Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPemerintahan & KebijakanKamis, 27 Agustus 2026

Khutbah Jumat — "Memilih Islah di Tengah Kegaduhan"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala, yang telah mengumpulkan kita dalam keadaan sehat, dalam satu majelis yang penuh berkah ini, di tengah pekan yang penuh dengan kabar dan keriuhan yang menuntut hati kita untuk tetap tenang dan jernih. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti jejak beliau dengan penuh kesabaran hingga hari kiamat.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, izinkan khatib membuka khutbah pekan ini dengan satu ayat dari surah Asy-Syu'ara:

ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

"Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS. Ash-Shu'araa: 152)

Ayat ini, jamaah sekalian, bukan berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari kisah Nabi Shalih 'alaihissalam yang diutus kepada kaum Tsamud. Sebelum ayat ini, Allah berfirman agar kaum Tsamud tidak menaati perintah orang-orang yang berlebih-lebihan — orang-orang yang justru membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan. Perhatikan baik-baik susunan peringatan ini: Allah tidak sekadar mencela orang yang berbuat kerusakan. Allah mencela dua hal sekaligus dalam satu tarikan napas — orang yang membuat kerusakan, dan orang yang tidak mengadakan perbaikan. Kerusakan dan ketiadaan perbaikan disebut sejajar, seolah keduanya adalah satu paket yang sama beratnya di sisi Allah.

Yang lebih menarik lagi, jamaah, ayat ini turun dalam bentuk peringatan kepada kaum Tsamud agar tidak menaati golongan yang berlebih-lebihan itu — bukan sekadar celaan kepada pelaku kerusakannya. Artinya, Allah tidak hanya menegur mereka yang merusak, Allah juga mengingatkan orang-orang biasa di sekeliling mereka agar tidak ikut-ikutan taat secara membabi buta kepada pemuka yang gemar meributkan tapi tidak pernah memperbaiki. Ini pelajaran ganda: pertama, jangan menjadi golongan yang gemar meributkan tanpa memperbaiki; kedua, jangan pula menjadi pengikut yang taat buta kepada siapa pun — betapapun besar pengaruhnya — selama yang diikuti itu tidak menunjukkan bukti nyata sebagai pembawa perbaikan. Dua pelajaran ini, insya Allah, akan terus relevan sepanjang khutbah kita pekan ini.

Kita hidup di pekan yang ramai dengan kabar tentang pemerintahan dan kebijakan. Dari berita pekan ini kita ketahui, muncul wacana untuk mempercepat jadwal pemilu, dan wacana itu memantik reaksi luas — termasuk dari seorang tokoh yang dekat dengan salah satu organisasi politik, yang pekan ini menjadi sorotan dari dua arah sekaligus: sebagian memuji caranya menghadapi tekanan sebagai contoh kepemimpinan yang mau mendengar dan membuka ruang dialog, sebagian lain melontarkan sindiran tajam yang menyeret kembali kenangan-kenangan lama. Ramai pula diperbincangkan pekan ini rencana aksi unjuk rasa pada 27 Agustus, yang dipicu oleh pemblokiran sejumlah rekening yang dikaitkan dengan satu kelompok masyarakat. Sebagian warga membantah tudingan bahwa mereka digerakkan pihak luar; aparat kepolisian pada akhirnya membubarkan massa yang berkumpul di depan gedung wakil rakyat; dan kabar yang sampai kepada kita menyebutkan ada pula kelompok-kelompok lain yang bersiaga menjelang hari itu. Kabar yang sampai kepada kita juga menyoal data yang dipakai menyaring keluarga penerima bantuan sosial, yang pekan ini dikeluhkan banyak orang karena dianggap tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan — sehingga sebagian keluarga yang semestinya berhak justru tidak kebagian, sementara publik mempertanyakan mengapa data itu bisa sekeliru itu. Dan tidak ketinggalan, publik dikejutkan oleh kabar keracunan massal di sejumlah dapur penyelenggara program makan bergizi gratis, tepat ketika program itu juga tengah disorot dari sisi anggarannya. Pekan ini kita juga mendengar perbincangan seputar kebijakan bahan bakar bersubsidi dan proyek-proyek energi berskala besar, dengan publik yang mempertanyakan apakah manfaatnya benar-benar akan sampai ke rumah tangga kecil. Dan di tengah semua hiruk-pikuk itu, organisasi keagamaan terbesar di negeri ini tetap menjalankan agenda musyawarahnya sendiri, mengingatkan kita bahwa kehidupan umat tidak berhenti hanya karena panggung politik sedang ramai.

Jamaah yang dirahmati Allah, kabar-kabar ini berbeda rupa, tapi kalau kita renungkan dengan ayat yang baru saja kita baca, semuanya bertemu pada satu simpul yang sama: pertanyaan tentang islah — perbaikan. Bukan pertanyaan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar semata, sebab itu urusan yang akan diadili oleh yang berwenang dan pada akhirnya oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Pertanyaan yang lebih mendesak untuk kita jawab sebagai jamaah adalah: di tengah kerusakan atau dugaan kerusakan yang diributkan itu, siapa yang benar-benar mengadakan perbaikan, dan siapa yang hanya sibuk meributkan tanpa pernah turun tangan memperbaiki?

Perhatikan, jamaah, betapa mudahnya zaman ini membuat kita merasa sudah "berbuat sesuatu" hanya dengan menekan tombol bagikan, menulis komentar tajam, atau ikut serta dalam perdebatan yang ramai. Padahal, sejauh mana pun jangkauan sebuah unggahan, ia tetap berbeda dengan langkah nyata memperbaiki. Bukan berarti bersuara itu tidak berarti — bersuara adalah bagian dari amar ma'ruf nahi munkar yang diperintahkan agama kita. Tapi bersuara tanpa disertai kesediaan bertindak, lama-kelamaan hanya akan menambah kebisingan tanpa menambah kebaikan.

Ayat ini mengajarkan kita satu pelajaran yang sangat relevan untuk pekan ini: Allah tidak memuji orang yang pandai menunjuk kerusakan pada orang lain sementara dirinya sendiri tidak pernah mengadakan perbaikan apa pun. Islah bukan pekerjaan pejabat semata. Islah adalah pekerjaan setiap orang yang mengaku beriman — dimulai dari lisan yang dijaga, dari amanah kecil yang ditunaikan, dari tetangga yang dibantu, sampai kepada institusi besar yang mengelola hajat hidup orang banyak.

Untuk memperdalam renungan kita, khatib ingin membawa jamaah kepada tiga dalil tambahan yang, insya Allah, akan menuntun kita kepada langkah-langkah konkret pekan ini.

Dalil yang pertama berkaitan dengan bagaimana kita menyikapi hak milik dan amanah orang lain — sesuatu yang sangat relevan dengan kabar tentang pemblokiran rekening pekan ini. Dalam kitab Fath al-Qarib, dijelaskan tentang hukum ghashb:

الاسْتِيلَاءُ عَلَى حَقِّ الْغَيْرِ عُدْوَانًا

"Menguasai hak orang lain secara melampaui batas." (Fath al-Qarib — كتاب أحكام البيوع وغيرها من المعاملات كقراض وشركة / • الغصب)

Jamaah sekalian, khatib tidak sedang menghakimi siapa pun dalam persoalan rekening yang diblokir pekan ini — itu urusan hukum yang punya jalurnya sendiri, dan bukan kapasitas mimbar ini untuk memutuskan siapa benar dan siapa salah. Yang ingin khatib tegaskan adalah prinsip yang berlaku universal, untuk siapa pun, di posisi apa pun: hak milik orang lain — baik itu uang di rekening, data pribadi, maupun kepercayaan yang dititipkan — adalah amanah yang dijaga ketat dalam syariat. Fiqh muamalah bahkan mengatur soal barang pinjaman ('ariyah): kalau seseorang meminjam sesuatu lalu barang itu rusak bukan karena penggunaan yang wajar, ia wajib menggantinya sesuai nilainya. Bayangkan, jamaah — hukum sedetail ini pun diatur dalam Islam untuk urusan barang pinjaman yang kecil. Apalagi untuk hak-hak besar yang menyangkut penghidupan orang banyak: data kependudukan, dana bantuan sosial, kepercayaan publik. Semuanya adalah amanah yang tidak boleh dilampaui batasnya, oleh siapa pun.

