyad as-Salihin 1587 — dalam hadits qudsi ini Allah Ta'ala berfirman melalui lisan Rasul-Nya ﷺ)
Coba perhatikan, jamaah, betapa seriusnya ini di mata Allah. Tiga golongan disebut di sini, dan satu di antaranya adalah orang yang mempekerjakan seseorang, mengambil penuh hasil kerjanya, tapi tidak membayar upahnya secara penuh. Allah sendiri yang menjadi lawannya di hari Kiamat — bukan sekadar dosa biasa yang bisa ditawar-tawar.
Kita sering pikir soal menghargai pekerja itu urusan perusahaan besar atau pemerintah. Padahal, jamaah, setiap dari kita — siapa pun yang pernah bayar tukang, bayar asisten rumah tangga, kasih tip ke kurir, atau sekadar berhadapan dengan kasir dan petugas SPBU — punya kesempatan untuk mempraktikkan atau justru melanggar prinsip ini setiap hari.
Pekan ini juga ramai soal klaim upah mengupas bawang yang katanya bisa tembus Rp700 ribu per kilogram. Saya tidak akan membahas angkanya betul atau tidak, tapi saya ingin ajak kita renungkan: kenapa kita begitu mudah percaya angka besar itu menggambarkan kerja yang ringan? Padahal siapa pun yang pernah mengupas bawang tahu, itu kerja yang bikin mata perih dan tangan pedih berjam-jam. Kita, tanpa sadar, kadang ikut meremehkan beratnya kerja rakyat kecil hanya karena angka di judul terdengar besar.
Dan soal petugas SPBU tadi — ini bukan cuma soal satu orang yang emosi sesaat. Ini soal bagaimana kita, secara umum, memperlakukan orang-orang yang posisinya "melayani" kita: petugas, pekerja, orang yang kita bayar untuk jasanya. Semakin kita anggap remeh posisi mereka, semakin gampang kita lupa bahwa mereka juga manusia yang punya hak untuk dihormati dan dibayar penuh.
Prinsip inilah yang menegaskan bahwa membayar upah bukan sekadar anjuran sopan-santun. Ini kewajiban yang menempatkan hak pekerja sejajar dengan amanah yang tidak boleh ditunda-tunda tanpa alasan yang benar-benar mendesak.
Jadi jamaah, mari kita ukur diri sendiri malam ini: apakah ada upah yang masih kita tahan? Apakah ada jasa orang lain yang belum kita hargai penuh, entah dengan uang atau dengan sekadar ucapan terima kasih yang tulus? Apakah kita pernah, sadar atau tidak, membentak petugas yang sedang menjalankan tugasnya hanya karena kita sedang kesal?
Kesimpulannya sederhana, jamaah: kelapangan rezeki yang kita nikmati hari ini tidak akan pernah terasa lengkap kalau di baliknya ada hak orang lain yang belum kita tunaikan. Mari pekan ini kita jadi orang yang lebih ringan tangan membayar penuh, lebih lembut menyapa petugas yang melayani kita, dan lebih peka pada beratnya kerja yang mungkin terlihat sepele di mata kita.
Ya Allah, jadikan kami golongan yang menunaikan amanah, bukan golongan yang Engkau lawan di hari Kiamat.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُوفِي بِالْعَهْدِ وَيُؤَدِّي الْأَمَانَةَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْزَاقِنَا وَأَرْزَاقِ مَنْ يَعْمَلُ مَعَنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
