أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْقَنَاعَةَ كَنْزًا لَا يَفْنٰى، وَجَعَلَ الصَّدَقَةَ تُطْفِئُ مَا فِي الْقَلْبِ مِنْ طَمَعٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُطْفِئُ نَارَ الطَّمَعِ بِالْعَطَاءِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ada satu pola yang mungkin sebagian dari kita rasakan sendiri, atau lihat pada tetangga, saudara, atau kolega: rasa "kurang" yang tidak pernah benar-benar reda, yang membuat satu tawaran instan — entah judi online, entah pinjaman cepat cair, entah janji cuan berlipat dalam semalam — terasa masuk akal, padahal kalau kita pikir jernih, kita sendiri tahu itu jalan yang keliru.
Ada yang pernah merasa begini? Baru gajian, tapi rasanya sudah habis sebelum sempat dipakai. Baru menang sedikit di sebuah permainan digital, tapi dorongan untuk main satu putaran lagi malah semakin kuat, bukan semakin reda. Ini bukan soal kurang rezeki. Ini soal sesuatu di dalam hati yang tidak pernah merasa cukup, apa pun yang sudah didapat.
Ada nasihat lama, dari kitab Nashaihul Ibad, yang menggambarkan persis kegelisahan ini. Dikatakan begini,
Nashaihul Ibad — باب السداسي (2/2)
وعن بعض الحكماء أنه قال :من لم يخش اهلل لم ينج من زلة اللسان، ومن لم يخش قدومه على اهلل لم ينج قلبه من الحرام والشبهة ،ومن لم يكن أئسا عن الخلق لم ينج من الطمع ،ومن لم يكن حافظا على عمله لم ينج من الرياء ،ومن لم يستعن باهلل على إحتراس قلبه لم ينج من الحسد ،ومن لم ينظر إلى من هو أفضل منه علما وعمال لم ينج من العجب.
"Barangsiapa tidak takut kepada Allah, ia tidak selamat dari ketergelinciran lisan. Barangsiapa tidak takut akan kedatangannya pada Allah, hatinya tidak selamat dari yang haram dan syubhat. Barangsiapa tidak putus harap dari makhluk, ia tidak selamat dari tamak. Barangsiapa tidak menjaga amalnya, ia tidak selamat dari riya. Barangsiapa tidak meminta pertolongan Allah dalam menjaga hatinya, ia tidak selamat dari hasad. Dan barangsiapa tidak memandang kepada yang lebih utama darinya dalam ilmu dan amal, ia tidak selamat dari 'ujub." (Nashaihul Ibad — باب السداسي (2/2))
Coba perhatikan salah satu kalimat di tengah nasihat ini: "barangsiapa tidak putus harap dari makhluk, ia tidak selamat dari tamak." Bukan tidak boleh berharap sama sekali kepada sesama manusia — kita tetap bermuamalah, tetap bekerja, tetap berdagang. Yang dimaksud di sini lebih dalam: selama hati kita menggantungkan rasa aman dan rasa cukup sepenuhnya kepada apa yang bisa diberikan makhluk — gaji dari atasan, keberuntungan dari sebuah aplikasi, bunga dari sebuah pinjaman — di situlah tamak akan terus mengintai. Karena makhluk itu terbatas, dan yang terbatas tidak pernah cukup untuk mengisi rasa "kurang" yang sifatnya tidak terbatas.
Nah, jamaah, ini yang menarik. Rasa "kurang" itu sendiri sebenarnya bukan aib. Ia manusiawi. Yang jadi masalah adalah ke mana kita membawa rasa "kurang" itu. Kalau dibawa kepada Allah, ia jadi doa — "Ya Allah, cukupkanlah aku." Kalau dibawa kepada aplikasi judi online atau tawaran pinjaman kilat, ia jadi jerat. Sumbernya sama, tapi arahnya menentukan apakah ia menyelamatkan atau justru menenggelamkan.
Yang membuat saya kagum, jamaah, adalah bagaimana Rasulullah ﷺ tidak hanya memberi kita nasihat teori tentang tamak, tapi juga memberi kita tombol darurat yang bisa dipakai persis pada detik godaan itu datang. Coba dengar hadits ini,
Sahih Muslim 1647a
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ يُونُسَ، ح وَحَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَخْبَرَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ بِاللاَّتِ . فَلْيَقُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ . فَلْيَتَصَدَّقْ " .
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa di antara kalian bersumpah, lalu dalam sumpahnya ia menyebut nama selain Allah, hendaklah ia mengucapkan: 'Laa ilaaha illallah.' Dan barangsiapa berkata kepada temannya, 'Mari aku berjudi denganmu,' hendaklah ia bersedekah." (Sahih Muslim 1647a)
Perhatikan strukturnya, jamaah. Begitu ajakan berjudi terucap — sekalipun cuma iseng, sekalipun cuma "yuk taruhan receh siapa yang menang" — Nabi ﷺ tidak mengajarkan kita untuk sekadar bilang "nggak ah, dosa." Beliau mengajarkan sesuatu yang jauh lebih aktif: bersedekah, saat itu juga. Bukan besok, bukan nanti kalau sempat. Saat itu juga, di momen yang persis sama dengan munculnya dorongan tamak.
Kenapa harus sedekah, bukan sekadar menahan diri? Karena judi dan sedekah adalah dua gerakan hati yang berlawanan arah. Judi bergerak ke dalam — ingin mengambil lebih banyak dari orang lain, dengan usaha yang minim, dengan hasil yang tidak pasti. Sedekah bergerak ke luar — melepaskan apa yang kita punya, dengan sukarela, tanpa jaminan balasan dari tangan manusia. Begitu hati kita digerakkan ke arah yang berlawanan dengan tamak, dorongan tamak itu kehilangan tenaganya. Ini bukan sekadar teori — ini psikologi hati yang sangat cerdas dari seorang Nabi yang memang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Sekarang bayangkan kita pindahkan hadits ini ke keseharian kita hari ini. Notifikasi muncul: "bonus modal gratis, klaim sekarang." Grup teman mulai ramai membahas aplikasi yang katanya "lagi gacor". Atau pesan singkat dari nomor tak dikenal, menawarkan pinjaman cair dalam lima menit tanpa syarat. Momen itu — persis di momen itu — adalah momen yang sama dengan "mari aku berjudi denganmu" di zaman Nabi ﷺ. Dan responsnya bisa sama juga: alih-alih membuka aplikasi itu, buka aplikasi sedekah. Transfer sedikit ke kotak amal masjid, ke anak yatim yang kita kenal, ke tetangga yang sedang kesulitan. Rasanya sederhana, bahkan mungkin terasa kurang "greget" dibanding klik tombol yang menjanjikan untung instan. Tapi justru di situ letak kekuatannya — ia melatih hati kita untuk terbiasa melepas, bukan terbiasa mengejar.
Saya tidak akan bilang ini mudah, jamaah. Godaan digital hari ini jauh lebih licin dari godaan di zaman Nabi ﷺ — ia hadir dalam genggaman, dua puluh empat jam, dengan warna-warna yang dirancang supaya kita ketagihan. Tapi justru karena licinnya godaan ini, kita butuh kebiasaan yang juga cepat dan reflektif untuk melawannya. Bukan kebiasaan yang butuh mikir lama-lama, karena saat kita sempat mikir lama, biasanya kita sudah keburu klik. Kebiasaan sedekah-refleks inilah yang Rasulullah ﷺ tawarkan — cepat, konkret, dan langsung menyerang akar masalahnya, bukan sekadar gejalanya.
Jamaah yang saya hormati, mari kita ukur diri sendiri malam ini, bukan orang lain. Adakah aplikasi di ponsel kita yang, kalau kita jujur, sebenarnya mirip perjudian meski menyamar sebagai permainan biasa? Adakah dorongan "jalan pintas" yang belakangan ini semakin sering muncul di kepala kita, entah soal uang, entah soal hal lain? Kalau ada, pekan ini adalah waktu yang baik untuk mencoba resep Nabi ﷺ tadi — begitu dorongan itu muncul, jangan ditahan dengan kaku, tapi alihkan dengan memberi. Kita mungkin tidak akan langsung merasa "sembuh" dari rasa kurang itu. Tapi setiap kali kita memilih memberi ketimbang mengambil jalan pintas, kita sedang melatih hati kita untuk lebih percaya kepada Allah daripada kepada janji-janji manis yang belum tentu terbukti.
Semoga Allah melapangkan hati kita dengan qana'ah, dan menjauhkan kita dari jalan-jalan yang tampak manis di permukaan tapi pahit di ujungnya.
اَللّٰهُمَّ اغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَاقْنِعْ قُلُوْبَنَا بِمَا قَسَمْتَ لَنَا، وَاصْرِفْ عَنَّا كُلَّ طَمَعٍ يُوْقِعُنَا فِيْمَا حَرَّمْتَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