Bagi kita yang hidup di Indonesia hari ini, prinsip ini punya makna yang sangat konkret. Kita mempercayakan data pribadi kita — nomor induk kependudukan, kondisi ekonomi keluarga, bahkan riwayat kesehatan — kepada negara setiap kali mengurus dokumen atau mendaftar program bantuan. Kepercayaan itu bukan hal kecil. Ia adalah amanah yang, kalau dikhianati atau dikelola serampangan, dampaknya bukan hanya kerugian administratif, tapi kerugian yang menyentuh martabat manusia — sebab data yang keliru bisa membuat keluarga yang benar-benar membutuhkan justru tersingkir dari daftar penerima. Maka setiap kali kita mendengar kabar tentang data yang kacau atau rekening yang diblokir, mari jadikan itu pengingat untuk mendoakan agar setiap pemegang amanah data dan dana publik diberi kesadaran akan beratnya tanggung jawab ini di hadapan Allah, bukan hanya di hadapan atasan atau undang-undang.

Dalil yang kedua berbicara tentang cara kita berdebat dan menyikapi perbedaan pendapat di ruang publik — sesuatu yang sangat kita butuhkan menjelang dan sesudah aksi 27 Agustus. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, diriwayatkan sebuah pelajaran berharga dari Imam Asy-Syafi'i rahimahullah. Disebutkan bahwa jika ada yang mendebat beliau dalam satu masalah lalu melompat ke masalah lain, beliau akan berkata:

"نُفْرِغْ مِنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ثُمَّ نَصِيرُ إِلَى مَا تُرِيدُ"

"Mari selesaikan masalah ini dulu, lalu kita beralih ke yang engkau mau." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / السابع)

Kitab ini kemudian menjelaskan bahwa tujuan dari sebuah perkumpulan atau perdebatan seharusnya ada tiga: tampaknya kebenaran, kebersihan hati, dan tercapainya faedah. Kitab ini juga menegaskan bahwa tidak layak bagi ahli ilmu melakukan persaingan dan permusuhan, sebab itu adalah sebab dari permusuhan dan kebencian yang lebih besar. Jamaah yang dimuliakan Allah, perhatikan betapa dalamnya pelajaran ini untuk pekan kita. Setiap kali sebuah aksi besar direncanakan, kita akan selalu mendengar dua narasi yang saling berhadapan — satu menekankan legitimasi keluhan, satu lagi menekankan potensi kekacauan. Islam tidak mengajarkan kita untuk memilih salah satu narasi secara membabi buta, apalagi sampai memutus silaturahmi dengan saudara yang berbeda pandangan. Islam mengajarkan kita untuk tetap mencari kebenaran, menjaga kebersihan hati, dan menahan diri dari permusuhan — sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar memilih kubu di linimasa media sosial.

Coba kita jujur pada diri sendiri, jamaah. Berapa banyak dari kita yang pekan ini sudah menshare, mengomentari, atau bahkan mendebat sengit sebuah isu di grup keluarga atau grup kerja, padahal kita sendiri belum benar-benar tahu duduk perkaranya secara utuh? Bukan berarti kita harus diam seribu bahasa terhadap ketidakadilan — bukan itu maksud khatib. Yang dimaksud adalah, sebelum kita ikut menyalakan api, pastikan dulu kita benar-benar memahami apa yang sedang terbakar. Sebab di zaman ini, satu unggahan yang kita sebarkan tanpa verifikasi bisa menyulut permusuhan yang jauh lebih besar daripada niat awal kita, yang mungkin hanya ingin ikut peduli.

Dalil yang ketiga membawa kita kepada teladan langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang keadilan dalam melayani. Diriwayatkan dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, suatu ketika seorang sahabat dari kalangan Anshar datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk bertanya, lalu datang pula seorang dari kabilah Tsaqif. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يَا أَخَا ثَقِيفٍ إِنَّ الْأَنْصَارِيَّ قَدْ سَبَقَكَ بِالْمَسْأَلَةِ فَاجْلِسْ كَيْمَا نَبْدَأَ بِحَاجَةِ الْأَنْصَارِيِّ قَبْلَ حَاجَتِكَ

"Wahai saudara Tsaqif, sungguh al-Anshari telah mendahuluimu dalam pertanyaan — duduklah agar kita memulai dengan kebutuhan al-Anshari sebelum kebutuhanmu." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / العاشر)

Jamaah sekalian, perhatikan keindahan sirah ini. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mendahulukan siapa pun karena kedudukan sosialnya, karena kedekatan, atau karena siapa yang lebih keras suaranya. Beliau mendahulukan berdasarkan urutan yang jujur — siapa yang datang lebih dulu, siapa yang kebutuhannya lebih mendesak. Inilah teladan keadilan pelayanan yang paling murni. Bayangkan, jamaah, seandainya prinsip ini benar-benar dijalankan dalam setiap sistem yang mengurus data dan bantuan bagi rakyat — bukan siapa yang paling dekat dengan petugas, bukan siapa yang paling pandai mengurus berkas, melainkan siapa yang kebutuhannya paling nyata dan paling mendesak. Kekacauan data yang pekan ini kita dengar keluhannya adalah pengingat bahwa keadilan pelayanan bukan sekadar cita-cita administratif, melainkan sunnah Nabi yang harus terus kita perjuangkan, mulai dari lingkungan terdekat kita.

Jamaah yang dirahmati Allah, keadilan semacam ini tidak harus menunggu sistem nasional diperbaiki lebih dulu. Kita punya lingkungan RT, lingkungan masjid, lingkungan kantor kita sendiri, di mana kita bisa langsung mempraktikkan pelayanan yang jujur — mendahulukan tetangga yang benar-benar kesulitan, bukan yang paling rajin mengingatkan kita. Kalau setiap muslim di lingkungannya masing-masing berusaha menghadirkan keadilan sekecil ini, bayangkan berapa banyak kekacauan besar yang sebenarnya bisa dicegah sebelum sempat membesar sampai ke tingkat nasional.

Dalil yang keempat, jamaah yang dimuliakan Allah, membawa kita kepada teladan kehati-hatian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap harta yang bukan haknya — sangat relevan dengan sorotan anggaran dan keselamatan pangan dalam program makan bergizi gratis pekan ini. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim disebutkan, yang paling layak diteladani dalam soal wara' — kehati-hatian — adalah junjungan kita Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri:

حَيْثُ لَمْ يَأْكُلِ التَّمْرَةَ الَّتِيْ وَجَدَهَا فِي الطَّرِيْقِ خَشْيَةَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الصَّدَقَةِ

"Ketika beliau tidak memakan kurma yang beliau dapati di jalan, karena khawatir kurma itu termasuk sedekah." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثامن)

Dalam kitab yang sama juga disebutkan sebuah hadits lain:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ

"Sesungguhnya Allah mencintai dikerjakannya keringanan-Nya sebagaimana Dia mencintai dikerjakannya ketetapan-Nya yang tegas." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثامن)

Jamaah sekalian, kalau Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja berhati-hati sedemikian rupa terhadap satu butir kurma yang mungkin bukan haknya, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap dana dan pangan yang dipercayakan untuk kepentingan orang banyak — apalagi pangan yang akan masuk ke mulut anak-anak kita? Kabar tentang keracunan massal yang menimpa penerima program makan bergizi gratis pekan ini semestinya menjadi cermin bagi kita semua, bukan hanya bagi penyelenggara program besar, tapi juga bagi setiap kita yang memegang amanah sekecil apa pun — pengurus kotak amal masjid, bendahara arisan, panitia kurban, siapa saja yang memegang titipan orang lain. Wara' bukan sifat orang yang lemah dalam bertindak; wara' adalah sifat orang yang cukup kuat imannya untuk menahan diri dari sesuatu yang meragukan, walau kecil.

Bayangkan, jamaah, seandainya setiap orang yang mengelola dapur, mengelola anggaran, mengelola gudang bahan pangan untuk orang banyak, memiliki kepekaan wara' seperti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap sebutir kurma itu. Bukan karena takut diperiksa, bukan karena takut viral, melainkan karena sadar bahwa Allah melihat setiap langkah yang diambil, bahkan yang tidak terlihat kamera pengawas mana pun. Kehati-hatian semacam ini tidak bisa diwajibkan lewat peraturan semata; ia harus tumbuh dari hati yang benar-benar takut kepada Allah. Maka pekan ini, mari kita jadikan momen keprihatinan ini sebagai pengingat untuk menanamkan wara' bukan hanya kepada diri sendiri, tapi juga kepada anak-anak kita sejak dini — supaya kelak, di posisi apa pun mereka berada, kepekaan ini sudah tertanam kuat.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, empat dalil yang baru saja kita renungkan bersama — tentang menjaga hak orang lain, tentang menahan diri dari permusuhan, tentang keadilan pelayanan, dan tentang wara' terhadap harta yang meragukan — sesungguhnya bermuara pada satu benang yang sama: kepercayaan tidak dibangun oleh pernyataan, melainkan oleh kebiasaan yang konsisten dijaga, sekecil apa pun bentuknya, dan di posisi apa pun kita berada. Dari sinilah khatib ingin mengajak jamaah kepada beberapa langkah konkret yang bisa kita mulai pekan ini juga.

Pertama, audit diri kita masing-masing terhadap amanah-amanah kecil yang kita pegang — di kantor, di organisasi, di keluarga. Sebelum sibuk menuntut perbaikan dari pejabat negara, pastikan dulu tidak ada kerusakan yang kita biarkan di lingkup yang menjadi tanggung jawab kita sendiri. Tuliskan, kalau perlu, satu amanah yang selama ini kita anggap sepele, lalu perbaiki sebelum pekan ini berakhir.

Kedua, tahan diri dari menyebarkan tuduhan yang belum terverifikasi terhadap pihak mana pun terkait aksi 27 Agustus — baik tuduhan kepada peserta aksi maupun kepada aparat. Cukupkan diri dengan informasi yang benar-benar kita ketahui, dan serahkan yang tidak kita ketahui kepada yang berwenang memeriksanya. Ingatlah bahwa satu kalimat yang kita sebarkan tanpa dasar bisa menempel pada nama seseorang jauh lebih lama daripada yang kita kira, bahkan setelah kebenaran sesungguhnya terungkap.

Ketiga, bagi yang memiliki tetangga atau kerabat yang terdampak kekacauan data bansos, luangkan waktu membantu mereka mencari kejelasan — menemani ke kantor kelurahan, membantu mengisi formulir, atau sekadar mendengarkan keluh kesahnya. Ini adalah bentuk nyata dari keadilan pelayanan yang bisa kita hadirkan tanpa menunggu sistem besar diperbaiki.

Keempat, doakan para pemimpin dan penyelenggara negara agar diberi hidayah untuk menunaikan amanah dengan baik — bukan doa yang menggantikan kritik yang sah, melainkan doa yang menyertai kritik itu. Prinsipnya sederhana: nasihat yang tulus itu membawa dua unsur sekaligus — kejujuran menyampaikan kekurangan, dan doa yang mengiringi harapan perbaikan. Keduanya berjalan beriringan, bukan saling menggantikan.

Kelima, mulai satu langkah kecil perbaikan di lingkungan terdekat kita pekan ini — entah itu membenahi administrasi RT, menertibkan kas masjid, atau sekadar memastikan sampah tidak menumpuk di gang rumah kita. Islah tidak harus besar untuk berarti; ia hanya perlu nyata dan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Keenam, jaga lisan dan jari kita di grup WhatsApp dan media sosial dari ghibah politik — membicarakan keburukan tokoh tertentu tanpa keperluan yang syar'i, sekalipun tokoh itu bukan orang yang kita sukai. Ingatlah bahwa jari yang mengetik status maupun komentar akan dimintai pertanggungjawaban sama seperti lisan yang berbicara — keduanya dicatat oleh malaikat yang tidak pernah lalai.

Jamaah yang dirahmati Allah, marilah kita jadikan pekan ini sebagai pekan untuk memilih islah, bukan sekadar pekan untuk meributkan kerusakan. Sebab Allah telah mengingatkan kita dengan tegas: yang dicela bukan hanya yang merusak, tapi juga yang tidak pernah mengadakan perbaikan. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memampukan kita menjadi hamba-hamba yang, di tengah kegaduhan zaman, tetap memilih menjadi bagian dari perbaikan — sekecil apa pun bentuknya, sesederhana apa pun langkahnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالٰى وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Izinkan khatib menegaskan kembali inti dari apa yang kita renungkan bersama pada khutbah pertama tadi, bukan sebagai ringkasan, melainkan sebagai ajakan untuk membawanya pulang ke rumah masing-masing. Ayat yang kita baca di awal berbicara tentang dua jenis manusia: yang membuat kerusakan, dan yang tidak mengadakan perbaikan. Pekan ini banyak dari kita — termasuk khatib sendiri — mungkin lebih sering berada di posisi kedua tanpa sadar. Kita tidak membuat kerusakan apa pun secara langsung terhadap data bansos, terhadap rekening yang diblokir, atau terhadap dapur program makan bergizi. Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar mengadakan perbaikan, sekecil apa pun, di lingkup yang menjadi tanggung jawab kita? Diam bukan berarti bersih dari cela ketika ada ruang untuk memperbaiki yang justru kita biarkan kosong.

Renungkanlah pula bagaimana keteladanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam melayani sahabat Anshar dan Tsaqif tadi mengajarkan kita sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar antre yang tertib. Itu adalah pelajaran tentang bagaimana kepercayaan dibangun — bukan lewat kedekatan atau kekuasaan, melainkan lewat keadilan yang bisa dilihat dan dirasakan oleh orang yang paling lemah posisinya. Setiap kali kita mendengar keluhan tentang data yang keliru atau bantuan yang tidak sampai, sesungguhnya kita sedang mendengar rindu akan keadilan pelayanan semacam itu — keadilan yang tidak pandang bulu, yang mendahulukan siapa yang paling membutuhkan.

Dan renungkanlah bagaimana wara' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap sebutir kurma yang beliau temukan di jalan seharusnya membuat kita malu jika kita masih longgar terhadap amanah-amanah yang jauh lebih besar yang dipercayakan kepada kita — baik itu amanah harta, amanah jabatan kecil di organisasi, maupun amanah menjaga nama baik saudara kita yang sedang diperbincangkan di media sosial. Kehati-hatian bukan tanda lemah iman; kehati-hatian adalah buah dari iman yang kokoh.

Ma'asyiral muslimin, pekan ini mengajarkan kita bahwa perbaikan sejati tidak menunggu orang lain memulai lebih dulu. Islah dimulai dari kita yang duduk di masjid ini, pulang ke rumah masing-masing, membawa satu niat: pekan ini aku ingin menjadi bagian dari perbaikan, bukan bagian dari kegaduhan.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى مَنْ بَغٰى عَلَيْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْمَعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْحُرُوْبَ، وَارْزُقْهُمُ الْأَمْنَ وَالطُّمَأْنِيْنَةَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ أَصَابَهُمُ الزَّلْزَالُ فِيْ فُلُوْرِيْسْ وَنُوْسَا تِنْجَارَا الشَّرْقِيَّةِ، اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَارْحَمْ مَنْ تُوُفِّيَ مِنْهُمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَيَسِّرْ إِعَادَةَ بِنَاءِ بُيُوْتِهِمْ وَمَسَاجِدِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ عَادِلِيْنَ فِيْمَا وُلُّوْا، أُمَنَاءَ فِيْمَا اسْتُرْعُوْا، رَحِيْمِيْنَ بِمَنِ اسْتَضْعَفَ مِنْهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحِ الْبَيَانَاتِ وَالنُّظُمَ الَّتِيْ يُعْتَمَدُ عَلَيْهَا فِيْ تَوْزِيْعِ الْحُقُوْقِ عَلٰى مُسْتَحِقِّيْهَا، وَلَا تَجْعَلْ فِيْهَا ظُلْمًا لِأَحَدٍ مِنْ عِبَادِكَ الضُّعَفَاءِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدِيْنَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan