Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita membuka khutbah pekan ini dengan satu ayat yang, insya Allah, menjadi kacamata bagi kita dalam membaca dunia yang sedang bergejolak.
وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujuraat: 9: "Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini turun dalam konteks dua golongan mukmin yang berselisih, tetapi prinsip yang dikandungnya jauh lebih luas dari sekadar peristiwa itu. Allah tidak memerintahkan umat beriman untuk memilih pihak lalu membenci pihak lain sampai ke akar-akarnya. Allah memerintahkan islah — mendamaikan, meluruskan, mengembalikan pada perintah Allah, lalu berlaku adil kepada kedua pihak sekalipun salah satunya jelas bersalah. Yang ditekankan di ujung ayat bukan kemenangan salah satu golongan, melainkan keadilan: "sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." Inilah kacamata yang ingin kita pakai pekan ini untuk membaca dunia yang terasa memanas di banyak tempat sekaligus.
Perhatikan baik-baik, jamaah sekalian: keadilan yang dituntut ayat ini bukan keadilan yang murah, bukan keadilan yang hanya berlaku selama menguntungkan golongan kita sendiri. Ayat ini bahkan menuntut keadilan ketika pihak yang lebih dekat dengan kita sekalipun yang keliru — "hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah" berlaku untuk siapa pun yang melampaui batas, tanpa pandang bulu. Ini ujian yang berat bagi hati kita: sanggupkah kita berkata jujur ketika pihak yang secara emosional lebih kita dukung ternyata juga melakukan kekeliruan? Sanggupkah kita tetap adil dalam menilai, sekalipun kepada pihak yang secara politik kita anggap lawan? Inilah standar yang Allah tetapkan, dan standar itu tidak murah bagi siapa pun.
Dari kabar yang sampai kepada kita pekan ini, dunia memang sedang riuh oleh ketegangan. Retorika keras berputar di seputar Iran dan Selat Hormuz — ada yang berbicara tentang ancaman terhadap beberapa negara sekaligus demi melumpuhkan Iran, bahkan menyelipkan pertanyaan apakah Indonesia ikut disebut di dalamnya. Ada pula kabar tentang pertemuan pejabat intelijen tingkat tinggi yang membicarakan kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis. Nada yang beredar terasa seperti pertunjukan yang sengaja dipanaskan, seolah dunia sedang memasuki babak paling kritis dalam sejarah konflik modern.
Di saat yang sama, ramai diperbincangkan pekan ini pula gelombang solidaritas untuk Palestina — ajakan aksi damai, gerakan warga yang ingin menunjukkan kepedulian nyata. Tapi jamaah sekalian, kabar yang sampai kepada kita juga menunjukkan sisi lain: solidaritas itu berjalan berdampingan dengan perdebatan yang saling menuding, seolah yang lebih penting adalah membuktikan siapa paling peduli, bukan menyalurkan kepedulian itu menjadi bantuan yang sungguh-sungguh sampai.
Dan pekan ini pula, publik dikejutkan oleh kabar tentang pergeseran hubungan di kawasan Suriah, Israel, dan Turki — pemerintahan baru Suriah yang dikabarkan menjajaki komunikasi dengan pihak yang sebelumnya dianggap berseberangan, sementara Turki mengirim dukungan militer dan disebut bersiap menghadapi babak ketegangan baru. Bagi banyak dari kita yang mengikuti kabar ini sepintas lalu, peta ini terasa membingungkan — siapa kawan, siapa lawan, tidak lagi sesederhana yang kita bayangkan.
Bagi kita di Indonesia, ketiga kabar ini bukan sekadar berita luar negeri yang lewat begitu saja di layar. Sebagai bagian dari negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia, sikap dan suara kita ikut diperhitungkan — baik oleh mereka yang merumuskan posisi diplomatik negeri ini, maupun oleh saudara-saudara di berbagai belahan dunia yang berharap dukungan dari umat Islam Indonesia. Tanggung jawab ini tidak hanya berada di tangan pejabat dan diplomat. Ia berada di tangan kita semua yang duduk di masjid ini pada Jumat ini — dalam doa yang kita panjatkan, dalam infaq yang kita salurkan, dan dalam cara kita berbicara tentang isu ini kepada anak-anak, tetangga, dan rekan kerja kita esok hari.
Jamaah yang dirahmati Allah, tiga kabar ini berbeda wilayah, berbeda aktor, tetapi menyentuh satu hal yang sama: bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap ketika dunia di sekelilingnya memanas. Apakah kita ikut menyalakan api dengan amarah yang tak terarah? Apakah kita diam saja seolah tidak peduli? Ataukah kita mengambil peran yang Allah perintahkan dalam ayat tadi — menjadi pendamai, menjadi penegak keadilan, menjadi penyambung rahmat, bukan penyambung kemarahan?
Inilah yang ingin kita dalami bersama pada khutbah pekan ini: bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan umatnya untuk bersikap dingin terhadap penindasan, tetapi juga bukan agama yang membiarkan kemarahan terhadap kezaliman berubah menjadi kebencian buta kepada suatu bangsa atau golongan secara kolektif. Ada jalan tengah yang tegas sekaligus penuh hikmah, dan jalan itu bernama islah.
Mari kita perdalam prinsip ini lebih jauh. Allah berfirman dalam ayat berikutnya:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujuraat: 10: "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."
Ayat ini meletakkan dasar yang lebih dalam lagi: persaudaraan iman itu sendiri adalah alasan mengapa islah wajib diupayakan. Bukan karena persaudaraan itu sudah pasti nyaman dan tanpa gesekan — justru ayat sebelumnya berbicara tentang dua golongan mukmin yang saling memerangi — tetapi karena ikatan iman itu lebih besar dari gesekan yang terjadi. Ketika kita melihat sesama Muslim di belahan dunia lain sedang berhadapan dengan ancaman, ketidakpastian, atau kehilangan, ayat ini mengingatkan kita bahwa mereka adalah saudara kita, dan tugas kita bukan sekadar bersimpati dari kejauhan, melainkan mengupayakan perbaikan — dengan doa, dengan bantuan, dengan sikap yang menyejukkan, bukan yang memperkeruh.
Namun jamaah sekalian, persaudaraan ini juga menuntut kejujuran pada diri sendiri tentang bagaimana kita mengekspresikannya. Pekan ini, ajakan solidaritas untuk Palestina bermunculan di banyak tempat — sebuah bentuk kepedulian yang patut disyukuri. Tapi dari kabar yang sampai kepada kita, ajakan itu juga berdampingan dengan saling tuding tentang siapa yang paling peduli dan siapa yang dianggap kurang bersuara. Ini ironi yang perlu kita renungkan: ayat yang sama yang memerintahkan kita mendamaikan saudara yang berselisih, sering kali kita lupakan justru ketika kita sendiri sedang membela saudara yang lain. Persaudaraan yang benar tidak berhenti pada seberapa keras suara kita, tetapi pada seberapa nyata bantuan yang sampai, dan seberapa terjaga hubungan kita dengan sesama Muslim yang berbeda pendapat tentang cara terbaik menunjukkan kepedulian itu.
Jamaah yang dimuliakan Allah, islah dalam Islam bukan sekadar sikap batin atau anjuran moral yang mengambang. Islam bahkan memberi islah itu bentuk hukum yang konkret. Dalam kitab-kitab fikih klasik, ada satu bab khusus yang membahas shulh — perdamaian — sebagai sebuah akad, sebuah transaksi hukum yang sah dan mengikat, bukan sekadar imbauan untuk baikan.
Fath al-Qarib menjelaskan: "وهو لغةً قطع المنازعة، وشرعا عقدٌ يحصل به قطعُها" — shulh, secara bahasa, berarti memutus pertikaian; secara syariat, ia adalah sebuah akad yang dengannya pertikaian itu benar-benar diputus. Kitab ini bahkan merinci dua bentuk shulh: yang pertama disebut ibra', yakni salah satu pihak melepaskan sebagian haknya demi mengakhiri sengketa; yang kedua disebut mu'awadhah, yakni pertikaian diselesaikan dengan pertukaran atau kompensasi yang disepakati bersama.
Mengapa ini penting kita renungkan pekan ini? Karena ia menunjukkan sesuatu yang mendalam tentang cara pandang Islam terhadap konflik: perdamaian bukan sesuatu yang terjadi begitu saja ketika amarah mereda, melainkan sesuatu yang harus diupayakan secara sengaja, dengan langkah-langkah yang jelas, bahkan dengan kerelaan melepas sebagian yang menjadi hak kita demi tercapainya keputusan itu. Islah menuntut usaha, bukan hanya harapan. Ini bukan fikih yang jauh dari kehidupan kita — ini fikih yang mengajarkan bahwa mendamaikan itu sendiri adalah sebuah amal yang punya tata caranya, punya kesungguhannya, dan punya pahalanya.
Sekarang mari kita bawa prinsip ini ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian kita: bagaimana kita merespons kabar-kabar yang memanas ini di layar ponsel kita sendiri. Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — meski aslinya berbicara tentang adab menuntut ilmu — memuat satu pelajaran yang sangat relevan untuk kita pekan ini, tentang menjaga majelis dari keributan.
Dikisahkan dalam kitab ini: "قال الربيع: كان الشافعي إذا ناظره إنسان في مسألة فعدا إلى غيرها يقول: نفرغ من هذه المسألة ثم نصير إلى ما تريد" — Ar-Rabi' berkata, Imam Syafi'i, apabila ada yang berdebat dengannya dalam satu masalah lalu melompat ke masalah lain, beliau berkata: "Mari kita selesaikan dulu masalah ini, baru kita beralih ke apa yang engkau kehendaki." Kitab ini menjelaskan bahwa tujuan dari sebuah pertemuan atau perbincangan seharusnya adalah tampaknya kebenaran dan kebersihan hati, bukan persaingan dan permusuhan — sebab keduanya justru menjadi sebab tumbuhnya kebencian.
Jamaah sekalian, coba kita jujur pada diri sendiri: berapa banyak dari kita yang, ketika membaca kabar tentang Iran, tentang Palestina, tentang Suriah, langsung tergerak untuk ikut berkomentar tajam, ikut menyalahkan, ikut melompat dari satu perdebatan ke perdebatan lain tanpa pernah benar-benar menuntaskan satu pun? Adab yang dicontohkan Imam Syafi'i ini sederhana tapi dalam: selesaikan dulu satu perkara dengan jernih, jangan biarkan majelis — atau di zaman kita, lini masa — berubah menjadi ajang keributan yang tidak menghasilkan kebenaran apa pun, hanya menghasilkan kelelahan dan kebencian.
Prinsip ini bertaut erat dengan bagaimana Islam mengajarkan kita mengelola amarah itu sendiri. Adab al-'Alim wa al-Muta'allim juga menyebutkan akhlak yang seharusnya menghiasi seorang mukmin dalam bergaul dengan sesama manusia, di antaranya: "وكظم الغيظ، وكف الأذى عن الناس، واحتماله منهم والإيثار" — menahan amarah, menahan diri dari menyakiti orang lain, sabar menanggung gangguan dari mereka, dan mendahulukan orang lain di atas diri sendiri. Kitab ini juga menyebutkan bahwa hati yang bersih perlu dijaga dari sifat-sifat tercela seperti dendam, hasad, permusuhan, dan kemarahan yang bukan karena Allah.
Menahan amarah bukan berarti kita harus bersikap dingin terhadap kezaliman. Ketika saudara-saudara kita di Palestina menghadapi penderitaan, marah terhadap kezaliman itu adalah fitrah yang sehat — bahkan bagian dari iman. Tetapi ada beda besar antara marah pada kezaliman dan benci pada suatu bangsa secara kolektif. Yang pertama menggerakkan kita pada keadilan; yang kedua justru menjerumuskan kita pada sikap yang persis ditolak dalam ayat tadi — sebab Allah mencintai orang yang adil, bukan orang yang membabi buta dalam kebenciannya, sekalipun kebenciannya berawal dari kepedulian yang tulus.
Jamaah yang dimuliakan Allah, ada satu pelajaran lagi yang ingin saya sampaikan, yang datang dari kitab yang sama, tentang bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan sahabatnya untuk mendahulukan kebutuhan yang lebih mendesak dan menghormati yang lebih membutuhkan. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat Anshar datang kepada Nabi ﷺ untuk bertanya, kemudian datang pula seorang dari Tsaqif. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا أَخَا ثَقِيفٍ إِنَّ الْأَنْصَارِيَّ قَدْ سَبَقَكَ بِالْمَسْأَلَةِ فَاجْلِسْ كَيْمَا نَبْدَأَ بِحَاجَةِ الْأَنْصَارِيِّ قَبْلَ حَاجَتِكَ
"Wahai saudara Tsaqif, sungguh al-Anshari telah mendahuluimu dalam pertanyaan — duduklah agar kita memulai dengan kebutuhan al-Anshari sebelum kebutuhanmu." Kitab ini menambahkan penjelasan dari Al-Khathib bahwa dianjurkan bagi yang lebih dahulu memiliki giliran untuk tetap mendahulukan orang yang datang dari jauh atau yang sedang dalam kondisi lebih membutuhkan perlindungan, karena kehormatan dan kebutuhannya yang lebih mendesak.
Pelajaran ini, jamaah sekalian, mengajarkan kita sesuatu yang penting: keadilan dalam Islam bukan sekadar "membagi rata", melainkan mengenali siapa yang lebih membutuhkan pertolongan saat itu, lalu mendahulukannya dengan sadar dan sengaja. Ketika saudara kita di Palestina, di kawasan yang bergolak, membutuhkan uluran tangan, prinsip ini mengajarkan kita untuk tidak menunda-nunda kepedulian, tidak menghabiskan energi untuk memperdebatkan siapa yang paling berhak bersuara, melainkan segera mendahulukan yang benar-benar membutuhkan.
Jamaah yang dimuliakan Allah, ada satu benang yang menyatukan seluruh dalil yang telah kita renungkan sejak awal khutbah ini. Ayat tentang islah, prinsip fikih tentang shulh, teladan tentang menuntaskan satu masalah sebelum berpindah ke masalah lain, dan pelajaran tentang mendahulukan yang lebih membutuhkan — semuanya menunjuk pada satu sikap yang sama: kesediaan untuk memperlambat diri sebelum bereaksi. Dunia hari ini bergerak sangat cepat. Berita datang dalam hitungan detik, dan tekanan untuk segera bereaksi — segera berkomentar, segera memihak, segera menghakimi — terasa begitu besar. Tapi justru di tengah kecepatan itulah agama kita mengajarkan sesuatu yang terasa melawan arus: berhenti sejenak, periksa hati, periksa fakta, baru kemudian bertindak. Bukan karena lambat itu baik untuk semua hal, tapi karena keadilan dan islah tidak pernah lahir dari ketergesaan.
Maka jamaah yang dirahmati Allah, di penghujung khutbah pertama ini, izinkan saya mengajak kita semua pada beberapa langkah nyata untuk pekan ini. Pertama, perbanyaklah doa untuk saudara-saudara yang tertindas dan untuk peredaman konflik di berbagai front sekaligus, alih-alih hanya menyebarkan kecemasan tanpa arah. Kedua, sebelum membagikan kabar tentang konflik yang sedang memanas ini, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini menambah pemahaman, atau hanya menambah kebencian? Ketiga, salurkan kepedulian kita pada Palestina dan saudara-saudara yang terdampak lewat bantuan yang konkret melalui jalur kemanusiaan yang tepercaya, bukan hanya lewat unggahan yang berhenti di layar. Keempat, jagalah lisan dan jari kita dari komentar yang menyudutkan satu bangsa atau kelompok secara kolektif — ingatlah, kemarahan pada kezaliman tidak boleh berubah menjadi kebencian buta pada suatu kaum. Kelima, jadikanlah masjid dan majelis kita sebagai ruang yang menenangkan untuk membahas isu-isu ini, bukan ruang yang menambah kegaduhan seperti yang dipesankan Imam Syafi'i tadi. Keenam, perbanyaklah istighfar dan muhasabah pribadi di tengah kecemasan kolektif yang sedang melanda, karena hati yang tenang adalah syarat untuk bisa berpikir jernih dan bersikap adil. Ketujuh, dukunglah setiap upaya diplomasi damai yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, baik oleh pemerintah negeri ini maupun oleh lembaga-lembaga umat, dengan doa dan sikap yang menyejukkan — karena upaya mendamaikan di level mana pun, besar atau kecil, adalah bagian dari amal yang Allah cintai sebagaimana ayat tadi mengajarkan kita.
Semoga Allah menjadikan kita golongan yang mendamaikan, bukan golongan yang memperkeruh; golongan yang adil, bukan golongan yang membabi buta dalam amarahnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita pertegas kembali apa yang telah kita renungkan bersama. Islah bukanlah kelemahan. Mendamaikan bukan berarti mengabaikan yang zalim atau membiarkan kebenaran tenggelam demi ketenangan semu. Islah, sebagaimana kita pelajari dari ayat tadi, tetap menuntut keadilan ditegakkan — bahkan ayat itu sendiri berbicara tentang memerangi pihak yang melampaui batas sampai ia surut kembali kepada perintah Allah. Yang ditolak bukan sikap tegas, melainkan sikap yang kehilangan arah: marah tanpa adil, ramai tanpa nyata membantu, bersuara tanpa pernah benar-benar mendengar.
Kita hidup di zaman ketika kabar dari belahan dunia mana pun sampai ke genggaman kita dalam hitungan detik. Ini adalah nikmat sekaligus ujian. Nikmat, karena kita bisa mengetahui penderitaan saudara kita dan segera bergerak untuk membantu. Ujian, karena derasnya arus itu juga bisa menenggelamkan kita dalam kecemasan yang tidak berujung, atau menyeret kita pada kemarahan yang salah sasaran.
Ada perbedaan yang perlu kita renungkan antara peduli dan sekadar mengonsumsi kabar. Peduli mendorong kita untuk bertindak — berdoa, membantu, menjaga lisan. Mengonsumsi hanya mendorong kita untuk terus mencari kabar berikutnya, tanpa pernah benar-benar berhenti untuk berbuat sesuatu. Godaan zaman kita adalah menyangka bahwa terus-menerus mengikuti berita sama artinya dengan peduli, padahal keduanya bisa sangat berbeda. Seseorang bisa menghabiskan berjam-jam mengikuti perkembangan sebuah konflik, namun tidak sekali pun berdoa untuk korbannya atau menyisihkan hartanya untuk membantu.
Jamaah sekalian, tanggung jawab menjaga adab ini bukan hanya milik para pemimpin negara atau tokoh agama. Ia berada di tangan setiap kita yang memegang ponsel, yang menulis komentar, yang meneruskan pesan. Masing-masing dari kita, pada dasarnya, memimpin ruang kecil kita sendiri — linimasa kita sendiri, akun kita sendiri, majelis kita sendiri — dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana ruang kecil itu kita kelola, sebagaimana kita akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah-amanah lain yang Allah titipkan kepada kita.
Maka mari kita jadikan pekan ini sebagai titik untuk kembali pada adab yang diajarkan agama kita: mendahulukan yang membutuhkan, menahan amarah yang tak perlu, menjaga majelis — dan lini masa kita — dari keributan yang tidak menghasilkan kebaikan apa pun.
Semoga pekan ini menjadi pekan ketika kita, sebagai jamaah, dikenal bukan karena paling keras suaranya di kolom komentar, melainkan karena paling teduh sikapnya, paling nyata bantuannya, dan paling konsisten doanya untuk saudara-saudara yang sedang diuji. Inilah dakwah yang paling mudah dilihat orang lain — bukan lewat argumen yang kita menangkan, melainkan lewat akhlak yang kita jaga ketika dunia di sekitar kita justru kehilangan akhlaknya.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang mendamaikan, bukan yang memperkeruh keadaan.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ وَفِيْ أَرْضِ الشَّامِ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْخَوْفَ، وَآمِنْ رَوْعَاتِهِمْ، وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِلصُّلْحِ لَا سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ.
اَللّٰهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَاجْمَعْ قُلُوْبَنَا عَلَى التَّقْوٰى، وَجَنِّبْنَا الْغُلُوَّ فِي الْغَضَبِ وَالتَّفَرُّقَ فِي الْكَلِمَةِ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْ كُلَّ مَنْ يُؤَثِّرُ فِي الرَّأْيِ الْعَامِّ حِكْمَةً فِي الْكَلَامِ، وَرَحْمَةً فِي الْقَلْبِ، وَاجْعَلْ كَلِمَاتِنَا سَبَبًا لِلْأُلْفَةِ لَا سَبَبًا لِلْفُرْقَةِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاحْفَظْ ذُرِّيَّتَنَا وَأَهْلَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
