بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati riuhnya obrolan tentang biaya sekolah dan gaya hidup yang serba naik kelas, ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini — bukan pesan baru, tapi pesan lama yang sering kita lupakan tepat ketika kita paling membutuhkannya.
Siapa di sini yang pekan ini pernah merasa iri melihat unggahan orang lain yang tampak lebih mapan, lebih lengkap rumahnya, lebih lancar rezekinya? Saya kira hampir semua kita pernah. Dan siapa yang pekan ini juga mendengar atau bahkan mengalami sendiri kegelisahan soal biaya sekolah anak yang terus naik, sementara standar hidup di sekitar kita terasa terus mendaki? Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, sahabat Nabi yang dikenal luas ilmunya, pernah menyampaikan sebuah nasihat yang dicatat dalam kitab Nashaihul Ibad:
وعن بن عباس (رضي اهلل عنهما): حق على العاقل أن يختار سبعا على سبع: الفقر على الغني، والذل على العز، والتواضع على الكبر، والجوع على الشبع، والغم على السرور، والدون على المرتفع، والموت على الحياة.
Nashaihul Ibad — باب السباعي (2/2) — "Hak atas orang yang berakal: memilih tujuh atas tujuh — kefakiran atas kekayaan, kerendahan atas kemuliaan (di mata manusia), ketawadhuan atas kesombongan, lapar atas kenyang, kesedihan atas kegembiraan (yang melalaikan), kedudukan rendah atas kedudukan tinggi, dan kematian atas kehidupan (yang penuh maksiat)."
Ini bukan ajakan untuk mencari kemiskinan atau menolak rezeki yang Allah beri. Ini ajakan supaya hati kita tidak diperbudak oleh perbandingan — supaya ketika pilihan datang antara mengejar standar hidup yang terus naik atau merasa cukup dengan apa yang ada, hati kita sudah punya jawaban lebih dulu sebelum gengsi sempat bicara.
Pekan ini kita dengar keluhan tentang biaya kuliah yang membuat sebagian anak muda kesulitan mendaftar ulang. Kita juga dengar sindiran tentang kampus yang halamannya dipenuhi kendaraan pribadi anak-anak sekolah. Dan yang paling menohok, kita dengar pengakuan jujur dari sebagian orang tua sendiri — tentang kebiasaan berutang lewat kartu kredit demi gaya hidup yang terus mengejar standar tetangga atau linimasa. Tiga kabar ini, kalau kita susun berdampingan, menunjukkan satu pola yang sama: ongkos hidup naik bukan semata karena harga-harga naik, tapi juga karena standar yang kita kejar ikut naik bersamanya.
Rasulullah ﷺ sendiri, meski beliau adalah manusia paling mulia, justru paling keras menolak dipuji berlebihan atau dianggap istimewa secara materi. Dalam sebuah riwayat yang dicatat dalam Ash-Syama'il, Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya agar mereka tidak menyanjungnya secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani menyanjung berlebihan kepada Isa putra Maryam — sebab beliau hanyalah seorang hamba Allah. Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم mencatat pesan itu sebagai pengingat bahwa kemuliaan sejati tidak pernah butuh pengakuan berlebihan dari orang lain, apalagi butuh ditunjukkan lewat gaya hidup yang berlebihan.
Kita hidup di zaman ketika hampir semua yang kita punya bisa difoto dan dibandingkan. Rumah, kendaraan, sekolah anak, liburan — semuanya berpotensi menjadi bahan perbandingan yang diam-diam menekan kita untuk terus naik kelas, meski penghasilan kita tidak ikut naik secepat itu. Di sinilah tujuh-atas-tujuh yang disampaikan Ibnu 'Abbas tadi menemukan tempatnya. Bukan berarti kita berhenti bekerja keras atau berhenti berikhtiar memperbaiki taraf hidup. Tapi hati kita perlu punya rem — sebuah kesadaran bahwa kehormatan kita di hadapan Allah tidak ditentukan oleh seberapa mewah rumah kita, melainkan seberapa jujur dan tenang kita menjalani apa yang Allah titipkan.
Anak-anak kita, jamaah, sedang menonton bagaimana kita menyikapi tekanan ini. Kalau yang mereka lihat adalah orang tua yang gelisah mengejar standar orang lain sampai berutang, itulah yang akan mereka warisi sebagai cara memandang rezeki. Tapi kalau yang mereka lihat adalah orang tua yang tenang, bersyukur dengan apa yang ada, dan berani berkata "cukup" ketika memang harus cukup — itu juga yang akan mereka warisi, dan warisan itu jauh lebih berharga daripada barang apa pun yang bisa kita belikan untuk mereka.
Maka pulang dari sholat malam ini, ada tiga hal kecil yang bisa kita lakukan. Pertama, sebelum tidur malam ini, tuliskan atau sekadar renungkan satu pengeluaran pekan ini yang sebenarnya lebih didorong gengsi daripada kebutuhan — cukup disadari, tidak perlu dibagikan ke siapa pun. Kedua, kalau ada rencana pembelian atau cicilan baru untuk mengikuti standar orang lain, tunda dulu tiga hari, dan tanyakan pada diri sendiri apakah itu benar-benar dibutuhkan. Ketiga, katakan kepada anak-anak kita, dengan kata-kata sederhana, bahwa kehormatan keluarga kita tidak diukur dari apa yang terlihat orang lain — dan tunjukkan itu lewat cara kita hidup, bukan hanya lewat nasihat.
Semoga Allah melapangkan hati kita untuk merasa cukup, dan melindungi rumah tangga kita dari perbandingan yang melelahkan dan tidak pernah ada habisnya.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِعِيْنَ بِمَا رَزَقْتَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْ أَبْنَاءَنَا الْقَنَاعَةَ وَالْهِمَّةَ، وَجَنِّبْ بُيُوْتَنَا الدَّيْنَ وَالْحَسَدَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
