Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKesehatan & KehidupanKamis, 27 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Ikhtiar dan Tawakal, Dua Amanah Sekaligus"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di setiap Jumat, kita berhenti sejenak dari putaran dunia untuk mendengar satu peringatan yang sama: bahwa hidup ini punya arah, dan arah itu tidak boleh hilang ditelan kesibukan. Pekan ini, izinkan khatib mengajak kita merenungkan satu ayat pendek yang maknanya sangat luas — tentang tubuh, tentang jiwa, dan tentang bagaimana keduanya adalah amanah yang harus kita tunaikan, bukan hadiah yang kita terima begitu saja.

وَأَن لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

(QS. An-Najm: 39)

"Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh sesuatu selain apa yang telah ia usahakan sendiri."

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat inilah yang diangkat Imam al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Bidayatul Hidayah ketika beliau menegur orang yang mengharap kebaikan tanpa mau berusaha meraihnya — sebuah peringatan yang, insyaAllah, akan kita dalami lebih jauh sepanjang khutbah ini.

Ayat ini turun dalam konteks yang luas — tentang amal, tentang balasan, tentang bagaimana setiap jiwa bertanggung jawab atas usahanya sendiri. Tapi hari ini kita ingin menariknya ke ruang yang sangat konkret dalam hidup kita: kesehatan. Kita sering menganggap sehat itu given — sesuatu yang otomatis ada selama kita tidak berbuat neko-neko. Padahal ayat ini mengingatkan kita bahwa apa pun yang baik dalam hidup kita, termasuk kondisi tubuh dan jiwa yang baik, selalu berkelindan dengan usaha. Bukan usaha yang menggantikan kehendak Allah, tapi usaha yang menjadi jalan yang Allah tetapkan untuk sampai kepada kebaikan itu.

Pekan ini kita disuguhi kabar yang membuat renungan ini terasa sangat dekat. Sebuah program bantuan pangan yang dirancang untuk menyehatkan anak-anak — memberi mereka gizi yang cukup agar tumbuh kuat — justru diwarnai laporan keracunan massal di sejumlah titik penyalurannya. Niat yang baik, tapi pelaksanaan yang lalai di suatu titik, berubah menjadi mudarat bagi anak-anak yang seharusnya dilindungi. Publik pun bertanya-tanya: di mana pengawasan dapur-dapur itu? Siapa yang memastikan makanan yang sampai ke piring anak-anak kita benar-benar aman?

Pada saat yang hampir bersamaan, kabar lain sampai kepada kita dari Kalimantan dan Sumatera: kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti langit, seperti yang sudah berkali-kali kita saksikan di tahun-tahun sebelumnya. Warga di sana kembali harus menahan napas — secara harfiah — sementara anak-anak dan lansia menjadi pihak yang paling dulu merasakan sesak di dada mereka. Sebuah siklus tahunan yang setiap kali datang, seolah kita baru mulai dari nol lagi dalam menanganinya.

Dan pekan ini juga, dari sisi yang berbeda, sampai kepada kita kabar tentang gempa besar yang mengguncang Flores dan Nusa Tenggara Timur, meninggalkan saudara-saudara kita yang harus memulai pemulihan dari titik yang sangat berat — rumah yang retak, rasa aman yang goyah. Di ruang digital yang berbeda pula, kita mendengar kesaksian warga yang kehilangan uang dalam jumlah yang tidak sedikit karena tertipu modus penipuan online, sebagian mengaku menangis saat menceritakan pengalamannya. Dua peristiwa yang tampak berbeda ini sesungguhnya berbicara tentang hal yang sama: kerapuhan manusia, baik pada tubuhnya maupun pada jiwanya.

Jamaah yang dirahmati Allah, jika kita renungkan bersama, keempat kabar ini — dapur gizi yang lalai, udara yang memburuk, gempa yang mengguncang, dan penipuan yang menyayat — semuanya bermuara pada satu pertanyaan besar: bagaimana kita, sebagai umat yang beriman, menempatkan diri di antara dua kutub yang sering disalahpahami sebagai pertentangan — antara ikhtiar (usaha) dan tawakal (berserah pada takdir Allah)? Padahal keduanya bukan dua kutub yang berlawanan. Keduanya adalah satu paket keimanan yang utuh, dan itulah yang akan kita dalami bersama pekan ini.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Islam mengajarkan kita bahwa tubuh dan jiwa adalah amanah — titipan Allah yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Inilah yang dalam kajian ulama disebut sebagai bagian dari hifz an-nafs, menjaga jiwa dan raga, salah satu tujuan besar yang hendak dijaga oleh syariat ini. Dan menjaga amanah itu tidak cukup dengan doa semata, sebagaimana tidak cukup pula dengan usaha semata tanpa menyandarkan hati kepada Allah. Mari kita dalami satu dalil yang, insyaAllah, akan meluruskan cara pandang kita tentang ini.

Sahih Muslim 2221b

رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «لاَ عَدْوَى». وَيُحَدِّثُ مَعَ ذَلِكَ: «لاَ يُورِدُ الْمُمْرِضُ عَلَى الْمُصِحِّ»

Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada penularan (yang berjalan dengan sendirinya, lepas dari izin Allah)." Dan pada saat yang sama beliau ﷺ juga bersabda: "Janganlah unta (atau apa pun) yang sakit didekatkan pada yang sehat."

Jamaah yang dimuliakan Allah, perhatikan baik-baik: dua kalimat ini diucapkan Rasulullah ﷺ dalam satu tarikan napas yang sama, dalam satu hadits yang sama, diriwayatkan oleh perawi yang sama. Ini bukan kebetulan. Kalimat pertama, "la 'adwa", meluruskan akidah jahiliyyah yang meyakini bahwa penyakit punya kekuatannya sendiri untuk menular — seolah-olah lepas dari kehendak dan izin Allah, seolah-olah penyakit adalah kekuatan otonom yang berdiri sendiri di luar kekuasaan-Nya. Ini juga menghapus keyakinan tathayyur, meramal sial dari benda atau makhluk tertentu — sebuah keyakinan yang mengikat hati manusia jahiliyyah sebelum Islam datang membebaskannya.

Tapi Rasulullah ﷺ tidak berhenti di situ. Pada kalimat kedua, beliau ﷺ justru memerintahkan sesuatu yang sangat praktis: jangan dekatkan yang sakit dengan yang sehat. Inilah ikhtiar. Inilah kehati-hatian. Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan bahwa karena penyakit hanya menular dengan izin Allah, maka kita boleh abai, boleh lalai, boleh tidak peduli pada kebersihan dan pencegahan. Justru sebaliknya — dalam hadits yang sama, dalam satu tarikan napas yang sama, dua ajaran ini disandingkan agar umat memahami: meyakini takdir Allah dan mengambil sebab (ikhtiar) bukan dua hal yang bertentangan, melainkan satu paket akidah yang utuh.

Kaitkan ini dengan kabar-kabar yang kita dengar pekan ini. Dapur yang lalai menjaga kebersihan pangan, bukan soal "sudah takdir anak-anak itu sakit" — itu adalah soal ikhtiar yang tidak dijalankan dengan penuh, sebuah sebab yang gagal dijaga. Kabut asap yang menyesakkan dada warga, bukan sesuatu yang harus kita terima pasrah tanpa masker, tanpa upaya mengurangi paparan — itu juga soal ikhtiar. Tawakal yang benar bukanlah tawakal yang meniadakan ikhtiar; tawakal yang benar adalah hati yang tenang karena yakin pada Allah, sembari tangan tetap bekerja menjaga sebab-sebab kebaikan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ikhtiar menjaga tubuh ini juga dituntunkan oleh warisan keilmuan ulama kita dalam bentuk yang sangat sederhana dan bisa kita praktikkan setiap hari — bukan hanya soal menghindari penyakit, tapi juga soal mengatur ritme hidup itu sendiri.

Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / التاسع

أَنْ يُقَلِّلَ نَوْمَهُ مَا لَمْ يَلْحَقْهُ ضَرَرٌ فِي بَدَنِهِ وَذِهْنِهِ، وَلَا يَزِيدُ فِي نَوْمِهِ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ عَلَى ثَمَانِ سَاعَاتٍ وَهُوَ ثُلُثُ الزَّمَانِ

"Hendaklah ia menyedikitkan tidurnya selama tidak mendatangkan mudarat pada tubuh dan pikirannya, dan tidak menambah waktu tidurnya dalam sehari semalam lebih dari delapan jam, yaitu sepertiga waktu."

Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, para ulama menuliskan panduan yang aslinya ditujukan bagi penuntut ilmu, tapi maknanya berlaku bagi kita semua: jangan berlebihan tidur hingga membuat tubuh dan pikiran justru menjadi lemah, tapi juga jangan memaksakan diri kurang istirahat hingga membahayakan badan. Kitab ini juga mengajarkan bahwa boleh — bahkan dianjurkan — seseorang mengistirahatkan diri, hati, pikiran, dan matanya ketika lelah, dengan cara yang wajar, agar kembali segar dan tidak menyia-nyiakan waktunya. Demikian pula dianjurkan berjalan kaki sebagai olahraga tubuh yang sederhana. Inilah ikhtiar yang diajarkan oleh warisan keilmuan Islam kita sendiri — bukan konsep asing, bukan tren kesehatan yang baru kita kenal dari media sosial, melainkan hikmah yang sudah lama tertulis dalam kitab-kitab ulama kita.

Perhatikan, jamaah sekalian — ini bukan sekadar anjuran duniawi. Menjaga pola istirahat, menjaga pola makan, menjaga ritme hidup agar tidak berlebihan ke satu arah, adalah bagian dari menunaikan amanah atas tubuh yang Allah titipkan pada kita. Tubuh ini bukan milik kita sepenuhnya untuk kita perlakukan semau kita — ia adalah titipan yang kelak akan ditanya: untuk apa engkau habiskan usianya, ke mana engkau bawa raganya.

Bahkan dalam hal yang paling personal sekalipun — tidur, saat kita paling lemah dan paling tidak berdaya — Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak melepaskan diri dari mengingat Allah.

Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 38- باب ما جاء في صفة نوم برسول الله صلى الله عليه وسلم

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ الْأَيْمَنِ وَقَالَ: رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

"Sesungguhnya Nabi ﷺ, apabila hendak berbaring di tempat tidurnya, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di bawah pipi kanannya, lalu berdoa: 'Ya Rabbku, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.'"

Dalam bab yang sama, diriwayatkan pula bahwa Nabi ﷺ ketika hendak tidur membaca:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا. وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

"Nabi ﷺ apabila hendak tidur membaca: 'Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup.' Dan apabila terbangun, beliau membaca: 'Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kebangkitan.'"

Jamaah yang dimuliakan Allah, lihatlah betapa indahnya ajaran ini. Tidur bukan hanya soal fisik, bukan hanya soal jam biologis yang perlu dipenuhi. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menutup hari dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah — karena tidur adalah kematian kecil, dan bangun adalah kebangkitan kecil. Inilah tawakal yang sesungguhnya: bukan tawakal yang pasif, melainkan tawakal yang aktif — badan beristirahat sesuai kadarnya, sementara hati tetap terjaga dalam mengingat Allah.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, sampai di sini kita telah melihat bagaimana ikhtiar menjaga tubuh — lewat kebersihan pangan, lewat kewaspadaan terhadap penyakit, lewat pola istirahat yang seimbang — adalah bagian dari amanah yang harus kita tunaikan. Tapi ada satu hal lagi yang perlu kita renungkan bersama, agar semua ikhtiar ini tidak kehilangan arahnya.

Nashaihul Ibad — باب الخماسي (3/3)

سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخَمْسَ: يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ، وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْخَلْقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ

Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan datang atas umatku suatu masa, mereka mencintai lima hal dan melupakan lima hal: mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai hidup dan melupakan mati, mencintai istana-istana dan melupakan kubur, mencintai harta dan melupakan hisab, dan mencintai makhluk namun melupakan Sang Pencipta."

Jamaah sekalian, hadits ini seperti cermin yang dipasang tepat di depan wajah zaman kita. Betapa banyak dari kita yang begitu bersemangat menjaga kesehatan tubuh — pola makan, olahraga, suplemen, pemeriksaan rutin — tapi lupa bahwa tubuh yang sehat ini pada akhirnya akan kembali kepada tanah. Kita mencintai hidup, tapi lupa mempersiapkan kematian. Kita sibuk membangun rumah yang nyaman, tapi jarang membayangkan liang yang akan menjadi rumah terakhir kita. Ini bukan ajakan untuk pesimis atau berhenti berikhtiar menjaga kesehatan — justru sebaliknya, ini adalah pengingat agar ikhtiar kita punya arah yang benar: menjaga tubuh dan jiwa bukan demi tubuh dan jiwa itu sendiri, melainkan agar keduanya kuat untuk menunaikan amanah kepada Allah, sampai ajal menjemput dalam keadaan terbaik.

Maka jamaah yang dirahmati Allah, mari kita satukan semua benang ini. Ikhtiar menjaga kebersihan pangan yang kita berikan pada anak-anak kita. Ikhtiar menjaga diri dari udara yang buruk. Ikhtiar mengatur tidur dan pola hidup. Ikhtiar berhati-hati dari penipuan yang mengincar harta dan ketenangan jiwa kita. Semua ikhtiar ini kita jalankan dengan sungguh-sungguh, sembari hati kita tetap tenang, yakin bahwa hasil akhirnya ada di tangan Allah. Itulah makna sejati dari ayat yang kita baca di awal khutbah ini: manusia tidak memperoleh selain apa yang ia usahakan — maka berusahalah, dan serahkan hasilnya kepada Allah.

Dari renungan ini, izinkan khatib mengajak jamaah sekalian pada beberapa langkah konkret yang bisa kita mulai pekan ini:

Pertama, periksa kembali dapur di rumah kita masing-masing sebelum menuntut dapur orang lain — pastikan makanan yang kita sajikan untuk anak dan keluarga benar-benar bersih dan matang sempurna, sebagai bentuk ikhtiar yang paling dekat dan paling bisa kita kendalikan.

Kedua, siapkan masker sederhana di rumah dan kurangi aktivitas luar ruang yang tidak perlu ketika kualitas udara memburuk, terutama untuk melindungi anak-anak dan anggota keluarga yang lanjut usia.

Ketiga, hidupkan kembali dzikir sebelum tidur dan saat bangun sebagai kebiasaan keluarga, bukan hanya sebagai hafalan doa — agar setiap malam dan setiap pagi kita benar-benar menyerahkan diri kepada Allah.

Keempat, jaga ritme hidup kita: jangan berlebihan bekerja hingga mengorbankan istirahat, dan jangan pula berlebihan istirahat hingga melalaikan tanggung jawab. Sisihkan waktu untuk berjalan kaki atau bergerak, sekecil apa pun.

Kelima, bentuk kebiasaan saling mengingatkan di keluarga dan lingkungan RT kita tentang modus-modus penipuan digital yang terus berkembang, dan jangan segan menemani tetangga yang baru saja menjadi korban — mereka butuh pendampingan, bukan penghakiman.

Keenam, galang bantuan yang nyata — bukan sekadar unggahan doa di media sosial — untuk saudara-saudara kita yang terdampak gempa di Flores dan Nusa Tenggara Timur, karena amanah kita kepada sesama muslim tidak selesai hanya dengan turut prihatin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Di khutbah kedua yang singkat ini, izinkan khatib menegaskan kembali inti dari renungan kita. Kesehatan tubuh dan jiwa bukan hadiah yang jatuh dari langit tanpa usaha, dan ia juga bukan sesuatu yang bisa kita capai semata-mata dengan usaha tanpa menyandarkan hati kepada Allah. Hadits "la 'adwa" yang kita renungkan tadi mengajarkan keseimbangan yang sangat indah: yakin sepenuhnya bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin Allah, sembari tangan tetap bergerak menjaga sebab-sebab kebaikan.

Kabar tentang dapur gizi yang lalai pekan ini semestinya tidak membuat kita hanya marah kepada pihak lain, tapi juga mengajak kita menoleh ke dapur sendiri — sudahkah kita seteliti itu menjaga apa yang kita hidangkan untuk keluarga kita? Kabar tentang kabut asap semestinya tidak membuat kita hanya mengeluh pada cuaca dan kebijakan, tapi juga mengingatkan kita bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari amanah bersama yang tidak bisa dipikul sendiri-sendiri.

Kabar tentang gempa yang mengguncang saudara-saudara kita di Flores dan Nusa Tenggara Timur, jamaah sekalian, bukanlah tanda bahwa mereka sedang dihukum atas dosa-dosa mereka. Musibah yang menimpa orang beriman adalah ujian sekaligus penghapus dosa, bukan vonis. Yang dituntut dari kita bukan menduga-duga kesalahan mereka, melainkan bergerak membantu — dengan harta, dengan doa yang disertai aksi nyata, dengan kehadiran yang tulus.

Dan kabar tentang saudara-saudara kita yang tertipu penipuan digital semestinya mengajarkan kita untuk lebih waspada tanpa kehilangan rasa iba — mereka kehilangan uang dan kepercayaan, dan yang mereka butuhkan bukan cemoohan karena "kurang hati-hati", melainkan pendampingan agar bisa bangkit kembali.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan bertawakal dengan hati yang tenang. Semoga Allah menjaga tubuh dan jiwa kita, keluarga kita, dan seluruh umat ini, dari segala yang mendatangkan mudarat.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْحِصَارَ. وَاجْبُرْ كَسْرَ إِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ نَكَبَتْهُمُ الزَّلَازِلُ وَالْمَصَائِبُ فِيْ فِلُوْرِيْسْ وَنُوْسَا تِنْجَارَا الشَّرْقِيَّةِ وَفِيْ كُلِّ مَكَانٍ، اَللّٰهُمَّ اربُطْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَارْزُقْهُمُ الصَّبْرَ وَحُسْنَ الْعِوَضِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِلضُّعَفَاءِ، وَحُمَاةً أُمَنَاءَ عَلٰى مَا وَلَّيْتَهُمْ مِنْ أَمْرِ عِبَادِكَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَعَافِ أَبْدَانَنَا وَقُلُوْبَنَا، وَاحْفَظْ أَطْفَالَنَا وَذُرِّيَّتَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ، وَاجْعَلِ الطَّعَامَ الَّذِيْ نُطْعِمُهُ أَبْنَاءَنَا طَعَامًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، وَاحْفَظْ مَنْ خَدَعَهُمُ الْمُحْتَالُوْنَ وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوْا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan