Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatLingkungan & BencanaKamis, 27 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Saat Bumi Bergetar, Amanah Tak Boleh Retak"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Pekan ini kita hidup di tengah bumi yang seolah sedang bicara keras kepada kita — lewat api yang membakar hutan, lewat tanah yang berguncang, lewat sumber air yang mengering. Sebelum kita mengambil kesimpulan apa pun tentang apa yang sedang terjadi, mari kita dengarkan dulu satu ayat yang Allah letakkan dalam kisah Nabi Shalih 'alaihissalam, ketika beliau memperingatkan kaumnya agar tidak mengikuti orang-orang yang melampaui batas.

ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

"...yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS. Ash-Shu'araa: 152)

Ayat ini berbicara tentang dua jenis manusia di hadapan bumi: mereka yang membuat kerusakan, dan mereka yang mengadakan perbaikan. Tidak ada golongan ketiga yang netral. Setiap kita, dengan caranya masing-masing, sedang menambah kerusakan atau sedang memperbaiki — lewat cara kita memperlakukan tanah, air, hutan, dan lewat cara kita memperlakukan sesama manusia yang tertimpa musibah karena kerusakan itu. Ayat ini akan menjadi pijakan kita pekan ini, dan izinkan khatib mengajak jamaah sekalian melihat pekan yang baru saja kita lalui melalui dua mata: mata pertama melihat sebab, mata kedua melihat mereka yang terdampak.

Dari berita pekan ini kita ketahui, titik-titik api kembali menyala di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Bukan hal baru, tetapi tetap berat: kabut asap yang ditimbulkan bukan hanya menyesakkan dada warga di sekitar lokasi, melainkan juga menyeberang hingga ke negeri tetangga, sampai membuat sebagian warganya menumpahkan keluhan secara terbuka. Kabar yang sampai kepada kita juga menyebutkan TNI turun tangan membantu upaya pemadaman di lapangan — sebuah gambaran bahwa ini bukan lagi persoalan segelintir orang yang membuka lahan dengan cara membakar, melainkan persoalan yang menyeret institusi negara untuk turun langsung memadamkannya.

Di tengah kabar itu, lembaga cuaca dan geofisika negara sepanjang pekan ini juga terus mengirimkan buletin demi buletin — peringatan dini cuaca ekstrem, info gempa-gempa kecil di berbagai wilayah, radar yang dipantau nyaris setiap jam. Sebagian dari kita mungkin sudah terlalu terbiasa melihat notifikasi semacam ini sampai tidak benar-benar membacanya lagi. Namun di baliknya ada satu kerja yang tidak pernah berhenti: memantau bumi yang terus bergerak, supaya manusia punya waktu sedikit lebih banyak untuk bersiap sebelum yang lebih besar datang.

Di saat yang hampir bersamaan, kabar lain datang dari timur negeri kita: gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores dan Nusa Tenggara Timur. Ramai diperbincangkan pekan ini bagaimana pemerintah bergerak cepat; presiden dikabarkan turun langsung menemui para penyintas di Nagekeo, NTT. Ini kabar yang meringankan hati kita sebagai sesama warga bangsa — bahwa ketika bumi berguncang, ada tangan-tangan yang segera terulur.

Namun, jamaah yang dirahmati Allah, tidak semua kabar pekan ini datang dengan kecepatan respons yang sama. Ada satu krisis yang berjalan nyaris tanpa suara: kekeringan. Kabar yang sampai kepada kita dari kawasan Jonggol di Bogor, dan dari Pasuruan, Jawa Timur, menunjukkan warga bergulat dengan musim kemarau yang mengeringkan sumber air mereka. Tidak ada sirine, tidak ada kunjungan yang terekam kamera — hanya keresahan yang dipikul sendiri oleh warga, hari demi hari. Seorang pembuat konten bahkan menyoroti hal ini secara terbuka: di tengah riuhnya kabar bencana besar, krisis air kerap luput dari perhatian kita bersama.

Dan pekan ini pula, kabar duka datang dari Desa Adat Sade di Lombok — kawasan budaya Sasak yang selama ini dikenal sebagai kebanggaan warisan leluhur. Kebakaran melanda sebagian rumah di sana, merenggut dua nyawa. Seorang saksi menceritakan detik-detik mencekam ketika ia dan yang lain nekat memecahkan pintu rumah demi menyelamatkan yang terjebak di dalam. Kabar ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap angka korban, ada wajah, ada keluarga, ada rumah yang tidak akan pernah sama lagi.

Empat kabar ini — api yang menyeberang batas negara, bumi yang bergetar di Flores, air yang mengering secara senyap, dan kebakaran yang merenggut nyawa di Lombok — sesungguhnya sedang menyampaikan satu pesan yang sama kepada kita: bumi ini rapuh, dan kita bertanggung jawab atasnya, baik sebagai penyebab, sebagai penolong, atau sebagai orang yang memilih untuk berpaling.

Yang menarik untuk kita renungkan bersama, jamaah sekalian, adalah bagaimana respons publik pekan ini justru terbelah. Di satu sisi ada mobilisasi yang nyata dan cepat. Namun kita juga mendengar suara-suara yang menyepelekan musibah orang lain, seolah bencana di tempat yang jauh dari kita adalah urusan yang tidak perlu kita pikirkan, yang toh akan "reda dengan sendirinya". Pada titik inilah ayat pembuka kita tadi menemukan makna yang lebih dalam — sebab ifsad, kerusakan, bukan hanya soal membakar hutan atau mengeksploitasi lahan, tetapi juga soal membiarkan hati kita mengeras terhadap penderitaan saudara sendiri.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Izinkan khatib mengajak jamaah menyusuri argumen ini lebih dalam, sebab Islam tidak pernah memandang bumi dan manusia yang menghuninya sebagai dua perkara yang terpisah. Keduanya adalah satu amanah yang sama: menjaga bumi berarti menjaga manusia, dan menjaga manusia berarti tidak boleh membiarkan bumi rusak di tangan kita. Mari kita mulai dari nikmat yang paling mendasar, yang pekan ini justru sedang diuji ketersediaannya: air.

Allah menggambarkan salah satu kenikmatan surga bagi golongan kanan (ashabul yamin) dengan kalimat yang sederhana namun begitu dalam maknanya:

وَمَآءٍۢ مَّسْكُوبٍۢ

"...dan air yang tercurah," (QS. Al-Waaqia: 31)

Ayat ini menggambarkan air yang mengalir deras tanpa henti sebagai salah satu kenikmatan tertinggi di akhirat kelak — bukan air yang menetes sedikit-sedikit, melainkan air yang tercurah, berlimpah, tanpa perlu diperjuangkan. Bandingkan dengan apa yang sedang dirasakan sebagian saudara kita di Jonggol dan Pasuruan pekan ini, yang harus menghitung setiap tetes air yang tersisa. Ayat ini bukan sekadar gambaran tentang akhirat; ayat ini adalah pengingat tentang betapa besarnya nikmat air yang selama ini mengalir begitu saja dari keran rumah kita, yang jarang sekali kita syukuri sampai ia benar-benar mengering. Ketika Allah menyebut air yang tercurah sebagai balasan bagi hamba-Nya yang taat, itu artinya air bukan perkara sepele dalam pandangan syariat — ia adalah nikmat yang harus dijaga, tidak boleh diboroskan, dan wajib dibagi kepada yang kekurangan.

Dari sinilah kita masuk ke pertanyaan yang lebih tajam: siapa yang bertanggung jawab ketika sumber-sumber air justru rusak, ketika hutan yang menyimpan cadangan air justru dibakar? Di sinilah relevansi ayat pembuka kita kembali menguat. Bukan hanya soal moral abstrak, tetapi soal sebab-akibat yang nyata: hutan yang terbakar kehilangan kemampuannya menyimpan air hujan; lahan gambut yang dibuka paksa kehilangan fungsi alaminya sebagai penyerap air. Ketika Allah berfirman tentang mereka yang membuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan, Allah sedang menunjuk kepada mata rantai sebab yang sangat konkret — bukan kepada mereka yang menghirup asapnya, bukan kepada mereka yang kehausan karena airnya mengering, melainkan kepada mereka yang memulai kerusakan itu dan enggan memperbaikinya.

Bahkan dalam kitab-kitab fikih klasik, ulama menempatkan penghidupan lahan yang terlantar sebagai amal yang dianjurkan, bukan sekadar diperbolehkan begitu saja:

وَإِحْيَاءُ الْمَوَاتِ جَائِزٌ بِشَرْطَيْنِ

"Dan menghidupkan tanah mati itu diperbolehkan dengan dua syarat." (Fath al-Qarib — كتاب أحكام البيوع وغيرها من المعاملات كقراض وشركة / • إحياء الموات)

Salah satu syaratnya adalah pelakunya seorang muslim yang bertindak dengan niat menghidupkan, dan para ulama menjelaskan lebih lanjut bahwa disunnahkan bagi seorang muslim untuk menghidupkan tanah yang mati, baik ada izin resmi ataupun tidak. Perhatikan arah anjurannya, jamaah sekalian: menghidupkan, bukan menghanguskan. Fikih kita memandang lahan yang terlantar sebagai peluang untuk dirawat dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab, bukan objek yang boleh dibakar habis demi keuntungan yang cepat. Prinsip sederhana ini semestinya menjadi pegangan bagi siapa pun yang berurusan dengan tanah — petani, pengusaha perkebunan, maupun pemerintah daerah — bahwa cara memperlakukan lahan sudah punya tuntunan syariat tersendiri, jauh sebelum ada peraturan resmi negara tentang larangan membakar lahan.

Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan kita betapa seriusnya urusan orang yang menyeret orang lain ke dalam bahaya lewat sebuah perumpamaan yang sangat hidup:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا قَالَ فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ هَلُمَّ عَنِ النَّارِ هَلُمَّ عَنِ النَّارِ فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا ‏"‏ ‏.‏

Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaanku seperti seorang laki-laki yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi sekitarnya, kupu-kupu dan binatang-binatang yang masuk ke api mulai berjatuhan ke dalamnya. Ia mencoba menghalangi mereka, namun mereka mengalahkannya dan terjun ke dalamnya. Itulah perumpamaanku dan perumpamaan kalian — aku memegang ikat pinggang kalian menjauhkan kalian dari api, 'marilah menjauh dari neraka, marilah menjauh dari neraka', tetapi kalian mengalahkanku dan terjun ke dalamnya." (Sahih Muslim 2284c)

Hadits ini aslinya berbicara tentang dakwah Rasulullah ﷺ menjauhkan umatnya dari api neraka. Namun gambarannya begitu dekat dengan apa yang sedang kita saksikan pekan ini di darat kita sendiri: ada yang berulang kali diperingatkan — oleh aparat, oleh tetangga, oleh akal sehat sendiri — untuk tidak membakar lahan, namun tetap saja melakukannya, seolah tidak melihat bahaya yang justru sedang mereka ciptakan sendiri bagi diri mereka dan orang-orang di sekitarnya. Bedanya, api yang digambarkan Rasulullah ﷺ dalam hadits ini adalah api akhirat; api yang kita bicarakan pekan ini adalah api yang nyata, yang asapnya menyesakkan dada anak-anak kita, yang menghanguskan hutan yang seharusnya menjadi penjaga air dan udara kita bersama. Pola yang sama, dalam dua alam yang berbeda: peringatan yang berulang, namun tetap diterjang.

Jamaah yang berbahagia, di titik ini penting bagi kita untuk meluruskan satu hal yang mudah sekali salah dipahami. Ketika kita berbicara tentang sebab-akibat kerusakan, kita tidak sedang mengatakan bahwa mereka yang tertimpa musibah — para penyintas gempa di Flores, warga yang menghirup asap karhutla, keluarga yang kehilangan rumah di Desa Adat Sade — layak menerima apa yang menimpa mereka. Sama sekali tidak. Islam mengajarkan kita sebuah adab yang sangat penting dalam memahami musibah: gempa di Flores bukan vonis atas dosa penduduknya; kekeringan di Jonggol dan Pasuruan bukan hukuman atas warga yang mengalaminya. Musibah, dalam pandangan akidah yang lurus, adalah ujian sekaligus penggugur dosa bagi yang bersabar — bukan surat dakwaan bagi yang terkena. Tanggung jawab moral yang diajarkan ayat pembuka kita tadi diarahkan kepada mereka yang menjadi sebab kerusakan, bukan kepada mereka yang menanggung akibatnya.

Justru karena itulah, sikap yang benar terhadap penderitaan sesama adalah kelembutan, bukan penghakiman. Ada nasihat akhlak yang relevan untuk kita renungkan bersama, sebagaimana dijelaskan dalam kitab adab menuntut ilmu tentang bagaimana seharusnya kita bergaul dengan sesama manusia, terutama mereka yang sedang kesusahan:

مُعَامَلَةُ النَّاسِ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ مِنْ طَلَاقَةِ الْوَجْهِ، وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ وَإِطْعَامِ الطَّعَامِ، وَكَظْمِ الْغَيْظِ، وَكَفِّ الْأَذَى عَنِ النَّاسِ، وَاحْتِمَالِهِ مِنْهُمْ وَالْإِيثَارِ … وَالتَّلَطُّفِ بِالْفُقَرَاءِ، وَالتَّحَبُّبِ إِلَى الْجِيرَانِ وَالْأَقْرِبَاءِ

"Bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia: wajah yang berseri, menyebarkan salam, memberi makan, menahan kemarahan, menahan diri dari menyakiti orang lain, sabar menanggung gangguan dari mereka, mendahulukan orang lain … lemah lembut kepada orang fakir, dan mencintai tetangga serta kerabat." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)

Nasihat ini awalnya ditujukan bagi seorang penuntut ilmu dalam bergaul dengan sesamanya, namun maknanya menembus jauh lebih luas dari itu. Wajah yang berseri kepada tetangga yang baru kehilangan rumahnya, makanan yang dibagikan kepada keluarga yang kehilangan sanak saudara di Lombok, kesabaran menanggung keluhan dari saudara yang trauma pascagempa — semua ini adalah akhlak mulia yang sama yang dituntut dari kita pekan ini. Ketika bumi mengguncang dan udara menyesakkan, yang paling dibutuhkan para penyintas bukan analisis tentang siapa yang salah, melainkan wajah yang berseri, uluran tangan, dan kesediaan mendengar.

Di sinilah dua pilar argumen kita bertemu, jamaah yang dimuliakan Allah: di satu sisi, kita dituntut menjadi golongan yang mengadakan perbaikan (muslihun), bukan golongan yang membuat kerusakan (mufsidun) — ini adalah tanggung jawab kita terhadap bumi dan terhadap sebab-sebab bencana yang bisa kita cegah. Di sisi lain, kita dituntut menjadi golongan yang berakhlak mulia dan berbelas kasih kepada mereka yang tertimpa musibah — ini adalah tanggung jawab kita terhadap sesama manusia yang menanggung akibat dari kerusakan itu, betapa pun mereka tidak bersalah atas apa yang menimpa mereka. Dua tanggung jawab ini bukan pilihan, melainkan satu paket amanah yang Allah titipkan kepada kita sebagai khalifah di muka bumi.

Menjaga bumi dan menjaga manusia yang menghuninya, jamaah sekalian, adalah kewajiban kolektif — fardh kifayah yang gugur dari kita masing-masing hanya jika sudah ada cukup orang yang menunaikannya, dan menjadi dosa bersama bila dibiarkan terbengkalai. Ini bukan proyek yang bisa kita serahkan sepenuhnya kepada pemerintah atau lembaga kemanusiaan, meski peran mereka sangat penting. Ini adalah amanah yang menuntut peran dari setiap rumah tangga, setiap RT, setiap majelis taklim, setiap dari kita yang hadir di masjid ini hari ini.

Manusia diciptakan Allah dengan kecenderungan yang unik, jamaah sekalian: sanggup menjadi penjaga terbaik bagi ciptaan-Nya, sekaligus sanggup menjadi perusak yang paling rakus. Al-Qur'an menyebut manusia sebagai khalifah — bukan penguasa yang bebas berbuat sesuka hati, melainkan wakil yang bertindak atas nama pemilik sebenarnya. Setiap kali kita lupa posisi ini, setiap kali kita memperlakukan bumi seolah ia milik pribadi yang boleh dieksploitasi tanpa batas, di situlah benih kerusakan mulai tumbuh — kadang dalam skala besar seperti kebakaran hutan yang menyeberang batas negara, kadang dalam skala kecil seperti keran yang kita biarkan menyala percuma di rumah. Perbedaan skala tidak mengubah jenis kesalahannya; keduanya lahir dari kealpaan yang sama terhadap amanah yang sama.

Pekan ini kita juga menyaksikan sebuah fenomena kecil yang sebenarnya menyimpan pelajaran besar: ada konten yang beredar dengan nada santai, seolah berkata "urusan pesta dan kesenangan dulu, soal kebakaran dan bencana di daerah lain biar reda dengan sendirinya". Kalimat semacam ini mungkin hanya dimaksudkan sebagai candaan ringan, tetapi ia mengungkap sesuatu yang lebih dalam tentang bagaimana sebagian dari kita memproses berita duka — dengan menjauhkannya, membuatnya terasa jauh dan tidak relevan, supaya hati tidak perlu repot merasa apa-apa. Iman yang sehat semestinya bekerja sebaliknya: semakin dekat kita kepada Allah, semestinya semakin peka pula hati kita terhadap penderitaan sesama manusia, sekalipun mereka belum pernah kita temui secara langsung. Candaan yang menjauhkan kita dari rasa itu, sekecil apa pun niatnya, sesungguhnya sedang mengikis kepekaan yang seharusnya terus kita jaga.

Maka pertanyaan yang perlu kita bawa pulang pekan ini bukan sekadar "apa yang terjadi di luar sana", melainkan "di posisi mana saya berdiri — sebagai penyebab kerusakan, sebagai penonton yang acuh, atau sebagai bagian dari perbaikan itu sendiri?" Jawaban atas pertanyaan ini tidak perlu menunggu bencana besar berikutnya. Ia bisa dimulai malam ini juga, dari hal-hal yang tampak kecil namun nyata.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, iman yang benar selalu berakhir pada amal, bukan berhenti pada perasaan haru sesaat setelah mendengar khutbah lalu menguap begitu kita melangkah keluar dari masjid ini. Maka sebagai penutup bagian pertama khutbah ini, izinkan khatib mengajak kita semua kepada beberapa langkah konkret yang bisa kita tunaikan sepekan ke depan.

Pertama, bagi kita yang memiliki lahan atau usaha yang bersinggungan dengan pembukaan lahan, pastikan tidak ada praktik pembakaran yang dilakukan atas nama kita, langsung maupun tidak langsung, dan beranikan diri menegur bila kita menyaksikannya di lingkungan sekitar.

Kedua, mari kita mulai mengaudit pemakaian air di rumah masing-masing malam ini — periksa keran yang bocor, kurangi pemborosan saat berwudhu, dan jadikan kebiasaan ini bagian dari rasa syukur atas nikmat air yang selama ini jarang kita sadari.

Ketiga, salurkan bantuan untuk saudara-saudara kita penyintas gempa di Flores dan warga terdampak kebakaran di Lombok melalui lembaga-lembaga yang tepercaya dan jelas pertanggungjawabannya, dan jangan berhenti pada bantuan sesaat — ingat bahwa pemulihan mereka membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang dari sorotan media.

Keempat, sisipkan doa khusus untuk saudara-saudara yang terdampak bencana pekan ini dalam setiap sholat kita, baik yang di Flores, yang di Lombok, maupun yang sedang berjuang dengan kekeringan di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Kelima, bagi yang memiliki kemampuan lebih, ajak tetangga atau jamaah masjid untuk memulai kegiatan sederhana yang menjaga lingkungan sekitar — menanam pohon, menjaga saluran air, atau sekadar mengingatkan satu sama lain untuk tidak membakar sampah sembarangan di musim kering ini.

Keenam, dan barangkali yang paling mudah namun paling sering kita lupakan: tegur diri sendiri ketika mendapati hati kita bersikap acuh terhadap musibah yang menimpa saudara sebangsa yang belum pernah kita temui. Kepedulian itu bukan pilihan tambahan dalam iman kita, melainkan bagian darinya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Di penghujung khutbah ini, mari kita perdalam sekali lagi satu sisi dari apa yang telah kita renungkan bersama. Bumi yang kita pijak hari ini bukanlah milik kita — ia adalah titipan yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya dari kita, sebagaimana harta, waktu, dan setiap amanah lain yang Allah percayakan kepada kita selama hidup di dunia ini.

Musibah yang menimpa sebagian saudara kita pekan ini — gempa, kebakaran, kekeringan — adalah pengingat bahwa kenyamanan yang kita rasakan hari ini bisa berubah dalam sekejap. Rumah yang berdiri kokoh, air yang mengalir lancar dari keran, udara yang bisa kita hirup tanpa masker — semua ini adalah nikmat yang begitu mudah kita anggap biasa, sampai ia direnggut dari sebagian saudara kita.

Maka mari kita jadikan pekan ini sebagai muhasabah bersama. Bukan muhasabah yang menuduh mereka yang tertimpa musibah, melainkan muhasabah atas diri kita sendiri — sudahkah kita menjadi bagian dari perbaikan bumi ini, atau justru menutup mata atas kerusakan yang terjadi di sekitar kita? Sudahkah kita menunjukkan kepedulian yang sepatutnya kepada saudara-saudara yang sedang berjuang memulihkan diri, atau kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri sampai lupa bahwa mereka juga bagian dari umat yang sama dengan kita?

Rasa syukur yang sejati, jamaah sekalian, tidak berhenti pada ucapan di lisan. Ia harus turun menjadi tindakan — menjaga apa yang kita miliki, membagikannya kepada yang kekurangan, dan menjadi sebab kebaikan, bukan sebab kerusakan, bagi lingkungan tempat kita hidup.

Dan di tengah semua ini, jamaah yang dirahmati Allah, jangan biarkan hati kita tenggelam dalam kecemasan yang berlebihan. Islam mengajarkan keseimbangan: waspada tanpa panik, peduli tanpa larut, berikhtiar tanpa lupa bahwa hasil akhirnya tetap sepenuhnya di tangan Allah. Justru di pekan-pekan seperti inilah iman kita diuji bukan lewat ucapan di lisan, melainkan lewat pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari — pilihan untuk peduli ketika lebih mudah untuk acuh, pilihan untuk berbagi ketika lebih mudah untuk menyimpan, pilihan untuk menjadi sebab kebaikan ketika lebih mudah untuk diam saja.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah agar bumi kita dijaga, saudara-saudara kita yang tertimpa musibah diberi kekuatan dan kemudahan, dan hati kita dijauhkan dari sikap acuh terhadap penderitaan sesama.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ أَصَابَتْهُمُ الزَّلَازِلُ وَالْحَرَائِقُ وَالْجَفَافُ فِيْ بِلَادِنَا، اللّٰهُمَّ اجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَيَسِّرْ لَهُمْ سُبُلَ التَّعَافِيْ وَالطُّمَأْنِيْنَةِ، وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ كَفَّارَةً لِذُنُوْبِهِمْ وَرَفْعًا لِدَرَجَاتِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ، وَأَحْيِ بِهِ الْبِلَادَ وَالْعِبَادَ، وَاجْعَلْهُ سَقْيًا رَحْمَةٍ لَا سَقْيَ عَذَابٍ وَلَا هَدْمٍ وَلَا غَرَقٍ.

اَللّٰهُمَّ رُدَّ الَّذِيْنَ يُفْسِدُوْنَ فِي الْأَرْضِ إِلَى الصَّوَابِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ لَا مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ كُلِّ سَبَبٍ يُؤْذِي خَلْقَكَ أَوْ يُهْلِكُ حَرْثَهُمْ وَنَسْلَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاكْشِفْ عَنْهُمُ الْغَمَّاءَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَعِنْهُمْ عَلٰى حُسْنِ التَّعَامُلِ مَعَ كُلِّ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ رَعِيَّتَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْمَعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan