Pekan ini kita banyak bicara tentang tangan-tangan yang bekerja — di ladang, di pasar, di rumah orang lain. Ada satu potongan riwayat dari kehidupan Rasulullah ﷺ yang jarang diangkat, tapi menunjukkan sesuatu yang jarang dimiliki pemimpin besar mana pun: bagaimana ia memandang orang-orang yang paling sering dilupakan. Imam at-Tirmidzi rahimahullah menghimpunnya dalam Ash-Syama'il al-Muhammadiyyah — Bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ, dari kesaksian Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan Rasulullah ﷺ yang paling dekat mengamati kesehariannya.
Madinah, tahun kelima hijrah. Kota itu baru saja lolos dari pengepungan pasukan gabungan Quraisy dan sekutu-sekutunya — perang yang kelak dikenang sebagai Perang Khandaq, perang parit. Debu belum sepenuhnya reda, tenda-tenda darurat belum semua dibongkar, ketika perintah baru turun: pasukan muslim berbalik arah, berjalan ke pinggiran kota, menuju benteng Bani Quraizhah, yang dianggap berkhianat pada saat kota paling genting dikepung.
Barisan panjang bergerak di bawah matahari sore. Kuda-kuda pilihan menderap di sela-sela pasukan berjalan kaki. Tombak-tombak tegak, perisai berdenting pelan setiap langkah. Dan di tengah barisan itu, ada satu sosok yang — kalau seseorang tidak tahu siapa dia — tidak akan disangka sebagai panglima yang memimpin seluruh pasukan.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang ikut dalam rombongan itu, kelak mengenang apa yang ia lihat hari itu, dan apa yang ia lihat berulang kali di hari-hari biasa:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعود المريض ويشهد الجنائز ويركب الحمار ويجيب دعوة العبد. وكان يوم بني قريظة على حمار مخطوم «2» بحبل من ليف وعليه إكاف «3» من ليف
"Rasulullah ﷺ biasa menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menunggang keledai, dan memenuhi undangan seorang budak. Dan pada hari (menuju) Bani Quraizhah, beliau menunggang keledai dengan tali kekang dari sabut, dan pelana dari sabut pula." (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — Bab tawadhu' Rasulullah ﷺ)
Bukan kuda perang yang gagah. Bukan pelana kulit yang disamak halus. Seorang panglima yang baru saja memimpin kota lolos dari kepungan, yang sedang berjalan menuju keputusan besar tentang nasib sebuah benteng, memilih menunggang keledai — hewan tunggangan paling sederhana pada masanya — dengan tali kekang yang dipilin dari serat sabut kurma, dan pelana yang juga dianyam dari bahan yang sama. Kasar di tangan, sederhana di mata, tapi cukup untuk menopang perjalanan.
Coba bayangkan suara dan teksturnya: derit anyaman sabut setiap kali keledai melangkah, seratnya yang kasar bergesekan dengan bulu hewan itu, jauh dari kilau pelana berhias yang biasa menempel pada penunggang berkedudukan tinggi. Siapa pun yang melihat dari kejauhan, tanpa tahu wajahnya, mungkin akan mengira itu tunggangan seorang penggembala biasa, bukan seorang kepala negara yang sedang menuju medan keputusan paling berat sepanjang tahun itu.
Tapi Anas tidak berhenti hanya pada gambaran hari itu. Ia menambahkan sesuatu yang lebih luas — sebuah kebiasaan yang berulang, bukan kejadian sekali waktu: Rasulullah ﷺ biasa menjenguk orang sakit, siapa pun dia. Biasa mengantar jenazah, siapa pun yang wafat. Dan biasa memenuhi undangan seorang budak — golongan manusia yang di masyarakat Arab pada masa itu berada di anak tangga paling bawah, yang undangannya oleh banyak bangsawan bisa diabaikan begitu saja tanpa rasa bersalah.
Bagi seorang budak, memiliki keberanian mengundang manusia paling mulia sepanjang sejarah ke rumahnya sendiri saja sudah sesuatu yang luar biasa. Dan Rasulullah ﷺ tidak menjawabnya dengan basa-basi atau utusan pengganti. Beliau datang. Sama seperti beliau datang memenuhi undangan siapa pun yang berkedudukan tinggi. Tidak ada undangan yang dianggap terlalu kecil untuk dipenuhi manusia paling agung ini — sama seperti tidak ada tunggangan yang dianggap terlalu sederhana untuk ia naiki menuju medan yang paling menegangkan sekalipun.
Keledai itu terus melangkah menuju dinding-dinding benteng Bani Quraizhah, tali sabutnya berderit pelan di tengah derap pasukan yang jauh lebih megah di kanan-kirinya. Dan di situlah, tanpa banyak kata, sebuah pelajaran tentang kebesaran hati sedang berjalan pelan-pelan menuju sejarah.
Pelajaran
Ada godaan besar bagi siapa pun yang naik status — sedikit lebih kaya, sedikit lebih dihormati, sedikit lebih berkuasa — untuk mulai memilah siapa yang layak diberi waktu dan siapa yang tidak. Kisah ini menunjukkan yang sebaliknya, dipraktikkan oleh manusia yang paling punya alasan untuk bersikap sebaliknya. Tali kekang dari sabut dan pelana dari sabut bukan karena Rasulullah ﷺ tidak mampu memiliki yang lebih baik — kedudukannya sebagai pemimpin kota memungkinkan itu — melainkan karena kesederhanaan itu memang pilihannya, sama seperti memenuhi undangan seorang budak adalah pilihannya, bukan keterpaksaan. Bagi kita yang pekan ini banyak berbicara tentang pekerja, petani, dan buruh harian — orang-orang yang jasanya sering luput dari sorotan — kisah ini adalah pengingat sederhana: ukuran kebesaran seseorang bukan pada seberapa mewah tunggangannya, melainkan pada seberapa jauh ia bersedia menekuk lutut untuk duduk bersama orang yang paling sering dilewatkan orang lain.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
315- حدثنا عليّ بن حجر. حدثنا عليّ بن مسهر عن مسلم الأعور «1» عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعود المريض ويشهد الجنائز ويركب الحمار ويجيب دعوة العبد. وكان يوم بني قريظة على حمار مخطوم «2» بحبل من ليف وعليه إكاف «3» من ليف» «4».
