Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPemerintahan & KebijakanKamis, 20 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Kursi Boleh Tinggi, Hisab Tetap Sama"

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita membuka khutbah pekan ini dengan satu ayat pendek namun berat timbangannya, dari surah yang kita baca berulang kali setiap hari dalam shalat kita:

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

"Yang menguasai di Hari Pembalasan." (QS. Al-Faatiha: 4)

Empat kata dalam bahasa Arab ini, hadirin sekalian, adalah salah satu pengakuan paling mendasar yang keluar dari lisan kita tanpa henti — bahwa ada satu Kekuasaan yang tidak pernah berpindah tangan, tidak pernah dilantik, tidak pernah diganti lewat pemilihan, dan tidak pernah tergoyahkan oleh popularitas: kekuasaan Allah 'azza wa jalla atas Hari Pembalasan. Ayat ini tidak berbicara tentang kekuasaan di dunia yang silih berganti; ia berbicara tentang kekuasaan yang menunggu di ujung seluruh kekuasaan dunia — hari ketika setiap kursi, setiap jabatan, setiap kewenangan yang pernah dipegang manusia, akan dipertanyakan kembali oleh Pemiliknya yang sesungguhnya.

Kita membuka khutbah dengan ayat ini karena pekan ini kita, sebagai umat, disuguhi banyak sekali pemandangan tentang kekuasaan dan kedudukan. Dari berita pekan ini kita ketahui bahwa rangkaian sidang tahunan kenegaraan tengah berlangsung, membahas rencana anggaran negara untuk tahun mendatang — sebuah dokumen yang menyangkut hidup ratusan juta orang, dari subsidi, gaji, hingga program-program yang menyentuh dapur rumah tangga. Namun yang justru ramai diperbincangkan publik bukan hanya isi rencana itu, melainkan pemandangan di sekitarnya: kabar yang sampai kepada kita tentang kendaraan-kendaraan mewah yang mengantar sebagian wakil rakyat menuju gedung sidang. Muncul pula sindiran getir yang beredar luas — bahwa rakyat sudah cukup "sejahtera" karena telah diwakili oleh pejabat dan anggota dewan yang hidup mewah. Sindiran ini pahit, hadirin, tetapi ia lahir dari kegelisahan yang jujur: ketika kekuasaan tampil lebih dekat dengan simbol kemewahan daripada dengan penderitaan rakyat yang diwakilinya, kepercayaan itu retak.

Pekan yang sama juga membawa kabar dari kalangan yang jauh lebih muda. Ramai diperbincangkan aksi mahasiswa yang turun ke jalan di kawasan Bundaran HI, membawa rangkaian tuntutan yang mereka namai sebagai upaya "merebut kemerdekaan" — sebuah frasa yang tajam, karena ia menyiratkan bahwa ada kemerdekaan yang mereka rasa belum sepenuhnya mereka miliki, delapan dekade lebih setelah proklamasi. Aksi itu berlangsung dan kemudian dinyatakan selesai oleh pihak kepolisian, massa membubarkan diri dengan tertib. Kita tidak perlu, hadirin, memihak pada tuntutan politik tertentu di mimbar ini — itu bukan wilayah kita sebagai jamaah yang beribadah bersama pekan ini. Tetapi kita perlu berhenti sejenak pada satu pertanyaan yang lebih dalam dari politik praktis: mengapa generasi muda kita merasa perlu turun ke jalan agar suaranya didengar? Adakah kanal-kanal yang semestinya mendengarkan mereka lebih awal, sebelum suara itu harus diteriakkan di tengah terik matahari?

Sejarah Islam sendiri mengenal banyak contoh di mana suara yang muda justru menjadi penentu arah yang besar. Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma dipercaya Rasulullah ﷺ memimpin pasukan pada usia yang sangat muda, sekalipun sempat muncul keberatan dari sebagian sahabat senior soal usianya — bukan karena Rasulullah ﷺ mengabaikan pengalaman, melainkan karena beliau melihat bahwa kelayakan tidak selalu berbanding lurus dengan usia. Kalau generasi terbaik umat ini saja mampu memberi ruang kepercayaan kepada yang muda, semestinya institusi zaman kita juga mampu belajar hal yang sama: usia muda bukan alasan sah untuk didengar belakangan.

Kabar lain yang sampai kepada kita pekan ini adalah tentang para guru — mereka yang telah lama mengabdi dengan status pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja, kini tengah menjalani proses alih status menjadi pegawai tetap. Bagi banyak dari mereka, ini adalah penantian bertahun-tahun: mengajar dengan sepenuh hati, tanpa kepastian penuh atas masa depan mereka sendiri. Dan kabar yang tak kalah menyentuh datang dari program pemberian makanan bergizi gratis untuk anak-anak sekolah — sebuah program dengan anggaran besar dan niat yang mulia, namun pekan ini kembali diwarnai laporan kasus keracunan dan keluhan tentang bagaimana dapur-dapur penyedia dikelola di lapangan.

Pekan ini juga diwarnai dinamika di tingkat organisasi keagamaan dan proses hukum yang tengah berjalan di lembaga penegak hukum negara. Kita tidak perlu membahas detail teknis dari proses-proses itu di mimbar ini, karena itu bukan wilayah kompetensi kita sebagai jamaah yang berkumpul untuk beribadah. Namun pola yang sama kembali terlihat: setiap kali sebuah lembaga — besar maupun kecil, keagamaan maupun negara — menghadapi ujian kepercayaan publik, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi lembaga itu, tetapi juga keyakinan masyarakat bahwa proses yang berjalan adil dan transparan bagi semua pihak.

Jamaah yang berbahagia, kabar-kabar ini — kendaraan mewah di tengah sidang anggaran, mahasiswa yang menuntut didengar, guru yang menanti kepastian, dan program gizi yang pelaksanaannya dipertanyakan — tampak seperti empat cerita yang terpisah. Tetapi bila kita renungkan dengan mata batin yang tenang, keempatnya bertemu pada satu titik yang sama: pertanyaan tentang amanah. Siapa yang dipercaya memegang kewenangan, siapa yang dipercaya mengelola anggaran, siapa yang dipercaya menyiapkan makanan untuk anak-anak kita — dan apakah kepercayaan itu dijaga sebagaimana mestinya? Pertanyaan ini tidak berhenti pada level negara. Ia turun sampai ke level masjid yang mengelola kas jamaah, sampai ke level keluarga yang mengelola rezeki bersama, sampai ke level pribadi yang mengelola waktu dan kesehatan yang dititipkan Allah kepada kita masing-masing.

Islam tidak pernah diam soal ini. Justru inilah salah satu tema paling sering diulang dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah ﷺ: bahwa kekuasaan dan harta yang dipegang manusia di dunia, pada hakikatnya, bukan milik pribadi yang bebas dikelola semaunya. Ia adalah titipan. Mari kita perdalam ini lewat beberapa dalil yang Allah dan Rasul-Nya wariskan kepada kita.

Dalam kitab fikih klasik Fath al-Qarib, para ulama menjelaskan tentang konsep al-fai' — harta yang menjadi hak bersama kaum muslimin, yang harus dibagikan kepada yang berhak menerimanya, bukan dinikmati sendiri oleh yang mengelolanya:

الْفَيْئُ لُغَةً مَأْخُوذٌ مِنْ فَاءَ إِذَا رَجَعَ، ثُمَّ اسْتُعْمِلَ فِي الْمَالِ الرَّاجِعِ مِنَ الْكُفَّارِ إِلَى الْمُسْلِمِينَ

"Al-fai' secara bahasa diambil dari kata fa'a yang berarti kembali, kemudian dipakai untuk harta yang kembali dari orang-orang kafir kepada kaum muslimin." (Fath al-Qarib — كتاب أحكام الجهاد / • الفيئ)

Ulama menjelaskan bahwa harta semacam ini — harta yang menjadi milik bersama umat, yang diperoleh tanpa perjuangan pribadi seseorang — wajib dibagi kepada yang berhak menerimanya, bukan dikuasai oleh siapa pun yang kebetulan memegang kendali atasnya. Prinsip ini, hadirin, adalah cikal-bakal dari apa yang kita kenal sekarang sebagai keuangan publik: anggaran negara, pajak, dan segala bentuk harta bersama umat bukan milik pribadi pejabat yang mengelolanya. Ia adalah amanah yang harus dikembalikan manfaatnya kepada yang berhak — rakyat kebanyakan, terutama yang lemah. Ketika sebuah rencana anggaran negara dibahas, semestinya yang terbayang di benak setiap pihak yang terlibat adalah wajah-wajah rakyat yang berhak atas harta itu, bukan kenyamanan pribadi yang bisa dibeli dari kewenangan yang dipegang sementara.

Praktik ini pernah dijalankan hidup-hidup oleh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ketika mendirikan Baitul Mal — lembaga perbendaharaan negara pertama dalam sejarah Islam. Umar mencatat setiap harta yang masuk dan menetapkan pembagian yang jelas untuk setiap golongan rakyat, tanpa membedakan kedudukan. Diriwayatkan bahwa ketika mengetahui putranya sendiri, Abdullah bin Umar, memperoleh keuntungan dagang dengan memanfaatkan fasilitas milik negara, Umar tidak segan memerintahkan agar keuntungan itu dikembalikan ke Baitul Mal — karena fasilitas itu adalah amanah seluruh umat, bukan hak istimewa keluarga penguasa. Bayangkan, jamaah, seandainya standar ini menjadi kebiasaan setiap orang yang diberi kewenangan mengelola harta bersama, betapa berbedanya suasana kepercayaan publik terhadap pengelolaan keuangan negara hari ini.

Prinsip yang sama berulang dalam pembahasan zakat. Dalam kitab yang sama, disebutkan tentang zakat dari hasil tambang dan harta karun:

يُخْرَجُ مِنْ مَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ رُبُعُ الْعُشْرِ فِي الْحَالِ

"Dari tambang emas dan perak dikeluarkan zakatnya seperempat dari sepersepuluh secara langsung, bila mencapai nisab." (Fath al-Qarib — كتاب أحكام الزكاة / • زكاة المعدن والركاز / • زكاة الفطر)

Coba renungkan, jamaah: bahkan kekayaan yang keluar dari perut bumi — logam, mineral, harta terpendam — dalam pandangan syariat tetap memiliki hak yang harus ditunaikan kepada masyarakat luas lewat zakat. Tidak ada satu jenis kekayaan pun, betapapun besar dan betapapun ia tampak sebagai "hasil kerja keras" segelintir pihak, yang lepas dari kewajiban berbagi. Ini adalah fondasi keadilan ekonomi yang Islam ajarkan empat belas abad lampau, jauh sebelum istilah tata kelola keuangan negara modern kita kenal hari ini: kekayaan besar membawa kewajiban besar untuk dibagikan, bukan wewenang besar untuk dinikmati sendiri.

Prinsip ini punya gema yang sangat dekat dengan keseharian bangsa kita. Indonesia adalah negeri yang kaya oleh hasil tambang dan kekayaan alam — dari emas, nikel, hingga batu bara — yang pengelolaannya menjadi bagian penting dari pembahasan anggaran negara setiap tahun. Ajaran zakat ma'din ini mengingatkan kita bahwa kekayaan alam sebuah negeri bukan sekadar aset yang diperebutkan segelintir pihak yang mendapat izin mengelolanya, melainkan amanah yang harus mengalir manfaatnya kepada rakyat banyak, terutama yang paling membutuhkan. Setiap kali kita mendengar pembahasan tentang penerimaan negara dari sumber daya alam, semestinya pertanyaan pertama yang muncul di benak kita bukan "siapa yang paling diuntungkan", melainkan "apakah hak rakyat sudah tersalur sebagaimana mestinya".

Lalu bagaimana dengan pemandangan kendaraan mewah yang menjadi sorotan pekan ini? Di sinilah kita perlu berbicara tentang penyakit hati yang oleh Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam kitab Bidayatul Hidayah, disebut sebagai salah satu dari tiga hal yang membinasakan:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Rasulullah ﷺ bersabda: "Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang kagum pada dirinya sendiri." (Bidayatul Hidayah — الرياء)

Imam al-Ghazali menjelaskan panjang lebar tentang riya' — yaitu beramal atau bersikap dengan tujuan dilihat dan dikagumi manusia, bukan karena Allah. Riya' dalam jabatan publik punya wajah yang sangat halus: seseorang bisa saja bekerja dengan rajin, tetapi motivasi utamanya adalah pencitraan, penampilan, dan pengakuan — bukan pelayanan yang tulus kepada rakyat yang diamanahkan kepadanya. Ketika kendaraan mewah, gaya hidup, dan simbol status menjadi lebih diperhatikan daripada substansi pelayanan, kita sedang menyaksikan riya' dalam bentuknya yang paling sistemik. Dan yang perlu kita ingat, jamaah, riya' bukan hanya penyakit pejabat. Riya' adalah penyakit hati yang bisa menjangkiti siapa saja di antara kita — dalam pekerjaan, dalam ibadah, bahkan dalam sedekah yang kita berikan. Pekan ini adalah pengingat bagi kita semua untuk memeriksa kembali: apakah kita bekerja dan beramal karena ingin dilihat, atau karena Allah semata?

Perhatikan, jamaah, bagaimana riya' ini sering menyamar dalam bentuk yang terlihat baik: peresmian yang megah dengan pita dipotong dan kamera berjejer, tetapi kualitas dan keberlanjutan program yang diresmikan justru diabaikan begitu sorotan kamera pergi. Riya' selalu punya ciri yang sama — ia mengutamakan momen yang terlihat di atas hasil yang sesungguhnya dirasakan penerima manfaatnya. Maka ukuran keberhasilan sebuah amanah, jamaah, bukan seberapa meriah ia diumumkan, melainkan seberapa jauh manfaatnya benar-benar sampai kepada yang membutuhkan, bahkan ketika tidak ada satu kamera pun yang merekam.

Dalil keempat yang ingin kita renungkan datang dari kitab Nashaihul Ibad, sebuah kumpulan nasihat yang disusun oleh Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Dalam bab yang membahas tentang pilihan-pilihan hidup seorang yang berakal, disebutkan riwayat dari sahabat Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:

حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَخْتَارَ سَبْعًا عَلَى سَبْعٍ: الْفَقْرَ عَلَى الْغِنَى، وَالذُّلَّ عَلَى الْعِزِّ، وَالتَّوَاضُعَ عَلَى الْكِبْرِ، وَالْجُوعَ عَلَى الشِّبَعِ، وَالْغَمَّ عَلَى السُّرُورِ، وَالدُّونَ عَلَى الْمُرْتَفِعِ، وَالْمَوْتَ عَلَى الْحَيَاةِ

"Hak atas orang yang berakal: memilih tujuh atas tujuh — fakir atas kaya, hina (di mata dunia) atas mulia, tawadhu' atas sombong, lapar atas kenyang, sedih atas gembira, rendah (kedudukan) atas tinggi, dan mati atas hidup." (Nashaihul Ibad — باب السباعي (2/2))

Nasihat ini, jamaah, bukan ajakan untuk membenci kekayaan atau menolak kedudukan — Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Ia adalah ajakan untuk meletakkan hati kita pada tempat yang benar: bahwa ketika dihadapkan pada pilihan antara tampil rendah hati atau tampil megah, antara memilih kesederhanaan atau memaksakan status, orang yang berakal akan memilih yang pertama. Bayangkan, hadirin, seandainya nasihat sederhana ini menjadi pegangan setiap orang yang diberi amanah kekuasaan — baik itu amanah besar di tingkat negara, maupun amanah kecil sebagai ketua RT, bendahara masjid, atau kepala rumah tangga. Betapa berbedanya suasana kepercayaan publik kita hari ini.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, mari kita bawa keempat dalil ini kembali ke konteks pekan ini. Sirah Nabi ﷺ dan para sahabat memberi kita teladan yang hidup tentang bagaimana amanah kekuasaan semestinya dipegang. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, ketika memegang kekuasaan sebagai pemimpin umat yang wilayahnya membentang luas, dikenal justru semakin sederhana gaya hidupnya. Beliau berkeliling malam sendirian memeriksa keadaan rakyatnya, memikul sendiri karung gandum untuk seorang ibu yang kelaparan, dan menangis ketika mendengar ada seekor keledai yang terperosok di jalan rusak di Irak karena khawatir dirinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas jalan yang tidak diperbaikinya. Ini bukan kisah dongeng, jamaah — ini adalah standar yang ditinggalkan generasi terbaik umat ini tentang bagaimana kekuasaan mestinya dipegang: dengan rasa takut yang mendalam kepada Hari Pembalasan, bukan dengan kenyamanan yang berlebihan atas kedudukan yang sementara.

Teladan yang sama juga terlihat pada sahabat Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu. Ketika diangkat menjadi gubernur di wilayah Mada'in — sebuah wilayah yang luas dan makmur — beliau tetap hidup sangat sederhana: menambal jubahnya sendiri, menganyam daun kurma untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan menolak fasilitas tambahan yang melebihi kebutuhan pokok seorang gubernur. Ketika ditanya mengapa tidak menikmati kelapangan yang sebetulnya halal baginya sebagai pejabat, beliau menjawab bahwa cukup baginya bekal seorang musafir, karena dunia hanyalah tempat persinggahan sementara menuju negeri akhirat.

Bagi kita yang bukan pejabat, bukan anggota dewan, dan bukan pemegang kekuasaan negara, pelajaran ini tetap relevan. Setiap dari kita memegang amanah dalam skala masing-masing: amanah sebagai orang tua, amanah sebagai pekerja yang dipercaya mengelola sesuatu, amanah sebagai pengurus organisasi kecil sekalipun. Pertanyaan "apakah aku menjalankan amanah ini karena Allah, atau karena ingin dilihat?" berlaku untuk kita semua, bukan hanya untuk mereka yang memegang kekuasaan besar.

Ada enam hal konkret yang bisa kita bawa pulang dari mimbar ini pekan ini.

Pertama, mari kita mulai dari diri sendiri: periksa kembali setiap amanah kecil yang kita pegang — di kantor, di rumah, di organisasi. Tanyakan pada diri sendiri malam ini, apakah amanah itu dijalankan dengan tulus, atau sekadar demi terlihat baik di mata atasan dan rekan kerja.

Kedua, jangan mudah larut dalam sinisme total terhadap kepemimpinan. Doakan pemimpin kita agar diberi hati yang lurus dan dijauhkan dari riya', karena doa adalah bagian dari ikhtiar kita sebagai rakyat yang tidak boleh kita tinggalkan hanya karena kecewa.

Ketiga, bagi yang memiliki kesempatan mendengar keluh-kesah generasi muda di sekitar kita — anak, keponakan, murid, atau adik tingkat — dengarkan dengan serius sebelum mereka merasa perlu berteriak lebih keras agar didengar. Sediakan waktu khusus pekan ini untuk duduk dan benar-benar mendengarkan, bukan sekadar menjawab sambil lalu di sela kesibukan.

Keempat, bagi yang terlibat mengelola amanah bersama, sekecil apa pun — kas masjid, dana arisan, uang RT — praktikkan keterbukaan sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sebagai respons ketika mulai dicurigai. Laporan yang terbuka sejak awal jauh lebih menenteramkan daripada penjelasan yang diberikan setelah kepercayaan sudah retak.

Kelima, ajarkan kepada anak-anak kita sejak dini bahwa kedudukan tinggi dan harta berlimpah bukan tanda kemuliaan di sisi Allah; takwa dan amanahlah yang menentukan derajat seseorang di sisi-Nya. Jadikan kisah kesederhanaan para sahabat sebagai dongeng pengantar tidur, bukan hanya kisah kepahlawanan di medan perang.

Keenam, jadikan kabar-kabar pekan ini — betapapun menyesakkan — sebagai bahan muhasabah pribadi, bukan sekadar bahan obrolan yang berlalu begitu saja setelah dibagikan ulang di media sosial. Setiap berita tentang amanah yang tergelincir semestinya memantulkan pertanyaan yang sama ke dalam diri kita sendiri: bagaimana dengan amanah yang sedang kita pegang saat ini?

Semoga Allah menjadikan kita golongan yang memegang amanah dengan lurus, dari amanah yang paling besar hingga yang paling kecil, dan semoga Allah melindungi kita dari kekaguman pada diri sendiri yang membutakan hati dari Hari Pembalasan yang pasti datang.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang berbahagia, mari kita pertegas kembali apa yang telah kita renungkan bersama. Kekuasaan, dalam bentuk apa pun ia hadir di dunia ini — jabatan negara, kursi organisasi, bahkan kewenangan kecil di rumah tangga — adalah pinjaman sementara dari Allah yang Maliki Yawmid-Din, Yang Menguasai Hari Pembalasan. Tidak ada satu kursi pun di dunia ini yang akan dibawa serta ke alam kubur. Yang akan dibawa hanyalah pertanggungjawaban atas bagaimana kursi itu digunakan.

Kita telah melihat pekan ini bagaimana publik begitu cepat menangkap kontras antara simbol kemewahan dan janji kesejahteraan. Ini semestinya menjadi cermin bagi kita semua — bukan hanya bagi yang berkuasa, tetapi juga bagi kita yang mengamati. Sebab hati yang mudah silau pada kemewahan orang lain, sesungguhnya sedang menyimpan benih yang sama: kekaguman berlebihan pada dunia. Marilah kita jaga hati kita agar tidak larut dalam kekaguman itu, dari arah mana pun ia datang.

Kita juga telah merenungkan bahwa generasi muda kita — mahasiswa yang menyuarakan aspirasi, guru yang menanti kepastian — adalah amanah yang Allah titipkan kepada bangsa ini untuk dijaga masa depannya. Mendengarkan mereka bukan tanda kelemahan sebuah institusi; justru itulah tanda kematangan sebuah institusi yang percaya diri.

Dan kita telah diingatkan bahwa program-program yang dirancang untuk kebaikan umat — seperti pemberian makanan bergizi untuk anak-anak — menuntut pengawalan yang serius pada setiap tahap pelaksanaannya, karena niat baik semata tidak pernah cukup tanpa ketelitian dalam menjalankannya.

Kita juga diingatkan bahwa lembaga apa pun — pemerintahan, organisasi keagamaan, maupun institusi penegak hukum — akan selalu diuji kepercayaan publiknya berulang kali, bukan hanya sekali di awal berdirinya. Tugas kita sebagai umat bukan untuk mencari kesalahan tanpa henti, tetapi untuk terus mendorong perbaikan dengan cara yang beradab, sambil menjaga hati kita sendiri dari sikap sinis yang berlebihan terhadap semua bentuk kepemimpinan.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah agar memperbaiki keadaan kita, keadaan pemimpin kita, dan keadaan umat ini secara keseluruhan.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْحِصَارَ، وَارْحَمْ ضُعَفَاءَهُمْ وَأَيْتَامَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِرَعِيَّتِهِمْ لَا نِقْمَةً عَلَيْهِمْ، وَبَاعِدْ قُلُوْبَهُمْ عَنِ الرِّيَاءِ وَحُبِّ الظُّهُوْرِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُعَلِّمِيْنَ وَالْمُعَلِّمَاتِ فِيْ بِلَادِنَا، وَاجْعَلْ عَاقِبَةَ أُمُوْرِهِمْ إِلَى خَيْرٍ، وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَحُسْنَ الْيَقِيْنِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا مِمَّا يَضُرُّهُمْ فِيْ طَعَامِهِمْ وَشَرَابِهِمْ، وَاجْعَلْ كُلَّ مَنْ يَتَوَلَّى أَمْرَهُمْ أَهْلًا لِلْأَمَانَةِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan