بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini media kita ramai oleh satu sindiran yang mungkin sempat membuat kita tersenyum getir: "alhamdulillah, rakyat sudah sejahtera — minimal sudah diwakili anggota dewan dan pejabatnya." Sindiran itu muncul tepat di tengah rangkaian sidang tahunan yang membahas rencana anggaran negara, saat kabar tentang kendaraan mewah yang mengantar sebagian wakil rakyat ramai jadi sorotan. Malam ini saya tidak ingin kita hanya sibuk menertawakan atau menggerutu soal itu. Saya ingin kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: seberapa sering kita sendiri silau pada kursi, harta, atau status orang lain — sampai lupa memeriksa hisab diri sendiri?
Ada satu ayat yang ingin saya bacakan, yang dikutip dalam kitab akidah Thalathat al-Ushul karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, sebagai dalil tentang kepastian hari kebangkitan:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. At-Taghabun: 7, sebagaimana dikutip dalam Thalathat al-Usul — ثلاثة الأصول / بسم الله الرحمن الرحيم)
Ayat ini sederhana tapi menohok, jamaah: apa pun yang kita kerjakan — termasuk apa yang kita katakan, apa yang kita sindirkan, apa yang kita iri-kan — akan diberitakan kembali kepada kita di hadapan Allah. Bukan hanya perbuatan pejabat yang akan dihisab. Perbuatan kita, isi hati kita, kata-kata sindiran yang kita ketik dan bagikan — semua itu juga sedang dicatat.
Coba kita amati sejenak apa yang sebenarnya terjadi dalam hati kita ketika melihat kabar tentang kemewahan orang lain. Ada dua kemungkinan reaksi. Yang pertama, kita marah karena melihat ketidakadilan yang nyata — dan ini wajar, bahkan bagian dari iman, karena Islam mengajarkan kita peduli pada keadilan. Tapi ada kemungkinan kedua yang lebih halus: kita sebenarnya iri, ingin berada di posisi itu, dan sindiran yang kita lontarkan sebetulnya menyembunyikan keinginan diam-diam untuk merasakan kemewahan yang sama seandainya kita ada di kursi itu. Yang kedua inilah yang perlu kita waspadai.
Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam kitab Bidayatul Hidayah, menceritakan sebuah perumpamaan yang menarik tentang penyakit hati semacam ini:
إِنَّ اللهَ كَرِيمٌ رَحِيمٌ وَلَهُ خَزَائِنُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
Digambarkan ada seseorang yang menginginkan harta, lalu meninggalkan pekerjaan halalnya — bertani, berdagang, berusaha — sambil berkata: "Allah itu Maha Pemurah, Dia punya perbendaharaan langit dan bumi, pasti akan diperlihatkan-Nya kepadaku sebagian simpanan itu tanpa perlu aku bekerja." (Bidayatul Hidayah — القول في معاصى القلب / الحسد) Imam al-Ghazali menyebut orang seperti ini pantas kita anggap bodoh — sebab menunggu keajaiban sambil menolak berusaha adalah bentuk penipuan diri sendiri. Tapi coba renungkan lagi: bukankah keinginan mendapat harta besar tanpa kerja keras yang sepadan — lewat jalan pintas, lewat "kenalan orang dalam", lewat cara yang tidak jujur — sesungguhnya berasal dari akar yang sama dengan perumpamaan ini? Hasrat untuk kaya secara instan, ditambah kekaguman pada mereka yang tampak sudah "berhasil" mendapatkannya, adalah pintu masuk yang sama bagi hati siapa pun — pejabat maupun rakyat biasa.
Pekan ini kita juga mendengar kabar yang lebih menyayat: program pemberian makanan bergizi untuk anak-anak sekolah, yang seharusnya jadi kabar baik, kembali diwarnai laporan kasus keracunan dan keluhan soal pengelolaan dapur penyedia di lapangan. Ini bukan sekadar berita — ini menyangkut anak-anak kita, keponakan kita, murid-murid ngaji kita. Amanah mengelola sesuatu yang menyangkut nyawa dan kesehatan anak-anak adalah amanah yang berat, dan kelalaian di dalamnya tidak boleh kita anggap remeh hanya karena "programnya niatnya baik."
Jamaah, hisab yang disebutkan dalam ayat tadi tidak pandang bulu. Ia berlaku untuk pejabat yang mengelola anggaran negara, untuk pengelola dapur yang menyiapkan makanan anak, dan untuk kita yang hanya duduk di rumah sambil menyindir di media sosial. Semua akan diberitakan kembali kepada kita. Maka daripada energi kita habis untuk menghakimi orang lain semata, mari sebagian energi itu kita pakai untuk memeriksa diri sendiri malam ini.
Ada yang bisa kita lakukan sebelum tidur malam ini. Pertama, periksa satu hal dalam hidup kita yang kita kejar dengan cara pintas — dan luruskan niatnya atau tinggalkan jika memang tidak halal. Kedua, kalau pekan ini kita ikut menyebarkan sindiran atau amarah di media sosial, tambahkan satu doa untuk perbaikan, bukan sekadar keluhan tanpa arah. Ketiga, kalau ada anak dalam pengasuhan kita yang menerima program bantuan makanan dari sekolah, tanyakan langsung kepada mereka malam ini bagaimana rasanya, jangan menunggu berita buruk baru bertanya.
Semoga Allah menjaga hati kita dari silau pada dunia milik orang lain, dan menjaga amanah kita masing-masing — sekecil apa pun itu — agar layak dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا مِنَ الْحَسَدِ وَالرِّيَاءِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ حُبِّ الدُّنْيَا وَطُوْلِ الْأَمَلِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَأَصْلِحْ قُلُوْبَنَا نَحْنُ قَبْلَ أَنْ نُصْلِحَ قُلُوْبَ غَيْرِنَا. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا وَبَارِكْ فِيْ رِزْقِهِمْ وَطَعَامِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
