Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَآؤُكُمْ غَوْرًۭا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَآءٍۢ مَّعِينٍۭ
"Katakanlah: 'Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'" (QS. Al-Mulk: 30)
Jamaah Jumat rahimakumullah, ayat ini adalah pertanyaan yang tidak butuh dijawab dengan kata-kata, karena jawabannya sudah terasa di dada setiap orang yang pernah melihat sumur mengering atau kran yang tiba-tiba tak lagi mengalir. Ayat ini menantang kita untuk jujur pada satu kenyataan: hal paling dasar yang kita anggap pasti — air yang mengalir setiap hari — sesungguhnya sepenuhnya di luar kendali kita. Tidak ada teknologi, tidak ada kekayaan, tidak ada jabatan yang bisa memaksa air kembali ke sumbernya jika Allah berkehendak menahannya.
Pekan ini kita menyaksikan bentuk paling harfiah dari pertanyaan Al-Qur'an itu. Dari sejumlah daerah, beredar rekaman warga tentang musim kemarau yang membuat sumber air menyusut — tanah yang biasanya lembap kini retak, kran yang biasanya deras kini menetes pelan. Ini bukan kabar dari satu tempat saja, melainkan pola yang berulang di beberapa titik, direkam bukan oleh jurnalis melainkan oleh warga biasa yang kebetulan menyaksikan perubahan itu dengan mata kepala sendiri.
Tetapi ada kekeringan lain yang tidak kalah nyata pekan ini, meski bentuknya berbeda. Kekeringan itu bukan pada tanah, melainkan pada kepercayaan. Pekan ini ramai testimoni warga yang mengaku kehilangan uang karena tertipu transaksi daring — sebagian bahkan mengaku menangis saat menghitung kerugiannya, lalu membagikan kisahnya bukan untuk dikasihani, tapi supaya orang lain tidak mengalami hal serupa. Salah satu modus yang mencolok pekan ini meminjam nama layanan kecerdasan buatan yang sedang populer — memanfaatkan rasa percaya orang pada teknologi baru untuk menjerat korban yang sebenarnya sedang berusaha mengikuti zaman, bukan sedang lengah.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, perhatikan bagaimana dua kabar ini — air yang mengering dan kepercayaan yang dikhianati — sama-sama bicara tentang sesuatu yang biasanya kita anggap mengalir dengan sendirinya, tiba-tiba terasa langka. Uang yang biasa kita percayakan pada sebuah aplikasi, raib dalam hitungan menit. Air yang biasa kita buka dari kran tanpa berpikir dua kali, kini harus dijatah. Keduanya mengguncang rasa aman paling dasar yang jarang kita syukuri justru karena selama ini terasa pasti.
Di tengah dua kabar yang menguras rasa aman itu, pekan ini juga bergema peringatan Maulid Nabi 1448 H. Ucapan-ucapan yang beredar — dari warganet biasa hingga tokoh-tokoh publik — mengarah pada satu ajakan yang sama: menjadikan keteladanan Nabi ﷺ sebagai sumber inspirasi hidup sehari-hari, bukan sekadar seremoni tahunan yang lewat begitu saja. Ada sesuatu yang pas dari kebetulan waktu ini. Pekan yang sama menghadirkan kerentanan dan keteladanan berdampingan — seolah mengajukan pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar "bagaimana menghindari penipuan" atau "bagaimana menghemat air": ke mana hati ini bersandar, ketika sumber-sumber yang biasa kita andalkan justru mengecewakan?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, khutbah pekan ini ingin mengajak kita menjawab pertanyaan itu bukan dengan resep praktis semata, melainkan dengan satu prinsip yang lebih dalam dan lebih kokoh: husnuzhan billah — berbaik sangka kepada Allah. Prinsip ini bukan slogan penghibur diri, melainkan sebuah hadits qudsi yang sangat spesifik, yang akan kita bedah bersama pada bagian inti khutbah ini.
Perlu ditegaskan sejak awal: husnuzhan bukan berarti berpikir positif lalu berharap uang yang hilang otomatis kembali, atau berharap hujan otomatis turun karena kita optimis. Husnuzhan billah adalah keyakinan bahwa Allah dekat, bahwa Allah Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan-Nya, dan bahwa kedekatan kita dengan-Nya tidak pernah bergantung pada seberapa penuh dompet atau seberapa deras air yang mengalir. Itu jauh lebih besar — dan justru karena itu jauh lebih besar, prinsip ini yang paling kita butuhkan pada pekan seperti ini.
Marilah kita masuk ke inti persoalan. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim — yakni firman Allah yang disampaikan lewat lisan Rasulullah ﷺ, bukan ayat Al-Qur'an, sehingga kita perlu menyebutnya dengan tepat sebagai hadits qudsi — Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
"Aku di sisi sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya, Aku mengingatnya di dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di kerumunan, Aku mengingatnya di kerumunan yang lebih baik darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari kecil." (Sahih Muslim 2675a, hadits qudsi — firman Allah yang diriwayatkan Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Perhatikan susunan hadits ini, jamaah sekalian. Allah tidak berkata "Aku memberi hamba-Ku sesuai sangkaannya" dalam arti materi. Allah berkata "Aku bersama sangkaan hamba-Ku" — sebuah kedekatan, bukan sebuah transaksi. Ini bukan resep prosperity: berbaik sangka lalu otomatis kaya kembali. Ini adalah janji tentang kualitas hubungan — bahwa cara kita menyangka Allah, entah dalam kelapangan atau kesempitan, langsung membentuk seberapa dekat kita merasakan-Nya. Orang yang ditipu lalu menyangka Allah telah meninggalkannya akan merasakan jarak. Orang yang ditipu namun tetap menyangka Allah dekat dan bijaksana, akan merasakan pertolongan yang bahkan tidak selalu berbentuk uang kembali — tapi berbentuk ketenangan, jalan keluar, atau pelajaran yang menyelamatkannya dari kerugian yang lebih besar di masa depan.
Bayangkan gambaran yang dipakai hadits ini: sejengkal, sehasta, sedepa, berlari kecil. Setiap kali seorang hamba mendekat, Allah membalas dengan jarak yang jauh lebih besar. Ini bukan matematika pahala di akhirat semata — ini menggambarkan bagaimana kedekatan spiritual bekerja di dunia ini, hari ini, pekan ini, ketika hati kita sedang diuji oleh kabar kehilangan.
Mari kita bawa prinsip ini ke ranah lain yang juga disentuh Rasulullah ﷺ, karena husnuzhan bukan hanya soal sikap batin — ia juga bicara soal ke mana rezeki yang mengalir ke kita sesungguhnya bermuara. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لاَ تُمْطَرُوا وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا وَلاَ تُنْبِتُ الأَرْضُ شَيْئًا
"Tahun paceklik bukanlah dengan tidak diturunkan hujan, melainkan paceklik adalah ketika kalian diberi hujan dan terus diberi hujan, namun bumi tidak menumbuhkan apa pun." (Sahih Muslim 2904)
Hadits ini mendefinisikan ulang apa itu "kekeringan" secara mengejutkan. Paceklik sejati, kata Rasulullah ﷺ, bukan soal ada-tidaknya hujan — melainkan soal ada-tidaknya pertumbuhan. Hujan bisa turun setiap hari, namun jika tanahnya sudah keras dan tak bisa menyerap, air itu hanya lewat tanpa bekas. Jamaah sekalian, coba kita tanya pada diri sendiri pekan ini: rezeki, waktu luang, informasi, kesempatan — semua itu terus mengalir deras ke kehidupan kita setiap hari, lewat gaji, lewat media sosial, lewat percakapan. Tapi apakah aliran itu menumbuhkan sesuatu — kesabaran, kedermawanan, kedekatan pada Allah — atau hanya lewat begitu saja, numpuk tanpa makna, seperti hujan yang jatuh di atas tanah gersang?
Inilah "kekeringan batin" yang lebih berbahaya daripada kekeringan tanah. Seseorang bisa memiliki penghasilan yang stabil, notifikasi yang tak pernah berhenti, ratusan koneksi di ponselnya — dan tetap mengalami paceklik, karena semua yang mengalir itu tidak menumbuhkan apa-apa dalam dirinya. Musim kemarau yang kita saksikan pekan ini di beberapa daerah adalah pengingat harfiah untuk pertanyaan yang jauh lebih personal: apa yang sedang tumbuh dari semua yang Allah alirkan ke hidup kita?
Sekarang, jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita bicara tentang sisi lain dari kepercayaan — bukan kepercayaan kita kepada Allah, melainkan bagaimana Allah memperlakukan kebaikan yang dilakukan seseorang secara diam-diam, tanpa ada yang tahu. Ini penting karena pekan ini kita disibukkan oleh kabar tentang kepercayaan yang dikhianati oleh manusia — pelaku penipuan yang memanfaatkan ketidaktahuan korbannya. Tapi ada kisah lain, yang justru menunjukkan wajah sebaliknya: seseorang yang berbuat baik secara tersembunyi, dan Allah-lah yang menjadi saksi tunggalnya. Dalam riwayat Muslim, dikisahkan:
بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلاَةٍ مِنَ الأَرْضِ فَسَمِعَ صَوْتًا فِي سَحَابَةٍ اسْقِ حَدِيقَةَ فُلاَنٍ
"Ketika seorang lelaki berada di padang gurun, ia mendengar suara di awan: 'Sirami kebun fulan!'" (Sahih Muslim 2984a)
Dari sinilah kisah itu bergerak: awan itu bergeser, mencurahkan airnya tepat di kebun seorang lelaki yang sedang bekerja sendirian. Lelaki yang mendengar suara di awan tadi lalu mengikuti aliran air itu, menemukan pemilik kebun, dan bertanya mengapa namanya disebut langsung oleh langit. Pemilik kebun itu pun menjawab dengan jujur: setiap kali kebunnya panen, ia sedekahkan sepertiga hasilnya, sepertiga untuk keluarganya, dan sepertiga ia kembalikan sebagai modal kebun. Tidak ada orang yang menyaksikan kebiasaannya itu. Tidak ada yang memujinya di depan umum. Namun langit sendiri yang menyebut namanya.
Renungkan kontrasnya, jamaah sekalian. Pekan ini kita mendengar kisah orang yang memanfaatkan ketidaktahuan sesamanya demi keuntungan pribadi — kepercayaan yang dikhianati secara tersembunyi. Kisah dalam hadits ini adalah kebalikannya: kebaikan yang dilakukan secara tersembunyi, dan justru karena tersembunyi itulah Allah mengangkatnya, menyebutnya di hadapan awan dan hujan. Inilah salah satu wajah husnuzhan yang paling indah — keyakinan bahwa Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia, baik itu pengkhianatan yang disembunyikan pelaku kejahatan, maupun kebaikan yang disembunyikan oleh hamba yang saleh.
Izinkan saya membawa satu kisah lagi, yang diriwayatkan dalam Bulugh al-Maram, tentang Nabi Sulaiman 'alaihissalam — bukan untuk membahas mukjizat kenabian, melainkan untuk menunjukkan betapa Allah mendengar bahkan doa makhluk yang paling kecil sekalipun. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَرَجَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ اَلسَّلَامُ يَسْتَسْقِي, فَرَأَى نَمْلَةً مُسْتَلْقِيَةً عَلَى ظَهْرِهَا رَافِعَةً قَوَائِمَهَا إِلَى اَلسَّمَاءِ تَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنَّا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ, لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاكَ, فَقَالَ: ارْجِعُوا لَقَدْ سُقِيتُمْ بِدَعْوَةِ غَيْرِكُمْ
"Sulaiman 'alaihissalam keluar untuk shalat istisqa (meminta hujan), lalu ia melihat seekor semut berbaring telentang sambil mengangkat kaki-kakinya ke langit, berkata: 'Ya Allah, kami adalah makhluk di antara makhluk-Mu, kami tidak berdaya tanpa air-Mu.' Maka Sulaiman berkata: 'Pulanglah kalian, sungguh kalian telah diberi hujan berkat doa selain kalian.'" (Bulugh al-Maram 627)
Seorang nabi, yang doanya tentu istimewa di sisi Allah, justru diminta pulang — karena doa seekor semut yang telentang, mengangkat kaki mungilnya, sudah cukup untuk mendatangkan hujan. Jamaah sekalian, apa artinya ini bagi kita yang pekan ini merasa kecil di hadapan penipuan yang licik atau kemarau yang panjang? Artinya, tidak ada doa yang terlalu kecil untuk didengar Allah, dan tidak ada hamba yang terlalu lemah untuk diperhatikan-Nya. Kalau doa seekor semut yang tidak punya kedudukan apa-apa bisa mendatangkan hujan bagi seluruh negeri, doa seorang hamba yang kehilangan uangnya karena ditipu, atau yang khawatir akan air untuk keluarganya, tentu jauh lebih didengar oleh Allah yang Maha Mendengar.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, empat dalil yang kita renungkan bersama ini — hadits qudsi tentang sangkaan hamba, hadits tentang hakikat paceklik, kisah petani yang disebut namanya oleh awan, dan doa semut yang didahulukan atas doa nabi — semuanya menenun satu benang yang sama: husnuzhan billah bukan pasrah yang pasif, melainkan keyakinan aktif bahwa Allah mendengar, Allah melihat, dan Allah dekat, apa pun bentuk kesulitan yang sedang kita hadapi. Bagi jamaah kita di Indonesia hari ini, pada 2026, di tengah gelombang penipuan digital yang makin canggih dan musim kemarau yang makin terasa, prinsip ini bukan sekadar penghibur — ia adalah jangkar yang membuat kita tetap berpijak tanpa jatuh ke sikap putus asa atau menyalahkan diri berlebihan.
Maka izinkan saya menutup bagian inti khutbah ini dengan beberapa langkah konkret yang bisa kita bawa pulang pekan ini. Pertama, bagi yang belum pernah mengalami, biasakan memverifikasi setiap tawaran transaksi daring — terutama yang mengatasnamakan layanan populer — sebelum mentransfer sepeser pun; ini bukan lawan dari husnuzhan, karena husnuzhan ditujukan kepada Allah, bukan izin untuk lengah terhadap manusia yang berniat jahat. Kedua, bagi yang pekan ini justru menjadi korban penipuan, jangan menutup diri karena malu — ingatlah hadits qudsi tadi: sangkaan baik kepada Allah tetap terbuka, betapapun besar kerugian yang dirasakan. Ketiga, mari kita audit rezeki yang mengalir ke kita masing-masing — apakah gaji, waktu luang, dan kesempatan yang Allah berikan pekan ini benar-benar menumbuhkan sesuatu, atau sekadar lewat tanpa bekas seperti hujan di tanah gersang. Keempat, tirulah pemilik kebun dalam hadits tadi — sisihkan sedekah yang tidak perlu diketahui orang lain, sekecil apa pun, sebagai latihan bahwa kebaikan kita ditujukan kepada Allah, bukan kepada pujian manusia. Kelima, bagi yang mendengar kabar tetangga atau saudara terdampak kekeringan, jangan hanya berempati dalam hati — hubungi, tawarkan bantuan konkret, seringan apa pun itu. Keenam, jadikan gema Maulid Nabi pekan ini lebih dari sekadar ucapan — pilih satu sifat Nabi ﷺ yang paling relevan dengan ujian pekan ini, lalu praktikkan, bukan hanya diucapkan di status media sosial.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, izinkan saya menegaskan kembali inti pesan khutbah pertama tadi dari sisi yang lebih dekat dengan keseharian kita. Husnuzhan billah bukan berarti kita berhenti berhati-hati terhadap manusia. Justru sebaliknya — semakin kita yakin Allah menjaga kita, semakin tenang kita bersikap waspada terhadap tipu daya sesama, karena kewaspadaan itu tidak lagi didorong oleh rasa takut yang berlebihan, melainkan oleh kesadaran bahwa menjaga diri dan harta adalah bagian dari amanah yang Allah titipkan.
Renungkan pula bahwa kekeringan — baik kekeringan air maupun kekeringan kepercayaan — bukanlah tanda Allah murka kepada kita secara khusus. Alam memang memiliki musimnya, dan manusia memang ada yang berniat jahat. Yang membedakan seorang mukmin dari yang lain bukan apakah ia pernah mengalami kesulitan itu, melainkan bagaimana ia menyangka Allah di tengah kesulitan tersebut — apakah ia menyangka Allah telah meninggalkannya, atau menyangka Allah sedang menempanya menjadi hamba yang lebih dekat.
Kisah petani yang disebut namanya oleh awan mengajarkan kita satu hal penting lagi: kebaikan yang paling bernilai sering kali adalah kebaikan yang tidak pernah kita pamerkan. Di tengah budaya berbagi segala hal di media sosial, termasuk testimoni kehilangan yang pekan ini banyak kita saksikan, ada ruang yang tetap perlu kita jaga untuk Allah semata — sedekah yang tidak difoto, doa yang tidak dijadikan status, pertolongan yang tidak menunggu ucapan terima kasih publik.
Dan doa semut yang didahulukan atas doa seorang nabi adalah pengingat paling rendah hati yang bisa kita bawa pulang pekan ini: betapa pun kita merasa kecil, betapa pun kerugian yang kita alami terasa tidak berarti dibanding masalah besar dunia, doa kita tetap didengar. Husnuzhan billah, pada akhirnya, adalah keberanian untuk tetap berdoa dan tetap berharap, justru ketika alasan untuk berputus asa terasa paling masuk akal.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa bersama.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ، وَاحْفَظْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ أَرْضٍ يُبْتَلَوْنَ فِيْهَا.
اَللّٰهُمَّ مَنْ خُدِعَ مِنَّا بِمَكْرِ النَّاسِ فَعَوِّضْهُ خَيْرًا مِمَّا فَقَدَ، وَاغْفِرْ لِمَنْ ظَلَمَ وَتُبْ عَلَيْهِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِكَ وَإِنِ اشْتَدَّتِ الْأَحْوَالُ. اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، وَاجْعَلْ مَا تُنْزِلُهُ مِنَ الرِّزْقِ سَبَبًا لِنَمَاءِ قُلُوْبِنَا لَا جُمُوْدِهَا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَارْحَمْ وَالِدَيْنَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
