Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatTeknologi & AIKamis, 20 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Setiap Layar Kini Sebuah Majelis"

Khutbah Pertama

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, ada pekan-pekan yang menghadirkan satu kabar besar yang mengguncang, yang membuat kita berkumpul dan bertanya bersama: bagaimana sikap kita? Pekan ini bukan pekan seperti itu. Tidak ada satu peristiwa teknologi besar yang perlu kita bahas hari ini. Tetapi justru dalam kesunyian semacam ini, sesuatu yang lebih dekat dengan diri kita masing-masing menjadi lebih mudah terlihat: bukan apa yang terjadi di dunia, melainkan apa yang terjadi setiap kali kita membuka layar telepon di tangan kita.

Ada satu nasihat lama, dari kitab tentang adab menuntut dan mengajarkan ilmu, yang terasa seperti ditulis untuk kita hari ini, meski ditulis berabad-abad sebelum layar sentuh ada di dunia.

أَنْ يَصُوْنَ مَجْلِسَهُ عَنِ اللَّغَطِ، فَإِنَّ الْغَلَطَ تَحْتَ اللَّغَطِ، وَعَنْ رَفْعِ الْأَصْوَاتِ وَاخْتِلَافِ جِهَاتِ الْبَحْثِ

"Hendaklah ia menjaga majelisnya dari keributan, karena kesalahan tersembunyi di balik keributan, dan menjaganya dari suara-suara yang ditinggikan serta arah pembahasan yang berserakan." Ini adalah nasihat Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / السابع kepada siapa saja yang duduk dalam sebuah majelis ilmu, agar majelis itu tetap tenang, agar satu masalah diselesaikan dulu sebelum berpindah ke masalah lain, agar suara tidak ditinggikan hanya untuk menang berdebat. Jamaah yang dirahmati Allah, coba renungkan sejenak: bukankah gambaran itu persis menggambarkan grup WhatsApp kita, kolom komentar kita, linimasa kita? Setiap dari kita, tanpa sadar, sedang duduk di sebuah majelis yang sangat besar, setiap hari, sepanjang hari — hanya saja majelis itu sekarang berbentuk layar, dan jamaahnya adalah siapa saja yang membaca apa yang kita tulis.

Pekan ini, radar kabar dakwah tidak menangkap satu topik teknologi yang menonjol. Yang justru muncul adalah potongan-potongan kecil dari kehidupan digital kita yang biasa: keluhan tentang tetangga yang bersikap seakan semua miliknya murni hasil sendiri, sindiran tentang orang yang gemar merepotkan orang lain, curahan hati tentang kesenjangan pendapatan setelah membanding-bandingkan penghasilan. Ada juga cerita yang lebih menggelisahkan: sebuah akun pribadi yang tiba-tiba mengirim tautan judi online ke banyak kontak lama, tanpa sepengetahuan dan tanpa kehendak pemiliknya sendiri. Dan berdampingan dengan semua itu, obrolan tentang mualaf dan murtad kembali menghangat di media sosial, bergerak cepat dari satu klaim ke klaim lain, sering kali sebelum siapa pun sempat menelusuri dari mana klaim itu benar-benar berasal.

Ma'asyiral muslimin, coba perhatikan juga satu pola lain yang muncul pekan ini. Obrolan seputar mualaf dan murtad — soal siapa yang baru memeluk Islam, siapa yang dikabarkan meninggalkannya — kembali menghangat di media sosial, sering kali dibangun dari satu unggahan yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan asal-usulnya. Padahal status keimanan seseorang adalah perkara yang paling personal dan paling sensitif, bukan bahan perdebatan publik yang layak diramaikan tanpa kepastian. Di saat yang hampir bersamaan, peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang baru saja kita lewati, lengkap dengan pidato kenegaraan seputar rencana anggaran negara, juga hanya singgah sebentar di linimasa kita — ditonton sekilas, mungkin dibagikan sebagai rutinitas, sebelum perhatian kita berpindah lagi ke hal lain. Jamaah yang dirahmati Allah, perhatikan: bahkan momen-momen yang seharusnya mengundang renungan panjang tentang bangsa dan amanah bernegara pun, hari ini, hanya mendapat perhatian sepintas sebelum jempol kita bergerak ke unggahan berikutnya.

Jamaah yang berbahagia, empat hal kecil ini — keluhan personal yang menyebar, identitas digital yang bisa dipakai tanpa izin, klaim tentang keimanan seseorang yang beredar tanpa verifikasi, dan momen kenegaraan yang lewat tanpa direnungkan — sebenarnya sedang menunjuk pada satu persoalan yang sama: di majelis besar bernama internet ini, kita jauh lebih cepat berbicara, membagikan, dan menilai daripada kita berhenti untuk memeriksa. Dan agama kita, jauh sebelum ada istilah "media sosial", sudah punya jawaban yang sangat rinci untuk persoalan ini.

Mari kita dalami satu prinsip lagi, kali ini tentang bagaimana seharusnya kita mendengar sebelum menilai. Dalam kitab yang sama, disebutkan adab seorang alim ketika mendengar pertanyaan atau pendapat orang lain.

أَنْ يُلَازِمَ الْإِنْصَافَ فِيْ بَحْثِهِ وَخِطَابِهِ، وَيَسْمَعَ السُّؤَالَ مِنْ مَوْرِدِهِ عَلٰى وَجْهِهِ

"Hendaklah ia senantiasa bersikap adil dalam pembahasan dan ucapannya, serta mendengarkan pertanyaan dari sumbernya sebagaimana adanya." Inshaf — sikap adil dalam mendengar — adalah kebalikan dari kebiasaan yang mudah sekali kita jumpai hari ini: membaca judul saja lalu langsung berkomentar, melihat potongan video berdurasi lima belas detik lalu merasa sudah memahami keseluruhan cerita, membaca satu kalimat yang dipotong dari konteksnya lalu ikut marah bersama orang banyak. Inshaf meminta kita melakukan sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar diam: mendengar utuh, memahami dari sumbernya, baru kemudian berbicara. Inilah yang di dalam ilmu agama kita kenal dengan semangat tabayyun — memeriksa dan memastikan sebelum meyakini, apalagi sebelum menyebarkan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, tabayyun bukan sekadar anjuran administratif. Ia adalah bentuk kehati-hatian yang menyelamatkan kita dari tiga kerugian sekaligus: kerugian bagi diri sendiri karena ikut menyebarkan sesuatu yang keliru, kerugian bagi orang yang mungkin difitnah oleh klaim yang belum tentu benar, dan kerugian bagi kepercayaan sesama Muslim yang perlahan terkikis setiap kali kabar palsu terlanjur menyebar sebelum diluruskan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, Al-Qur'an sendiri pernah menegur generasi sahabat karena hampir saja bertindak gegabah menanggapi sebuah kabar yang dibawa oleh satu orang saja, sebelum akhirnya turun perintah tegas untuk selalu memeriksa dan memastikan setiap berita yang datang. Kejadian itu terjadi di masa ketika kabar hanya bisa disampaikan dari mulut ke mulut, satu orang ke orang lain, dengan kecepatan yang sangat terbatas. Jika generasi terbaik umat ini saja ditegur Allah karena nyaris gegabah dalam kondisi yang serba lambat itu, bagaimana dengan kita, yang setiap hari dibanjiri ratusan kabar dalam hitungan detik, dari sumber yang bahkan tidak pernah kita kenal wajahnya? Teguran itu semestinya terasa jauh lebih relevan bagi kita hari ini dibanding bagi mereka yang pertama kali menerimanya.

Kita hidup di zaman ketika satu jari bisa menyebarkan sesuatu ke ribuan orang dalam hitungan detik — kecepatan yang tidak dimiliki generasi mana pun sebelum kita. Kecepatan ini adalah nikmat sekaligus ujian. Dipakai dengan hati-hati, ia menjadi sarana dakwah yang luar biasa. Dipakai tanpa kehati-hatian, ia menjadi mesin penyebar fitnah yang jauh lebih cepat daripada mesin fitnah di zaman mana pun.

Setelah berbicara tentang mendengar, izinkan saya membawa jamaah kepada persoalan yang lebih personal: bagaimana lisan kita — atau di zaman ini, jari-jari kita — memperlakukan aib dan kesalahan orang lain. Dalam kitab Bidayatul Hidayah, ada pembahasan yang sangat dalam tentang ghibah, tentang bagaimana seharusnya kita bersikap ketika mendengar kesalahan atau kekurangan seseorang.

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا

"Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang telah mati?" — sebuah pertanyaan retoris dari Al-Qur'an yang dibawakan dalam pembahasan ini, yang jawabannya sudah pasti: tentu saja tidak ada yang menyukainya, bahkan membayangkannya saja membuat kita jijik. Namun Bidayatul Hidayah mengingatkan bahwa itulah persis yang terjadi ketika kita membicarakan kekurangan seseorang di belakangnya — mengunyah kehormatannya seperti mengunyah daging yang tak berdaya membela diri. Kitab ini bahkan memberi jalan keluar yang indah: jika ucapan "semoga Allah memperbaikinya" yang kita lontarkan tentang kesalahan seseorang benar-benar dimaksudkan sebagai doa, maka doakanlah ia di dalam kesunyian, bukan di hadapan orang banyak. Dan jika kita benar-benar sedih atas kekurangannya, tandanya adalah kita tidak menampakkan kesedihan itu kepada orang lain — karena menampakkan kesedihan atas aib seseorang, pada hakikatnya, adalah cara lain untuk membongkar aib itu juga.

Jamaah yang dimuliakan Allah, bayangkan berapa banyak tangkapan layar percakapan pribadi yang tersebar setiap hari, berapa banyak video yang merekam kesalahan seseorang lalu dibagikan ulang dengan komentar yang menghakimi, berapa banyak grup keluarga dan grup alumni yang isinya adalah membicarakan siapa yang baru bercerai, siapa yang baru bangkrut, siapa yang baru ketahuan melakukan kesalahan. Lisan kita hari ini punya bentuk baru: jari yang mengetik, jempol yang menekan tombol teruskan, jari yang menempelkan emoji tertawa di bawah kemalangan orang lain. Bentuknya berubah, tetapi hukumnya tidak berubah sedikit pun. Ghibah yang diketik sama beratnya dengan ghibah yang diucapkan — bahkan bisa lebih berat, karena jejaknya tidak hilang begitu saja, tersimpan, bisa dibuka lagi bertahun-tahun kemudian.

Jamaah yang dimuliakan Allah, coba kaitkan ini dengan pola yang saya sebutkan di awal, tentang obrolan mualaf dan murtad yang menghangat pekan ini. Ketika status keimanan seseorang dijadikan bahan perbincangan publik tanpa kepastian, itu bukan sekadar ghibah biasa — itu ghibah yang menyentuh perkara paling dalam dari kehormatan seseorang, yaitu hubungannya dengan Allah, yang sesungguhnya hanya diketahui pasti oleh orang itu sendiri dan Allah semata. Menjaga agama bukan hanya soal menjaga akidah diri sendiri, tetapi juga soal menjaga agar akidah dan pilihan keimanan orang lain tidak dijadikan tontonan dan bahan penghakiman ramai-ramai. Ini termasuk bagian dari amanah kita menjaga ruang digital agar tidak menjadi tempat yang kejam bagi siapa pun yang sedang bergulat dengan keyakinannya sendiri.

Ada satu lagi yang ingin saya sampaikan sebelum kita menutup bagian ini, tentang sesuatu yang paling mudah kita lupakan padahal paling tidak tergantikan: waktu kita. Masih dari kitab yang sama tentang adab menuntut ilmu, ada nasihat untuk anak muda yang sangat relevan bagi kita yang setiap hari menghabiskan berjam-jam menatap layar.

أَنْ يُبَادِرَ شَبَابَهُ وَأَوْقَاتَ عُمْرِهِ إِلَى التَّحْصِيْلِ، وَلَا يَغْتَرَّ بِخُدَعِ التَّسْوِيْفِ وَالتَّأْمِيْلِ، فَإِنَّ كُلَّ سَاعَةٍ تَمْضِيْ مِنْ عُمْرِهِ لَا بَدَلَ لَهَا وَلَا عِوَضَ عَنْهَا

"Hendaklah ia bersegera memanfaatkan masa muda dan waktu-waktu umurnya untuk meraih kebaikan, dan janganlah tertipu oleh tipu daya menunda-nunda dan berangan-angan panjang, karena setiap jam yang berlalu dari umurnya tidak ada penggantinya dan tidak ada tebusannya." Coba jamaah hitung sendiri, dalam hati masing-masing, berapa jam pekan ini dihabiskan untuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas. Bukan untuk mengecam kebiasaan itu sepenuhnya — melihat kabar keluarga, membaca sesuatu yang bermanfaat, beristirahat sejenak dari kelelahan, semua itu wajar. Tetapi nasihat ini mengingatkan kita pada satu kebenaran yang sederhana dan tidak terbantahkan: jam yang sudah lewat tidak akan pernah kembali, apa pun yang kita lakukan dengannya. Waktu yang kita berikan kepada layar adalah waktu yang sama yang bisa kita berikan kepada anak yang menunggu diajak bicara, kepada orang tua yang menunggu telepon, kepada Al-Qur'an yang menunggu dibaca, kepada tidur yang menunggu untuk memulihkan tubuh kita.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, empat nasihat yang telah kita renungkan bersama — menjaga majelis dari keributan, mendengar dengan adil sebelum menilai, menjaga lisan dari menggunjing, dan menghargai waktu yang tidak tergantikan — sebenarnya adalah satu ajaran yang sama, dilihat dari empat sisi berbeda. Islam mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang hati-hati: hati-hati dalam mendengar, hati-hati dalam berbicara, hati-hati dalam menggunakan waktu. Di zaman ketika kabar bergerak secepat kedipan mata, kehati-hatian ini bukan sikap yang ketinggalan zaman — justru inilah yang paling dibutuhkan zaman ini.

Jamaah yang dimuliakan Allah, ada yang mungkin bertanya dalam hati: apakah semua ini terlalu berlebihan? Bukankah ini hanya soal forward pesan, hanya soal komentar di media sosial, hal-hal kecil yang rasanya jauh dari dosa besar? Justru di situlah letak ujiannya. Islam mengajarkan kita bahwa dosa yang paling berbahaya bukan selalu dosa besar yang jelas terlihat, melainkan dosa-dosa kecil yang dianggap remeh, dilakukan berulang-ulang, sampai hati kita menjadi terbiasa dan tidak lagi merasa bersalah. Satu kali forward pesan yang belum diperiksa mungkin terasa sepele. Tapi kalau itu menjadi kebiasaan setiap hari, bertahun-tahun, coba bayangkan berapa banyak fitnah kecil yang sudah ikut kita sebarkan tanpa pernah benar-benar kita hitung. Satu kali membicarakan kesalahan orang di grup mungkin terasa wajar. Tapi kalau itu menjadi pola setiap kali ada bahan obrolan baru, coba bayangkan berapa banyak kehormatan orang lain yang sudah ikut kita cederai tanpa pernah kita sesali. Inilah gunanya kita berkumpul setiap Jumat: bukan untuk mendengar hal-hal baru yang mengejutkan, melainkan untuk diingatkan kembali pada hal-hal yang sebenarnya sudah kita ketahui, tapi mudah kita lupakan dalam kesibukan sehari-hari.

Maka izinkan saya menutup bagian pertama khutbah ini dengan beberapa ajakan praktis yang bisa kita bawa pulang hari ini juga. Pertama, sebelum meneruskan pesan atau tangkapan layar apa pun, biasakan diri bertanya: sudahkah saya memastikan ini benar? Kedua, ketika mendengar kabar tentang kesalahan seseorang, pilih diam dan mendoakan daripada ikut menyebarkan. Ketiga, luangkan waktu sejenak setiap malam untuk memeriksa berapa jam hari ini dihabiskan di layar, lalu perbaiki sedikit demi sedikit esok hari. Keempat, jika kita memiliki grup keluarga, grup RT, atau grup pengajian, jadilah orang yang menenangkan ketika obrolan mulai memanas, bukan yang menambah keributan. Kelima, sebelum membagikan sesuatu yang berkaitan dengan agama — apalagi soal keimanan seseorang — pastikan dulu sumbernya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Keenam, jadikan satu waktu setiap hari, walau hanya sepuluh menit, sebagai waktu tanpa layar sama sekali — untuk berzikir, untuk berbincang dengan keluarga, atau sekadar untuk diam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jumat yang berbahagia, izinkan saya menegaskan kembali beberapa hal yang telah kita renungkan bersama di khutbah pertama, karena hal-hal ini terlalu mudah menguap begitu kita melangkah keluar dari masjid dan kembali menggenggam telepon masing-masing.

Pertama, tentang tabayyun. Kita perlu jujur mengakui bahwa memeriksa dulu sebelum percaya itu terasa lebih lambat, lebih merepotkan, dan kadang terasa kurang seru dibanding langsung ikut membagikan sesuatu yang sedang ramai. Tetapi keimanan yang benar tidak pernah diukur dari kecepatan kita bereaksi, melainkan dari ketelitian kita menjaga amanah kebenaran. Setiap kali kita menahan diri sejenak untuk memastikan sebelum berbicara, sesungguhnya kita sedang menunaikan sebagian dari amanah itu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat atau memuji keputusan kita menahan diri tersebut.

Kedua, tentang lisan yang kini berbentuk ketikan. Ucapan yang terlontar di masa lalu, sekeras apa pun, biasanya menghilang begitu suara berhenti bergema. Tulisan yang kita kirim hari ini tidak seperti itu — ia tersimpan, bisa disalin, bisa dibuka kembali bertahun-tahun kemudian, bisa menjangkau orang yang bahkan tidak pernah kita bayangkan akan membacanya. Ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati, bukan lebih longgar. Kehormatan saudara kita yang kita jaga hari ini adalah kehormatan yang sama yang akan ditanya kepada kita di hadapan Allah kelak.

Ketiga, tentang waktu. Generasi sebelum kita tidak pernah menghadapi godaan sebesar yang kita hadapi hari ini — sebuah layar kecil yang mampu memberi hiburan tanpa akhir, kapan saja kita mau. Ini bukan alasan untuk merasa lebih berat bebannya dibanding generasi terdahulu, melainkan pengingat bahwa pertanggungjawaban kita mungkin justru lebih rinci: bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan dengan waktu kita, tetapi juga tentang apa yang sengaja kita biarkan mencuri waktu kita tanpa kita sadari.

Jamaah yang dirahmati Allah, semoga apa yang kita renungkan hari ini bukan sekadar bahan diskusi yang selesai begitu khutbah berakhir, melainkan menjadi kebiasaan kecil yang kita bawa pulang: berhenti sejenak sebelum berbicara, sebelum menyebarkan, dan sebelum membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Marilah kita tutup pertemuan yang penuh berkah ini dengan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْحِصَارَ. وَعَنْ إِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ يُكَابِدُوْنَ مَشَقَّةَ الْجَفَافِ وَالْجَوِّ الْقَاسِيْ فِيْ أَرْضِ وَطَنِنَا، اللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْهِمُ الْغَيْثَ وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَالْفَرَجَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا وَأَنَامِلَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ، وَطَهِّرْهَا مِنَ الْغِيْبَةِ وَالنَّمِيْمَةِ وَالْكَذِبِ، وَاجْعَلْ مَا نَكْتُبُهُ وَمَا نَنْشُرُهُ خَيْرًا يُرْضِيْكَ لَا شَرًّا يُسْخِطُكَ.

اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا التَّثَبُّتَ قَبْلَ الْقَوْلِ، وَالتَّبَيُّنَ قَبْلَ النَّقْلِ، وَاحْفَظْ أَوْقَاتَنَا مِمَّا لَا يَنْفَعُنَا فِيْ دُنْيَانَا وَآخِرَتِنَا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاحْفَظْهُمْ مِمَّا يَضُرُّهُمْ فِيْ دِيْنِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan