Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKesehatan & KehidupanKamis, 27 Agustus 2026

Kultum — "Sehat Itu Titipan, Bukan Kebiasaan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini kita banyak mendengar kabar tentang tubuh yang terancam — dari dapur gizi yang lalai, dari udara yang memburuk, dari gempa yang mengguncang. Tapi malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sejenak dari kabar-kabar besar itu, dan bertanya sesuatu yang jauh lebih sederhana: kapan terakhir kali kita benar-benar bersyukur karena masih bisa bernapas dengan tenang, makan tanpa was-was, dan tidur di rumah yang masih berdiri kokoh?

Kita hidup di zaman yang aneh: informasi tentang kesehatan begitu melimpah, tapi rasa syukur atas kesehatan itu sendiri justru makin tipis. Kita baru merasa afiat itu berharga ketika membaca kabar orang lain kehilangannya — anak yang keracunan, warga yang sesak napas karena kabut asap, keluarga yang kehilangan rumah karena gempa. Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah menyampaikan sebuah nasihat yang mengena persis pada persoalan ini.

Nashaihul Ibad — باب السباعي (2/2)

الْفَقْرُ عَلَى الْغِنَى، وَالذُّلُّ عَلَى الْعِزِّ، وَالتَّوَاضُعُ عَلَى الْكِبْرِ، وَالْجُوعُ عَلَى الشِّبَعِ، وَالْغَمُّ عَلَى السُّرُورِ، وَالدُّونُ عَلَى الْمُرْتَفِعِ، وَالْمَوْتُ عَلَى الْحَيَاةِ

Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Adalah hak atas orang yang berakal untuk memilih tujuh perkara atas tujuh perkara: fakir daripada kaya, hina daripada mulia, tawadhu' daripada sombong, lapar daripada kenyang, sedih daripada gembira, rendah daripada tinggi kedudukan, dan mati daripada hidup."

Tujuh pilihan yang disebutkan Ibnu 'Abbas ini bukan ajakan untuk mencari-cari penderitaan, jamaah sekalian. Ini bukan nasihat yang menyuruh kita membenci kenyamanan. Yang beliau maksud adalah cara pandang hati: seorang yang berakal tidak mengukur kebaikan hidupnya dari seberapa penuh piringnya atau seberapa nyaman ranjangnya, melainkan dari seberapa jujur ia mengingat bahwa semua itu titipan yang bisa diambil kapan saja.

Coba kita renungkan poin keempat: lapar daripada kenyang. Bukan berarti kita dianjurkan menahan lapar setiap hari. Tapi ada kejujuran di baliknya — orang yang sesekali merasakan lapar akan lebih mudah bersyukur ketika kenyang, sementara orang yang selalu kenyang gampang lupa bahwa makanan yang ia santap adalah nikmat, bukan hak. Pekan ini kita mendengar kabar tentang program makan bergizi yang justru membuat sebagian anak jatuh sakit. Bagi anak-anak dan orang tua yang terdampak, sepiring makanan yang aman tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat berharga — sesuatu yang selama ini kita anggap remeh.

Begitu pula poin ketujuh: mati daripada hidup. Ini bukan ajakan pesimis, jamaah. Ini ajakan realistis. Berapa banyak dari kita yang baru teringat kematian ketika mendengar kabar gempa yang merenggut rumah dan rasa aman saudara kita di Flores dan Nusa Tenggara Timur? Padahal kesadaran akan kematian semestinya hadir setiap hari, bukan hanya saat ada bencana — karena kesadaran itulah yang membuat kita tidak menyia-nyiakan kesehatan dan waktu yang masih Allah titipkan kepada kita.

Hati yang sehat, jamaah yang saya hormati, adalah hati yang tidak pernah lupa bahwa kenyamanan hari ini bisa berubah esok hari. Bukan supaya kita cemas terus-menerus, tapi supaya kita bersyukur dengan sungguh-sungguh — bukan syukur di ujung lisan saja, melainkan syukur yang mendorong kita menjaga apa yang masih kita punya dan berbagi dengan yang sedang kehilangan. Dan karena kesehatan itu rapuh, kita diajarkan untuk tidak berhenti memintanya kepada Allah, bukan hanya menikmatinya dalam diam.

Riyad as-Salihin 1484

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَسَيِّئِ الْأَسْقَامِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kusta putih, gila, lepra, dan penyakit-penyakit buruk lainnya."

Doa pendek ini mengajarkan sesuatu yang dalam: Rasulullah ﷺ sendiri, manusia paling mulia, tidak pernah berhenti memohon perlindungan dari sakit. Bukan karena beliau kurang tawakal, tapi karena beliau mengajarkan kepada kita bahwa afiat — kesehatan tubuh dan jiwa — adalah nikmat yang harus terus kita minta, bukan nikmat yang otomatis bertahan selamanya dengan sendirinya.

Maka jamaah sekalian, sebelum kita pulang malam ini, mari bawa satu pesan sederhana: jangan tunggu kehilangan untuk mulai bersyukur. Malam ini, coba ucapkan syukur yang spesifik — bukan "alhamdulillah" yang terburu-buru lalu lewat begitu saja, tapi syukur yang menyebut satu per satu: nikmat bisa bernapas lega, nikmat makan tanpa was-was, nikmat tidur di rumah yang masih berdiri kokoh. Dan sebelum tidur, jangan lupa mohon kepada Allah agar afiat itu dijaga untuk esok hari.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan