Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKonflik & GeopolitikKamis, 27 Agustus 2026

Kultum — "Dunia Ribut, Jangan Lupa Akhirat"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِيْ ذِكْرِهِ طُمَأْنِيْنَةَ الْقُلُوْبِ وَسَطَ تَقَلُّبِ الْأَحْوَالِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini dunia terasa ramai oleh kabar yang memanaskan hati — dari ketegangan di Selat Hormuz sampai kabar yang datang dari Suriah. Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan satu hal yang sederhana tapi sering terlupakan: di tengah dunia yang ribut, jangan sampai kita lupa akhirat.

Pernahkah antum merasakan ini: baru buka ponsel lima menit, sudah scroll belasan kabar dari luar negeri yang bikin dada sesak, tapi begitu ponsel ditutup, hati justru terasa jauh dari Allah — bukannya makin dekat, malah makin gelisah, makin banyak mengeluh, makin lupa sujud yang tadi baru saja kita kerjakan? Kalau antum pernah merasakannya, saya juga. Dan ternyata, keresahan semacam ini sudah diperingatkan jauh-jauh hari.

Dalam kitab Nashaihul Ibad, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخَمْسَ: يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ، وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْخَلْقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ

"Akan datang atas umatku suatu zaman, mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara: mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai kehidupan dan melupakan kematian, mencintai istana-istana dan melupakan kubur, mencintai harta dan melupakan hisab, dan mencintai makhluk dan melupakan Sang Pencipta." Jamaah sekalian, coba dengarkan lagi baik-baik lima pasang ini — bukan kebetulan kalau terasa seperti sedang menggambarkan linimasa kita hari ini.

Kabar dari Timur Tengah pekan ini — soal Iran dan Selat Hormuz, soal solidaritas untuk Palestina, soal Suriah — semuanya sah untuk kita ikuti, bahkan sah untuk membuat hati kita gelisah, karena itu tanda kepedulian. Tapi coba kita tanya jujur: setelah dua jam mengikuti kabar-kabar itu, berapa menit yang kita luangkan untuk mendoakan mereka? Berapa banyak dari kekhawatiran itu yang benar-benar berubah jadi sujud, jadi sedekah, jadi dzikir — dan berapa banyak yang hanya berubah jadi komentar panas yang kita ketik lalu kita sesali esok harinya? Itulah persis yang disentil hadits tadi: mencintai dunia — termasuk mencintai drama dan ketegangannya — sampai lupa akhirat, lupa bahwa semua yang kita saksikan ini kelak akan dihisab, termasuk bagaimana kita meresponnya.

Ada satu pelajaran lagi yang ingin saya bagikan, dari kitab Bidayatul Hidayah. Allah berfirman, sebagaimana disebutkan dalam kitab itu:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melampaui batas." (QS. Al-Kahfi: 28, sebagaimana dikutip dalam Bidayatul Hidayah) Kitab ini menjelaskan bahwa terus-menerus menyaksikan sesuatu — termasuk kegaduhan dan amarah — lama-lama akan menumpulkan hati kita, membuat yang tadinya terasa berat menjadi terasa biasa saja.

Coba kita jujur: linimasa kita hari ini dipenuhi akun-akun yang isinya kemarahan tanpa arah, sindiran yang saling menjatuhkan, prediksi kiamat versi geopolitik yang dibumbui supaya viral. Kalau kita terus-menerus mengikuti akun semacam itu tanpa filter, pelan-pelan hati kita ikut terbiasa dengan nada marah itu — dan yang lebih berbahaya, kita jadi lupa bahwa dunia ini, seburuk apa pun kabarnya, bukan tujuan akhir kita.

Jamaah yang dirahmati Allah, hadits tadi bukan mengajak kita untuk cuek dan tidak peduli pada dunia. Peduli pada saudara yang tertindas tetap bagian dari iman kita, bukan sesuatu yang perlu ditinggalkan. Yang diperingatkan adalah ketika kepedulian itu berubah jadi kecintaan buta pada dunia — sampai kita lupa bahwa yang paling penting bukan siapa menang siapa kalah di panggung geopolitik, melainkan bagaimana hati kita pulang kepada Allah di tengah semua itu.

Kitab Bidayatul Hidayah punya perumpamaan yang bagus untuk kita renungkan malam ini: perintah Allah itu terbagi dua, yang wajib dan yang sunnah. Yang wajib ibarat modal pokok — dasar dari keselamatan kita. Yang sunnah ibarat keuntungan — jalan menuju derajat yang lebih tinggi. Nah, di tengah pekan yang penuh kecemasan seperti ini, justru amalan-amalan sunnah kecil itulah yang paling gampang kita tinggalkan lebih dulu — padahal itu yang paling bisa menenangkan hati kalau kita rutin menjaganya. Dzikir pagi-petang lima menit, sholat sunnah dua rakaat sebelum subuh, sedekah kecil yang rutin — itu semua "keuntungan" yang membuat hati kita tetap terhubung dengan Allah, walau dunia di luar sana sedang ribut.

Maka izinkan saya menutup dengan tiga ajakan sederhana untuk malam ini. Pertama, batasi waktu mengikuti berita dunia — beri batas waktu yang jelas, lalu tutup, lalu ganti dengan dzikir atau membaca Al-Qur'an barang sepuluh menit. Kedua, setiap kali hati bergejolak oleh sebuah kabar, jadikan itu pengingat untuk berdoa saat itu juga, bukan menunda apalagi lupa. Ketiga, sebelum tidur malam ini, coba hitung: berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk dunia hari ini, dan berapa banyak untuk akhirat? Kalau timbangannya berat sebelah, itulah saatnya kita mulai membenahi.

Dunia boleh ribut. Tapi jangan sampai hati kita ikut lupa akhirat.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِيْ أَيْدِيْنَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِيْ قُلُوْبِنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ هَمَّنَا وَغَايَتَنَا. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوْبًا خَاشِعَةً لَا تَغْفُلُ عَنْ ذِكْرِكَ، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan