Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumTeknologi & AIKamis, 20 Agustus 2026

Kultum — "Lisan yang Berpindah ke Ujung Jari"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini radar dakwah kita tidak menangkap satu kabar besar soal teknologi. Yang justru terekam adalah hal-hal kecil: keluhan tentang tetangga yang bersikap seolah semua miliknya hasil sendiri, dan obrolan yang gampang memanas soal standar minimal dalam bergaul. Dari hal kecil semacam itu, ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini.

Coba jujur pada diri sendiri: berapa kali jempol kita lebih cepat bergerak untuk membalas komentar yang menyebalkan, dibanding hati kita sempat berpikir tentang akibatnya? Kita hidup di zaman ketika membalas dengan kata-kata tajam terasa begitu mudah — tidak perlu bertatap muka, tidak perlu melihat wajah lawan bicara berubah sedih atau marah, cukup ketik, kirim, selesai. Rasanya menang. Tapi benarkah begitu?

مُعَامَلَةُ النَّاسِ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ مِنْ طَلَاقَةِ الْوَجْهِ، وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ وَإِطْعَامِ الطَّعَامِ، وَكَظْمِ الْغَيْظِ، وَكَفِّ الْأَذَى عَنِ النَّاسِ…

Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / الثامن / التاسع disebutkan bahwa memperlakukan manusia dengan akhlak yang mulia itu mencakup banyak hal, di antaranya: wajah yang berseri, menyebarkan salam, memberi makan, menahan amarah, dan menahan diri dari menyakiti orang lain. Lima hal ini saja kedengarannya sederhana, hampir seperti nasihat untuk anak kecil. Tapi coba terapkan pada diri kita sendiri malam ini, tepat pada layar telepon di saku kita masing-masing — jauh lebih sulit daripada kedengarannya.

Menahan amarah, kazhmul ghaizh, di zaman Nabi ﷺ mungkin diuji ketika seseorang dihina di pasar, atau diperlakukan tidak adil oleh tetangga. Hari ini, ujian itu paling sering muncul di kolom komentar, di grup keluarga, di balasan sebuah unggahan yang menyinggung. Bedanya, dulu amarah butuh waktu untuk sampai ke mulut. Sekarang, jempol lebih cepat daripada pikiran — komentar tajam bisa terkirim dalam tiga detik, sebelum sempat kita renungkan apakah itu benar-benar perlu dikatakan.

Rasulullah ﷺ sendiri memberi kita contoh yang sangat konkret soal ini. Ada satu doa singkat yang pernah beliau ucapkan justru pada saat beliau disakiti oleh kaumnya sendiri.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Bayangkan, jamaah — di saat beliau punya alasan penuh untuk marah, yang keluar dari lisan beliau justru permohonan ampun untuk orang yang menyakitinya, dengan alasan yang begitu pemaaf: mereka hanya belum tahu. Coba kita bandingkan dengan kebiasaan kita hari ini, ketika seseorang berkomentar tidak enak di unggahan kita, dan yang muncul di kepala bukan "mungkin dia belum paham duduk perkaranya", melainkan "harus saya balas biar dia kapok". Padahal, sering kali orang yang berkomentar kasar itu memang benar-benar tidak tahu — tidak tahu konteksnya, tidak tahu perasaan kita, tidak tahu bahwa kata-katanya menyakitkan.

Pekan ini saya membaca ada obrolan yang riuh soal apa saja yang dianggap "usaha minimal" dalam berhubungan dengan orang lain — semacam perdebatan tentang standar yang seharusnya dipenuhi seseorang. Menariknya, perdebatan tentang standar itu sendiri sering berubah menjadi ajang saling menyerang, jauh dari semangat mencari kebenaran bersama. Ada juga keluhan tentang orang yang gemar merepotkan orang lain, yang dibalas dengan sindiran, bukan dengan kesabaran. Pola ini sangat manusiawi — kita semua pernah merasa gemas, pernah merasa ingin membalas — tapi pola ini juga persis yang diperingatkan dalam nasihat tadi: kita dianjurkan menahan amarah dan menahan diri dari menyakiti, bukan karena kita tidak boleh punya perasaan, tapi karena membalas dengan sengit jarang sekali menyelesaikan apa pun.

Saudara-saudara, coba kita renungkan: setiap kali kita menahan diri dari membalas komentar yang menyakitkan, sesungguhnya kita sedang melatih otot yang sama yang dipakai orang-orang saleh terdahulu untuk menahan amarah yang jauh lebih berat daripada sekadar komentar di layar. Ini bukan perkara kecil. Justru karena tidak terlihat oleh siapa pun — tidak ada yang tahu berapa banyak balasan pedas yang kita batalkan sebelum terkirim — amal ini menjadi salah satu amal yang paling murni, karena hanya Allah yang menyaksikannya.

Menariknya, menahan amarah ini bukan berarti kita jadi orang yang tidak punya sikap, atau membiarkan kesalahan terus dibiarkan begitu saja. Ada beda antara diam karena pengecut dan diam karena memilih waktu serta cara yang lebih baik untuk menyampaikan sesuatu. Kalau memang ada yang perlu diluruskan, sampaikan baik-baik lewat pesan pribadi, bukan lewat balasan publik yang dipenuhi emosi. Rasulullah ﷺ juga tidak selalu diam — beliau tetap menegur kesalahan, hanya saja dengan cara yang menjaga kehormatan orang yang ditegur, bukan mempermalukannya di depan orang banyak.

Maka malam ini, izinkan saya mengajak kita semua untuk mencoba satu kebiasaan kecil: sebelum membalas sesuatu yang membuat kita kesal di layar, tarik napas, hitung sampai sepuluh, dan tanyakan pada diri sendiri — apakah balasan ini akan membuat keadaan lebih baik, atau hanya membuat saya merasa menang sesaat? Kalau jawabannya yang kedua, lebih baik kita tutup aplikasi itu dan lakukan sesuatu yang lain.

Semoga Allah memudahkan lisan dan jari-jari kita untuk selalu condong kepada kebaikan.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَكْظِمُ غَيْظَهُ وَيَعْفُوْ عَنِ النَّاسِ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ أَهْلِيْنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan