Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatAqidah & IbadahKamis, 27 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Rindu Nabi, Diteladani Bukan Dipuja"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، وَخَسِرَ الْمُفَرِّطُونَ الْغَافِلُونَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

وَلَا تَجْعَلُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ۖ إِنِّى لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌۭ مُّبِينٌۭ

"Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." (QS. Adh-Dhaariyat: 51)

Dua kalimat pendek ini, jamaah, sebenarnya sedang meletakkan dua hal berdampingan yang tidak boleh tertukar posisinya: larangan mempersekutukan Allah, dan penegasan tentang siapa yang sedang menyampaikan larangan itu. Yang menyampaikan ayat ini kepada kita adalah seorang nabi — dan ayat ini sendiri yang menjelaskan posisinya: "aku seorang pemberi peringatan yang nyata." Bukan sekutu Allah, bukan penerima sembah, melainkan penyampai pesan. Ini adalah sisi tawhid yang paling mendasar, dan pekan ini kita sedang berada di titik kalender yang membuat sisi ini terasa sangat relevan untuk direnungkan bersama.

Kita tahu, pekan ini bertepatan dengan bulan Rabi'ul Awwal — bulan yang oleh kebanyakan umat Islam di negeri ini dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Dari berita dan lini masa pekan ini kita menyaksikan sesuatu yang menggembirakan: gelombang ucapan, doa, dan shalawat mengalir deras. Pesan-pesan indah dari para ulama dibagikan ulang. Tokoh-tokoh publik menitipkan harapan agar keteladanan Rasulullah ﷺ terus menghidupi cara kita bersikap. Ini kabar baik — tanda bahwa cinta kepada Nabi ﷺ masih hidup dan meluas di tengah umat, dari akun-akun yang santai sampai yang formal.

Tetapi, jamaah, mari kita jujur pada diri sendiri: berapa banyak dari ucapan itu — dari ucapan kita sendiri, mungkin — yang berhenti di kalimat indah dan gambar bertema hijau-emas, tanpa pernah turun menjadi satu kebiasaan konkret yang benar-benar kita tiru pekan ini? Fenomena ini bukan sesuatu yang baru; ia berulang setiap tahun pada momentum yang sama. Semangatnya nyata, tapi arah salurannya sering berhenti di permukaan. Padahal, jamaah, kecintaan yang sesungguhnya kepada seseorang yang kita muliakan selalu diuji bukan pada seberapa indah kita memujinya, melainkan pada seberapa jauh kita berubah karena mengenalnya.

Justru di sinilah letak bahaya yang halus, yang perlu kita waspadai bersama pekan ini. Kecintaan yang meluap-luap, jika tidak dijangkarkan pada batas yang benar, bisa perlahan bergeser menjadi sesuatu yang lain — pujian yang berlebihan, penempatan seseorang pada posisi yang sebenarnya hanya milik Allah semata. Ini bukan tuduhan kepada siapa pun secara khusus, jamaah; ini adalah kewaspadaan yang justru diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ sendiri, tentang dirinya sendiri.

Dalam sebuah riwayat, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تطروني كما أطرت النّصارى ابن مريم إنّما أنا عبد فقولوا: عبد الله ورسوله

"Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebihan dalam memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya." (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم)

Perhatikan, jamaah, siapa yang mengucapkan kalimat ini. Bukan musuh yang ingin merendahkan kedudukan Nabi ﷺ, melainkan Nabi ﷺ sendiri, tentang dirinya sendiri, di puncak kemuliaannya sebagai penutup para rasul. Beliau tidak melarang kita mencintainya — justru mencintai Nabi ﷺ adalah bagian dari iman yang paling asasi. Yang beliau larang adalah satu hal spesifik: melampaui batas hamba menuju sesuatu yang menyerupai penyembahan. Beliau memberi kita kalimat penjangkarnya sendiri: "aku hanyalah seorang hamba" — 'abdun. Sesudah itu barulah "rasul-Nya" — seorang utusan. Dua kata ini, hamba dan utusan, adalah dua sisi mata uang yang tidak boleh dipisah. Sebagai hamba, beliau tunduk pada Allah sama seperti kita; sebagai utusan, beliau membawa risalah yang wajib kita ikuti. Kecintaan sejati kepada beliau berdiri tegak di atas dua sisi ini sekaligus — bukan salah satunya saja.

Lalu apa isi konkret dari kecintaan yang berdiri di atas dua sisi itu, jamaah? Jawabannya ada dalam kalimat syahadat yang kita ucapkan setidaknya sembilan kali sehari, dalam setiap rakaat shalat, tanpa selalu kita renungkan maknanya. Sebuah kitab dasar aqidah, Thalathat al-Usul, menjelaskan makna kalimat "la ilaha illallah" sebagai berikut:

لا معبود بحق إلا الله، " لا إله " نافيا جميع ما يعبد من دون الله، " إلا الله " مثبتا العبادة لله وحده لا شريك له في عبادته كما أنه لا شريك له في ملكه

"Maknanya: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. 'La ilaha' — meniadakan segala yang disembah selain Allah; 'illa Allah' — menetapkan ibadah hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan, sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya." (Thalathat al-Usul — ثلاثة الأصول / بسم الله الرحمن الرحيم)

Kitab yang sama menjelaskan kalimat ini dengan mengutip firman Allah tentang Nabi Ibrahim 'alaihissalam:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ ۞ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ ۞ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (Tuhan) yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu." (QS. Az-Zukhruf: 26-28, sebagaimana dikutip dalam Thalathat al-Usul)

Jamaah, seluruh silsilah nabi — termasuk Ibrahim 'alaihissalam yang menjadi bapak para nabi — berdiri di atas satu garis lurus yang sama: bara'ah, berlepas diri dari segala yang disembah selain Allah. Nabi Muhammad ﷺ bukan pengecualian dari garis ini; beliau justru penerus dan penutupnya. Maka syahadat kedua kita — "wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah" — sesungguhnya sedang menegaskan tiga hal sekaligus: taat pada apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, dan menjauhi apa yang beliau larang. Bukan sekadar mengucap namanya dengan penuh haru, apalagi memujinya dengan bahasa yang melampaui batas seorang hamba.

Kalau begitu, jamaah, bulan Rabi'ul Awwal ini sesungguhnya bukan kesempatan untuk merayakan satu pribadi secara berdiri sendiri, melainkan kesempatan untuk mengingat kembali satu mata rantai panjang. Sebuah kitab yang dihafal jutaan santri di negeri ini, 'Aqidat al-'Awam, menghimpun dua puluh lima nama nabi yang wajib kita kenal:

هُمْ آدَمٌ إدريسُ نوحٌ هودٌ معْ · صـالـحْ وإبـراهـيـمُ كُلٌّ مُتَّبَعْ

"Mereka adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud, bersama Shalih, dan Ibrahim — semuanya wajib diikuti." ('Aqidat al-'Awam — بيت 16-20)

Bait ini berlanjut menyebut Luth, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Syu'aib, Harun, Musa, al-Yasa', Dzul-Kifli, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Yunus, Zakariya, Yahya, 'Isa — hingga ditutup dengan bait kelima:

عـلـيـهـمُ الصلاةُ والسلامُ · وَآلِـهِـمْ مـا دامـــتْ الأيــامُ

"Atas mereka semua shalawat dan salam, dan atas keluarga mereka, selama hari-hari masih ada." ('Aqidat al-'Awam — بيت 16-20)

Nabi Muhammad ﷺ berdiri di ujung silsilah ini sebagai penutup, bukan sebagai pembuka yang berdiri sendiri tanpa pendahulu. Maulid, jika kita renungkan dalam bingkai ini, bukan perayaan yang menjadikan satu pribadi sebagai pusat pemujaan yang berdiri sendiri, melainkan momentum mengenang kembali kesinambungan risalah tawhid yang dijaga Allah selama itu — dari Adam hingga penutup para nabi. Semakin kita paham kesinambungan ini, semakin jelas juga letak beliau: mulia sebagai penutup para rasul, tetap seorang hamba di hadapan Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah, ada satu kabar lagi pekan ini yang bisa menjadi cermin bagi kita tentang bagaimana menjaga adab ketika berbeda pandangan. Sebuah organisasi Islam besar di negeri ini pekan ini menggelar forum musyawarah lima tahunan mereka, forum yang wajar diisi perbedaan pandangan dan dinamika kepemimpinan. Perbedaan semacam ini bukan aib; ia bagian normal dari kehidupan organisasi mana pun yang hidup dan bernapas. Yang perlu kita jaga bersama adalah caranya — jangan sampai perbedaan pilihan atau pandangan berubah menjadi permusuhan yang menyerang pribadi.

Dalam Hajjatul Wada', haji perpisahan Nabi ﷺ, Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ألا إن الله حرم عليكم دماءكم وأموالكم، كحرمة يومكم هذا، في بلدكم هذا، في شهركم هذا

"Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian darah dan harta kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di negeri kalian ini, di bulan kalian ini." (Riyad as-Salihin 205)

Beliau lalu bertanya apakah pesan itu sudah tersampaikan, dan setelah ratusan ribu jamaah haji menjawab "ya", beliau meminta Allah menyaksikan, kemudian menutup dengan satu peringatan yang tegas:

لا ترجعوا بعدي كفارًا يضرب بعضكم رقاب بعض

"Janganlah kalian kembali sepeninggalku menjadi orang-orang kafir yang saling memukul leher satu sama lain." (Riyad as-Salihin 205)

Peringatan ini disampaikan Rasulullah ﷺ pada momen paling khidmat sepanjang hidupnya, di hadapan ratusan ribu jamaah haji. Kalau perpecahan sekecil apa pun dikhawatirkan beliau bahkan di momen seagung itu, tentu jauh lebih layak kita khawatirkan hari ini, ketika perbedaan pandangan dalam berorganisasi begitu mudah berubah jadi caci-maki di kolom komentar. Menjaga ukhuwah ketika berbeda pilihan bukan basa-basi; ia bagian dari amanah yang dititipkan Nabi ﷺ sendiri di hari paling bersejarah dalam dakwahnya.

Jamaah, kalau kita rangkai semua ini — larangan berlebihan memuji, makna syahadat yang menuntut ketaatan bukan sekadar pujian, kesinambungan risalah tawhid dari dua puluh lima nabi, dan peringatan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan — kita sampai pada satu benang yang sama: iman yang sehat selalu punya jangkar yang jelas, dan jangkar itu bernama tawhid. Media sosial hari ini memudahkan dua ekstrem sekaligus: memuja tokoh viral secara berlebihan tanpa kritik, atau sebaliknya, meremehkan dan mengolok siapa pun yang berbeda pandangan. Keduanya sama-sama kehilangan jangkar. Yang kita butuhkan bukan menahan diri dari mencintai, melainkan mengembalikan cinta itu ke tempat yang benar — kepada Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan kepada Nabi ﷺ sebagai teladan yang ditaati, bukan berhala baru yang dipuja tanpa batas.

Dari mimbar ini, jamaah, ada beberapa langkah konkret yang bisa kita bawa pulang pekan ini:

Pertama, jadikan sisa pekan Maulid ini kesempatan meniru satu kebiasaan Nabi ﷺ yang paling sederhana — kejujuran dalam berbicara, kesediaan menyapa orang yang jarang disapa, atau kesederhanaan dalam bersikap — bukan sekadar membagikan ulang ucapan indah.

Kedua, periksa kembali bahasa pujian kita kepada tokoh, ustadz, atau siapa pun yang kita kagumi. Kagum boleh, hormat boleh, tetapi jaga agar tidak melampaui batas seorang manusia biasa.

Ketiga, ajarkan kembali makna syahadat kepada anak-anak di rumah, bukan hanya melafalkannya, melainkan menjelaskan mengapa "asyhadu alla ilaha illallah" berarti tidak menyembah apa pun selain Allah.

Keempat, jadikan dua puluh lima nama nabi sebagai bahan obrolan ringan bersama keluarga pekan ini — mengenal kesinambungan risalah membuat cinta kepada Nabi ﷺ berdiri di atas pemahaman, bukan sekadar perasaan sesaat.

Kelima, jaga lisan dan jari kita ketika membaca atau menanggapi dinamika organisasi keagamaan yang sedang bermusyawarah — berbeda pilihan boleh, menyerang pribadi tidak boleh.

Keenam, luangkan waktu menyapa satu orang yang belakangan jarang terdengar kabarnya — sebagaimana Nabi ﷺ selalu punya waktu untuk siapa pun yang membutuhkannya, walau di tengah kesibukannya yang luar biasa.

Semoga Allah menjadikan kita umat yang mencintai Nabi-Nya dengan cinta yang benar — cinta yang menggerakkan ketaatan, bukan cinta yang berhenti di kata-kata.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah, mari kita tegaskan kembali tiga hal dari khutbah pertama.

Pertama, cinta kepada Nabi ﷺ yang paling beliau ridhai bukanlah cinta yang berhenti di kalimat pujian, melainkan cinta yang berbuah ketaatan. Setiap kali lisan kita memuji beliau, biarkan pujian itu diikuti satu langkah nyata meniru akhlaknya — sesederhana apa pun langkah itu. Pujian tanpa laku hanya akan menjadi gema yang hilang begitu pekan ini berlalu.

Kedua, batas antara mencintai dan berlebihan itu tipis, dan justru karena tipis itulah kita perlu terus mengingatnya. Nabi ﷺ sendiri yang mengajarkan kalimat penjangkarnya: "aku hanyalah seorang hamba." Jika beliau — yang paling mulia di antara seluruh manusia — menempatkan dirinya sebagai hamba, sudah sepatutnya kita juga menjaga proporsi dalam memuliakan siapa pun yang kita kagumi hari ini, termasuk ustadz, tokoh, atau figur publik mana pun.

Ketiga, kesinambungan dua puluh lima nabi yang kita dengar tadi mengajarkan bahwa risalah ini jauh lebih besar dari satu momen perayaan. Ia adalah rangkaian panjang yang dijaga Allah selama ribuan tahun. Ketika kita mengenal kesinambungan itu, rasa cinta kepada Nabi ﷺ tidak lagi berdiri sendiri sebagai emosi sesaat, melainkan tumbuh dari pemahaman yang kokoh tentang tempatnya dalam sejarah tawhid.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِيْ يُرْضِيْكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّبِعِيْنَ لِسُنَّتِهِ، الْمُقْتَدِيْنَ بِهَدْيِهِ، الْحَافِظِيْنَ لِحَقِّهِ كَمَا حَفِظَ حَقَّ رَبِّهِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَذْكُرُكَ فَيَشْكُرُكَ، وَيَتَّقِيْكَ حَقَّ تُقَاتِكَ، وَجَنِّبْنَا الْغُلُوَّ فِيْ دِيْنِنَا وَالتَّقْصِيْرَ فِيْهِ سَوَاءً.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْمَعْ كَلِمَةَ عُلَمَائِنَا وَقَادَةِ أُمَّتِنَا عَلَى الْحَقِّ وَالتَّقْوٰى، وَجَنِّبْهُمُ التَّفَرُّقَ وَالتَّنَازُعَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْنَا وَذُرِّيَّتَنَا مِمَّنْ يُحِبُّوْنَ نَبِيَّكَ وَيَتَّبِعُوْنَ سُنَّتَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan