Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 20 Agustus 2026

Kultum — "Jujur Dulu, Baru Pintar Kemudian"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kabar yang sampai ke kita tentang dunia pendidikan campur aduk rasanya. Ribuan guru berstatus PPPK tengah menanti proses alih status menjadi pegawai negeri sipil, sementara negara bersiap merekrut lagi ribuan guru baru untuk Sekolah Rakyat yang terus diperluas. Ada satu pertanyaan kecil yang ingin saya ajak renungkan malam ini: kenapa yang lama sering menanti paling panjang, sementara yang baru justru dibuka pintunya lebih dulu?

Saudara-saudara sekalian, coba kita ingat kembali pelajaran paling dasar yang kita — atau anak-anak kita — dapatkan ketika pertama kali belajar mengaji dulu, jauh sebelum kita tahu apa itu SK kepegawaian. Dalam nazham 'Aqidat al-'Awam — بيت 11-15 disenandungkan:

أَرْسَلَ أَنْبِيَا ذَوِيْ فَطَانَةْ * بِالصِّدْقِ وَالتَّبْلِيْغِ وَالْأَمَانَةْ

"Allah mengutus para nabi yang memiliki fathanah (kecerdasan), dengan sifat shidq (kejujuran), tabligh (menyampaikan), dan amanah."

Perhatikan urutannya, jamaah — dari empat sifat wajib itu, yang disebut lebih dulu bukan fathanah, bukan kecerdasan merancang kebijakan atau kecepatan birokrasi. Yang disebut lebih dulu adalah shidq: kejujuran, kesungguhan menepati apa yang sudah dijanjikan. Ini bukan kebetulan urutan dalam syair; ini pelajaran tentang prioritas.

Kita semua tahu ceritanya. Seorang guru honorer mengajar bertahun-tahun sebelum berstatus PPPK, lalu menanti bertahun-tahun lagi sebelum diangkat PNS. Ia terus mengajar, terus datang tepat waktu, terus menyiapkan pelajaran esok hari — sambil menunggu satu pengumuman yang tak kunjung pasti kapan datangnya. Di sisi lain, kabar rekrutmen guru baru untuk sekolah-sekolah yang baru dibuka justru bergerak dengan target dan tenggat yang jelas. Saya tidak sedang mengatakan yang satu salah dan yang satu benar — keduanya sama-sama dibutuhkan. Tapi ada kejanggalan yang wajar kita rasakan: kenapa amanah yang lama sering bergerak paling lambat, sementara program yang baru justru punya kecepatannya sendiri?

Yang menarik, jamaah, di pekan yang sama kita juga dengar kabar tentang program pemberian makan bergizi gratis di sekolah — niatnya baik, menjaga gizi anak-anak kita. Tapi sorotan soal anggaran dan beberapa kasus keracunan yang menyertainya mengingatkan kita bahwa niat baik saja belum cukup. Ada jarak antara kebijakan yang diumumkan di atas kertas dengan apa yang benar-benar dirasakan di dapur sekolah dan di meja makan anak-anak kita. Dua kabar ini — guru yang menanti dan program yang perlu terus dikawal — sebetulnya bicara tentang hal yang sama: shidq, kejujuran dan kesungguhan menepati apa yang telah dijanjikan, bukan sekadar kecerdasan merancang program di atas kertas.

Saya hampir saja terbawa sapaan mimbar Jumat tadi — jamaah sekalian, izinkan saya sampaikan satu hal yang menurut saya justru paling penting untuk kita renungkan malam ini. Kejujuran yang dimaksud syair tadi bukan cuma soal individu yang jujur atau bohong. Ia juga soal sebuah sistem, sebuah kebijakan, sebuah janji kelembagaan — apakah ia ditepati dengan sungguh-sungguh, atau hanya indah di atas kertas pengumuman. Guru yang sabar menanti bertahun-tahun sesungguhnya sedang mempertaruhkan kepercayaannya pada shidq negara: bahwa yang dijanjikan akan benar-benar datang, cepat atau lambat.

Coba renungkan ini pelan-pelan, jamaah. Kita, sebagai masyarakat, sering hanya menuntut kejujuran dari orang-orang kecil di sekitar kita — anak yang diminta jujur mengerjakan tugas, pedagang yang diminta jujur menimbang barang. Padahal kejujuran yang paling berat justru dipikul oleh yang punya kuasa menepati janji dalam skala besar: negara yang menjanjikan status, lembaga yang menjanjikan pengawasan mutu. Kalau kita jujur, sebetulnya bukan cuma guru dan orang tua yang sedang diuji pekan ini — kita semua, siapa pun yang pernah berjanji sesuatu kepada orang lain lalu menundanya tanpa alasan yang benar-benar mendesak, sedang menghadapi ujian shidq yang sama, hanya skalanya berbeda.

Yang sesungguhnya kita rindukan dari pekan ini bukan sekadar pengumuman kebijakan yang terdengar bagus. Yang kita rindukan adalah shidq — ketulusan yang membuat janji benar-benar ditepati, pengawasan benar-benar dijalankan, dan guru yang sabar menanti akhirnya merasa penantiannya berharga. Maka pekan ini, mari kita coba satu hal kecil: kalau kita punya janji yang tertunda kepada siapa pun — pasangan, anak, tetangga, rekan kerja — selesaikan atau setidaknya kabari kejelasannya malam ini juga, jangan dibiarkan menggantung seperti yang sering kita keluhkan dari sistem besar di luar sana.

Jamaah yang saya hormati, gelar dan status boleh menanti prosesnya. Tapi amanah dan kejujuran tidak boleh menanti — ia harus ditunaikan hari ini juga, sekecil apa pun bentuknya. Malam ini, sebelum kita pulang, mari titipkan doa untuk para guru yang masih menanti, dan untuk kita semua yang masih belajar menepati janji.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مُعَلِّمِيْنَا وَمُعَلِّمَاتِنَا، وَاجْبُرْ كَسْرَ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ طَالَ انْتِظَارُهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِزْقٍ حَلَالٍ وَاسِعٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

"Ya Allah, ampunilah kaum kami, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui" — sebagaimana disebutkan dalam Sahih al-Bukhari 3477, doa yang mengajarkan kita bersabar terhadap sistem dan orang-orang yang belum sempurna menunaikan amanahnya, tanpa kehilangan harapan bahwa perbaikan itu mungkin terjadi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan