بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, sebagian saudara kita di Bogor dan Pasuruan sedang berjuang dengan sumur yang menyusut dan sawah yang mengering. Ada satu kisah dari zaman Rasulullah ﷺ yang ingin saya bagikan malam ini — kisah yang selalu membuat saya merinding setiap kali membacanya ulang.
Coba kita bayangkan suasananya. Hari Jumat, di Madinah. Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah di atas mimbar. Tiba-tiba seorang Arab Badui berdiri di tengah jamaah, memotong khutbah, dan berkata dengan suara yang panik:
قَالَ أَتَى رَجُلٌ أَعْرَابِيٌّ مِنْ أَهْلِ الْبَدْوِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكَتِ الْمَاشِيَةُ هَلَكَ الْعِيَالُ هَلَكَ النَّاسُ. فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَدَيْهِ يَدْعُو، وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ مَعَهُ يَدْعُونَ، قَالَ فَمَا خَرَجْنَا مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى مُطِرْنَا
Dari Anas bin Malik, ia berkata: seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah ﷺ pada hari Jumat lalu berkata, "Wahai Rasulullah, hewan ternak binasa, anak-anak binasa, orang-orang binasa." Maka Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya berdoa, dan orang-orang pun ikut mengangkat tangan mereka bersama beliau — "kami belum lagi keluar dari masjid, hujan sudah turun." (Sahih al-Bukhari 1029)
Coba kita rasakan sejenak momen itu. Tidak ada ritual panjang. Tidak ada persiapan berhari-hari. Hanya satu orang yang jujur mengakui bahwa keadaannya sudah gawat, dan satu Nabi yang segera mengangkat tangan, diikuti seluruh jamaah yang hadir. Dan hujan turun sebelum mereka sempat melangkah keluar dari masjid.
Saya selalu bertanya pada diri sendiri setiap membaca hadits ini: kenapa doa itu dikabulkan begitu cepat? Saya kira bukan karena Badui itu punya amal yang istimewa. Justru sebaliknya — dia datang dengan pengakuan yang paling sederhana dan paling jujur: "kami benar-benar binasa." Tidak ada gengsi. Tidak ada basa-basi. Hanya kejujuran total di hadapan Allah, disampaikan lewat lisan seorang yang berani berdiri di tengah jamaah dan berbicara.
Zaman sekarang, kita punya banyak cara untuk terlihat baik-baik saja di depan orang — status media sosial yang selalu rapi, caption yang penuh syukur, padahal hati sedang berat sekali. Herannya, kita kadang lebih berani jujur ke linimasa yang isinya orang asing, daripada jujur ke Allah yang justru paling tahu isi hati kita sendiri. Badui itu justru sebaliknya — tidak sempat memikirkan gengsi sama sekali, dia hanya butuh pertolongan, dan itu sudah cukup baginya untuk berdiri dan bicara.
Kita, jamaah yang saya hormati, sering kali punya masalah yang jauh lebih ringan dari kekeringan yang menghancurkan ternak dan mengancam nyawa, tapi entah kenapa doa kita terasa berat untuk diucapkan. Kita menyimpan keluh kesah sendirian, kita mengeluh ke media sosial, kita mengeluh ke tetangga — tapi berapa sering kita benar-benar mengangkat tangan dan mengatakan hal yang sama jujurnya kepada Allah?
Ada satu hal lagi yang saya suka dari kisah ini. Ketika hujan itu justru turun tanpa henti selama seminggu penuh sampai jalanan tergenang dan musafir kesulitan melakukan perjalanan, orang yang sama itu datang lagi kepada Rasulullah ﷺ — kali ini meminta hujan itu dihentikan. Rasulullah ﷺ tidak menganggapnya kurang ajar karena baru saja meminta hujan lalu meminta hujan berhenti. Beliau memahami bahwa doa bukan transaksi sekali pakai. Kebutuhan kita berubah, dan Allah tetap mendengar setiap perubahan itu — asal kita mau bicara jujur kepada-Nya.
Ada pelajaran kedua yang saya ambil dari bagian ini: berdoa itu boleh spesifik, boleh detail, dan boleh berubah seiring waktu. Kita tidak perlu mengulang doa yang itu-itu saja setiap malam tanpa benar-benar menghayatinya. Allah tidak bosan mendengar permintaan kita berubah dari "turunkan hujan" menjadi "cukup, terima kasih, sudah reda" — itu justru tanda kita benar-benar hidup dan berdialog dengan-Nya, bukan sekadar menghafalkan lafaz doa tanpa hadir hati di dalamnya.
Pekan ini, saudara-saudara kita di Jonggol dan Pasuruan sedang menunggu hujan yang sama. Saudara-saudara kita di Flores sedang menunggu ketenangan setelah bumi mengguncang mereka. Saudara-saudara kita di Lombok sedang menunggu kekuatan untuk bangkit dari kabar duka. Dan sebagian kita di sini, yang mungkin tidak terkena dampak langsung dari bencana-bencana ini, sering lupa bahwa mengangkat tangan untuk mereka adalah tindakan yang sangat ringan untuk dilakukan, tapi sangat besar nilainya.
Ada satu doa pendek yang sering saya bawa pulang setiap kali merenungi kisah ini, doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ:
اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِيْ وَارْزُقْنِيْ، وَعَافِنِيْ، وَاهْدِنِيْ
"Ya Allah, rahmatilah aku, berilah aku rezeki, berilah aku kesehatan, dan berilah aku petunjuk." (Bulugh al-Maram 347)
Empat permintaan dalam satu tarikan napas — rahmat, rezeki, keselamatan, dan petunjuk. Doa ini begitu pendek sampai anak kecil pun bisa menghafalnya, tapi maknanya mencakup hampir seluruh kebutuhan hidup kita. Malam ini, coba kita ucapkan doa ini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga sisipkan nama-nama saudara kita yang sedang kesusahan pekan ini dalam hati kita saat mengucapkannya.
Saya mengajak kita semua malam ini untuk melakukan dua hal kecil saja. Pertama, sebelum tidur nanti, angkat tangan barang semenit, dan sebutkan secara jujur apa yang sedang berat di hati kita — sama seperti Badui itu, tanpa gengsi. Kedua, kirimkan satu pesan kepada satu orang yang kita kenal terdampak bencana pekan ini — gempa, kekeringan, atau kebakaran — sekadar menanyakan kabar. Doa yang diangkat bersama, seperti jamaah yang mengangkat tangan bersama Rasulullah ﷺ, punya kekuatan yang berbeda dari doa yang dipanjatkan sendirian.
Mudah-mudahan Allah segera menurunkan hujan bagi yang kering, kekuatan bagi yang berduka, dan kepekaan bagi hati kita yang kadang terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَارْزُقْنَا وَعَافِنَا وَاهْدِنَا، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُتَضَرِّرِيْنَ مِنَ الزَّلَازِلِ وَالْجَفَافِ وَالْحَرَائِقِ، اَللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ غَيْثًا نَافِعًا، وَاجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا رَحْمَةً لِمَنْ يَتَأَلَّمُ وَلَوْ بَعِيْدًا عَنَّا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
