بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita sama-sama mendengar harga emas terus merangkak naik, dan bersamaan dengan itu ramai juga obrolan tentang orang-orang yang buru-buru ikut arus investasi supaya tidak "ketinggalan kereta." Ada satu kisah kecil dari zaman Nabi ﷺ yang ingin saya bagikan malam ini, karena rasanya pas sekali dengan apa yang kita rasakan pekan-pekan ini.
Pernah suatu ketika di Khaibar, para sahabat sedang asyik bertransaksi dengan pedagang setempat. Fadhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu bercerita,
Sahih Muslim 1591d
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ خَيْبَرَ نُبَايِعُ الْيَهُودَ الْوُقِيَّةَ الذَّهَبَ بِالدِّينَارَيْنِ وَالثَّلاَثَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " لاَ تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلاَّ وَزْنًا بِوَزْنٍ "
"Kami bersama Rasulullah ﷺ pada hari Khaibar berjual-beli dengan orang Yahudi — satu uqiyah perhiasan emas ditukar dengan dua atau tiga dinar. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali timbangan dengan timbangan.'" (Sahih Muslim 1591d)
Coba kita bayangkan posisi para sahabat saat itu. Satu uqiyah ditukar dua, bahkan tiga dinar — kalau dilihat sepintas, itu kelihatan seperti tawaran yang menguntungkan, bukan? Tapi Rasulullah ﷺ langsung menegaskan batasnya: emas boleh ditukar emas, tapi harus timbangan dengan timbangan, sama berat. Riwayatnya tidak menyebutkan alasan detail di balik penegasan itu — dan kita tidak perlu menambah-nambahi apa yang tidak diriwayatkan. Tapi kalau saya renungkan sendiri, jamaah, prinsipnya jelas: begitu ada selisih jumlah dalam pertukaran barang yang sama jenisnya, di situ ada kemungkinan salah satu pihak dirugikan tanpa sadar, sekalipun kelihatannya seperti "untung besar" di permukaan.
Saya kira, jamaah, kita semua pernah merasakan versi modern dari kejadian ini. Siapa di sini yang pekan ini sempat lihat orang ramai-ramai bahas saham atau ikut tren investasi tertentu, lalu dalam hati muncul bisikan, "jangan-jangan saya ketinggalan"? Saya juga pernah. Dan ini bukan cuma soal saham. Pekan ini linimasa kita ramai dengan keluhan penipuan daring — ada yang tertipu modus jual-beli, ada yang kena tipu oknum yang mengaku-aku menjual akses aplikasi digital yang lagi populer. Pola yang sama persis dengan kisah di Khaibar tadi: sesuatu yang kelihatan seperti tawaran bagus, ternyata timbangannya tidak jujur.
Yang menarik, Rasulullah ﷺ tidak marah kepada para sahabat karena mereka mau bertransaksi. Beliau hanya menghentikan sejenak dan mengoreksi caranya. Itu pelajaran penting: Islam tidak melarang kita mencari untung, tidak melarang kita berinvestasi atau berdagang. Yang diajarkan adalah kebiasaan berhenti sejenak sebelum memutuskan — menimbang dulu dengan jujur, bertanya dulu kepada yang lebih paham, tidak asal ikut arus hanya karena orang lain sedang ramai membicarakannya.
Ada satu bacaan lain yang menurut saya menohok sekali untuk direnungkan malam ini. Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam kitab Bidayatul Hidayah, pernah menggambarkan orang yang meninggalkan usaha — berhenti bertani, berhenti berdagang — lalu duduk saja sambil berkata, "Allah itu Maha Pemurah, pasti Dia beri aku rezeki tanpa aku perlu susah payah." Kelihatannya orang ini yakin kepada Allah, tapi al-Ghazali menegaskan bahwa keyakinan seperti itu keliru arahnya — sebab jalan rezeki yang benar tetap lewat usaha yang sungguh-sungguh, bukan lewat menunggu keajaban sambil berpangku tangan. Saya kira ini juga berlaku untuk sisi sebaliknya: orang yang tergesa-gesa loncat ke setiap "peluang" yang lewat karena takut rezekinya lari, padahal belum pernah benar-benar mempelajarinya. Dua-duanya sama-sama meninggalkan jalan yang wajar — yang satu terlalu pasif, yang satu terlalu terburu-buru.
Jamaah yang dirahmati Allah, sesungguhnya akar dari FOMO dan akar dari mudah tertipu itu satu: kita lupa menimbang. Kita lebih percaya pada perasaan "wah, ini kesempatan bagus" ketimbang pada kebiasaan berhenti sejenak, bertanya, dan memeriksa. Padahal Rasulullah ﷺ sudah mencontohkan persis itu di Khaibar — menegaskan aturan timbangan yang sama di tengah transaksi yang kelihatan menguntungkan, demi memastikan tidak ada yang dirugikan, termasuk diri sendiri. Dan kalau kita jujur, jamaah, yang membuat kita berhenti menimbang itu biasanya bukan karena kita tidak tahu caranya berhati-hati — kita tahu. Tapi rasa "sayang kalau dilewatkan" itu selalu lebih kencang suaranya daripada akal sehat kita di momen yang genting. Ini bukan aib yang perlu ditutup-tutupi, ini watak manusia yang memang perlu terus dilatih — dan itulah kenapa kita butuh pengingat seperti ini bukan cuma sekali, tapi berkali-kali sepanjang hidup kita.
Saya sendiri kadang berpikir, kenapa sih manusia gampang sekali lupa menimbang padahal sudah tahu risikonya? Saya kira jawabannya sederhana: karena menimbang itu butuh waktu, sementara rasa takut ketinggalan selalu terasa mendesak. Rasa mendesak itu yang membuat otak kita berhenti bertanya "apakah ini benar-benar adil," dan langsung lompat ke "apakah saya akan rugi kalau tidak ikut." Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk melawan dorongan itu bukan dengan menahan diri selamanya, tapi cukup dengan menahan diri sebentar — cukup waktu untuk bertanya dan memeriksa. Sesederhana itu, tapi kebiasaan sesederhana itu pula yang paling sering kita lewatkan justru di saat paling kita butuhkan.
Maka malam ini, sebelum kita pulang, saya mengajak kita semua untuk melakukan dua hal sederhana. Pertama: kalau ada tawaran investasi, ajakan trading, atau "peluang" apa pun yang masuk ke ponsel kita malam ini atau besok pagi, jangan langsung diputuskan. Tahan dulu semalam. Tanyakan kepada orang yang lebih paham. Dan kalau ada tetangga atau orang tua kita yang kurang paham dunia digital, luangkan lima menit untuk mengingatkan mereka juga — karena yang paling rentan tertipu biasanya bukan yang paling bodoh, tapi yang paling jarang punya orang untuk bertanya. Kedua: coba tengok sendiri transaksi-transaksi kecil yang sedang kita jalani pekan ini — jualan sampingan, utang-piutang dengan tetangga, atau kesepakatan kerja — dan tanyakan jujur pada diri sendiri, apakah timbangannya benar-benar sama untuk kedua belah pihak, atau selama ini kita yang diam-diam diuntungkan.
Semoga Allah melindungi kita semua dari ketergesaan yang merugikan, dan memberi kita rezeki yang berkah lewat jalan yang jujur.
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاحْفَظْنَا مِنَ الطَّمَعِ وَالْعَجَلَةِ، وَعَلِّمْنَا أَنْ نَزِنَ الأُمُوْرَ بِمِيْزَانِ الْحَقِّ قَبْلَ أَنْ نُقْدِمَ عَلَيْهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
