الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبُيُوتَ سَكَنًا وَالْأَزْوَاجَ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
QS. At-Tahrim: 6 — "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini turun dengan satu perintah yang sangat sederhana bunyinya tapi berat pelaksanaannya: jagalah dirimu, dan jagalah keluargamu. Bukan jagalah dirimu saja, seolah keselamatan adalah proyek pribadi yang bisa diselesaikan sendirian di sudut kamar. Allah menyandingkan dua kata itu — anfusakum dan ahlikum, dirimu dan keluargamu — dalam satu perintah yang sama, seakan menegaskan bahwa keduanya tidak bisa dipisah. Rumah tangga, dalam pandangan ayat ini, bukan sekadar tempat berteduh dari hujan dan terik matahari. Rumah tangga adalah pos penjagaan yang dipercayakan Allah kepada kita, dan kita akan ditanya kelak apa yang kita lakukan di pos itu.
Kita menyebutnya pos penjagaan karena pekan-pekan seperti pekan ini menunjukkan dengan jelas bahwa tekanan tidak datang dari dalam rumah. Tekanan datang dari luar, lalu menyusup masuk lewat pintu yang paling kita anggap remeh: layar telepon di tangan, obrolan warung, judul berita yang lewat di linimasa. Pekan ini, dari berita yang sampai kepada kita, ramai diperbincangkan tentang ongkos sekolah — keluhan tentang biaya kuliah yang membuat sebagian anak muda kesulitan mendaftar ulang, sindiran tentang kampus yang halamannya penuh kendaraan anak sekolah, dan pengakuan jujur dari sebagian orang tua tentang kebiasaan berutang demi gaya hidup yang terus-menerus naik kelas. Ini bukan berita yang jauh dari kita. Ini berita yang, kalau kita jujur, mungkin sedang terjadi di ruang tengah rumah kita sendiri, dalam bentuk yang lebih kecil dan lebih diam.
Kita tentu tidak sedang membicarakan angka anggaran atau desain kurikulum — itu bukan wilayah mimbar ini. Yang perlu kita renungkan adalah bagaimana rumah tangga menghadapi tekanan itu. Ketika biaya pendidikan naik dan gaya hidup ikut naik bersamaan, banyak keluarga terjebak di tengah: merasa harus mengikuti standar yang ditunjukkan tetangga atau linimasa, sambil diam-diam kewalahan membayar kebutuhan yang sesungguhnya. Ini bukan aib yang perlu ditutup rapat-rapat sampai keluarga itu menanggungnya sendirian. Ini persoalan yang semestinya bisa dibicarakan terbuka antara suami istri, bahkan dengan keluarga besar atau tetangga terdekat, sebelum tekanan itu berubah menjadi utang yang mencekik atau pertengkaran yang sesungguhnya tidak perlu terjadi.
Pekan ini kita juga menyaksikan mahasiswa turun ke jalan, berkumpul di kawasan-kawasan pusat kota sebelum akhirnya membubarkan diri dengan tertib. Yang menarik perhatian kita bukan sekadar aksinya, tapi nada yang menyertainya — ada yang menahan tangis melihat adik-adik mereka berjuang, ada yang menyindir bahwa kemerdekaan yang baru saja kita peringati terasa belum genap dirasakan oleh generasi yang justru merasa terhimpit oleh sistemnya sendiri. Berdampingan dengan itu, ada pula suara yang lebih pelan — mahasiswa yang bertanya jujur pada diri sendiri, sudah di semester berapa mereka betul-betul menikmati bangku kuliah ini. Bagi rumah yang anaknya sedang berada di fase ini, pekan ini adalah pekan yang menuntut telinga yang lebih sabar, bukan nasihat yang lebih banyak.
Dan pekan ini, ruang digital kita juga ramai oleh dua percakapan yang sama-sama menyentuh sesuatu yang dulu kita anggap urusan pribadi. Satu, diskursus tentang orang yang berpindah keyakinan — masuk Islam atau meninggalkannya — kembali muncul di linimasa, sebagaimana ia berulang setiap kali keimanan seseorang menjadi bahan spekulasi banyak orang. Dua, kabar perpisahan sepasang figur publik menyebar cepat, memancing jutaan komentar yang menghakimi tanpa satu pun dari kita benar-benar berada di dalam rumah tangga yang sedang dibicarakan itu. Jamaah yang dirahmati Allah, kita tidak akan bicara tentang keputusan pribadi siapa pun pekan ini. Bukan tugas kita menghakimi rumah tangga orang lain, dan bukan pula tugas kita menilai perjalanan iman seseorang dari kejauhan layar. Yang akan kita bicarakan adalah rumah tangga kita sendiri — sebab justru di situlah ayat tadi menaruh tanggung jawab kita.
Empat rangkaian kabar ini — ongkos sekolah, kelelahan anak muda, diskursus keyakinan, dan gosip perceraian — tampak seperti empat topik yang tidak berhubungan. Tapi kalau kita renungkan dengan tenang, keempatnya adalah empat arah angin yang sama-sama bertiup ke satu tempat: rumah kita. Ayat tadi memerintahkan kita menjaga diri dan keluarga dari api — dan api pekan ini datang dalam wujud yang tidak selalu terlihat menyala. Ia datang sebagai tekanan biaya yang membuat suami-istri saling menyalahkan. Ia datang sebagai kelelahan anak yang tidak tersalurkan menjadi percakapan, hanya menjadi diam. Ia datang sebagai godaan untuk ikut menghakimi keimanan atau rumah tangga orang lain, padahal pekerjaan rumah kita sendiri belum selesai.
Jamaah yang dimuliakan Allah, ada satu hal yang membuat pekan-pekan seperti ini terasa lebih berat dibanding pekan-pekan sebelumnya: setiap rumah tangga sekarang punya jendela yang selalu terbuka ke seluruh dunia, dan dunia juga punya jendela yang selalu terbuka ke setiap rumah tangga. Dulu, urusan sekolah anak selesai dibicarakan di meja makan. Urusan rumah tangga selesai dibicarakan berdua di kamar. Urusan iman seseorang adalah urusan antara dia dengan Allah, yang paling jauh diketahui tetangga dekat. Hari ini, ketiganya bisa menjadi bahan obrolan jutaan orang yang tidak saling kenal, dalam hitungan jam. Ini bukan sekadar perubahan teknologi. Ini perubahan yang menuntut kita lebih waspada menjaga pos yang Allah percayakan kepada kita, sebab godaan untuk mengurus rumah tangga orang lain — sambil membiarkan rumah tangga sendiri berjalan tanpa perhatian — sekarang hanya berjarak satu ketukan jari.
Karena itu, khutbah pekan ini akan mengajak kita menengok kembali tiga pilar yang menjaga rumah tetap menjadi tempat berteduh, bukan tempat terbakar — dengan tiga dalil yang akan kita renungkan bersama.
Pilar pertama adalah fondasi rumah tangga itu sendiri. Allah berfirman:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
QS. Ar-Room: 21 — "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
Perhatikan kata yang dipakai Allah: litaskunu ilaiha — supaya kamu merasa tenteram kepadanya. Sakinah bukan sekadar tidak bertengkar. Sakinah adalah ketenangan yang harus diusahakan, bukan ketenangan yang datang sendiri lalu bertahan selamanya tanpa dirawat. Mawaddah dan rahmah — kasih dan sayang — disebut Allah sebagai sesuatu yang "dijadikan-Nya di antara kamu", artinya ini adalah anugerah, tapi anugerah yang perlu terus dijaga supaya tidak layu. Ketika ongkos hidup naik, ketika anak sedang dalam fase sulit, ketika linimasa penuh berita yang mengganggu pikiran — pada saat itulah sakinah paling mudah terkikis, justru karena kita sibuk menghadapi tekanan dari luar sampai lupa menjaga yang di dalam. Ayat ini mengingatkan kita: sebelum menyalahkan keadaan di luar rumah, periksa dulu apakah sakinah di dalam rumah masih dijaga dengan sengaja, atau sudah lama dibiarkan berjalan sendiri tanpa dirawat.
Kita mungkin bertanya, bagaimana cara merawat sakinah di tengah kesibukan pekan-pekan yang padat ini? Jawabannya sering kali sesederhana meluangkan waktu, bukan menyiapkan sesuatu yang besar. Sakinah dirawat lewat hal-hal kecil yang konsisten: menyapa dengan wajah yang teduh ketika pulang ke rumah meski hari itu berat, mendengarkan cerita pasangan sampai selesai tanpa buru-buru memotong dengan solusi, dan memilih diam sejenak ketika emosi sedang tinggi. Ayat tadi menyebut mawaddah dan rahmah sebagai tanda kekuasaan Allah yang perlu direnungkan — dan sesuatu yang direnungkan artinya sesuatu yang butuh perhatian sadar, bukan sesuatu yang berjalan otomatis dengan sendirinya.
Pilar kedua adalah ukuran keimanan yang paling jujur, yaitu akhlak kita kepada pasangan sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خُلقا، وخياركم خياركم لنسائهم"
Riyad as-Salihin 278 — Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya."
Jamaah yang dimuliakan Allah, hadits ini menaruh ukuran iman bukan di masjid, bukan di podium, bukan di kolom komentar media sosial — tapi di ruang tengah rumah kita, dalam cara kita bicara kepada istri kita ketika lelah, dalam cara kita menahan nada suara ketika kesal, dalam cara kita memilih diam sebentar sebelum berkata sesuatu yang menyakitkan. Pekan ini, ketika kabar perpisahan sepasang figur publik ramai dibicarakan dan begitu banyak orang merasa berhak menilai siapa yang salah di rumah tangga itu, hadits ini justru mengalihkan pandangan kita. Bukan ke rumah tangga orang lain yang tidak kita ketahui isinya, tapi ke rumah tangga kita sendiri yang justru bisa kita perbaiki hari ini juga. Kalau kita punya waktu untuk berkomentar tentang rumah tangga orang yang tidak kita kenal, tentu kita punya waktu yang jauh lebih berharga untuk memperbaiki akhlak kita sendiri kepada orang yang setiap malam tidur di sebelah kita.
Ukuran ini juga berlaku bagi kita sebagai istri, sebagai anak, sebagai siapa pun yang memiliki rumah tangga atau keluarga untuk dijaga — akhlak yang kita tunjukkan di rumah, kepada orang yang paling sering melihat sisi kita yang lelah dan tidak sempurna, adalah akhlak yang paling jujur mewakili iman kita. Lebih mudah bersikap sopan kepada orang asing di jalan daripada bersikap lembut kepada orang yang setiap hari melihat kita dalam keadaan paling biasa. Justru karena itulah Rasulullah ﷺ menjadikan akhlak di rumah sebagai ukuran, bukan akhlak di depan umum yang mudah dipoles.
Pilar ketiga, dan ini yang perlu kita tegaskan dengan jelas, adalah perintah Allah tentang cara kita memperlakukan istri — bahkan pada saat kita sedang tidak menyukai sesuatu darinya. Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا۟ ٱلنِّسَآءَ كَرْهًۭا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا۟ بِبَعْضِ مَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّآ أَن يَأْتِينَ بِفَٰحِشَةٍۢ مُّبَيِّنَةٍۢ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا
QS. An-Nisaa: 19 — "Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
Ma'asyiral muslimin, perhatikan baik-baik perintah di tengah ayat ini: wa 'aasyiruuhunna bil ma'ruf — bergaullah dengan mereka secara patut. Ini perintah yang berdiri sendiri, tidak bersyarat pada suasana hati kita. Bahkan ketika ayat ini bicara tentang saat suami tidak menyukai sesuatu dari istrinya, perintahnya tetap sama: bersabarlah, sebab boleh jadi di balik sesuatu yang tidak kita sukai itu Allah menitipkan kebaikan yang banyak. Ayat ini tidak pernah, dalam bentuk apa pun, menjadi izin untuk bersikap keras atau merendahkan. Justru sebaliknya — ayat ini turun untuk menutup pintu bagi siapa pun yang ingin menjadikan ketidaksukaan sesaat sebagai alasan untuk menyusahkan istrinya. Kalau ada pekan yang tepat untuk mengingat ayat ini, pekan ini adalah pekan itu — pekan ketika begitu banyak rumah tangga dibicarakan orang lain, dan kita perlu memastikan rumah tangga kita sendiri berjalan di atas kepatutan, bukan di atas kekerasan hati.
Perlu kita tegaskan sekali lagi, sebab ini penting: ayat ini adalah ayat tentang kelembutan, bukan ayat tentang kontrol. Bergaul secara patut berarti mendengarkan, memberi ruang, dan bersabar — bukan mendikte, meremehkan, atau membalas ketidaksukaan dengan sikap keras. Jika ada di antara kita yang pernah membaca ayat tentang perempuan lalu merasa itu memberi ruang untuk bersikap keras kepada istri, maka bacaan itu keliru dan bertentangan dengan maksud ayat ini sendiri. Yang Allah perintahkan justru sebaliknya: kesabaran dan kepatutan, terutama pada saat hati sedang tidak nyaman.
Tiga pilar ini — sakinah yang dirawat, akhlak yang diukur dari rumah, dan kepatutan yang tidak pernah gugur meski hati sedang kesal — adalah jawaban atas empat arah tekanan yang kita bicarakan tadi. Ongkos hidup boleh naik, anak boleh lelah, linimasa boleh riuh oleh diskursus keyakinan dan gosip perceraian orang lain — tapi rumah kita tidak harus ikut terbakar oleh semua itu, selama tiga pilar ini kita jaga dengan sengaja, bukan kita biarkan berjalan sendiri.
Jamaah yang dirahmati Allah, dari tiga renungan ini, ada beberapa langkah konkret yang bisa kita bawa pulang pekan ini. Pertama, luangkan satu waktu khusus bersama pasangan tanpa gawai di tangan, sekadar menanyakan kabar hatinya — bukan agenda rumah tangga, bukan keluhan, hanya menanyakan kabar. Kedua, sebelum menambah cicilan atau pembelian baru, duduklah bersama pasangan meninjau ulang mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang sekadar mengikuti tren, terutama yang berkaitan dengan biaya sekolah anak. Ketiga, jika ada anak atau kerabat yang berstatus mahasiswa dan terlihat lelah, dengarkan dulu keluhannya sampai selesai, sebelum kita buru-buru menasihati atau membandingkannya dengan generasi kita dulu. Keempat, jika muncul kabar tentang seseorang yang berpindah keyakinan, tahan diri dari komentar yang menghakimi di ruang publik; cukup doakan kebaikan baginya dalam diam. Kelima, jika membaca kabar perpisahan pasangan mana pun di layar kita, jadikan itu momen bercermin ke rumah sendiri, bukan bahan obrolan yang menghakimi mereka. Keenam, periksa satu kebiasaan kecil di rumah kita pekan ini — satu ucapan yang terlanjur kasar, satu momen abai kepada pasangan — dan perbaiki sebelum pekan ini berganti.
Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita sebagai sakan yang sesungguhnya — tempat kita pulang dan merasa tenteram, bukan tempat yang ikut terbakar oleh setiap angin yang bertiup dari luar.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang berbahagia, izinkan saya menegaskan kembali beberapa hal dari khutbah pertama, bukan sebagai ringkasan, tapi sebagai penekanan yang perlu kita bawa pulang dengan sungguh-sungguh.
Sakinah yang kita bicarakan tadi justru diuji paling keras bukan pada hari-hari biasa, tapi tepat pada pekan-pekan seperti pekan ini — ketika beban biaya terasa berat, ketika anak sedang lelah, ketika linimasa penuh berita yang menegangkan pikiran. Mudah bagi kita menjaga ketenangan rumah tangga saat semuanya baik-baik saja. Ujian yang sesungguhnya adalah menjaga ketenangan itu justru ketika keadaan di luar rumah sedang tidak tenang. Kalau pekan ini terasa berat bagi rumah tangga kita, itu bukan tanda kegagalan — itu justru momen paling tepat untuk membuktikan bahwa sakinah yang kita bangun bukan sakinah yang rapuh.
Kita juga perlu jujur pada diri sendiri soal kecenderungan menghakimi rumah tangga atau keimanan orang lain sambil membiarkan rumah tangga sendiri tidak terurus. Ini kecenderungan yang sangat manusiawi — lebih mudah melihat aib di rumah tetangga daripada di rumah sendiri, lebih mudah menilai keputusan iman orang lain daripada menyelesaikan keraguan iman sendiri. Semakin ramai suatu perkara dibicarakan orang banyak, semakin besar pula godaan untuk ikut bicara tanpa pernah menengok ke dalam. Padahal setiap kali kita menghabiskan energi menilai rumah tangga orang lain, energi itu tidak lagi tersisa untuk memperbaiki rumah tangga sendiri.
Kelembutan yang diperintahkan Allah kepada kita dalam memperlakukan pasangan bukanlah kelemahan. Kelembutan itu justru ibadah — sesuatu yang dicatat, sesuatu yang berpahala, sesuatu yang membentuk rumah tangga yang menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah kelak. Dalam pekan yang penuh diskursus dan penghakiman ini, menjadi rumah yang tenang dan lembut adalah bentuk dakwah yang paling senyap tapi paling nyata.
Dan bagi kita yang di rumahnya ada anak muda yang sedang lelah, ada anggota keluarga yang sedang menghadapi pertanyaan besar tentang keyakinan, atau ada kerabat yang sedang bergumul dengan tekanan hidup — jadilah rumah yang aman untuk mereka pulang. Bukan rumah yang menambah beban dengan nasihat yang berlebihan, tapi rumah yang menyediakan telinga dan pelukan lebih dulu sebelum kata-kata.
Semua ini pada akhirnya kembali ke satu pertanyaan yang perlu kita bawa pulang: ketika pekan berganti pekan, dan setiap pekan membawa kabar baru yang menekan dari luar, apakah rumah kita menjadi tempat yang lebih kokoh atau justru semakin rapuh? Jawabannya tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di luar sana — bukan oleh kebijakan, bukan oleh linimasa, bukan oleh apa yang orang lain bicarakan tentang keluarga siapa pun. Jawabannya ditentukan oleh apa yang sengaja kita jaga di dalam rumah, hari demi hari, meski tidak ada yang melihat dan tidak ada yang memuji.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْحِصَارَ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَأَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكَنًا وَمَوَدَّةً وَرَحْمَةً لَا نَارًا وَلَا عَذَابًا.
اَللّٰهُمَّ يَسِّرْ عَلَى كُلِّ أُسْرَةٍ تُثْقِلُهَا نَفَقَةُ التَّعْلِيْمِ وَضِيْقُ ذَاتِ الْيَدِ، وَارْزُقْهَا الْقَنَاعَةَ وَالسَّعَةَ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا الطُّلَّابَ، فَرِّجْ هَمَّهُمْ، وَاشْرَحْ صُدُوْرَهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لِوَالِدِيْهِمْ.
اَللّٰهُمَّ اهْدِ مَنْ ضَلَّ مِنَّا، وَثَبِّتْ مَنِ اهْتَدَى، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُوْلُ الْحَقَّ بِرِفْقٍ وَلَا يَقْسُو عَلَى خَلْقِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
