Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumToleransi & Lintas-ImanKamis, 20 Agustus 2026

Kultum — "Cukup Beranjak, Tak Perlu Berdebat"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ حَتّٰى مَعَ مَنْ خَالَفَنَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, linimasa kita dari dulu punya satu kebiasaan yang sulit hilang: setiap kali ada kabar orang pindah keyakinan — masuk Islam atau meninggalkannya — obrolan tentang itu langsung ramai, meski yang berkomentar sering kali tidak benar-benar tahu duduk perkaranya. Pekan ini pun sempat muncul jejak obrolan semacam itu, meski jejaknya sendiri tipis dan sulit dipastikan apa yang sebenarnya terjadi di baliknya. Saya perhatikan, obrolan semacam ini punya satu pola yang sama setiap kali muncul: makin ramai orang berkomentar, makin sedikit yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Malam ini saya ingin bicara bukan tentang siapa yang benar dalam perdebatan itu, tapi tentang satu keterampilan yang justru jarang kita latih: kapan sebaiknya kita diam, dan kapan sebaiknya kita beranjak dari sebuah percakapan.

Coba jujur pada diri sendiri: berapa kali jari kita berhenti sejenak di sebuah komentar yang isinya menghina keyakinan orang, atau menertawakan seseorang yang baru masuk Islam, atau sebaliknya mencemooh seseorang yang murtad — lalu kita malah scroll lebih lama untuk baca balasan-balasannya satu per satu? Al-Qur'an ternyata sudah bicara soal momen persis seperti ini, empat belas abad sebelum ada linimasa.

وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Allah berfirman dalam QS. Al-An'aam: 68: "Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)."

Bayangkan, jamaah — ayat ini turun untuk situasi orang-orang musyrik yang mengejek ayat-ayat Allah secara terang-terangan, tapi perintahnya bukan "lawan mereka dengan argumen yang lebih keras", bukan pula "diam saja sambil menelan kemarahan". Perintahnya sederhana: berdiri, lalu pergi. Kalau lupa dan terlanjur duduk mendengarkan, begitu ingat — langsung beranjak.

Ada pelajaran menarik dari cara Nabi ﷺ sendiri menghadapi ejekan. Bertahun-tahun Beliau diejek dan dihina secara terbuka oleh orang-orang yang menolak dakwahnya, tetapi riwayat-riwayat sirah mencatat Beliau nyaris tidak pernah membalas ejekan dengan ejekan yang setara. Beliau memilih diam, memilih menjauh, memilih mendoakan, dan waktu yang kemudian membuktikan siapa yang benar. Itu bukan kelemahan seorang Nabi — itu kekuatan seorang yang tidak butuh validasi dari orang yang memusuhinya.

Kenapa harus pergi, bukan melawan? Karena watak media sosial hari ini dirancang untuk membuat kita betah di percakapan yang memancing emosi. Algoritma tidak peduli siapa yang benar; ia hanya peduli siapa yang bertahan paling lama di kolom komentar. Setiap balasan yang kita ketik, sepintar apa pun argumennya, memberi bahan bakar baru supaya perdebatan itu terus hidup — dan biasanya bukan kita yang menang, melainkan platform itu sendiri yang menang, karena kita sudah menghabiskan waktu dan ketenangan hati untuk sesuatu yang di akhirat nanti belum tentu ditanyakan kepada kita.

Ada satu ayat lagi yang berpasangan dengan ayat tadi, yaitu QS. An-Nisaa: 140.

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا۟ مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦٓ ۚ إِنَّكُمْ إِذًۭا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱلْكَٰفِرِينَ فِى جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Allah berfirman: "Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya, kalau kamu berbuat demikian, tentulah kamu serupa dengan mereka." Ayat ini menambahkan peringatan yang tajam: bertahan di sebuah percakapan yang mengejek nilai-nilai agama, meski hanya menonton tanpa ikut berkomentar, membuat kita "serupa" dengan yang mengejek. Bukan karena kita setuju, tetapi karena kehadiran kita di sana ikut memberi panggung.

Ini bukan berarti kita harus menutup mata dari setiap perbedaan pendapat, jamaah. Berdiskusi dengan baik, meluruskan kesalahpahaman dengan santun, itu perkara lain — dan Al-Qur'an sendiri di ayat lain mengajarkan kita berdebat dengan cara yang paling baik. Yang dilarang di sini spesifik: bertahan dalam forum yang isinya murni ejekan, bukan diskusi. Ciri-cirinya gampang dikenali — kalau tujuan orang-orang di forum itu membuat kita marah atau membuat pihak lain terlihat bodoh, bukan mencari titik temu, itu forum yang lebih baik kita tinggalkan.

Prinsip yang sama berlaku bahkan ketika yang berdebat itu sesama muslim. Pekan ini ada juga obrolan soal jadwal dan tata cara sebuah forum organisasi Islam yang menyulut sedikit kekesalan di beberapa unggahan. Kalau kita mendapati diri kita mulai ikut sewot di kolom komentar soal urusan organisasi yang bahkan bukan organisasi kita sendiri, itu tanda yang sama: waktunya menutup aplikasi, bukan menambah argumen baru.

Saya kira ini pelajaran yang pas untuk kita renungkan bersama pekan ini — sebab godaan terbesar memang jarang datang dari krisis besar, ia lebih sering datang dari kebosanan kecil yang membuat kita ikut nimbrung ke percakapan yang sebenarnya tidak perlu kita masuki sama sekali.

Jadi pekan ini, izinkan saya titip satu pesan sederhana: keberanian iman kadang bukan ditunjukkan dengan seberapa keras kita membalas komentar, tapi dengan seberapa cepat kita mampu berdiri dan pergi dari sebuah forum yang tidak membawa kebaikan. Diam yang seperti itu bukan kekalahan — itu kemenangan kecil yang dicatat Allah, meski tidak ada satu pun orang di linimasa yang melihatnya. Kita tidak akan pernah kehabisan kesempatan untuk berdebat kalau kita mau — dunia maya menyediakannya dua puluh empat jam sehari. Yang langka justru orang yang punya keberanian bilang "saya cukup sampai di sini" dan benar-benar menepatinya.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ، وَثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan