بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, malam ini saya ingin membuka dengan satu pemandangan yang mungkin sebagian dari kita sudah lihat sendiri di kampung halaman atau di linimasa pekan ini — tanah yang biasanya lembap kini retak, dan kran yang biasanya deras kini menetes pelan. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan, dan pesannya tidak hanya soal tanah.
Coba kita renungkan sejenak satu ayat pendek dalam Al-Qur'an. Allah berfirman:
أَوْ يُصْبِحَ مَآؤُهَا غَوْرًۭا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبًۭا
"Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi." (QS. Al-Kahf: 41)
Ayat ini bicara tentang sesuatu yang mengalir lalu hilang begitu saja, surut ke dalam tanah, dan tidak bisa dikejar lagi ke mana pun kita mencarinya. Saudara-saudara, ayat pendek ini rasanya pas sekali dengan dua kabar yang kita dengar berbarengan pekan ini: air yang surut karena kemarau di beberapa daerah, dan uang yang "surut ke dalam tanah" dengan cara yang berbeda — lewat penipuan transaksi daring yang pekan ini ramai diceritakan sendiri oleh para korbannya, termasuk yang mengaku tertipu modus mengatasnamakan layanan AI populer. Sama-sama sesuatu yang kita kira aman mengalir, tiba-tiba lenyap, dan kita tidak berdaya mengejarnya kembali.
Tapi saya tidak ingin berhenti di situ, karena ada satu sudut yang lebih tajam yang ingin saya ajak kita renungkan bersama malam ini. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لاَ تُمْطَرُوا وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا وَلاَ تُنْبِتُ الأَرْضُ شَيْئًا
"Tahun paceklik bukanlah dengan tidak diturunkan hujan, melainkan paceklik adalah ketika kalian diberi hujan dan terus diberi hujan, namun bumi tidak menumbuhkan apa pun." (Sahih Muslim 2904)
Coba kita ukur diri kita sendiri dengan hadits ini. Selama ini kita sering mengukur "kering" atau "basah" dari ada-tidaknya sesuatu yang mengalir ke kita — gaji, notifikasi, follower, kesempatan baru. Tapi Rasulullah ﷺ mengajarkan ukuran yang berbeda: bukan soal ada-tidaknya hujan, tapi soal ada-tidaknya yang tumbuh. Kita bisa saja menerima "hujan" setiap hari — scroll media sosial berjam-jam, uang masuk lalu keluar lagi, kabar demi kabar lewat di linimasa — tapi kalau tidak ada satu pun yang tumbuh dari situ, tidak ada kesabaran yang bertambah, tidak ada kedermawanan yang mekar, tidak ada kedekatan pada Allah yang menguat, itulah paceklik yang sesungguhnya, walau kelihatannya kita baik-baik saja.
Pekan ini kita dengar kesaksian orang yang uangnya raib dalam hitungan menit karena percaya pada tawaran yang mengatasnamakan teknologi canggih. Kita juga dengar cerita warga yang mengamati sumurnya makin dangkal setiap hari karena kemarau panjang. Dua-duanya menyakitkan, dan saya tidak sedang meremehkan kesedihan itu. Tapi izinkan saya mengajak kita melihat satu langkah lebih jauh: jangan sampai kita begitu sibuk meratapi "hujan" yang hilang — uang, kepercayaan, air — sampai lupa bertanya, dari "hujan" yang masih Allah alirkan ke hidup kita hari ini, adakah yang benar-benar tumbuh?
Saya sering merasa, dan mungkin saudara-saudara juga pernah merasakannya, bahwa kesibukan sehari-hari itu sendiri bisa jadi bentuk paceklik yang halus. Kita sibuk, tapi kesibukan itu tidak selalu berbuah. Kita dapat rezeki, tapi rezeki itu tidak selalu menjadikan kita lebih dermawan. Kita dapat informasi, tapi informasi itu tidak selalu menjadikan kita lebih bijak. Hadits ini mengajak kita berhenti sejenak, bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk bertanya jujur: dari semua yang mengalir ke hidup saya pekan ini, apa yang benar-benar tumbuh?
Maka pulang dari sini malam ini, saya mengajak kita melakukan satu hal sederhana. Pertama, coba tuliskan atau sekadar renungkan dalam hati: satu hal yang Allah alirkan ke hidup kita pekan ini — bisa rezeki, bisa waktu luang, bisa kesehatan — lalu tanyakan jujur, apa yang sudah tumbuh darinya. Kedua, bagi yang pekan ini merasa "kering" karena kehilangan uang atau menyaksikan kemarau di sekitarnya, jangan biarkan kekeringan lahiriah itu merembes jadi kekeringan batin — tetap sisihkan satu kebaikan kecil malam ini, sekecil apa pun, sebagai tanda bahwa hati kita masih menumbuhkan sesuatu walau keadaan sedang sulit.
Itulah pesan yang ingin saya sampaikan malam ini: kekeringan yang paling perlu kita takutkan bukan yang tampak di tanah, melainkan yang tersembunyi di hati — ketika segala yang Allah alirkan ke hidup kita lewat begitu saja tanpa menumbuhkan apa-apa.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ مَا تُنْزِلُهُ عَلَيْنَا مِنَ الرِّزْقِ وَالنِّعَمِ سَبَبًا لِنَمَاءِ قُلُوْبِنَا، وَلَا تَجْعَلْهُ يَمُرُّ عَلَيْنَا مُرُوْرَ الْغَمَامِ بِلَا أَثَرٍ. اَللّٰهُمَّ اسْقِ الْبِلَادَ وَالْعِبَادَ غَيْثًا نَافِعًا، وَاحْفَظْ عَلَيْنَا أَمْوَالَنَا وَأَمَانَاتِنَا مِنْ كُلِّ مَاكِرٍ وَخَادِعٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
